Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
ICE CREAM PART 2


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Dave meregangkan otot punggungnya. Akhirnya setumpuk berkas yang mengantri untuk diperiksa dan ditandatangani sudah beres. Ia melirik Aryn. Aryn dan Mei berbaring bersebelahan di sofa yang lumayan besar itu. Mereka berdua menonton drama Korea.


"Apa yang terjadi?" pekik Dave.


Ada banyak tisu berserakan di ruangannya. Bahkan wadah tisu di meja sudah kosong. Ruangan Dave seperti lautan tisu sekarang.


"Marahnya nanti saja, Dave! Aku dan Aryn sedang fokus!" sahut Mei.


"Benar itu, sayang!" Aryn menimpali.


Sroottt...


Mei mengelap ingusnya dengan tisu. Dave menatap Mei dengan jijik.


"Kasihan sekali mereka tidak bisa bersama...." Mei menangis.


"Aku minta tisunya," ucap Aryn.


Mei menyodorkan tisu yang sejak tadi ia dekap. Tapi sebelum Aryn menerimanya, Dave sudah mencegahnya.


"Jorok sekali kau ini, pakai tisu toilet! Kalau mau jorok jangan ajak-ajak istriku!" seru Dave.


Tisu yang diberikan Mei adalah tisu yang diambilnya dari toilet. Karena tisu yang ada di meja sudah habis.


"Apa masalahnya, sama-sama tisu kok!" sahut Mei.


"Ayo sayang kita pulang!" Dave menggandeng Aryn. Aryn mengikuti Dave yang menggandeng tangannya.


"Lalu aku bagaimana?" tanya Mei.


"Menginap di sini juga boleh, aku dengar ruangan ini mempunyai penunggu. Setiap malam dia menampakkan wajahnya dan menangis. Aku rasa dia cocok berteman denganmu!" sahut Dave.


"Aku ikut kalian saja!" Mei berlari mengikuti Dave dan Aryn.


"Eh sebentar... Kacangku ketinggalan!" seru Mei.


Dave berniat meninggalkan Mei karena jika Mei ikut ke mansionnya pasti akan membuat kehebohan. Tapi Aryn memintanya untuk menunggu. Mei berlari masuk lagi ke dalam ruangan, ia mengambil kantong plastiknya yang berisi kacang.


Mereka bertiga masuk ke dalam lift. Saat lift melewati lantai dimana Zack bekerja, pintu lift itu terbuka. Mei tidak bisa mengontrol dirinya. Penampilan Zack yang sedikit acak-acakan membuat Mei terhipnotis.


Mei berjalan mengekor di belakang Dave yang bergandengan dengan Aryn. Dave mengemudikan mobilnya sendiri. Ia tidak biasa menggunakan sopir, biasanya Ken yang selalu mengantarnya kemanapun. Karena Ken sedang ditugaskan untuk membeli ice cream jadi Dave pulang sendiri. Dave membukakan pintu mobil untuk Aryn.


"Kenapa aku tidak dibukakan pintu?" keluh Mei.


Ia melihat Dave langsung ingin menuju bagian kemudi, melewati Mei begitu saja.


"Kau pikir aku sopirmu? Cepat masuk, atau aku tinggal!" sahut Dave.


"Okay," jawab Mei dengan lemas.


Mobil melesat meninggalkan halaman gedung pencakar langit itu. Tidak ada mobil pengawal yang mengikuti dari belakang. Dave memang selalu menjamin keselamatan keluarga dengan mengirimkan pengawal untuk mengikuti kemanapun keluarganya pergi. Tapi dia sendiri tidak didampingi oleh seorang pengawalpun saat keluar mansion. Dave hanya membawa pistol dan beberapa pisau di badannya untuk berjaga-jaga jika musuhnya menghadang di tengah jalan.


Tidak ada obrolan sepanjang perjalanan. Aryn fokus dengan game yang ia download di ponsel Dave, sementara Mei melamun ke arah jendela.


Dave menghentikan mobilnya saat melewati kebun. Terlihat Frans tengah sibuk memberikan pupuk.


"Astaga kandidat baru calon jodohku rajin sekali!" seru Mei kegirangan.


"Siapa?" Aryn menengok keluar jendela.


"Itu Frans... Keren abis! Bajunya basah keringat, rambutnya berantakan, kulitnya sawo matang... Calon idaman!" seru Mei.


"Apa yang kau lakukan, Frans?" teriak Dave dari dalam mobil.


"Apakah kau tidak lihat dia sedang memupuk tanaman? Mata sudah rabun begitu masih saja sok galak!" celetuk Mei.


"Diam kau!" seru Dave.


Terlihat Frans berlari mendekati mobil. Frans hanya menggunakan kaos putih tipis. Kaos yang ia pakai sudah berlumuran tanah. Karena pupuk diberikan dengan cara memendamnya di dekat akar tanaman. Rambut Frans pun basah oleh keringat.


"Apa yang kau lakukan di sini? Kau ingin aku pindah tugaskan menjadi tukang kebun?" seru Dave.


"Maaf, bos! Nona Silvi yang menyuruh saya!" jawab Frans.


Mei memandangi Frans dari atas sampai bawah. Frans merasa risih. Tatapan Mei seperti menelanjangi dirinya.


"Aku memandang Frans, tapi kenapa malah wajah Zack yang aku lihat!" gumam Mei.


"Lalu siapa yang mengantar Silvi? Ceroboh sekali kau mau disuruh Silvi!" tanya Dave.


"Tadi pagi Nona Silvi diantar Uti, bos! Dan tadi Uti sendiri yang menjemputnya dengan pengawal tentunya!" jawab Frans.


Dave mengangguk, ia melajukan mobilnya masuk ke dalam gerbang utama. Dave sedikit curiga ada yang direncanakan oleh Silvi, tapi mengapa Uti terlibat. Atau bisa saja memang Uti sengaja ingin mengantarkan Silvi ke sekolah. Biarlah nanti ia mencari tahu.


Mei melambaikan tangannya pada Frans saat mobil melaju meninggalkan kebun. Sesaat kemudian ia memalingkan wajahnya.


"Sepertinya aku harus memeriksakan mataku, aku melihat Zack ada di mana-mana bahkan di wajah Frans!" gumam Mei.


Frans tidak terlalu ambil pusing tentang sikap aneh yang Mei tunjukkan. Ia akan menyelesaikan untuk memupuk pohon terakhir.


Dave langsung bergegas turun dari mobil. Membukakan pintu untuk Aryn. Ia menggandeng Aryn yang masih sibuk bermain game. Mei mengekor di belakang mereka. Mansion terlihat sepi, Silvi sudah pulang sekolah. Tapi pasti sedang berada di kamarnya. Begitu juga dengan Uti. Erick dan Katy? Mereka datang berkunjung ke mansion Dave setiap weekend saja. Karena Erick, Papa Dave sibuk mengurus perusahaannya.

__ADS_1


"Main gamenya istirahat dulu sayang, nanti mata kamu sakit!" ucap Dave.


"Nih.." Aryn mengembalikan ponsel Dave. Kedua matanya berkaca-kaca hampir menangis.


"Nanti malam kamu boleh main game lagi, tapi sekarang mandi dulu! Ice creammu akan segera datang loh!" Dave mencoba merayu Aryn.


"Benarkah?" kedua mata Aryn berbinar.


"Wah ice cream, berarti aku menginap di sini saja ya, Aryn!" seru Mei.


"Tentu!" sahut Aryn.


"APA?? Tidak bisa, aku tidak memberi izin untukmu! Mansionku bukan penginapan, pulanglah ke apartemenmu sendiri!" protes Dave.


"Pelit!" seru Mei.


"Sayang... Izinkan Mei menginap untuk sekali ini saja ya, please!" ucap Aryn.


"Apa kamu tidak salah ucap, sayang? Sekali ini? Dia sudah menginap di sini berkali-kali!" protes Dave.


"Kalau begitu izinkan dia menginap di sini untuk kesekian kalinya!" sahut Aryn.


"Kami mau mengerjakan tugas bersama juga," imbuh Mei.


"Bilangnya membuat tugas, tapi nanti kalian hanya akan menonton drama sampai larut malam!" seru Dave.


"Please,," lirih Aryn, kedua matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku takut kesehatanmu dan baby terganggu karena temanmu ini menginap! Tidur larut malam tidak baik," Dave menjelaskan.


"Tidak akan sampai larut malam, sayang!" Aryn sudah menangis.


"Okay okay!" Dave memeluk Aryn.


Mei tersenyum senang. Lalu berjalan santai menuju lift meninggalkan Dave dan Aryn. Ia membawa kacang yang ia bungkus tadi menuju kamar tamu yang biasa ia pakai jika menginap.


"Lihatlah kelakuan temanmu itu, sudah seperti di rumahnya sendiri! Tidak tahu malu!" seru Dave.


"Memang dia tidak tahu mau, biasanya malu-maluin!" seru Aryn. Mereka berdua tertawa bersama.


"Ayo mandi!" ajak Dave.


"Harus mandi?" tanya Aryn.


"Iya sayangku!" Dave menggandeng Aryn masuk ke dalam lift.


"Besok pagi aja, ya?" sesampainya di dalam kamar Aryn masih mencoba merayu Dave.


"Sekarang, sayang!" Dave mencubit pipi Aryn dengan gemas.


"Kalau mandi sudah tentu basah, sayang! Atau mau aku mandikan saja?" ucap Dave.


Aryn langsung menggeleng cepat. Bukannya memandikannya tapi Dave pasti akan melakukan hal lain. Aryn berlari masuk ke dalam kamar mandi.


"Kemarin di trimester pertama aku tidak boleh mandi, sekarang dia susah sekali disuruh mandi! Babyku jorok atau gimana? Astaga... Jangan sampai!" gumam Dave.


Dave melepaskan jasnya berikut sepatu dan dasinya. Pekerjaannya lumayan menumpuk beberapa minggu ini. Tapi ia selalu pulang awal, jika ada pekerjaan yang belum selesai ia akan mengerjakannya di rumah. Ia tidak ingin melewatkan hari-hari kehamilan istrinya. Dave mempersiapkan segalanya untuk menjadi seorang daddy untuk babynya dan suami siaga untuk istrinya.


Sudah cukup lama Aryn masuk ke dalam kamar mandi, tapi Dave tidak kunjung mendengar suara gemericik air dari dalam. Ia penasaran istrinya mandi atau tidak. Dave mengendap-endap membuka pintu kamar mandi. Aryn tidak pernah mengunci pintu kamar mandi, itu karena Dave yang memintanya. Jika sesuatu terjadi, Dave bisa cepat bertindak.


Dari balik pintu, Dave dapat melihat Aryn yang hanya menggunakan handuk duduk-duduk santai di dalam bath up sambil memainkan ponselnya. Dave menutup pintu itu. Lalu ia mengetuk pintu kamar mandi dari luar.


"Ayo cepat, sayang!" seru Dave.


"Iya, sayang! Ini sedang memakai sabun!" teriak Aryn dari dalam kamar mandi. Setelah itu terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Makai sabun apanya? Badannya basah saja tidak!" gumam Dave.


Dave mengintip lagi, kali ini Aryn masih di dalam bath up. Tapi ia menyemprotkan air dari kran seolah-olah ia sedang mandi. Padahal badannya sama sekali belum menyentuh air. Dave tertawa kecil melihat kelicikan istrinya.


Kini Aryn menggosok giginya lalu menggunakan obat kumur. Ia mengelap wajahnya dengan air berikut lengan dan kakinya.


"Aku sudah terlihat seperti habis mandi!" ucap Aryn yang memandangi tubuhnya di cermin.


"Istriku ini benar-benar membuatku gemas!" gumam Dave.


"Andai saja bisa mandi tanpa air, mommy tidak perlu membohongi daddymu, nak! Apakah kamu senang sekarang?" Aryn berbicara dengan babynya yang masih di dalam perut.


Setelah terlihat cukup basah, Aryn menghentikan aksinya. Ia menggunakan deodorant lalu bersiap keluar dari kamar mandi. Dave bergegas menutup pintu kamar mandi lalu, duduk di pinggir ranjang.


Ceklek,


"Aku sudah mandi, sayang!" seru Aryn.


Dave tertawa kecil. Ia mengamati Aryn yang sedang menuju walk-in closet untuk berganti pakaian. Dave membiarkan Aryn memakai pakainya. Begitu Aryn duduk di depan meja rias untuk memakai lotion, Dave berjalan mendekat.


"Sayang turunkan aku!" pekik Aryn saat Dave tiba-tiba menggendongnya.


"Apa kamu pikir aku tidak tahu? Aku akan memandikanmu!" Dave tertawa kecil.


"Tidak mau, Dave! Aku tidak mau basah kuyup!" seru Aryn.


Dave tidak mempedulikan alasan yang Aryn katakan. Ia membawa Aryn masuk ke dalam kamar mandi. Aryn yang sudah pasrah membiarkan Dave memandikannya seperti bayi besar. Tangan Dave tidak bisa dikontrol. Tangannya selalu saja mampir di area sensitif Aryn, membuat Aryn memekik geli. Akhirnya hal yang tidak diinginkan Aryn pun terjadi. Mandi sore mereka menjadi ritual yang panjang dan panas.


Di sisi lain,

__ADS_1


Setelah selesai mandi dan menyimpan kacang yang ia bungkus tadi di dalam kamar tamu, Mei merebahkan tubuhnya sejenak di kamar. Ia baru turun saat perutnya terasa lapar. Baru saja ia tiba di lantai satu, aroma masakan menyerbak. Hidungnya menari-nari, mencium aroma masakan yang lezat. Ia langsung bersiap di meja makan. Ily dan Sonya secara bergantian meletakkan hidangan makan malam di meja makan.


Dari lift, keluar Uti dan Silvi. Uti tersenyum melihat kehadiran Mei di meja makan. Sebaliknya, Silvi terlihat tidak suka seperti biasanya. Dave dan Silvi sama-sama suka bertengkar dengan Mei jika bertemu. Tapi sebenarnya di hati masing-masing tidak ada yang tidak suka, mereka menerima Mei sebagai sahabatnya Aryn. Hanya saja kelakuan Mei membuat siapapun pasti kesal.


"Eh, Nak Mei! Kapan sampainya?" tanya Uti.


"Tadi sore, Uti!" jawab Mei.


"Menginap di sini?"


"Jelas dong, Uti!" sahut Silvi.


"Iiihh apaan sih kamu!" seru Mei.


"Sudah, cukup! Kalian ini selalu saja bertengkar! Dave dan Aryn belum turun?" tanya Uti.


"Belum Uti," jawab Mei.


"Selamat malam," sapa Ken.


Uti, Mei, dan Silvi menoleh ke sumber suara. Terlihat Ken datang dengan membawa sebuah box. Penampilannya cukup memprihatinkan, rambutnya acak-acakan.


"Apa itu, Kak?" seru Silvi penasaran.


"Ice cream penasanan Aryn!" jawab Ken.


Ice cream datang tepat di saat Dave dan Aryn keluar dari lift. Aryn yang sudah menunggu ice creamnya langsung bersemangat.


"Wah... Ice creamnya sudah sampai!" seru Aryn yang langsung mendekati meja makan.


Dave memberi isyarat kepada Ken untuk mengeluarkan semua ice cream di meja makan. Ken mengeluarkan empat dus ice cream stik rasa coklat, vanilla, strawberry dan macha. Berikut dua dus berisi ice cream dalam cup rasa tiramisu dan vanilla blue dnegan irisan buah. Dan yang terakhir Ice cream sandwich dengan sedikit parutan kulit jeruk. Semua pesanan berhasil Ken dapatkan. Melalui pesan, tadi Dave memintanya membeli satu dus dari masing-masing ice cream Dan membawanya dengan kotak khusus.


"Makan dulu ya, ice creamnya setelah makan!" seru Dave memperingatkan Aryn yang akan membuka dus pertama.


"Benar itu, nak!" seru Uti.


"Tapi...." Aryn sudah hampir menangis. Kedua matanya berkaca-kaca.


"Baiklah!" Dave mengalah. Ia mengisyaratkan pada Uti untuk mengizinkan juga.


"Aryn cengeng sekali! Baby... Kamu jangan buat mommy jadi cengeng, jagoan harus membuat mommynya tersenyum!" gumam Dave yang mengelus perut Aryn.


Aryn membuka satu persatu dus Ice cream dengan antusias. Ia mengeluarkan satu ice cream dari masing-masing dus. Lalu Aryn memakannya satu-satu. Tapi Aryn tidak menghabiskannya, hanya menggigit sedikit diujung ice cream.


"Kenapa hanya sedikit?" tanya Dave.


"Aku hanya ingin mencicipinya saja!" seru Aryn santai.


Aryn mencampakan ice creamnya begitu saja da mulai mengambil menu makan malam. Uti, Silvi, Mei, dan Dave hanya menggelengkan kepalanya. Mereka maklum karena mungkin bawaan dari baby. Tapi Ken melongo. Ice cream yang ia bawa jauh-jauh hanya dicicipi sedikit saja. Kedua matanya pun berkaca-kaca.


"Kak Ken kenapa?" tanya Silvi.


"Ice cream ini dibeli di kota N dan C, aku sampai harus memakai baju putih dan membawanya dengan kotak khusus ini agar tidak mencair! Ice creamnya hanya dimakan sedikit huaaa!" jawab Ken sedih menunjukkan sebuah kotak yang dilengkapi pengatur suhu.


"Keponakanku kalau menginginkan sesuatu tidak pernah tanggung-tanggung!" seru Silvi terkekeh.


"Nanti kunaikkan gajimu!" seru Dave.


"Benarkah?" kedua mata Ken langsung berbinar.


"Iya," jawab Dave


"Akhirnya...." seru Ken senang.


"Kau ini hanya karena ice cream kau menangis, dan sekarang sudah senang saja! Sejak kapan pria batu sepertimu mempunyai mood yang sensitif?" seru Dave.


"Mungkin karena Kak Naina hamil?" tanya Silvi.


"Tidak," jawab Ken.


"Kenapa kau bisa mengatakan itu Silvi?" tanya Mei.


"Menebak saja," jawab Silvi santai.


"Kalau begitu aku pulang dulu, mendengar nama Naina aku jadi rindu!" ucap Ken yang langsung melangkah pergi.


" Apa benar Naina hamil ya? Aduh... aku deg-degan!" gumam Ken.


"Aryn..." panggil Mei.


"Iya?" tanya Aryn.


"Boleh aku bungkus ice cream ini?" tanyanya.


"Eitttt.... Main bungkus-bungkus aja! Aku juga mau makan ice cream!" seru Silvi.


"Bungkus aja!" jawab Aryn.


"Dengar tuh!" seru Mei.


"Silvi juga boleh ambil kok!" jawab Aryn.


"Wleekkk!" Silvi menjulurkan lidahnya.


............

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian!


__ADS_2