
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
"Taadaaaa... Sup ayam buatan mama sudah siap!" Katy membawa semangkuk sup ke meja makan.
Dave dan Aryn menunggunya dengan harap-harap cemas. Karena Dave mengatakan mamanya itu sama sekali tidak pernah menyentuh kompor sebelumnya. Ini saja Katy membutuhkan waktu yang lama untuk menyajikan supnya.
"Kok tidak ada kuahnya ma," tanya Dave.
Sup yang dihidangkan di hadapan Dave dan Aryn tidak seperti sup pada umumnya. Kuahnya sangat sedikit, dan potongan sayurnya juga berantakan. Entah rasanya seperti apa.
"Surut? Atau mangkoknya bocor?" celetuk Dave.
"Huss! Jangan begitu sayang!" Aryn berbisik di telinga Dave.
"Itu.... Tadi mama tinggal mengiris dan menggoreng bawang, saat selesai, sudah surut kuahnya!" jawab Katy.
"Pasti enak, Aryn coba ya ma?" ucap Aryn membuat Katy tersenyum.
"Iya sayang, walaupun penampilannya seperti sayur tawuran, tapi mama membuatnya dengan segenap jiwa dan raga!" Katy terkekeh.
Aryn tersenyum, ia menyendok sup itu. Perlahan ia masukkan ke dalam mulutnya. Mulutnya mengunyah pelan makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Berhenti sejenak, dan lidahnya menyecap rasa.
Katy menatap Aryn tanpa berkedip, ia penasaran bagaimana rasa masakan pertama yang ia buat. Katy sama sekali tidak ingin dibantu Ily ataupun pelayan lain saat memasaknya tadi. Katy hanya mengandalkan YouTube dan instingnya sebagai wanita.
"Bagaimana?" tanya Katy dengan penuh antusias.
"Hmm, enak kok ma," sahut Aryn.
Dave memiringkan kepalanya, menatap wajah Aryn baik-baik. Ia tidak yakin Aryn berkata jujur.
"Serius?" tanya Dave.
"Kamu ini jangan bilang seperti itu, rasanya enak kok! Kalau nggak percaya coba sendiri," Aryn menyuapkan sup pada Dave.
"Hmm," Dave mengunyah sup itu, membolak-balik lidahnya untuk merasakan.
"Enak kan?" tanya Aryn.
"Iya... Kok bisa ya?" jawab Dave.
Katy memicingkan matanya menatap Dave. Apakah putra kesayangannya baru saja menghina kemampuan masak mamanya?
"Auuwww... Sakit ma," pekik Dave.
Katy menjewer telinga kanan Dave.
"Anak nakal sepertimu harus dihukum!" seru Katy.
"Sakit ma, ampun!" rintih Dave.
Katy melepaskan telinga Dave. Seketika, Dave langsung menghindari Katy. Ia bersembunyi de belakang Aryn.
"Apa-apaan kamu ini, sembunyi di belakang istrimu!" seru Katy terkekeh.
"Minggir Dave, aku mau makan!" seru Aryn menggibaskan Dave yang memeluk tubuhnya.
"Makan yang banyak ya, sayang!" Katy mengacak pelan rambut Aryn.
Katy meninggalkan meja makan. Kedua matanya menatap tajam Dave. Dave tertawa kecil melihatnya. Katy bergabung dengan Silvi dan Erick yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Sementara Dave, is menemani Aryn menghabiskan sup buatan Katy.
"Kenapa wajahnya kusut begitu? Bukankah uang skincare bulan ini sudah papa transfer?" seru Erick saat melihat Katy datang menghampirinya.
"Anakmu itu, mengolok masakanku!" Katy mengadu.
"Masakan? Kamu bisa masak?" tanya Erick.
"Anak sama bapak sama saja!" keluh Katy menampilkan wajah marahnya.
"Sudahlah... Kamu selama ini tidak pernah ke dapur karena aku yang ingin itu. Aku membayar pelayan agar membantumu, aku menikahimu bukan untuk menjadikanmu pembantu tapi sebagai teman hidup. Lagipula kamu sudah menjalankan tanggung jawab dan kewajibanmu sebagai seorang istri dengan baik. Kamu mengurusku dengan baik, menyiapkan baju, mengambilkan makanan ke dalam piringku, memelukku saat aku sedang terpuruk. Jangan marah lagi, Dave hanya bercanda saja! Kalau kamu terganggu karena ledekannya, besok akan aku datangkan chef agar kamu bisa belajar memasak dengan benar." ucap Erick.
"Terima kasih, papa!" Katy memeluk suaminya itu.
"Kalau urusan romantis, papa dan mama selalu juara! Nanti aku juga ikut kursus masaknya ya, ma! Lumayan untuk persiapan masa depan," Silvi menatap keduanya.
Erick terkekeh, ia mengangguk. Lalu dengan spontan ia mengecup bibir istrinya, di hadapan Silvi.
__ADS_1
Silvi menggelengkan kepalanya, hubungan kedua orangtuanya ini terlihat sangat asik walaupun sudah puluhan tahun. Kadang bertengkar dan saling mengolok, lalu kembali romantis lagi. Suatu hari nanti ia ingin diperlakukan sama seperti yang dilakukan papanya terhadap mamanya.
Dave dan Aryn bergabung di ruang tengah. Ia melihat Silvi yang menjadi saksi hidup keromantisan mama dan papanya.
"Awas, pa! Nanti anak gadismu pengen," seloroh Dave.
"Biarkan kalau dia pengen, papa juga pernah muda," sahut Erick.
Mereka menonton televisi bersama. Di selingi dengan aksi Dave yang mengerjai Silvi. Seperti biasa Aryn hanya menyaksikan sembari memakan cemilan buahnya.
"Papa mau kemana?" Silvi menahan Erick yang mau beranjak dari sofa.
Dave dan Aryn menoleh serempak. Dave mengisyaratkan pada Silvi jika Erick boleh masuk ke kamar. Karena persiapan mereka memang sudah selesai.
"Kalian ini kenapa sih? Sejak tadi Papa mau masuk kamar saja tidak boleh!" protes Erick.
"Benar itu!" imbuh Katy.
"Boleh kok, pa! Masuk saja!" sahut Dave.
Katy dan Erick berjalan menuju kamar mereka. Saat mereka sudah masuk lift. Dave, Aryn dan Silvi bergegas menyusul. Tidak lupa Silvi membawa kue yang sudah dibeli tadi.
"Kok kamar kita gelap pa? Apa Dave belum membayar tagihan listrik?" ucap Katy, tangannya memegang erat tangan Erick.
"Masa sultan belum bayar listrik, sebentar papa cari sekringnya," sahut Erick.
Byarr,
Lampu kamar menyala dengan terang.
"Happy anniversary!" seru Zack, Mei, Samuel, Frans dan Angel bersamaan.
"Oweeeee.... oweeeee...." di saat yang bersamaan terdengar juga suara tangis Kelyn. Entah karena terganggu karena suara bising atau juga ingin mengucapkan selamat.
Frans dengan cepat mengayunkan badannya, agar Kelyn tidur lagi. Ia juga mengelus kepalanya. Kelyn langsung diam.
Erick dan Katy saling menatap. Mereka berdua terkejut, semua orang menyiapkan kejutan ini. Terlihat langit-langit kamar yang penuh dengan balon berbentuk hati. Ranjang dengan sprei putih yang berhiaskan taburan kelopak bunga mawar merah. Ada beberapa foto pernikahan mereka yang disusun rapi membentuk hati di ranjang itu. Ditambah lilin aroma terapi yang diletakkan di kedua meja nakas sisi ranjang.
Erick dan Katy berpelukan.
"Sabar dulu om, tante!" seru Samuel.
"Tiup lilin dulu om tante," ucap Angel.
Erick dan Katy membalikkan tubuh mereka. Di belakang mereka Silvi membawa sebuah kue lengkap dengan lilin angka 31. Sudah 31 tahun mereka mengarungi samudera dengan bahtera cinta mereka. Di belakang Silvi, Dave dan Aryn masing-masing membawa bucket mawar merah yang masih segar.
"Jangan lupa make a wish dulu!" ucap Silvi.
Erick dan Katy saling menatap, lalu kemudian memejamkan mata mereka. Pastilah mereka memohon agar bisa selamanya bersama sampai maut memisahkan. Baru kemudian mereka meniup lilin itu.
"Jadi ini alasan kalian tidak membiarkan kami masuk ke kamar? Kalian manis sekali," ucap Katy.
"Semua ini ide Aryn dan Silvi, ma!" seloroh Dave.
"Kedua anak perempuan mama ini memang yang terbaik," Katy memeluk Aryn dan Silvi.
"Acaranya sudah selesai kan? Terima kasih ya, sekarang kami mau istirahat dulu!" ucap Erick.
"Buru-buru amat, om?" sahut Samuel.
"Benar itu, kan belum potong roti?" imbuh Silvi.
"Padahal aku menunggu untuk makan roti mewah itu," ucap Mei membuat semua orang menatapnya.
"Pikiranmu hanya makan saja," seru Zack.
"Biarin, nanti kalau dipotong juga semua orang berebutan," sahut Mei.
"Kalian makan di luar saja, sisakan sedikit untuk kami," Erick mendorong mereka satu persatu keluar kamar.
"Hati-hati ya, om! Ingat umur, takutnya nanti encok!" seru Samuel.
"Enak aja, om ini masih perkasa!" sahut Erick.
"Paling sepuluh menit saja sudah lemas," seloroh Dave.
"Sepuluh menit apanya, dengkul mama saja kemarin sampai lemas tidak kuat berdiri," seru Katy dari dalam.
__ADS_1
"Sudah sana! Potong roti sana!" Erick menutup pintu kamarnya.
"Maklum pengantin tua," seloroh Samuel.
"Sudah, ayo makan kue saja!" seru Mei.
Semua orang menatap Mei. Seketika Mei langsung menundukkan kepalanya. Jiwanya yang lapar memang susah dikendalikan.
Mereka semua berjalan menuju dapur. Tapi saat baru keluar dari lift. Tiba-tiba Aryn menghentikan langkahnya.
"Aaaa..." rintih Aryn.
"Sayang kenapa?" Dave panik.
"Babynya...." ucap Aryn.
"Apa yang terjadi dengan babynya?" sahut Dave.
Semua orang menatap Aryn. Aryn terdiam, rasa sakit yang ia rasakan hilang. Rasa sakit itu hanya berlangsung selama 40 detik.
"Sudah tidak sakit lagi," jawab Aryn.
"Ayo duduk dulu," Dave mendudukkan Aryn di sofa ruang tengah. Semua orang terlihat tegang. Hampir 20 menit mereka duduk di sana, perut Aryn sakit lagi.
"Aaaa...Sakit, sayang!" Aryn mencengkeram tangan Dave.
"Apakah sakitnya di bagian pinggang dan perut?" tanya Angel.
Dave menatap wajah Aryn yang menahan rasa sakit. Aryn menjawabnya dengan anggukan.
"Di bagian itumu, terasa keluar cairan tidak?" tanya Angel.
"Kau ini tidak lihat? Aryn sedang kesakitan kau malah memburunya dengan pertanyaan seperti itu!" seru Dave.
"Baru saja keluarrrr!" teriak Aryn.
"Hah, apanya? Babynya? Mana babynya?" seru Dave.
Angel berjongkok di depan Aryn, ia melihat cairan keluar mengalir di kedua kaki Aryn. Seperti yang dia alami saat mau melahirkan Kelyn waktu itu.
"Ada apa ini?" Uti menghampiri mereka.
Uti tadi sedang memotong buah bersama Ily dan Sonya. Saat mendengar Aryn berteriak ia langsung berlari ke sumber suara.
"Sepertinya Aryn akan segera melahirkan, Uti! Tanda-tandanya sama denganku dulu," jawab Angel.
"Melahirkan? Babynya keluar?" tanya Dave.
"Iya, Dave!" jawab Angel penuh penekanan.
"Terus aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" Dave panik, ia mondar-mandir tidak jelas.
"Bawa Aryn ke rumah sakit! Cepat!" seru Uti.
"Ngapain ke rumah sakit, Uti?" jawab Dave.
"Babymu mau lahir, Dave! Dia butuh dokter!" seru Uti.
"Oh iya, rumah sakit! Ayo!" Dave menggendong Aryn.
Semua orang berlarian mengikuti Dave yang menggendong Aryn. Tapi Mei masih mematung di tempatnya. Sampai Zack menyadari Mei tidak ikut berlari keluar. Zack kemudian menghampiri Mei lagi. Ia menepuk bahu gadis itu.
"Ngapain masih di sini!" seru Zack.
"Apakah Aryn akan melahirkan sungguhan?" ucap Mei.
"Iyalah," jawab Zack.
"Tidak jadi makan kue," ucapnya.
Pletak,
"Aauuuww!" Mei memegang keningnya yang disentil Zack.
"Otakmu ini harus direset, isinya makanan semua! Ayo, kita susul mereka ke rumah sakit!" Zack menarik tangan Mei.
......................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!