
Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅
..........................
"Bagaimana rencanamu Dave?" tanya Samuel.
"Tunggu tanggal mainnya, gua besok mau honey moon dulu!" ucap Dave terkekeh.
Keempat sahabatnya itu serempak menepuk jidat masing-masing.
"Gua nggak mau ikut campur kalau tiba-tiba ada yang nyerang dari bawah ranjang lo besok!" Samuel mengomel.
"Kok lo santai banget sih, Dave? Lebih baik lo tunda sampai masalah ini selesai dulu! Gua sebagai sahabat mengkhawatirkan kelancaran projek putri tunggal lo!" sahut Zack dengan menggebu-gebu.
"Bener tuh, kan nggak semua bisa cepet jadi kayak gua!" seru Samuel dengan bangga.
"Sombong amat!" seru Dave, Samuel, dan Zack serempak.
Reza sama sekali tidak memiliki stok kata-kata jika membicarakan tentang Dave dan Aryn. Ia memilih diam dan memperhatikan. Sesekali ia mengangguk, berakting sebagai pendengar yang baik. Sebenarnya malas sekali mendengarkan semua hal yang bersangkutan dengan pasutri itu.
"Jadi ini kita nunggu pergerakan musuh atau gimana?" seru Samuel yang sangat penasaran.
"Gua udah memberi arahan ke Doni untuk mencari informasi sebanyak mungkin dan memantau pergerakan musuh. Kinerja Doni tidak bisa diragukan, percaya aja sama dia! Rencana honey moon gua besok bersifat private, gua jamin tidak ada yang tahu rencana honey moon gua kecuali kalian! Anak buah yang ikut gua lumayan banyak, plus sniper handal. Gua juga udah nyewa hacker terbaik untuk memanipulasi rencana honey moon gua. Gua nggak setuju kalau rencana honey moon ini harus ditunda, kasihan si junior. So, kemungkinan kalau si musuh bergerak yang akan menjadi sasaran pertama adalah mansion ini! Terutama orang-orang terdekat gua! Kalian harus jaga diri sendiri dan Silvi di sini!" seru Dave dengan yakin.
Mendengar arahan Dave, keempat sahabatnya mengangguk paham. Lagipula mereka juga sudah cukup tahu bagaimana pola penyerangan si musuh ini. Setelah insiden penguntitnya kepergok Silvi pasti si musuh akan menghilang untuk sementara.
Mereka berlima berjalan beriringan masuk ke dalam mansion.
"By the way, lo kapan nikahnya sama si Angel? Keburu gede perutnya!" seru Reza yang berjalan di samping Samuel, tangannya merangkul Samuel.
"Susah, bro! Bokap gua sih mau nggak mau setuju setuju aja karena Angel kan terlanjur melendung. Tapi Angel belum berani bilang ke ayahnya. Gua yakin Hans mati-matian nyari Angel sekarang. Saat Hans tahu perut Angel yang melendung itu ulah gua, pasti ujung-ujungnya perang. Lo tahu sendiri dia musuh bebuyutan Red Blood!" jawab Samuel dengan sendu.
Hans, ayah Angel memiliki bisnis gelap. Lima tahun lalu, ketika Red Blood sedang merintis bisnis, di saat itulah Hans juga mulai merintis bisnisnya. Pernah suatu waktu Hans menawarkan kerja sama dengan Red Blood untuk memasok senjatanya. Satu kali, dua kali, bahkan sampai sepuluh kali bertransaksi Red Blood tidak mempunyai masalah dengannya. Tapi di transaksi selanjutnya, Hans menjebak Red Blood dengan memanggil polisi. Beruntung Dave dan sahabatnya berhasil membereskan polisi-polisi itu.Tapi sialnya, setelah insiden itu Dave tidak mempunyai kesempatan untuk membalaskan dendamnya. Papanya justru meminjam modal yang besar karena perusahaan yang dikelola papanya bangkrut. Bahkan Erick bersikeras menjodohkan Dave dengan Angel.
"Seharusnya waktu itu lo pakai pengaman! Biar nggak jadi masalah begini!" sahut Zack.
__ADS_1
"Enak skin to skin," celetuk Dave.
"Cie yang udah nyoblos," ledek Zack.
"Bener tuh, Dave! Rasanya... ah mantab!" seru Samuel terkekeh.
"Ya tuhan tolong Ken! Kuatkan telingaku mendengar obrolan ini dan segera kirimkan bidadari untukku!" gumam Ken dalam hatinya.
"Ssstttt!" Reza meletakkan telunjuknya di atas bibirnya.
"APAA??" seru Dave, Samuel, dan Zack serempak.
"Kasihan Ken, dia belum pernah!" seru Reza terkekeh, ia berlari berjaga-jaga jika Ken menyerangnya.
"Kampret lo!" teriak Ken dengan keras.
"Kayak lo udah pernah aja, Za!" seru Samuel terkekeh.
"Palingan juga cuma REMAJA!" Zack terkekeh.
"Maksud lo?" tanya Dave.
Walaupun statusnya juga buaya darat, tapi Reza belum pernah meniduri wanita-wanitanya. Paling mentok hanya sampai ciuman atau raba-raba saja. Kemarahan maminya selalu menjauhannya dari hal itu.
"Playboy cupu lo!" ledek Dave.
Lambaikan tangan ke kamera aja lah! Nyerah dengan lima sahabat itu.
"Ngobrol dengan kalian itu sama aja menyebar gula di samudera tau nggak? Nggak akan pernah manis!" teriak Reza yang sudah sampai di pintu utama, wajahnya terlihat masam.
"Ikan hiu makan tomat," seru Zack.
"Bodo amat!" sahut Samuel membuat empat pria tampan itu tertawa bersama.
Reza melangkah masuk ke dalam mansion dengan kesal. Ia terus mengomel.
Bukankah kehormatan wanita harus dijaga? Kenapa ini dia malah diledek habis-habisan karena belum pernah meniduri wanita. Maminya selalu mengajarinya untuk tidak merusak wanita. Tentu dia mematuhi nasihat mamanya. Yeah, walaupun sudah pernah main REMAJA tapi setidaknya dia masih perjaka. Di negara yang kehidupannya bebas ini dia merasa cukup bangga karena bisa menjaga dirinya.
__ADS_1
"Astaga! Kak Reza kalau lagi kesal damage-nya... uh bisa bikin mimisan! Tapi sayang cintaku bertepuk sebelah tangan huhuhu!" gumam Silvi di dalam hatinya saat melihat Reza berjalan mendekat ke ruang tengah.
Bug, Reza melemparkan bokongnya ke sofa tepat di sebelah Silvi. Tidak disangka, Silvi menggeser bokongnya menjauhi Reza.
Reza mengelap wajahnya dengan kasar. "Sebenarnya ada apa dengan Silvi? Kenapa dia menjauhiku?" gumamnya dalam hati. Bukannya menanyakan kepada Silvi kenapa menjauhinya, Reza justru mengikuti permainan Silvi. Ia juga mendiamkan Silvi.
"Sepertinya mereka sedang perang dingin," Aryn merasa kikuk di antara dua orang yang sedang berdiam-diaman.
Beberapa saat kemudian, rombongan pria tampan datang dan bergabung dengan mereka di ruang tengah yang luas itu. Aryn terlihat salah tingkah saat melihat Dave yang tersenyum manis kepadanya.
Astaga! Senyummu itu sungguh tidak bagus untuk kesehatan jantungku, Dave!
........................
"Arrgghh!" teriakannya membuat dua anak buah di depannya menunduk ketakutan.
"Bagaimana bisa mereka menyadari keberadaan penguntitku?" seru pria itu memukulkan pistolnya ke meja.
"Anak gadis itu bos yang memergokinya!" seru salah satu anak buahnya.
"Apa? Apakah yang kau maksud itu adiknya Dave? Kalian kalah dengan adik Dave yang berusia 15 tahun itu? Sia-sia aku mengutus kalian hari ini!" teriak pria itu marah dengan anak buahnya.
"Anak gadis itu sangat cerdik sama seperti Dave, bos! Dia sengaja mengempeskan ban motor temanku agar tidak bisa kabur jauh saat dikejar anjing pelacaknya!"
"Tidak ada gunanya aku memiliki anak buah bodoh seperti kalian!" seru pria itu.
Dor dor,
Dor dor,
Pria itu membunuh masing-masing dari dua anak buahnya dengan dua peluru yang ditembakkan ke kepala mereka. Darah membanjiri lantai marmer putih ruangan gelap itu. Dinding ruangan berwarna abu-abu bertambah seram dengan cipratan darah segar anak buahnya. Sungguh pemandangan yang membuat buku kuduk meremang.
"Aku akan membuatku merasakan apa yang ayahku rasakan menjelang kematiannya, bahkan lebih buruk dari itu! Tunggu pembalasanku, Dave Winata!" teriak pria itu sambil mengelap darah yang menempel di wajah pucatnya.
...................
Reza sama Silvi malah diem-dieman nih! Kira-kira Aryn tahu nggak ya kalau Silvi suka Reza tapi Rezanya suka dia? So, stay tuned ya!
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All ❤️....