Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
SINGA BETINA


__ADS_3

WARNING:


SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.


HAPPY READING 😘


...............................


"Aku tidak mau kak!" seru Silvi.


"Silvi... Seburuk apapun sikap mereka kepadamu, mereka tetap mama dan papamu! Temui mereka sebentar beberapa menit saja, jika mereka mulai membicarakan bisnis merea atau mulai memaksamu untuk pulang kau beristirahatlah kembali!" seru Dave.


Silvi menyetujui perkataan Dave. Ia berjalan perlahan mengekor di belakang Dave menuju ruang tamu, menemui mama dan papa mereka.


"Silvi!" Katy menghambur ke putrinya, ia memeluknya dengan erat.


"Auuww sakit, ma!" pekik Silvi.


Katy langsung melepaskan pelukannya, ia mengelus pelan lengan Silvi yang masih di balut perban putih.


"Maaf sayang, mama terlalu senang bisa bertemu dengan dirimu!" ucap Katy.


"Bagaimana keadaanmu, Silvi?" tanya Erick.


"Sudah lebih baik, pa!" jawab Silvi.


Dave melemparkan bokongnya ke sofa. Ia ingin memberikan ruang yang luas untuk mama dan papanya berbicara dengan Silvi. Ia memilih untuk memainkan ponselnya mengecek email yang masuk.


"Kenapa kau membawanya pulang tanpa menemui kami terlebih dahulu, Dave?" tanya Erick.


"Aku hanya menuruti permintaan Silvi," jawab Dave dengan santai.


"Jangan gunakan nama adikmu untuk menutupi kesalahanmu, Dave!" seru Katy.


"Kak Dave benar, aku yang ingin pulang. Maaf tidak memberitahu kalian terlebih dahulu," ucap Silvi dengan ekpresi datar.


"Baiklah kalau begitu, sekarang kau ikut mama papa pulang ya?" ucap Katy.


"Lain waktu saja, ma!" jawab Silvi.


"Ayolah Silvi! Satu hari saja, mama ingin tidur bersamamu!" rayu Katy.


"Kalau begitu malam ini mama dan papa menginap saja di sini! Pelayan akan menyiapkan kamar kalian," seru Dave.


"Tapi..." Katy terlihat ragu dengan sesekali menoleh Erick meminta persetujuan.


"Papa dan mama ada urusan nanti malam, ayo mama kita pulang! Silvi butuh istirahat, jika dia melakukan perjalanan jauh pasti akan berpengaruh pada kesehatannya!" seru Erick.

__ADS_1


Dave tersenyum sinis, seperti dugaannya papanya tidak akan pernah sudi menginap di mansionnya.


"Hemm, baiklah! Setelah kau pulih nanti, datang ke mansion papa dan mama ya sayang?" ucap Katy saat memeluk Silvi, kali ini tidak begitu erat.


"Iya, ma! Nanti aku akan mengajak kakak ipar juga!" seru Silvi.


Katy tersenyum kecut mendengar Silvi memanggil Aryn sebagai kakak iparnya. Sementara Erick melengos, ia sama sekali tidak suka dengan Aryn. Baginya Dave harus menikah dengan Angel. Bagaimanapun caranya ia harus menikahkan Dave dengan Angel.


"Kami pulang dulu, Dave! Pikirkan semuanya sebelum hubunganmu dengan wanita itu terlalu jauh, Angel masih mengharapkanmu!" seru Erick.


"Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, pa! Keputusanku tidak pernah salah!" seru Dave pada Erick yang baru saja sampai di pintu utama.


Dave bangkit dari duduknya, ia akan kembali ke kamarnya.


"Apakah kakak sudah membawa pulang Kak Aryn?" tanya Silvi menghentikan langkah Dave.


"Sudah," jawab Dave singkat.


"Berarti sekarang Kak Aryn ada di kamar kakak?" seru Silvi dengan bersemangat.


"Iya, tapi dia sedang beristirahat. Tangannya sedikit terluka, baru saja selesai diobati Paman Kevin. Aryn masih lemas, dan mungkin trauma dengan kejadian di jalan tadi. Jadi kalau ingin bertemu nanti saja waktu makan malam!" jelas Dave panjang lebar.


"Apa yang terjadi, kak? Kenapa Kak Aryn bisa terluka? Kakak ini bagaimana, kenapa tidak menjaga Kakak iparku?" Silvi memberondong Dave dengan pertanyaan.


"Tadi ada sedikit gangguan di jalan, biasa lah! Sudah, ya! Kamu juga istirahat, lukamu belum pulih!" Jawab Dave, ia langsung masuk ke dalam lift duluan sebelum Silvi memberikan lebih banyak pertanyaan.


"Kak!" teriak Silvi kesal.


Pintu dibuka dengan perlahan, Dave tidak ingin membangunkan singa betina yang sedang tertidur pulas. Ia melangkahkan kakinya dengan mengendap-endap. Lalu ia berbaring di samping Aryn, ikut masuk ke dalam selimut. Badannya terasa sangat letih setelah perjalanan udara yang sangat panjang.


"Shit!" umpat Dave kesal, ia melupakan sesuatu.


Diambilnya ponsel dalam saku celana dengan segera. Ia mencari kontak Zack. Hanya berdering satu kali, teleponnya langsung terhubung dengan Zack.


"Hallo, Dave! Posisi lo sekarang dimana?"


"Di mansion, nanti malem gua tunggu di ruang bawah tanah mansion gua!"


"Ada apa? Eksekusi lagi?"


"Ya begitulah, Aryn diserang! Tadinya gua udah mau meluncur ke apartemen lo, tapi gua puter balik nolongin istri gua!"


"Wah...gila nih orang! Orang ini beneran ngajak perang Red Blood!"


"Bagaimana hasil penyelidikan lo?"


"Masih belum ada perkembangan, CCTV di lokasi Samuel diserang mati, Dave!"


"Kita tunggu pergerakan dia selanjutnya, kita lihat secerdik apa dia!"

__ADS_1


"Oke, Dave! Gua yakin dia bukan musuh sembarangan Dave, cara kerjanya rapih!"


"Yeah, gua ada 2 anak buahnya yang masih hidup! Kita lihat nanti!"


"Oke!"


Tut ,


Ponsel itu langsung diletakkan di atas nakasnya. Dave menggunakan kedua tangannya untuk menopang kepalanya. Kedua matanya menatap langit-langit. Pikirannya mengembara entah kemana. Selang beberapa menit, ia menoleh ke samping kirinya.


Deg,


Ditatapnya Aryn yang sedang tertidur pulas. Aryn terlihat sangat cantik ketika sedang tidur. Kecantikan yang dipancarkan alami wajah polos tanpa make up milik Aryn. Kenapa baru kali ini Dave menyadari jika Aryn cantik?


"Kenapa sejak kemarin aku sama sekali tidak memikirkan Elsa? Aku justru memikirkan setiap ocehan dan penolakan Aryn! Hmm...apakah aku? Apakah aku sudah mulai menyukainya? Syukurlah jika memang begitu, aku juga ingin merasakan cinta lagi! Tapi Aryn sepertinya belum menyukaiku apalagi mencintaiku! Wanita ini membuatku semakin ingin mendapatkannya!" batin Dave.


Dave memiringkan wajahnya, menatap setiap inci wajah Aryn.


"Kalau tidur begini, kau terlihat lemah lembut! Tapi saat kedua matamu ini terbuka, seperti singa betina yang baru saja melahirkan! Disenggol sedikit saja langsung ingin menerkam! Eerrrr...Eeeerrrr..." lirih Dave.


"Apa kau bilang?" lirih Aryn dengan kedua mata yang masih terpejam.


"Aku tidak bilang apa-apa!" jawab Dave dengan cepat.


"Kau baru saja bilang jika aku seperti singa betina! Aku mendengarnya, Dave!" seru Aryn dengan tatapan tajam, lebih tajam dari tatapan Dave.


"Memang begitu!" jawab Dave cuek.


"Lihatlah, sekarang aura singamu benar-benar terlihat!" seru Dave saat melihat kedua mata Aryn melotot seperti mau keluar dari tempatnya.


"Kau ini! Keluar dari kamar ini!" ucap Aryn dengan percaya diri, ia duduk bersandar di kepala ranjang.


"Heh! Kau tidak mungkin mengusir pemilik kamar sekaligus mansion ini! Aku bebas tidur dimanapun, tidak ada yang bisa melarangku!" balas Dave yang langsung duduk menghadap Aryn.


Skak mat, ucapan Dave benar semua. Dave lah pemegang kekuasaan tertinggi di mansion ini. Kenapa Aryn bisa lupa jika sekarang ia berada di kamar Dave, niat ingin mengusir agar tidak diganggu malah dirinya sendiri yang terancam terusir


"Tapi aku tidak ingin tidur bersamamu!" tukas Aryn mencoba mencari celah.


"Kau ini istriku, masa istri menolak tidur dengan suaminya sendiri. Kau ingin menjadi istri durhaka? Kau sudah lupa dengan nasihat Utimu?" seru Dave dengan menggebu-gebu.


Perdebatan mereka yang semula hanya saling mengejek justru semakin sengit. Perdebatan mereka menjalar kemana-mana.


"Kenapa kau membawa-bawa nama Uti segala?" seru Aryn yang tidak suka Utinya dibawa dalam perdebatan.


"Terserah lah! Kau itu seharusnya menuruti nasihat Utimu! Kau itu seorang istri sekarang, kau harus menghormatiku sebagai suamimu!" ucap Dave.


"Iya iya!" Aryn menaikkan selimutnya hingga menutupi kepalanya. Sementara Dave tertawa puas karena ia bisa menggoda Aryn. Entah mengapa ia selalu ingin membuat Aryn kesal. Wajah Aryn akan terlihat sangat menggemaskan ketika sedang marah.


..................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All !


__ADS_2