Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
SAMPAI DI MANSION


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


Keesokan harinya Dave dan Aryn sudah tiba di negaranya. Sekarang mereka berada di dalam mobil menuju mansion. Keduanya terlihat lelah setelah melakukan perjalanan udara yang jauh. Aryn bergelayutan manja di lengan Dave yang sibuk mengotak-atik ponselnya. Sementara Frans, ia duduk di sebelah sopir, ia hanya diam sepanjang perjalanan, sesekali melirik bosnya yang bermesraan dari kaca spion.


Betapa terkejutnya Frans saat mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah gerbang yang besar dan tinggi. Sebuah mansion yang besar dan megah berdiri dengan kokoh di hadapannya. Awalnya ia hanya melihat jalanan pavling yang membelah berhektar-hektar kebun buah.


"Apakah kau terkejut karena melihat mansion Dave yang dikelilingi kebun buah?" tanya Aryn mengejutkan Frans.


"Iya...benar nona!" jawab Frans.


"Waktu pertama kali datang ke sini, aku juga terkejut sama sepertimu! Asal kau tahu, kebun ini dibangun khusus untuk adik perempuan Dave yang gemar berkebun dan makan buah, tapi siapapun boleh memetik buah-buahan yang ada di kebun ini!" ucap Aryn yang memandangi kebun dari kaca jendela mobil.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan mansion. Sang sopir bergegas turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Dave. Frans juga langsung turun dan membukakan pintu mobil untuk Aryn. Tapi baru saja pintunya ia buka, sudah ditutup lagi oleh Dave.


"Kalau ada aku bersamanya, jangan berani membukakan pintu untuknya! Itu tugasku!" seru Dave memperingatkan Frans.


"Baik, tuan!" jawab Frans sambil menunduk.


Dave lalu membukakan pintu untuk Aryn. Aryn hanya cengar-cengir mendapat perlakuan manis dari Dave. Mereka berdua berjalan masuk ke dlaam mansion dengan Frans yang mengekor di belakang mereka.


"Silvi!" seru Aryn saat melihat Silvi duduk di ruang tengah. Ken, Zack, Reza, Samuel, maupun Angel juga sedang duduk di ruang tengah. Mereka sudah menunggu kedatangan Dave dan Aryn sejak tadi. Reza menatap Aryn tanpa berkedip, ia merindukan Aryn. Tapi saat Dave menatapnya, ia langsung mengalihkan pandangannya. Semoga saja Dave tadi tidak sadar jika ia sedang memandangi Aryn.


"Lo pikir gua nggak tahu kalau lo mencuri kesempatan untuk memandangi Aryn? Awas aja kalau lo masih berani menaruh hati untuk istri orang!" gumam Dave kesal.


Silvi berlarian menyambut pelukan Aryn. Cukup lama mereka berpelukan, hingga suara batuk yang disengaja oleh Dave terdengar baru mereka melepaskan pelukan.


"Apa kamu tidak merindukanku, Silvi?" tanya Dave.


"Oh iya.. Kak Dave!" seru Silvi yang berjalan menghampiri Dave.


Dave merentangkan kedua tangannya menunggu pelukan rindu dari adik kesayangannya.


"Oleh-olehnya mana?" ucap Silvi tepat di hadapan Dave membuat semua orang terkekeh.


"Dasar!" seru Dave saat mengacak rambut Silvi.


"Apa yang mereka ajarkan kepadamu sampai kamu jadi semakin nakal seperti ini?" ucap Dave dengan datar sambil menatap semua sahabatnya.


"Kita nggak ada ngajarin seperti itu, Dave! Justru adik kecilmu ini yang ngerjain gua, sampai masuk ke dalam kotak toiletnya Sindy!" seru Reza protes.


"Benarkah itu, Silvi?" tanya Dave.

__ADS_1


"Emm... salah sendiri Kak Reza menertawaiku saat aku menabrak tembok! Lagipula Kak Reza jatuh itu karena Sindy yang salah tingkah karena disuapi Kak Reza! Kemarin-kemarin Kak Reza juga pernah membantuku untuk memandikan Brown, sering menemaniku ke kandang dan tidak ada masalah!" Silvi berusaha membela diri.


"Apa kamu bilang Silvi? Hemm... bagus kamu mengerjainya, biar tahu rasa ditaksir harimau!" jawab Dave ketus.


Frans yang berdiri di belakang Dave terkejut mendengar Dave menyebut kata 'harimau', berarti Sindy yang dimaksud adalah seekor harimau? Seorang gadis remaja memelihara harimau? Frans menggelengkan kepalanya, keluarga ini bukan keluarga kaleng-kaleng. Ia berharap semoga tidak disuruh untuk menyuapi hewan bergigi tajam itu juga. Memikirkannya saja sudah cukup membuatnya merinding. Tapi ada hal lain ynag membuta Frans sangat penasaran. Kenapa di mansion ini hanya ada pelayan, penjaga, adik perempuan dan sahabat Dave saja? Apakah orang tua mereka tidak ingin menyambut anak-anaknya yang baru pulang honey moon?


"Parah lo, Za! Damagenya bukan hanya untuk kaum wanita tapi kaum harimau betina juga!" seru Zack terkekeh.


"Kalau sudah besar nanti jangan jadi playboy seperti Uncle Reza ya, baby!" ucap Samuel yang mengelus lembut perut Angel.


"Ciap daddy!" jawab Angel menirukan suara anak kecil.


"Mesranya mami dan daddy!" ledek Reza.


Di saat mereka masih asyik mengobrol, Ken baru menyadari jika Frans berdiri di belakang Dave sejak tadi.


"Tugas lo hanya sampai di bandara, kenapa malah ikut ke sini?" seru Ken pada Frans.


Semua mata memandang Ken dan seorang pria bertubuh tinggi tegap yang berdiri di belakang Dave.


"Maaf, bos! Tapi ini pekerjaan baru saya!" jawab Frans.


"Dia adalah Frans, asisten sekaligus pengawal pribadi baru untuk Aryn. Karena aku sudah mendaftarkan Aryn di universitas, jadi aku butuh orang kepercayaan untuk menjaganya!" sahut Dave memperkenalkan Frans kepada semua orang.


Silvi terpesona dengan paras tampan milik Frans. Wajah khas asianya dengan kumis tipis memiliki daya tarik sendiri untuk Silvi. Frans juga terlihat muda, usianya kisaran 24 tahun. Sebenarnya tidak terlalu muda, tapi jika dibandingkan dengan usia Reza yang sudah menginjak 27 tahun tentu Frans jauh lebih muda.


Tanpa sepegetahuan Silvi, Reza diam-diam memperhatikan gerak-gerik Silvi.


"Lihat yang bening sedikit, langsung belok," sindir Reza.


"Sampai yang disebelah nggak ditengok!" imbuh Samuel yang terkekeh melihat raut wajah Reza kesal.


"Terserah Silvi dong!" sahut Silvi, lidahnya menjulur ke arah Reza.


"Kenapa tidak dijadikan pengawalku saja kak? Aku juga butuh pengawalan ketat saat pergi ke sekolah!" seru Silvi.


"Masih kurang pengawal yang pergi bersama mu ke sekolah?" tanya Dave.


"Kurang satu kak, Kak Frans jadi pengawalku saja! Nanti Kakak cari orang baru untuk menjaga Kak Aryn!" jawab Silvi.


"Enak saja! Kamu pikir mencari orang yang bisa dipercaya itu mudah?" sahut Dave ketus.


"Ya sudah, Silvi kuliah di universitas yang sama saja dengan Kak Aryn!" seru Silvi spontan membuat Dave melongo karena terkejut.


"Ingat umur, Silvi!" seru Samuel.

__ADS_1


Aryn langsung menatap Silvi, seingatnya Silvi masih berumur 15 tahun.


"Kamu mau Fast Track?" tanya Aryn.


"Silvi ikut Fast Track ? Dia mau mengerjakan PR saja kita sudah harus bersyukur!" sahut Reza yang membuat Silvi cengar-cengir.


"Jangan aneh-aneh! Atau Mira, Sindy, Brown, dan Chetoos akan kakak jual!" ancam Dave.


"Benar itu, Dave! Jual saja mereka semua, kalau dijual adikmu ini tidak akan memperalat mereka untuk mengancam kita lagi!" seru Zack menggebu-gebu.


"Setuju! Jual mereka!" seru Ken, Reza, dan Samuel bersamaan sambil mengepalkan tangan ke udara.


"Kurang bawa spanduk nih," celetuk Aryn.


"Silvi, pokoknya mulai hari ini kakak mau kamu stop mengancam teman-teman kakak dengan hewanmu!" perintah Dave.


"Tapi kak, mereka itu...." Silvi tidak berani melanjutkan ucapannya karena semua orang menatapnya tajam.


"Kecuali jika mereka usil ataupun jahil, terserah mau kamu apakan mereka! Asal jangan sampai mengotori mansionku saja," ucap Dave ketus.


"Kakak dan adik sama kejamnya!" seru Reza.


"Ini pasti efek dari jarang mengaca," sahut Zack.


"Gua kira dia bener-bener bela kita! Setelah ini Silvi pasti akan semakin berani mengancam, mampus gua kalau disuruh menyuapi daging untuk Sindy seperti yang dilakukan Reza kemarin!" lirih Zack kecewa.


"Lo tinggal tunggu giliran aja, Zack!" seru Reza terkekeh.


"Urus semua keperluan yang dibutuhkan Aryn untuk kuliah, saat makan siang nanti harus sudah dirapihkan di ruangan yang terhubung dengan ruang kerjaku!" perintah Dave pada Ken.


Ken menelan salivanya dengan bersusah payah. Ini artinya ia akan bekerja ekstra hari ini. Sebelum membeli keperluan kuliah untuk Aryn, tentu ia harus mengecek dulu Aryn didaftarkan di bidang atau jurusan apa. Baru ia bisa membelikan buku-buku dan peralatan yang sesuai. Bosnya ini kalau memberi perintah kadang suka dipersulit. Ia pun bergegas mengambil mobilnya di garasi dan meluncur melaksanakan perintah.


Setelah memberikan perintah, Dave mengangkat tangannya dan memberikan isyarat untuk pengawalnya agar mendekat. Terlihat tiga pengawal Dave yang berbadan besar membawa banyak papar bag dan juga kardus yang berisi bermacam-macam oleh-oleh yang dibelinya tempo hari. Lalu ia menggandeng tangan Aryn dan membawanya menuju lift.


"Mau kemana?" tanya Silvi pada kakaknya.


"Ke kamar," jawab Dave singkat.


"Ada yang mau Silvi bicarakan dengan kakak," sahut Silvi dengan suara yang pelan, ia juga menoleh ke sekelilingnya untuk memastikan tidak ada yang mendengar ucapannya.


"Sepertinya Silvi mau mengatakan hal penting, Dave! Bicaralah dengan dia sebentar," ucap Aryn.


Dave menghela napasnya, "Baiklah, ikutlah ke ruang kerja kakak!" jawab Dave.


Dave dan Silvi berjalan beriringan menuju lift. Sementara Aryn, ia menggunakan lift yang lain untuk naik ke kamarnya. Badannya terasa sangat letih, ia ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang empuk.

__ADS_1


...............


Stay tuned ya!


__ADS_2