
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
.............................
Suasana mansion di hari akhir pekan terasa sama seperti hari biasa.Penjaga stand by sesuai tempat tugas masing-masing. Pelayan membersihkan seluruh ruangan secara teratur. Hanya lantai tiga yang terdengar ramai karena teriakan Silvi yang berlarian memanggil kakak dan kakak iparnya.
"Kak Aryn! Kak Dave! Buka pintunya!" teriak Silvi di depan pintu kamar Dave dan Aryn.
Tok...tok...tok
Di sebuah sofa hitam panjang, Dave menggeliat pelan. Ketukan pintu dan teriakan Silvi dari luar kamarnya berhasil membawanya keluar dari mimpi indahnya. Rupanya ia tertidur saat menyelesaikan pekerjaannya. Semalam mati-matian menahan hasratnya, ia tidak ingin memaksa Aryn untuk menjalankan projek tunggal putri. Oleh karena itu Dave memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya di laptop. Ia menengok ke arah ranjangnya, terlihat Aryn tertidur nyenyak di bawah selimutnya. Dave bergegas membukakan pintu untuk Silvi sebelum Aryn terbangun.
"Sssttttt!" Dave menempelkan telunjuknya pada bibirnya, menyuruh Silvi untuk diam.
"Kenapa?" bisik Silvi.
"Aryn masih tidur, dia baru saja pulih butuh istirahat yang cukup. Apa yang kamu lakukan di depan kamar kakak pagi-pagi seperti ini?" jawab Dave.
"Aku ingin membeli beberapa buku di mall, kak! Bolehkah Kak Aryn menemaniku?" Silvi menangkupkan kedua tangannya untuk memohon kepada kakaknya.
Tanpa memohon pun Dave pasti mengizinkan Silvi pergi bersama dengan Aryn. Ia ingin Aryn bisa melihat dunia luar.
"Tentu saja boleh! Sekarang tinggalkan kamar kakak, ini masih pagi!" ucap Dave setengah berbisik.
"Tunggu kak!" seru Silvi.
"Jangan keras-keras! Nanti Aryn bisa terbangun karena suaramu yang cempreng seperti kaleng rombeng itu! Katakan, ada apa lagi!" jawab Dave setengah berbisik.
"Ais... kakak ini! Aku hanya ingin mengatakan mama menelponku semalam," bisik Silvi.
"Tidak masalah, bagaimanapun juga mereka tetap orang tua kita! Aku masuk dulu, bye!" sahut Dave yang langsung menutup pintunya.
Sudut matanya melirik jam digital di atas nakas, pukul 6.30 pagi. Ia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang, di samping istrinya yang masih terlelap. Tangannya memeluk istrinya dengan posesif. Sepertinya ia mulai bisa menahan dirinya.
.......................
Seorang pelayan berjongkok memunguti pecahan piring di lantai. Ini ketiga kalinya makanan yang ia bawakan dilempar ke lantai oleh wanita yang sedang terduduk di lantai dan bersandar pada kaki ranjang.
"Aarrrggghhh!" teriak wanita itu.
Karena ketakutan, pelayan bergegas pergi dengan membawa kantong berisi pecahan piring tadi. Tinggallah wanita itu seorang diri di kamar.
Kamar bernuansa putih itu porak-poranda. Sang pemilik kamar terus saja meluapkan emosinya dengan melempar barang-barang di sekitarnya.
"Shit! Dasar brengs*k!" teriak wanita itu sembari memukuli perutnya lalu menangis meraung-raung di atas lantai yang dingin.
__ADS_1
"Gara-gara Brandalan itu semua rencanaku berantakan! Kalau sudah begini bagaimana mungkin aku merebut Dave dari wanita murahan itu? Arrggghhh... Samuel brengs*k!" teriak wanita itu menjabaki rambutnya.
Brak,
Pintu dibuka dengan keras dari luar. Hingga membuat wanita itu sedikit terlonjak kaget.
"Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, Angel?" seru Hans.
Wanita itu hanya menggelengkan, ia tidak ingin mengambil risiko. Jika ia mengatakan yang sebenarnya kepada Hans ayahnya, maka karir yang ia rintis selama ini akan hancur. Reputasi keluarganya juga akan terancam.
"Jawab, Angel! Ada masalah apa? Apakah Dave sialan itu yang menjadi biang keladinya?" Hans membawa Angel duduk di tepi ranjang.
"Bukan, bukan Dave!" jawab Angel dengan tatapan kosong.
"Lalu?" seru Hans.
Lagi-lagi Angel hanya menggelengkan kepalanya.
"Jawab, Angel!" seru Hans menggoyangkan bahu
"Aku hamil!" lirih Angel dengan sesenggukan.
Plak,
Tamparan Hans mendarat dengan keras di pipi kiri Angel.
"Siapa ayahnya?" bentak Hans.
..........................
Silvi mondar-mandir di samping mobil Ferrari miliknya. Ia menunggu Aryn yang belum juga turun dari kamarnya.
"Akhirnya kakak ipar turun juga!" seru Silvi saat melihat Aryn keluar dari pintu utama dengan Dave yang mengekor di belakangnya.
"Kakak lama sekali!" protes Silvi.
"Kamu yang terlalu bersemangat," jawab Aryn.
Silvi melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, baru pukul 10 lebih 50 menit. Itu artinya memang dia yang terlalu cepat. Ia hanya tersenyum malu menatap kakak dan kakak iparnya. Maklum saja jika ia terlalu bersemangat, sekarang ia sudah mempunyai seorang kakak perempuan yang bisa menjadi teman mengobrol dan berbelanja.
"Ingat ya, Silvi! Kamu harus menjaga kakak iparmu!" seru Dave.
"Iya iya, kak!" Silvi memutar bola matanya malas.
"Hati-hati ya! Jika dia nakal, jewer saja telinganya! Jangan lupa menelponku apabila terjadi sesuatu!" ucap Dave pada Aryn.
"Aku sudah menutup mataku, jadi silahkan saja kalau kalian ingin bermesraan!" seru Silvi yang sudah menutup matanya.
"Tidak sia-sia aku menyekolahkanmu di sekolah favorit, sekarang kamu bertambah pintar rupanya! Uang jajanmu bulan ini aku tambah 0,0001%" ucap Dave terkekeh.
"Terlanjur bahagia mendengar kakak tercintaku mengatakan akan menambah uang jajan, tapi ternyata hanya sebesar biji sawi! Sakitnya tuh di sini!" seru Silvi dengan tangan kirinya menunjuk kepalanya dan tangan kanannya tetap menutup matanya.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu!" sahut Aryn yang meraih tangan kanan Dave dan menciumnya.
Dave mengangguk dan tersenyum. Tapi saat Aryn hendak melepaskan tangannya, Dave justru semakin erat menggenggam tangannya.
"Dave aku mau pergi!" seru Aryn.
"Pergilah," sahut Dave.
"Kau menggenggam tanganku dengan sangat erat sekali," ucap Aryn yang mencebikkan bibirnya ke depan.
"Kalau begitu buka dulu kuncinya!" Dave terkekeh.
"Kak Dave! Apa yang kakak lakukan ha?Jangan macam-macam! Cepatlah, aku sudah pegal!" seru Silvi.
"Silvi benar, Dave! Jangan macam-macam!" seru Aryn.
"Aku tidak macam-macam kok! Hanya satu macam saja!" Dave terkekeh, ia mempunyai niat yang tersembunyi.
"Katakan!"
"Ini!" Dave menunjuk bibirnya, dan memperagakan seolah sedang mencium.
Aryn memiringkan kepalanya, ia benar-benar tidak tahu apa isi kepala Dave. Apakah Dave tidak malu meminta hal seperti itu di depan mansion, yang tentu saja akan disaksikan banyak pasang mata.
"Di sini banyak orang! Bagaimana jika penjagamu melihat lagi?" jawab Aryn.
"Tenang saja, mereka sudah aku latih!" seru Dave.
Dengan santai Dave menjentikkan jari kirinya satu kali. Para penjaga langsung membalikkan tubuh mereka menghadap tembok. Lalu Dave menjentikkan jari kirinya satu kali lagi, dan para pengawal sudah menutup telinga dengan kedua tangan mereka. Aryn sampai melongo memperhatikan satu per satu penjaga.
"Sekarang lakukan! Atau kau tidak akan aku izinkan keluar!" seru Dave.
"Cepat lakukan, kak!" seru Silvi.
Aryn menarik napasnya dalam-dalam, ia menoleh ke kanan dan kiri sejenak. Lalu,
Cup,
Ciuman sekilas Aryn akhirnya mampu melepaskan genggaman tangan Dave. Ia lalu berlari menghampiri Silvi.
"Take care babe!" seru Dave dengan senyum yang mengembang.
Aryn bergegas menarik Silvi masuk ke dalam mobil yang sudah siap berangkat. Sesaat setelah pintu tertutup rapat, sang sopir langsung melajukan mobilnya perlahan keluar dari gerbang mansion.
......................
Kira-kira apa yang akan dilakukan Angel ya? Siapa ayah dari anaknya?
Lalu bagaimana keseruan Aryn dan Silvi di mall ya? Mereka akan mendapatkan syok terapi di sana!
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All❤️
__ADS_1