Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
PENGEN


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Sudah satu bulan berlalu semenjak pertemuan tak terduga Aryn dengan orang itu. Berkat manisnya sikap Dave kepadanya membuat Aryn tidak memikirkan kejadian itu. Tapi Aryn masih belum menceritakan kebenarannya kepada Dave. Saat di tanya Dave tempo hari, Aryn hanya menjawab jika orang itu hanya iseng saja. Aryn tidak mengenalnya. Beruntung Aryn tidak melihat kecurigaan di wajah Dave.


Sekarang mereka sedang duduk berdua di pinggir kolam renang. Kedua kaki mereka masuk ke dalam air. Menikmati senja bersama. Dave masih menggunakan setelan jasnya, hari ini ia pergi untuk mengecek kantor dan bisnisnya yang lainnya. Aryn banyak bercerita tentang hari ini. Salah satunya tentang keinginannya untuk dimasakkan Silvi. Dave terlihat gemas karena masker yang digunakan Aryn terlihat bergerak-gerak, tentu karena istrinya itu sangat antusias menceritakan keseruannya hari ini.


"Apakah Silvi mau melakukannya?" tanya Dave terkekeh.


"Iya, Dave! Dia membuatkanku nasi goreng huru hara!" seru Aryn terkekeh.


"Nasi goreng huru hara?" tanya Dave.


"Ayo kamu lihat saja! Kamu harus mencicipinya, aku sengaja membagi nasi gorengnya untukmu," jawab Aryn.


Aryn menarik tangan Dave untuk mengikutinya ke dapur. Sesampainya di depan meja makan, Dave melongo melihat sepiring nasi goreng. Nasi goreng itu terlihat mengerikan. Ada berbagai macam bahan di dalamnya. Diantaranya sosis yang hanya dipotong menjadi dua, tomat, kol, brokoli, dan daging yang dipotong tidak beraturan dan dicampur aduk menjadi satu.


"Ini nasi gorengnya?" tanya Dave.


"Iya, sayang! Silvi membuatkannya untukku, dan ini bagianmu!" jawab Aryn terkekeh.


Dave menelan ludahnya dengan susah payah. Melihat bentuknya saja membuat Dave tidak berselera, bagaimana bisa ia memakannya?


"Bentuknya memang tidak layak makan, tapi rasanya tidak kalah dengan restoran bintang tujuh!" Aryn menggandeng lengan Dave, mengarahkannya untuk duduk.


Aryn menyendokkan nasi goreng buatan Silvi, "Ayo cicipi masakan adikmu, sayang!" ucapnya saat mengarahkan sesuap nasi goreng ke mulut Dave.


"Nanti saja ya, sayang?" jawab Dave mencoba membujuk Aryn.


"Ini enak sayang, aku ingin kamu juga merasakannya," ucap Aryn.


"Nasi goreng ini jauh mengerikan dari dugaanku," lirih Dave.


"Rasanya enak, Dave! Aku tadi sudah makan banyak, baby kita ingin kamu juga merasakannya!" rayu Aryn.


Dave tersenyum kecut, ia membuka mulutnya perlahan. Sesaat setelah nasi goreng itu masuk ke dalam mulutnya, kedua matanya melotot.


"Enak kan?" seru Silvi.


Dave terdiam, ia mengunyah nasi goreng itu perlahan. Rongga mulutnya dipenuhi rasa asin dan aneh.


"Katakan dengan jujur kak, rasanya enak bukan? Aku sebenarnya sudah menonton video tutorial nasi goreng itu berkali-kali, beruntung Kak Aryn memintaku memasak untuk keponakanku jadi aku bisa mempraktikkannya!" seru Silvi, ia duduk di hadapan Dave dan Aryn.


"Rasanya aneh dan asin," jawab Dave lirih, ia meneguk habis segelas air mineral di hadapannya.


"Benarkah? Tadi enak kok! Ayo habiskan sayang!" seru Aryn.


"Tapi..." sahut Dave.


"Nasi goreng ini enak sayang, aku ingin kamu menghabiskannya!" rengek Aryn.


"Ayo habiskan kak! Kak Aryn meminta Kak Dave menghabiskannya pasti karena itu keinginan dari keponakanku, jadi turuti saja kak!" sahut Silvi.


Silvi terkekeh melihat raut wajah masam Dave. Ia sendiri heran kenapa lidah kakak iparnya eror. Padahal saat ia mencicipi nasi gorengnya tadi rasanya aneh, tapi kakak iparnya itu terus saja mengatakan jika nasi gorengnya lezat. Silvi semakin heran saat mendengar Aryn mengatakan jika ia sudah memakan nasi goreng itu. Kenyataannya Aryn hanya makan tiga suapan saja. Dan Aryn bersemangat untuk menanti Dave pulang kantor agar ia bisa menyuruhnya untuk menghabiskan nasi gorengnya.


Dengan ekspresi penuh kepasrahan, Dave melahap nasi goreng huru hara buatan Silvi. Ia hanya mengunyah dan langsung menelan tanpa merasakannya. Tapi melihat wajah Aryn yang terlihat senang membuatnya bersemangat untuk menghabiskan nasi goreng itu.


Ting,


Suara notifikasi pesan masuk di ponsel Aryn terdengar sangat nyaring. Dan langsung mendapat tatapan tajam dari Dave. Aryn berusaha bersikap seperti biasa. Lagi-lagi ia mendapat pesan dari nomor tidak dikenal. Dua hari yang lalu Aryn juga mendapatkan pesan dari nomor asing, tapi nomornya berbeda.

__ADS_1


Senang bisa bertemu denganmu lagi, Aryn! Aku sangat merindukanmu, sangat. Pertemuan kita sebulan yang lalu, membuatku ingin bertemu lagi denganmu! Apakah kita bisa bertemu lagi? Aku juga ingin mengelus calon keponakanku yang masih ada di dalam perutmu,


Dari saudaramu


yang paling menyayangimu.


Jantung Aryn berdetak kencang, tangannya sedikit bergetar. Dahinya sudah basah dengan keringat dingin.


"Sayang?" panggil Dave.


Aryn tidak menghiraukan panggilan suaminya. Ia terlihat ketakutan, pandangannya kosong.


"Sayang kamu kenapa?" Dave memutar arah kursinya. Kedua tangannya menangkup kedua pipi Aryn.


"Ti..tidak apa apa," jawab Aryn terbata-bata.


"Kemarikan ponselmu!" ucap Dave.


"Untuk apa?" tanya Aryn lirih.


"Aku ingin melihat siapa yang membuatmu menjadi seperti ini, setelah ponselmu berbunyi dan kamu mengeceknya, kamu terlihat ketakutan," jawab Dave.


Dengan segera, Aryn menyembunyikan ponselnya ke dalam sakunya.


"Hanya orang iseng, sayang! Aku tadi hanya melihat kecoa di bawah bangkuku," jawab Aryn.


"Ada apa dengan Kak Aryn? Kenapa dia berbohong, jelas-jelas ekspresinya berubah sesaat setelah membuka ponselnya! Lalu di mansion ini mana ada kecoa, sepertinya Detektif Silvi harus bertindak!" gumam Silvi.


Dave menatap tajam kedua bola mata Aryn tapi Aryn tidak berani menatap kedua mata Dave. Dave semakin yakin ada yang sedang disembunyikan oleh istrinya. Tiba-tiba Dave menggendong Aryn, sontak Aryn terkejut dan langsung memeluk Dave karena takut terjatuh.


"Turunkan aku, Dave!" rengek Aryn.


Mendengar hal itu, Aryn langsung melepas maskernya. Aryn membenamkan hidungnya di dada bidang suaminya. Lalu ia menghirup aroma keringat Dave dalam-dalam. Ia sangat menyukainya.


"Jangan bilang kalau aku tidak boleh mandi," seru Dave.


"Kamu selalu tahu apa yang aku pikirkan, sayang!" seru Aryn.


"Tentu saja, jadi kamu jangan coba-coba menyembunyikan apapun, karena aku pasti akan tahu juga!" ucap Dave membuat Aryn terdiam.


"Iy...iya sayang," jawab Aryn lirih.


"Kita lihat saja, sampai kapan kamu akan menyembunyikan masalah sebesar ini dariku," gumam Dave.


"Aku sangat capek hari ini, kamu mandikan aku ya?" ucap Dave.


Uhuk...uhuk....


Silvi yang sedang minum jus langsung tersedak.


"Ada Silvi di sini, malu Dave!" rengek Aryn.


"Kenapa malu? Aku kan minta dimandikan istriku sendiri bukan istri tetangga," sahut Dave.


"Dasar tidak tahu malu!" seloroh Silvi.


"Aku nanti juga akan mengajarkan gaya baru yang aman untuk baby kita," ucap Dave.


Aryn langsung membungkam mulut suaminya yang tidak tahu malu itu. Ia segera memberikan kode pada Dave agar segera membawanya pergi dari sana. Sementara Silvi, ia sangat terkejut. Kedua bola matanya melotot. Sebelum Silvi marah-marah, Dave sudah menggendong Aryn menuju lift.


"Kak Dave keterlaluan! Selalu saja pamer kemesraan di hadapanku! Kalau begini terus kan, aku pengen cepat-cepat menikah," Silvi menatap punggung kakaknya yang menghilang di balik pintu lift dengan terus membayangkan seromantis apa suaminya kelak.

__ADS_1


"Sekolah dulu yang bener, baru menikah!" celetuk Ken yang sudah berdiri di belakang kursi Silvi.


"Eh, Kak Ken!" sahut Silvi malu karena tertangkap basah.


"Masih kecil tapi suka berkhayal ketinggian, tidak masalah sih sebenarnya. Asal menikahnya jangan sama Reza!" sahut Ken dengan muka datarnya.


"Enak aja, Silvi kalau menikah juga pilih-pilih kak! Mana mungkin Silvi punya cita-cita menikah dengan om om playboy macam Kak Reza?" seru Silvi.


"Syukurlah kalau kamu sudah sadar," sahut Ken tidak merubah ekspresinya sama sekali.


"Tapi sepertinya lebih baik Kak Ken yang menikah lebih dulu, sebelum Kak Naina ditikung Kak Zack loh!" seru Silvi.


Ken membelalakan kedua bola matanya. Bukan karena ia terkejut mendengar ucapan Silvi. Tapi karena Silvi mengatakannya saat Ily datang untuk membereskan piring nasi goreng tadi.


"Kenapa Kak Ken melotot seperti itu? Kelilipan?" tanya Silvi.


"Diam," lirih Ken.


"Ops, Silvi tahu! Pasti karena Kak Ily yang tiba-tiba datang ya?" seru Silvi.


Ken mengutuki dirinya sendiri. Kalau seperti ini akibatnya, Ken tidak akan mengejek Silvi tadi. Sekarang Ily pasti akan menjauhinya. Sedangkan hadapannya bisa bersama Naina hanya 50% karena Zack juga sedang mengejar Naina. Lalu sampai kapan ia akan menjomblo?


Ily langsung kembali ke dapur setelah merapihkan meja makan. Tapi bukan berarti ia sakit hati, Ia hanya merasa tidak pantas mendengarkan obrolan adik dari bosnya. Lagipula Ily tidak menaruh hati pada Ken, semua ruang di hatinya sudah dipenuhi oleh Joe.


Ken juga langsung pergi meninggalkan meja makan. Ingin sekali ia menyalahkan Silvi, tapi ia akan susah sendiri jika berurusan dengan adik Dave itu. Menurutnya kekejaman gadis berusia 15 tahun itu melebihi kekejaman Dave.


"Semua laki-laki itu sama, tidak bisa jika mencintai dan setia pada satu orang saja! Kalau sudah bosan atau mendapatkan mainan baru, mainan lama akan dibuang!" gumam Silvi.


"Benarkah?" sahut Reza yang sudah berdiri di belakang Silvi.


"Astaga! Aku bisa mati muda jika seperti ini!" seru Silvi mengelus dadanya. Ia sangat terkejut dengan kehadiran Reza yang tiba-tiba ada di belakangnya seperti Ken tadi.


"Jangan, nanti siapa yang akan bermain game, karaoke, basket, berenang, dan memanen buah bersamaku?" ucap Reza.


"Kakak mendoakanku cepat mati?" seru Silvi.


"Tentu tidak, aku mengatakannya karena tidak ingin kehilanganmu!" jawab Reza.


Silvi merasa sedang melayang sekarang. Ucapan Reza barusan membuatnya mabuk kepayang.


"Tapi sekarang kamu tidak ingin bermain bersamaku, bahkan tidak mau aku antarkan ke sekolah!" seru Reza.


"Karena aku sekarang bermain game dengan Kak Frans, dia sangat pandai memainkannya! Dan lagi selera film Kak Frans sangat bagus, aku menyukai semua film yang dia tunjukkan kepadaku!" jawab Silvi.


Reza menatapnya tajam, Reza menganggap Silvi sedang berbohong. Tapi kenyataannya Silvi tidak berbohong. Akhir-akhir ini ia memang sering menghabiskan waktu dengan Frans.


"Kamu bisa bermain game, karaoke, bermain basket, berenang, dan memanen buah, Sonya?" tanya Reza. Kebetulan Sonya sedang melintas di dekat mereka dengan membawa cemilan buah Aryn.


"Bisa," jawab Sonya singkat.


"Setelah kamu mengantar cemilan Aryn, aku tunggu di ruang tengah! Sudah lama aku tidak bermain game, jariku butuh olahraga!" seru Reza.


"Baiklah," jawab Sonya, ia berjalan cepat menuju lift.


Silvi bangkit dari duduknya, lalu ia merapihkan kursinya dengan mendorongnya sedikit keras. Hingga membuat Reza terkejut. Silvi berjalan meninggalkan Reza sambil menghentakkan kakinya. Membuat Reza terkekeh saat memandanginya.


............


Maaf ya author baru update lagi, karena sedang ada urusan di dunia nyata hehehe!


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Love you all!

__ADS_1


__ADS_2