Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
EKSEKUSI


__ADS_3

Bijaklah dalam memilih bacaan, bab ini mengandung unsur kekerasan!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Malam hari di mansion Dave,


Dave melirik Aryn yang tertidur di dalam pelukannya. Kebiasaan baru Aryn saat hamil, harus memeluk Dave sebelum tidur. Dan sekarang Dave berusaha melepaskan pelukan Aryn dengan perlahan. Ia menaruh bantalnya di pelukan Aryn. Agar Aryn tidak sadar jika Dave keluar kamar.


"Aku harus memberi pelajaran pada orang yang menyakitimu dan baby kita, aku akan segera kembali!" Dave mengecup pucuk kepala Aryn.


Akhirnya Dave bisa keluar dari kamar tanpa mengusik tidur istrinya. Ia bergegas menyuruh Ken, Frans, Zack, dan Samuel untuk berkumpul.


"Apa yang akan dilakukan bos di tengah malam seperti ini, tuan?" bisik Frans di dekat Samuel.


"Gua juga belum tahu, mungkin ada pekerjaan!" sahut Samuel.


"Pekerjaan tengah malam? Pantas saja gajiku besar sekali," sahut Frans.


"Kalian diamlah!" bisik Ken memperingatkan.


Dave menghampiri Ken, "Apakah luka Dion sudah diobati kemarin?" tanyanya.


"Sudah, bos!" jawab Ken.


"Kenapa diobati? Bukannya rencananya mau lo abisin?" tanya Zack.


"Buang-buang tenaga," imbuh Samuel.


"Dion itu pria yang kedua telapak tangannya remuk kemarin bukan, tuan? Hiiyyy..." celetuk Frans.


"Aku senang jika dia merasakan sakit dalam waktu yang lama," jawab Dave.


"Siapkan barang-barang yang aku minta kemarin!" perintah Dave.


Ken mengajak Zack, Samuel, dan Frans ke markas kecil di lantai bawah tanah. Ken tidak yakin ketiga pria itu bisa diajak bekerja malam ini. Tapi biarlah ia lihat sampai mana mereka bertahan. Ken membuka pintu yang ditutupi dedaunan panjang. Samuel dan Zack sudah tidak asing dengan tempat itu. Tapi Frans, dia banyak bertanya dan sangat penasaran.


"Wow, aku baru tahu ada tempat rahasia di sini? Aku bahkan tidak menyadari ada pintu dibalik dedaunan ini! Tempat apa ini, tuan?" Frans antusias.


"Ini markas kecil," sahut Samuel.


Diantara ketiga pria tampan itu hanya Samuel yang sabar meladeni Frans. Mereka memasuki ruangan itu, seperti biasa mereka disambut kursi dan meja.


"Itu artinya ada markas yang besar?" tanya Frans lagi.


"Kapan kapan gua ajak ke sana!" sahut Samuel.


Mereka tiba di hadapan sebuah pintu. Ken membuka pintu besi yang sedikit karatan itu. Frans tidak berani melangkahkan kakinya. Ken, Samuel, dan Zack yang sudah masuk ke dalam meneriakinya untuk masuk.


"Tempat apa ini?" gumam Frans.


Frans melihat sekelilingnya, ada sebuah ranjang yang biasa digunakan di rumah sakit. Di atas ranjang itu Dion berbaring dengan kedua kaki yang dirantai dengan ranjang. Bukan hanya itu yang membuat Frans heran, tapi isi ruangan ini. Frans melihat sebuah almari yang berisi pistol dengan berbagai ukuran. Beberapa pistol digantung di dinding. Ada juga sebuah meja yang digunakan untuk menyusun pisau dalam berbagai ukuran. Benda-benda itu membuat ruangan yang didominasi warna putih ini menjadi mencengkam.


"Apa yang lo lihat?" Zack menyenggol siku Frans yang sejak tadi melongo.


"Tempat apa ini, tuan?" tanya Frans.


"Bukankah Samuel sudah memberi tahu ini adalah markas kecil," sahut Zack.


"Sudah diamlah! Nanti kau tahu sendiri!" seru Ken.


Ken mengeluarkan seember jus lemon yang dipesan oleh Dave tadi sore. Ia meletakkannya di samping meja, tidak jauh dari ranjang tempat Dion berbaring. Lalu Ken menyuruh Samuel dan Zack untuk membangunkan Dion.


"Untuk apa jus lemon sebanyak ini?" tanya Frans.


"Tanya saja pada Dave, lo itu cerewet banget!" sahut Zack.


Berkali-kali Samuel dan Zack memanggil nama Dion untuk membangunkannya tapi Dion tidak kunjung bangun. Samuel juga sudah menepuk pipinya, tetap tidak ada reaksi.


"Dia sudah mati?" tanya Samuel.


"Belum," jawab Zack setelah mengecek nafas dan denyut nadi Dion.


Tap


Tap


Tap


Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Frans melirik, ternyata Dave yang datang. Ia membenahi posisi berdirinya, pandangannya sedikit menunduk.


"Biar aku yang membangunkannya!" seru Dave.


Samuel dan Zack mundur beberapa langkah untuk memberikan ruang. Dave tersenyum licik. Ia menghampiri Dion. Tangan kanannya meremas telapak tangan Dion yang ia injak tempo hari.


Arrgghh...


Teriakan Dion memenuhi langit-langit ruangan. Frans mendekat pada Samuel. Tanpa ia sadari Samuel juga mendekat padanya.

__ADS_1


"Dasar iblis!" pekik Dion.


"Kukira kau sudah mati!" Dave tersenyum licik.


"Cih...kau pikir aku selemah itu?" sahut Dion.


"Bagus kalau kau tidak lemah, itu artinya kita bisa lebih lama bersenang-senang di sini!" Dave mengambil kursinya, ia duduk di samping ranjang Dion.


"Aku tidak sudi untuk bersenang-senang bersama orang gila sepertimu!" seru Dion dengan sedikit memberontak.


Ken menyuruh Zack, Samuel, dan Frans untuk lebih mundur lagi sesuai isyarat yang diberikan bosnya. Biasanya Zack dan Samuel selalu absen untuk urusan yang seperti ini, tapi sepertinya malam ini mereka tidak bisa absen. Ditambah sudah tidak ada lagi Reza yang biasanya menemani Dave. Jika Dave sedang marah seperti saat ini, sekali saja mereka mangkir pasti akan berakhir dengan hukuman.


"Aku semakin tertarik untuk bersenang-senang denganmu! Kau sudah berani menantangku sejak lama! Kau yang merebut Elsa dan menghancurkan hidupnya, sekarang kau juga mencoba untuk memisahkanku lagi dengan cintaku? Kau belum mengenalku dengan baik rupanya!" ucap Dave.


"Tujuan utamaku adalah menghancurkanmu! Tidak akan aku biarkan kau mendapat cinta dan kebahagiaan di dunia ini, kau juga yang membunuh ayahku dengan cara yang kejam!" sahut Dion.


"Apakah kau tahu apa yang dilakukan ayahmu? Dia berhianat dariku, aku benci penghianat! Itulah hukuman yang pantas untuk penghianat!" Dave memberikan penekanan di setiap ucapanku.


"Penghianat harus mati!" seru Dave.


Zaasss,


Aarrgghhhh....


Teriakan Dion kembali memenuhi langit-langit ruangan sunyi itu. Darah mengalir dari pipinya. Lukanya dalam hingga terlihat sedikit menganga. Sarung bantal yang berwarna putih menjadi merah.Tadi Dave diam-diam mengambil salah satu pisau koleksinya.


"Mama..." lirih Frans.


Bruk,


Dave menoleh, ia memijit pelipisnya. Seharusnya Dion yang pingsan, tapi justru ketiga pria penakut di belakangnya yang tergeletak di lantai. Siapa lagi kalau bukan Zack, Samuel, dan Frans.


"Cih...kau memperkerjakan orang-orang lemah!" seru Dion di tengah jeritannya.


Zack dan Samuel sejak dulu tidak pernah ikut mengeksekusi tawanan Dave. Alasannya masing-masing dari mereka memang takut darah. Sekarang ditambah lagi Frans.


"Kau obati lukanya!" Perintah Dave yang menunjuk ke arah Dion.


Dave duduk di sofa, kedua kakinya ia letakkan di atas meja. Wajahnya selalu menampilkan senyum, senyum kepuasan saat melihat Dion merintih kesakitan. Ia menyuruh Ken untuk mengguyur luka di pipi Dion dengan menggunakan alkohol terlebih dahulu.


Aarrgghhhh....


Teriakan Dion membuat senyum Dave semakin lebar. Dave menikmati setiap jeritan yang keluar dari mulut musuhnya itu. Dave beranjak dari kursinya saat teriakan Dion tidak lagi terdengar, dia pingsan. Dave mengambil salah satu pistol yang tersusun rapi di almari penyimpanan. Ia mengelap pistol itu dengan penuh kasih sayang.


Klik,


Dave memasang pelurunya. Di saat yang bersamaan Frans, Zack, dan Samuel sadar. Entah mengapa mereka mengangkat tangan mereka ke atas secara bersamaan. Seperti maling yang tertangkap polisi.


Mereka bertiga saling menatap, lalu menurunkan tangan mereka. Dave dan Ken tertawa kecil melihat tingkah ketiga sahabatnya itu.


"Kalian payah sekali, baru melihat sedikit darah sudah pingsan!" seru Dave.


"Lo keterlaluan Dave! Seharusnya lo bilang dulu kalau mau menyayat pipinya! Gua dan Zack bisa tutup mata dulu!" protes Samuel.


"Rese lo Dave!" imbuh Zack.


"Apakah aku tidak salah mengambil pekerjaan? Tuan Dave terlihat sangat senang setelah membuat pria itu berdarah!" gumam Frans.


"Ck..Bertahun-tahun jadi mafia masih saja takut darah," ucap Ken.


"Mafia? Apakah nasibku akan sama dengan pria itu? Mama maafkan Frans yang memaksa ingin mengambil pekerjaan ini," gumam Frans.


"Apakah kau sedang menyesali keputusanmu bekerja untukku?" seru Dave pada Frans.


"Eh... tuan, apakah nasib saya akan sama dengan pria itu? Saya belum merasakan punya kekasih, tuan! Kasihani saya, lebih baik saya keluar dari pekerjaan ini! Gaji terakhir saya tidak diberikanpun tidak apa-apa, tabungan saya sudah banyak ditambah Range Rover yang tuan berikan kepada saya," sahut Frans ketakutan.


Keempat pria tampan di hadapannya itu tertawa kecil saat mendengar perkataannya.


"Jangan berlebihan! Hidupmu terjamin jika jujur dan setia di pihakku, tapi sekali saja kau berhianat nasibmu akan lebih buruk dari Dion!" Dave terkekeh.


Frans mengangguk dengan penuh rasa ketakutan. Dave beranjak dari duduknya saat melihat Dion mulai sadar lagi. Ia tadi sudah mendapat ide gila untuk Dion.


"Nyenyak?" tanya Dave.


"Dia pingsan Dave, bukan tidur!" seru Samuel terkekeh.


"Berisik!" teriak Dion.


"Aduh jangan teriak keras-keras, luka di Pipimu berdarah lagi kan," ucap Dave.


Dave mengelap darah yang keluar dengan tangannya. Samuel, Zack, dan Frans masih bisa bertahan.


"Iblis sepertimu tidak akan hidup bahagia!" seru Dion penuh amarah.


"Berisik sekali! Rasanya aku ingin menjahit mulutmu!" seru Dave.


"Brengs*k!" teriak Dion.


Dave berjalan santai menuju meja di sebelah ranjang. Ia membuka salah satu lacinya. Terlihat Dave mengambil sebuah kotak yang berisi obat-obatan. Tidak disangka, Dave mengambil benang lengkap dengan jarum yang biasa digunakan untuk menutup luka.

__ADS_1


"Diamlah!" seru Dave.


Arrgghh....


Tangan Dave terlihat lincah menjahit luka di pipi Dion. Luka di pipi Dion tertutup, perdarahan berhenti. Sampai di sini Samuel, Zack, dan Frans mati-matian untuk bertahan. Mereka bertiga hanya menunduk, tidak berani melihat tindakan Dave.


"Terkutuk kau!" teriak Dion.


"Aku sudah mengobati lukamu? Kenapa kau terlihat sangat marah?" ucap Dave.


"Dasar psikopat gila!" teriak Dion.


"Sudah kubilang jangan berteriak! Kenapa masih teriak?" sahut Dave dengan penuh amarah.


Diambilnya jarum yang ia gunakan untuk menjahit luka Dion. Tangan kirinya memegangi bibir Dion.


Arrgghh...


Teriakan Dion melengking, membuat siapapun akan merasa ketakutan. Dave benar-benar menjahit mulit Dion. Kedua tangan Dion tidak diikat tapi ia tidak bisa melawan, kedua tangannya yang remuk bukan tandingan Dave yang sedang dipenuhi dendam dan amarah.


Darah segar mengalir dari mulut Dion. Seluruh bantal yang menjadi alas kepalanya basah oleh darah.


"Aaaaaaa!" teriak Samuel dan Zack. Mereka berdua lari tunggang langgang meninggalkan ruangan itu.


Sementara Frans, ia masih terdiam di tempatnya. "Mama..." lirihnya. Kedua kakinya terasa lemas, tidak kuat untuk diajak berlari.


Dave tertawa penuh kemenangan, mulut Dion sudah tertutup dengan rapat. Dion menggelengkan kepalanya, darah terus mengalir. Bahkan sampai menetes ke lantai. Dave mengelap tangannya yang merah karena darah ke bajunya.


"Ken," panggil Dave.


Ken sudah mengerti, ia mengambil alkohol dari dalam laci. Dan,


Byuurrr,


"Mmmmm...." Dion menjerit sekuat tenaga.


"Dengan alkohol itu, lukamu tidak akan infeksi!" Dave tertawa kecil.


"Mamaaa!" teriak Frans sekuat tenaga. Ia berlari keluar dari ruangan itu. Ada sedikit rasa penyesalan di hati Dave karena mempunyai sahabat dan anak buah yang takut darah.


"Mmm...mmmmm" Dion berusaha mengatakan sesuatu.


"Apa? Kau ingin segera menyusul ayahmu ya? Aku tahu itu! Sabarlah... Kau mau jalur cepat atau lambat?" ucap Dave.


Ken hanya tersenyum kecut melihat kegilaan bosnya itu.


"Mmmm...mmmm" Dion berteriak lagi.


"Aku sarankan kau ambil jalur lambat," Dave berjalan ke sudut ruangan. Ia mengambil tongkat kasti kesayangannya yang sudah dimodifikasi. Permukaan tongkat itu dihiasi paku yang tajam dan besar.


Baru saja Dave mengayunkan tongkatnya, ia melihat air mata Dion menetes bercampur dengan darah di wajahnya.


"Sssttt... Jangan menangis!" Dave menutup mulut Dion yang penuh darah dengan tangannya. Tangisan Dion semakin kencang.


"Aduh...Ada apa? Apakah kau ingin jalur cepat? Baiklah akan aku kabulkan!" seru Dave.


Tangan Dave menyingkir dari mulut Dion. Ia berjalan gontai mengambil pistol yang sudah ia lap tadi.


"Ucapkan halo kepada ayahmu!" teriak Dave.


Dor dor,


Dua buah timah panas bersarang di perut Dion. Pria itu kacau sekali kondisinya. Tubuhnya dipenuhi darah. Ken mengalihkan pandangannya.


"Masih hidup? Wah.. hebat sekali..." lirih Dave saat melihat Dion masih bernapas. Kedua mata Dion menutup, menahan sakit.


"Ken..." seru Dave.


"Siap, bos!" sahut Ken.


Ken mengambil seember jus lemon yang telah disiapkan tadi. Saatnya ia menjalankan tugas terakhir. Ken menutup kedua matanya, dan


Byurr,


"Mmmmm..." kedua mata Dion melotot.


Air lemon itu membasahi seluruh tubuh Dion. Bercampur dengan darah pria itu dan membasahi lantai.


Ken memberanikan diri membuka kedua matanya. Terlihat Dion sudah tidak bergerak lagi. Ken mengecek denyut nadi pria itu, ia tidak merasakannya. Dion sudah meninggal dengan kedua matanya yang melotot.


"Dia sudah meninggal, bos!" lapor Ken pada Dave.


"Urus mayatnya! Tinggalkan saja di depan rumahnya!" seru Dave.


Dave mengelap tangannya yang masih berwarna merah. Dia tersenyum lebar.


"Siapapun yang berani menyakiti istriku, pasti akan aku bebaskan dia dari dunia ini!" lirih Dave.


.................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Love you all!


__ADS_2