
WARNING:
LIKE DAN VOTE DULU SEBELUM MEMBACA YA, DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT AUTHOR.
HAPPY READING 😘
............................
Hari berlalu dengan cepat, sinar matahari telah tergantikan oleh indahnya sinar bulan. Silvi mengajak calon kakak iparnya untuk menemaninya menonton film horor malam ini. Sebenarnya Aryn takut menonton film horor seperti ini, tapi tidak ada salahnya juga ia mencoba menontonnya. Tidak jauh beda dari Aryn, Silvi juga takut.
Mereka berdua duduk di sofa panjang dan bersembunyi di balik selimut tebal. Lampu kamar Silvi juga sengaja hanya dinyalakan beberapa saja.
"Pintunya tadi udah kakak tutup kan?" Tanya Silvi dengan wajah yang masih disembunyikan.
"Iya, emang kenapa?" Aryn masih fokus menunggu kedatangan hantu di film itu, karena musiknya mulai jedag jedug mencengkam.
"Sekarang pintunya kebuka tuh kak!" Silvi semakin ketakutan.
"Aduh...kok bisa sih? Tadi udah kakak tutup rapat loh!" Aryn menyembunyikan seluruh tubuhnya termasuk kepalanya.
"Aku takut!" Silvi memeluk Aryn.
Aryn membuka sedikit selimutnya, samar-samar ia melihat bayangan seseorang. Ia merasa ada seseorang di belakang mereka, tapi is tidak berani mengeceknya.
"Di belakang kita ada apa itu?" Tanya Aryn setengah berbisik sambil menunjuk bayangan yang ia lihat.
"Kak!" Silvi semakin mengeratkan pelukannya.
Dua menit kemudian, Silvi mengintip ke luar selimut. Ia melihat sekelilingnya tapi tidak berani melihat ke belakangnya. Bayangan yang tadi mereka lihat sudah tidak ada.
"Udah aman kak!" Ucap Silvi membuat kepala Aryn keluar dari selimut.
Aryn dan Silvi tidak tahu jika makhluk itu bersembunyi di belakang sofa yang mereka duduki. Mereka lanjut menonton film horor mereka. Walaupun takut tapi masih saja penasaran dengan ceritanya.
Sekarang adegan dalam film itu semakin mencengkam, tokoh utama dalam film itu berusaha kabur dari kejaran makhluk menyeramkan yang disebut hantu itu. Tokoh itu bersembunyi di dalam almari. Dan Hantu itu sepertinya sudah tahu dimana tokoh itu bersembunyi darinya. Di dalam almari tokoh itu dapat mendengar langkah kaki yang mendekatinya.
Deng deng deng, musik dalam film itu semakin mencengkam. Tiba-tiba suara langkah kaki yang didengar tokoh itu menghilang. Tapi,
"Aarrrghhhh!" Makhluk itu berteriak di belakang Aryn dan Silvi.
"Aaaaaa... Kak doa kak!" Silvi memeluk erat Aryn.
"Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa'alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin” Aryn mengucapkan doa secara spontan.
"Sial! Salah doa! Silvi kamu aja yang baca doa!" Aryn semakin ketakutan.
"Whuahahaha!"
"Aduh! Kak Aryn kok malah ngajak demitnya buka puasa! Demitnya juga malah ketawa!" Ucap Silvi kesal campur takut.
__ADS_1
Mereka berdua semakin mengeratkan pelukan. Tiba-tiba tangan makhluk itu menyentuh pundak Aryn dan Silvi.
"Aaaa..Pergi sana! Pergi! Kak Dave tolong!" Silvi berteriak keras memekakan telinga.
Makhluk tampan itu tersenyum puas, tangan semakin erat memegangi pindak kedua gadis itu. Tapi tangan itu tidak terasa dingin di pundak Aryn dan Silvi. Mereka bertatapan sejenak, lalu membalikkan badan mereka perlahan.
"Baaaa!" Makhluk tampan itu mengejutkan Aryn dan Silvi.
"Kak Dave!" Silvi melempar sebuah bantal ke arah Dave.
"Apa?" Seru Dave saat melihat Aryn bersiap mengomel membuat Aryn mengurungkan niatnya.
"Kalau takut nggak usah nonton!" Dave terkekeh menatap Aryn dan Silvi bergantian.
Aryn terpesona ini pertama kalinya ia melihat Dave tertawa dengan ikhlas. Sebelumnya pria itu hanya menyunggingkan senyum dengan kaku. Lesung pipi menambah kadar ketampanan wajahnya yang bule itu.
"Dan satu lagi! Mana ada demit setampan aku? Iya, kan?" Dave menatap Aryn yang masih terpesona.
Aryn memalingkan wajahnya, ia memutar matanya dengan malas. Ia menunjukkan ekspresi mengejek pada Dave.
"Kakak ada urusan malam ini," Ucap Dave pada Silvi.
"Iya kak," Jawab Silvi.
Dave langsung berjalan meninggalkan kamar Silvi. Menyisakan rasa keingintahuan yang Aryn miliki. Kemana Dave pergi malam-malam seperti ini?
"Aku juga tidak tahu kak! Yang aku tahu Kak Dave juga harus mengurusi bisnisnya yang lain. Kak Dave tidak pernah mengatakan bisnis apa itu!" Jawab Silvi.
"Ohh," Aryn mengangguk.
"Ada udang dibalik bakwan!" Batin Aryn.
Malam ini Dave tidak menggunakan sopir, ia pergi ke tempat tujuannya hanya berdua dengan Ken. Karena memang tidak ada yang tahu Dave adalah ketua mafia yang orang-orang takuti. Mobil mereka memasuki kawasan hutan yang rimbun. Kawasan hutan ini bagian dari markas Red Blood.
"Berhenti di tempat biasa!" Perintah Dave.
Ken menghentikan mobilnya di tempat biasa yang sudah diatur sebelumnya. Dari sinilah Dave menyaksikan transaksi kelompoknya dengan pembeli yang akan membeli senjata ilegal darinya.
Dari kejauhan terlihat Reza dan Samuel sedang mengobrol santai dengan seorang pria yang agak tua.
"Ini uangnya!" Andrew mengerahkan tas hitam.
"Oke!" Jawab Reza yang mengecek isi tas hitam itu.
Andrew beserta rombongan lenongnya(pengawal, asisten, dsb) meninggalkan Reza dan Samuel. Setelah aman, Dave dan Ken keluar dari persembunyian mereka. Dave mengecek isi tas hitam itu, lalu tersenyum puas.
Suara mobil polisi membuyarkan obrolan mereka. Samuel segera menelpon Zack untuk membereskan polisi itu bersama anak buahnya.
"Shit! Kita habisi pria setengah tua itu!" Seru Dave dengan amarah yang berkobar.
__ADS_1
"Dave!" Sahut Samuel.
"Hmm,"
"Gua sama Reza jalan belakangan, sesuai strategi." Ucap Sam.
"Oke!" Jawab Dave singkat.
"Dave!" Giliran Reza yang menahan Dave.
"Nih!" Reza memberikan CZ 75.
"Gua udah punya!" Dave mengeluarkan Colt M1911A1.
"Dave!" Reza menahan Dave lagi.
"Apa lagi?" Ucap Dave yang mulai kesal dengan Reza.
"Semangat!" Ucap Reza yang membuat Samuel langsung menoyor kepalanya.
Dave meninggalkan kedua sahabatnya itu. Ia akan menghabisi pria itu dengan tangannya.
Sementara Samuel menyeret Reza ke dalam mobilnya.
Mobil putih milik Andrew tidak bisa menemukan jalan keluar dari hutan itu. Jalan di depan mereka bercabang-cabang, membuat Andrew tidak bisa mengontrol emosinya. Tapi sesaat kemudian ia tersenyum licik, ia melihat anak buah Dave yang berada di balik pohon dari kejauhan.
"Bawa dia!" Perintah Andrew pada anak buahnya.
Anak buahnya menghampiri dan memukuli orang Dave sampai berdarah-darah. Andrew memanfaatkan orang itu untuk menunjukkan jalan keluar, ia yakin orang-orang suruhan Dave pasti hapal jalan keluar. Ia tertawa puas membayangkan Dave diringkus polisi.
Dor,
Tawa Andrew terhenti setelah mendengar suara tembakan. Mobil Dave sudah ada di belakang mobilnya sekarang. Dave sudah menutupi wajahnya dengan masker dan kacamata, jadi Andrew tidak bisa melihat wajah tampannga. Andrew membuka kaca jendelanya dan menengok ke belakang.
Dor,
Andrew melepaskan pelurunya ke arah mobil Dave. Tapi tembakannya meleset, sasarannya adalah ban mobil Dave.
"Pria bandotan!" Umpat Dave.
Ken mengarahkan mobil mereka untuk menyandingi mobil Andrew. Tapi sopir Andrew ternyata lebih lincah dari Ken, berkali-kali Ken mencoba tapi digagalkan sopir itu.
Dave kembali bersiap membidik mobil di depannya, tapi terlambat Andrew sudah lebih dulu melepaskan pelurunya. Untung Dave masih sempat masuk lagi ke dalam mobil, sehingga ia tidak terkena tembakan itu.
Andrew tersenyum puas melihat sorot lampu yang terang dari beberapa mobil di depannya. Pasti polisi mengepung untuk menangkap Dave.
.................
Jangan lupa like dan vote ❤️
__ADS_1