
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
.............................
"Baik, tuan!" jawab penjaga itu.
Tidak berapa lama kemudian, tiga orang penjaga masuk ke dalam gudang dan mengangkat semua kardus itu. Sementara Dave menarik tangan Aryn lagi untuk mengikutinya.
"Sebenarnya apa yang akan dia lakukan?" gumam Aryn yang kesal karena tangannya ditarik Dave.
"Aku tahu jalan ke halaman belakang, Dave! Tidak perlu kau gandeng!" seru Aryn yang mengibaskan tangannya.
"Bukan itu masalahnya! Aku menggandengmu agar kau tidak kabur dariku lagi! Rasanya menggandengmu saja tidak cukup, rencananya aku akan membeli borgol!" jawab Dave dengan senyum smirknya.
"Terserah!" sahut Aryn ketus.
Kelima kardus besar tadi sudah berjajar rapi di samping tong pembakaran sampah. Dave membakar sampah yang tadi berada di dalam tong itu. Lalu ia mendekati Aryn lagi.
"Dengarkan aku! Aku sungguh berniat untuk melupakan Elsa, bahkan sudah memulainya jauh-jauh hari dengan membuang semua barang ini di gudang! Sekarang bantulah aku membakar semua kenangan dan barang masa laluku!" ucap Dave dengan nada sendu.
Aryn menatap kedua bola mata coklat milik Dave. Tidak ada kebohongan di sorot kedua mata Dave.
"Apakah kau benar-benar berniat untuk melupakannya?" tanya Aryn.
"Aku sangat bersungguh-sungguh, Aryn! Lima tahun aku hidup tanpa cinta, selama itu pula aku hidup dalam kegelapan! Aku benar-benar kehilangan hidupku saat dia pergi selama-lamanya, tapi disaat aku melihatmu aku menemukan setitik cahaya yang akan membawaku keluar dari dalam dunia gelapku! Sudah sejak lama aku memutuskan untuk membuka hatiku untukmu, tapi kau malah mengacuhkanku. Aku sadar pria brengs*ek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan cintamu, tapi sekali ini saja beri aku kesempatan! Ayo kita bakar semua ini!" ucap Dave yang menggenggam tangan Aryn.
Dada Aryn terasa sesak, tanpa ia sadari bulir air matanya jatuh di pipi. Ia merasa Dave mengatakannya dengan tulus. Tangannya diarahkan Dave untuk mengambil beberapa barang dari kardus, lalu Dave membimbing tangan Aryn untuk memasukkan barang itu ke dalam tong pembakaran. Dave tersenyum saat barang itu terbakar api. Setelah itu Aryn mengambil sendiri satu kardus dan langsung menumpahkan isinya ke dalam tong. Begitu juga dengan keempat kardus lainnya, Aryn sendiri yang membakarnya. Dave tersenyum manis di samping Aryn. Melihat Aryn semangat membakar semua barang Elsa, Dave merasa sangat bahagia.
__ADS_1
"Aryn," lirih Dave.
Aryn yang sibuk memandangi tong segera menoleh ke arah suaminya.
"Ada apa? Apakah masih ada barang yang tertinggal lagi?" tanya Aryn.
"Aku sudah berjuang melupakan Elsa, tapi masih saja aku sesekali mengingatnya. Maukah kau membantuku untuk melupakannya? Maukah kau berjuang bersamaku? Aku ingin kau juga berjuang melupakan semua sikap dan perkataanku yang menyakitimu," ucap Dave yang menatap dalam kedua bola mata hitam milik Aryn.
Lidah Aryn kelu, ia tidak sanggup mengeluarkan kata-kata. Air matanya deras mengalir. Sekelebat bayangan muncul di kepalanya, kejadian-kejadian menyakitkan yang pernah ia alami diputar bagai film di kepalanya. Ia mengingat luka dan memar di tubuhnya, juga mayat tanpa kepala kemarin. Aryn memejamkan matanya sembari mempertimbangkan keputusan yang akan ia ambil. Ia teringat betapa Silvi sangat menyayanginya. Dave juga berjuang keras untuk melupakan Elsa. Walaupun orang tua Dave membencinya, ia yakin bersama Dave dan Silvi, Aryn bisa bertahan dan berjuang mendapatkan hati kedua orang tua Dave.
"Baik, Dave! Aku akan membantumu melupakan Elsa, dan aku juga akan berjuang untuk melupakan semua kepedihan yang aku alami!" jawab Aryn dengan berlinang air mata.
"Berjanjilah! Apapun yang akan terjadi di waktu yang akan datang kau tidak akan pernah meninggalkanku!" Dave menunjukkan jari kelingkingnya, mengajak Aryn untuk berjanji dengannya.
"Janji!" jawab Aryn yang mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Dave.
Deg,
Dave memeluk Aryn dengan sangat erat, membuat Aryn terdiam mematung.
Aryn mengangguk paham, ia mengikuti Dave yang pergi ke kamar mereka. Dave langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa disuruh seperti sebelumnya, Aryn menyiapkan setelan jas lengkap dengan dalamannya. Ia juga menyiapkan sepatu hitam dan jam tangan milik Dave. Lalu ia turun ke dapur, Dave pasti akan menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi.
"Selamat pagi, nona!" sapa kepala pelayan yang sedang mengawasi pelayan lain di dapur.
"Pagi, Ily!" sahut Aryn.
"Ada yang bisa saya bantu, nona?" tanya Ily dengan ramah.
"Tidak ada, aku hanya ingin memasak roti isi daging untuk sarapan," jawab Aryn.
Seketika Aryn tersenyum sendiri saat mengingat percakapannya dengan Dave di kamar dan halaman belakang tadi. Ia akan membuatkan sarapan untuk suaminya sekarang.
"Biar saya buatkan, nona!" Ily mencoba membantu Aryn yang sedang memotong instant beef.
__ADS_1
"Tidak usah, kau bangunkan Silvi saja!" Aryn menolak.
Ily sang kepala pelayan hanya bisa mengangguk. Sebenarnya ia takut jika Dave melihat Aryn memasak di dapur, ia akan dihukum. Tapi ia bingung karena ia juga harus mematuhi perintah Aryn. Akhirnya Ily berjalan meninggalkan dapur untuk membangunkan Silvi.
Aryn memanggang tiga instant beef, dan tiga pasang roti tawar yang sebelumnya diolesi mentega. Ia memotong selada, tomat, dan menyiapkan keju sembari menunggu dagingnya matang. Lima menit kemudian ia sudah mengangkat daging dan roti tawar dari panggangan. Dengan lincahnya, Aryn meletakkan selada dan tomat di atas roti tawar. Ia menambahkan saos tomat dan mayonnaise. Baru setelahnya ia meletakkan daging dan keju lalu ditambahkan lagi saos tomat beserta mayonnaise. Dan is tutup dengan roti tawar. Roti isi daging buatan Aryn siap disajikan!
"Ayo kita sarapan Silvi! Kakak sudah membuat roti isi daging untukmu!" seru Aryn saat melihat Silvi berjalan menuju meja makan diikuti oleh Ily.
"Wah... terlihat sangat enak!" sahut Silvi dengan bersemangat.
Aryn meletakkan tiga porsi roti isi daging di atas meja makan. Ia melirik ke arah jam di meja dapur, sudah empat puluh menit lamanya Dave mandi tapi batang hidungnya belum juga terlihat. Awalnya Aryn berniat akan memanggil Dave untuk turun, tapi baru selangkah ia meninggalkan meja makan, Dave terlihat berjalan mendekat ke meja makan. Aryn tersenyum manis melihat Dave menggunakan baju yang telah ia siapkan tadi.
"Selamat pagi! Wah... Sarapannya sudah siap, ya?" seru Reza yang tiba-tiba muncul di meja makan.
"Loh... Kak Reza semalam menginap di sini?" sahut Silvi.
"Iya," jawab Reza yang langsung ikut duduk bergabung di samping Silvi.
Melihat sarapan di meja makan yang hanya ada tiga porsi saja, Dave paham kenapa Aryn terlihat terkejut saat Reza bergabung untuk sarapan. Istrinya tentu tidak tahu jika semalam Reza menginap.
"Sayang," lirih Dave yang mencolek tangan Aryn.
"Eh..iya?" jawab Aryn, ia menaikkan alisnya sebelah. Aryn sangat terkejut mendengar Dave memanggilnya dengan sebutan sayang.
Uhuk...uhuk...
Reza tersedak karena mendengar Dave memanggil Aryn dengan sebutan sayang.
"Apa yang terjadi pada mereka? Ada apa ini?" batin Reza.
"Duduklah!" Dave menepuk-nepuk kursi di sebelahnya dengan menampilkan senyum manisnya.
Aryn membalas senyum Dave, lalu duduk di sebelahnya. Reza dan Silvi lagi-lagi melongo melihat Dave yang bersikap sangat manis kepada Aryn. Bahkan mereka berdua tidak berkedip sama sekali.
__ADS_1
........................
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All!