
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Sore ini, mansion ramai. Semua sahabat Dave termasuk Samuel dan Angel berkumpul karena hari ini dan besok adalah weekends. Sore ini mereka kedatangan tamu wanita cantik yang datang bersama Ken, yaitu Naina. Mereka duduk bersama di bangku dekat kolam.
Kini, para pria sedang berenang. Mereka beradu kecepatan dalam berenang. Aryn yang menjadi wasitnya. Aryn juga yang melempar koin milik Dave yang murni terbuat dari emas ke tengah-tengah kolam dan menghitung. Dalam hitungan ketiga, mereka berebut mengambil koin dari dasar kolam. Angel, Aryn, dan Naina menyorakkan nama pasangan mereka.
"Samuel... Samuel..Ayo daddy pasti bisa!" sorak Angel.
Angel bersorak dengan semangat, terkadang ia menirukan suara anak keci. Ia dan Samuel menjadi semakin dekat setelah pernikahan.
"Ondel-ondelku sayang, kamu pasti bisa!" teriak Aryn dengan lantang.
"Ayo Ken, Zack! Kalian pasti bisaaa!!!!" serunya membuat Angel dan Aryn menoleh serempak.
"Serakah banget!" seru Angel.
"Kamu dukung siapa? Ken atau Zack?" imbuh Aryn.
"Dua-duanya, takut bikin dua-duanya sakit hati," jawab Naina menampilkan deretan gigi putihnya.
"Maksudnya mereka berdua sama-sama suka kamu? Tapi kamu tadi datang bareng Ken kan?" tanya Aryn.
"Iya begitulah! Ken yang lebih dulu mengajakku, jadi aku berangkat bareng dia! Sesuai pepatah, siapa cepat dia dapat hehehe!" jawab Naina.
"Lalu kamu kenapa tidak mendukung salah satu dari mereka, Silvi?" tanya Aryn pada Silvi yang hanya duduk memakan camilannya.
"Kak Frans tidak ikut, tidak ada yang pantas aku dukung selain Kak Frans!" seru Silvi sambil menatap Frans yang berdiri di samping pengawal.
Angel dan Aryn menepuk jidat masing-masing. Untuk kali ini mereka berdua yang biasanya saling adu mulut bisa sehati sepikiran.
"Dapat!" seru Reza yang menyembul dari dalam air. Tangan kirinya mengangkat tinggi-tinggi koin yang berhasil ia dapat.
Zack, Ken, Samuel, dan Dave pun menyembul ke permukaan. Mereka berenang menepi dan berpegangan pada pinggiran kolam.
"Silvi lihatlah! Aku menang, koin ini untukmu!" seru Reza girang.
"Tidak mau kak!" sahut Silvi membuat semua orang tertawa.
"Kenapa? Bukankah kamu tadi mendukungku?" tanya Reza.
"Jangan terlalu percaya diri, kak! Silvi tidak sekalipun menyorakkan nama kakak, kalau Kak Frans ikut mungkin aku akan berteriak paling kencang!" jawab Silvi, lagi-lagi semua orang tertawa.
Reza tersenyum kecut. Ternyata tadi ia hanya berhalusinasi mendengar Silvi menyorakkan namanya berulang kali. Keempat sahabatnya tiba-tiba memeluk Reza bersamaan, berusaha merebut koinnya.
"Buat aku saja koinnya! Lumayan untuk tambahan beli popok nanti!" seru Samuel.
"Arynnnn! Lihatlah mereka curang!" seru Reza.
"Stoppp!" teriak Aryn membuat para pria tampan itu pun terdiam.
"Reza berikan koinnya pada Dave!" perintah Aryn.
"Tapi..." lirih Reza.
"Berikan!" seru Aryn.
Reza pun memberikan koin yang ia dapat dengan susah payah kepada Dave. Aryn tadi melemparnya di bagian kolam yang dalam. Dalamnya tidak hanya 3 meter, tapi 7,5 meter.
"Daripada koin ini menjadi rebutan, lebih baik untuk Dave saja!" seru Aryn terkekeh.
"Akhirnya koin ini tidak jadi pergi dari sakuku!" sahut Dave terkekeh. Ia beradu tos dengan istrinya lalu tertawa bersama.
Para pria tampan itu kini naik ke pinggir kolam. Keempat sahabatnya terlihat kesal pada Dave. Dave si tembok toilet tentu tidak menghiraukannya. Para wanita membawakan handuk untuk pasangan masing-masing. Aryn membawakan sebuah handuk warna pink untuk Dave. Angel memberikan handuk warna hijau terang untuk Samuel. Sementara Naina membawakan dua handuk berwarna biru untuk Ken dan Zack.
"Bersainglah secara sehat, Zack! Sudah jelas Naina menghampiriku, lo malah main ambil aja!" seru Ken.
"Pulang rapat beli ketupat, siapa cepat dia dapat," jawab Zack.
"Breng*ek lo!" umpat Ken.
"Sudah jangan ribut, aku bawa dua kok!" sahut Naina, ia memberikan handuk yang lain pada Ken.
Di tepi kolam Reza menatap Silvi tajam. Silvi tidak membawakan handuk untuknya. Menghampirinya saja tidak. Padahal biasanya Silvi membawakan handuk untuknya.
"Silvi!" Reza melambaikan tangannya pada Silvi.
__ADS_1
"Ada apa?" Silvi berjalan mendekat.
"Kamu tidak membawakan handuk untuk kakak? Lihatlah kakak iparmu sudah membawakan handuk untuk Dave!" ucap Reza.
"Aku? Memangnya aku siapa? Wajar saja mereka membawakan handuk untuk pasangan mereka, sementara aku? Aku hanya adik kecil kakak," jawab Silvi.
Skak mat, Reza kalah telak. Silvi pandai menyerang Reza dengan ucapan yang pernah Reza katakan.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Reza.
"Aku hanya mengatakan kebenarannya, kak!" jawab Silvi yang langsung melenggang pergi.
Silvi mengambil segelas jus jeruk dan membawakannya untuk Frans. Tangan Reza mengepal. Reza menggertakan rahangnya saat Silvi menggandeng Frans untuk duduk di bangku.
Byuurrr
Reza memukulkan tangannya pada permukaaan air dengan sangat keras. Dave dan Zack menoleh, tapi mereka diam tidak mempedulikannya.
"Shit! Telapak tanganku terasa panas!" umpatnya.
Reza menggibaskan tangannya. Ia berjalan masuk ke dalam mansion dengan kesal.
Sekarang Dave dan yang lainnya duduk di bangku bersama pasangan masing-masing. Pandangan semua orang fokus pada handuk yang dipakai Samuel dan Dave.
"Kalian berdua cute banget! Yang satu pink, yang satunya lagi hijau terang sampai membuatku silau!" seru Zack.
"Berisik!" sahut Dave dan Samuel serempak.
"Nggak asik lo!" sahut Zack.
Di sela-sela obrolan mereka, Uti datang membawa nampan.
"Camilan datang!" seru Uti.
Kali ini Aryn tidak perlu repot menerjemahkan ucapan Uti, karena Uti ternyata bisa berbahasa inggris walaupun tidak lancar. Semua orang menyerbu mangkuk besar yang berisi buah-buahan yang sudah dipotong dadu. Uti duduk di sebelah Aryn. Reza yang baru selesai mengganti baju langsung ikut bergabung. Baru saja ia mendudukan bokongnya di bangku, kedua matanya sudah menangkap kebersamaan Silvi dan Frans. Keduanya terlihat asyik mengobrol berdua. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, Reza tidak dapat mendengarnya karena bangku yang diduduki Silvi berada di paling ujung.
"Waktu Uti muda dulu, pernah tidak Uti menyukai seseorang?" tanya Reza.
"Pernah, saat Uti masih duduk di sekolah menengah!" jawab Uti. Reza mengangguk, ia melirik Aryn dan Silvi.
"Uti dulu orangnya pemalu kalau berhadapan dengan pria. Jadi Uti tidak mengatakannya alias memendam perasaan Uti! Lagipula Uti adalah wanita. Uti pernah mencoba menunjukkan perhatian yang lebih, tapi dia tidak peka! Akhirnya Uti menyerah. Sebagai seorang wanita gengsi lah mengejar pria," jawab Uti terkekeh, ia teringat pria yang dulu pernah ia cintai.
Semua orang terkekeh mendengar ucapan Uti. Bukan karena ceritanya yang lucu, namun karena Uti mencampur kosakata Bahasa Inggris yang ia gunakan dengan bahasa dari negaranya. Tanpa diminta, Aryn menerjemahkan ucapan Uti ke dalam Bahasa Inggris yang benar.
"Memangnya semua wanita selalu gengsi untuk menyatakan perasaan ya, Uti? Padahal Pria bukan paranormal yang bisa mengerti kode-kode dari mereka," sahut Reza.
"Begitulah wanita, mereka selalu ingin dimengerti dan dipahami" jawab Uti.
Silvi langsung menoleh, Apakah Reza sedang membahas dirinya? Jika benar, apakah ucapan Uti benar, dan aku termasuk dalam salah satunya? Tapi aku tidak menyatakan perasaanku karena aku sadar diri aku masih di bawah umur dan Kak Reza mencintai orang lain. Semoga Kak Reza belum tahu tentang perasaannya, batinnya.
Melihat ekspresi wajah Silvi yang berubah, Reza semakin yakin jika ucapan para sahabatnya benar. Silvi mempunyai perasaan untuknya. Entah mengapa Reza sangat penasaran bagaimana sebenarnya perasaan Silvi untuknya.
"Tapi Uti, apakah para wanita bisa peka jika seorang pria memendam perasaan untuknya?" tanya Reza lagi. Reza sengaja mengarahkan pembicaraan untuk membahas itu. Reza juga penasaran.
"Banyak nanya lo!" seru Samuel.
"Pepatah mengatakan, malu bertanya sesat di jalan!" jawab Reza dengan ketus.
"Tapi kalau banyak bertanya itu memalukan! Dasarrr! Jangan menanyakan pertanyaan konyol pada Uti!" seru Samuel.
"Uti aja tidak keberatan, iya kan uti?" sahut Reza.
"Iya, Uti senang mengobrol dan berbagi cerita, apalagi dengan anak muda seperti kalian! Uti merasa muda kembali!" jawab Uti terkekeh. Semua orang juga ikut tertawa mendengarnya.
"Jadi bagaimana Uti? Apakah para wanita juga bisa peka jika ada pria yang memendam perasaan untuknya?" tanya Reza dengan antusias.
"Menurut Uti, wanita lebih peka dan sensitif. Tapi walaupun dia tahu sekalipun, ia akan menunggu sampai pria itu menyatakan perasaannya!" jawab Uti.
"Dasar wanita!" seru Zack, Ken, dan Reza serempak.
Silvi menoleh, "Sekarang malah bertanya begitu! Pasti dia membicarakan dirinya sendiri yang sedang memendam perasaan untuk Kak Aryn! Dasar pria labil, tidak punya pendirian! Melihatku dengan Kak Frans marah-marah, tapi masih saja memikirkan Kak Aryn!" gumamnya.
Reza menatap Aryn dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Jika ucapan Uti benar wanita itu lebih sensitif, Aryn pasti sudah tahu tentang perasaannya. Aryn tidak pernah mengatakan apapun, Reza seharusnya sadar diri jika cintanya salah.
Ditatap begitu dalam oleh Reza membuat Aryn merasa risih. Apalagi Reza membahas tentang perasaan dengan Uti. Ia menunduk, menghindari tatapan Reza. Aryn tahu Reza masih mempunyai perasaan untuknya.
"Sayang," panggil Aryn pada Dave.
__ADS_1
"Iya, ada apa sayang?" tanya Dave.
"Aku ingin jalan-jalan beli ice cream di minimarket dekat sini," ucap Aryn.
Kebetulan Aryn sangat menginginkannya, jadi ia bisa pergi dari tempat ini segera. Dave juga menyanggupinya. Mereka berdua meminta izin pada Uti, lalu berjalan bersama menuju minimarket terdekat yang jaraknya lumayan jauh karena harus melewati kebun buah yang berhektar-hektar luasnya. Frans langsung mengekor di belakang mereka. Reza tersenyum kecut melihat Dave dan Aryn meninggalkan tempat itu. Tapi ada sedikit rasa bahagia, karena Frans tentu juga harus mengikuti bosnya pergi.
Kedua tangan Silvi mengepal, sejak tadi ia mengamati gerak-gerik Reza yang menatap Aryn. Dadanya terasa sesak. Saat Reza menoleh dan menatapnya, Silvi memalingkan wajahnya dengan cepat. Sebenarnya apa yang dipikirkan Reza? Jika dia masih memiliki perasaan untuk Aryn kenapa Silvi tidak boleh dekat dengan Frans?
Baru saja Reza bangkit dari duduknya, Silvi langsung pindah ke bangku di tengah-tengah Zack dan Ken. Reza mendengus kesal. Zack dengan jahilnya menjulurkan lidahnya untuk meledek Reza.
----------------
Dave menghentikan langkahnya saat tiba di depan gerbang mansion.
"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Aryn.
"Kebun ini sangat luas, kamu kan kelelahan!" jawab Dave.
Dave mengangkat tangan kanannya, Frans langsung menghampiri.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya Frans.
"Ambil golf car di garasi!" perintahnya, Frans langsung berlarian menuju garasi.
"Untuk apa sayang?" tanya Aryn.
"Kebun ini sangat luas, kita akan berjalan saat sudah sampai di jalan besar nanti! Tidak penolakan, kamu haru menurutiku!" seru Dave.
Aryn mengangguk, ia mau tidak mau harus menyetujuinya. Lagipula mereka nanti masih ada kesempatan untuk berjalan, walaupun hanya dekat. Beberapa saat kemudian Frans datang dengan mengendarai golf car. Golf car itu biasanya digunakan Silvi jika mengontrol kebunnya. Dave dan Aryn duduk di bangku belakang.
Sepuluh menit baru mereka tiba di jalan besar. Frans menghentikan laju golf car atas perintah Dave.
"Kau tunggu di sini! pengawal lainnya cukup berjaga di depan minimarket saja," perintah Aryn.
"Baik, bu bos!" seru Frans.
"Mereka anak buahku, dan harus mendengarkan perintahku! Kalian harus berjaga di setiap sudut!" perintah Dave.
"Aku ingin berduaan saja denganmu, Dave! Apakah tidak boleh? Kemana-mana selalu ada mereka, rasanya tidak asik!" ucap Aryn sendu.
"Baiklah, kalian berjaga di luar saja!" sahut Dave, ia tidak tega melihat wajah sedih Aryn.
Mereka berjalan beriringan menuju minimarket yang jaraknya tinggal dua ratus meter di depan. Usia kehamilan Aryn masih muda, Dave tidak mau membahayakan keduannya. Aryn langsung berjalan cepat menuju freezer ice cream. Kedua matanya berbinar menatap ice cream yang berjajar. Ia mengambil satu ice cream dari masing-masing varian.
"Kamu mau jualan?" tanya Dave terkekeh.
"Ish kamu ini, aku ingin mencoba semuanya!" jawab Aryn.
"Baiklah, ambil sesukamu! Aku mau mengambil snack kesukaanmu sebentar! Jangan pergi kemana-mana!" Dave mengelus rambut Aryn.
Aryn hanya mengangguk, karena ia fokus memilih ice cream. Tapi tiba-tiba seseorang menepuk bahunya.
"Kamu cepat seka..." ucapan Aryn terpotong.
Aryn tidak mampu meneruskan kata-kata saat membalik tubuhnya. Ia melihat wajah yang sangat familiar untuknya.
"Hi Aryn? Apa kabar?" sapa orang itu.
Aryn mematung, tangannya lemas. Semua ice creamnya jatuh ke lantai. Wajahnya juga terlihat pucat seperti baru melihat hantu. Mendengar suara keributan, Dave langsung berlari menghampiri Aryn.
"Sayang kamu kenapa?" Dave menangkup pipi Aryn.
Aryn langsung tersadar, tapi orang itu sudah pergi. Ia hanya diam saja. Sebaiknya tidak boleh ada yang tahu, pikirnya.
"Kamu kenapa?" seru Dave, ia menggoyangkan tubuh Aryn untuk mendapat jawaban.
"Tidak apa-apa, tanganku kram tadi!" jawab Aryn berbohong.
"Kamu berani berbohong rupanya, mana mungkin hanya kram? Wajahmu saja sangat pucat, seperti habis melihat hantu!" gumam Dave.
Dave menyuruh para pelayan minimarket untuk membereskan belanjaan Aryn. Ia segera membayar dan mengajak Aryn pulang ke mansion. Dave menyesal karena mengikuti perkataan Aryn. Kalau pengawalnya berjaga di dlaam minimarket hal ini pasti tidak terjadi. Selama perjalanan pulang, Dave memeluk bahu Aryn. Ia berusaha bertanya, tapi Aryn masih saja mengatakan tangannya tadi kram.
.........
Jangan lupa like, vote, dan komentar sesuka kalian! Love you all!
And Stay tuned!
__ADS_1