
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
"Selamat pagi, cantik! Pagi-pagi kok sudah cemberut?" sapa Uti yang sudah siap di meja makan.
"Selamat pagi, tidak apa-apa kok Uti! Hanya sedang tidak bersemangat sekolah saja!" Silvi duduk di kursinya.
Uti tersenyum, ia mengambilkan roti dan mengokesinya dengan selai coklat. Rupanya Uti sudah hafal sarapan Silvi.
"Kenapa tidak bersemangat? Apa karena Reza?" Uti mentoel hidung Silvi.
"Kok Uti bisa tahu ya? Aduh gawat..." gumam Silvi.
Silvi terlihat gugup, berusaha untuk mengarang jawaban. Ia takut masalah Reza sampai di telinga kakaknya.
"Tidak usah panik, Uti paham kok! Tadi pagi saat Uti mau turun ke dapur, Uti lewat depan kamarmu. Uti tidak sengaja mendengar percakapanmu dengan Reza di telepon. Sebenarnya Uti tidak niat menguping, tapi pintu kamarmu sedikit terbuka jadi terdengar deh," Uti terkekeh.
"Eh.. Iya Uti! Uti jangan bilang kepada Kak Aryn atau Kak Dave ya kalau Silvi masih berhubungan dengan Kak Reza," lirih Silvi.
"Uti ini sudah pernah muda, pernah merasakan cinta-cintaan juga. Jadi Uti paham dengan masalahmu, jangan khawatir Uti ini tidak akan memberitahu Aryn ataupun kakakmu. Apalagi kasus asmaramu sama dengan Uti, bedanya perasaanmu sudah kamu ungkapkan bukan?" jawab Uti.
Uti teringat masa mudanya dulu yang sama dengan Silvi. Dia dulu menyukai seorang pria secara diam-diam. Bedanya Uti tidak mengungkapkan perasaannya sementara Silvi, dia berani mengungkapkan bahkan menunjukkannya di depan semua orang.
"Iya Uti," ucap Silvi dengan malu-malu.
"Jadi kenapa kamu tidak menemui Reza untuk mengatakan salam perpisahan?" lirih Uti, ia takut ada penjaga atau pelayan yang mendengar.
"Hah?" Silvi bengong.
"Tidak mau yasudah," Uti terkekeh.
"Mau Uti, Silvi mau kok!" sahut Silvi dengan cepat.
"Mau apa?" tanya Uti.
"Tadi yang Uti bilang..." lirih Silvi.
"Ayo!" ajak Uti.
"Kemana, Uti?" tanya Silvi.
"Ish... Ke bandara lah!" lirih Uti.
"Serius?" tanya Silvi.
"Tiga rius!" sahut Uti. Uti dan Silvi tertawa bersama.
"Tapi Silvi takut Kak Dave nanti marah," lirih Silvi.
"Dia tidak akan marah kalau dia tidak tahu, kakakmu itu tidak memahami perasaan adiknya. Seperti tidak pernah muda saja, pacarnya dulu banyak juga kan," jawab Uti.
"Itu artinya kita pergi diam-diam, Uti?" tanya Silvi.
"Iya," jawab Uti.
Silvi menggandeng lengan Uti. Semenjak kehadiran Uti di mansion ini, Silvi merasakan kasih sayang yang tulus dari wanita tua itu. Walaupun Erick dan Katy setiap weekend selalu berkunjung, tapi Silvi seperti masih canggung dengan mereka. Karena selama ini ia lebih lama tinggal dengan kakaknya bukan orangtuanya.
Saat Silvi dan Uti keluar dari pintu utama, Frans mencegat mereka.
"Ada apa?" seru Uti pada Frans yang menghalangi langkah mereka.
"Uti dan Nona Silvi mau pergi kemana?" tanya Frans.
"Uti mau mengantarku ke sekolah," jawab Silvi.
"Kalau begitu mari saya antar," sahut Frans.
Silvi menoleh pada Uti, memberikan isyarat melalui mimik wajahnya. Inilah yang membuta Silvi mengubur keinginannya untuk menemui Reza. Untuk pergi ke minimarket saja banyak sekali orang yang mengikutinya.
"Tidak usah, biar sopir saja yang mengantar kami," jawab Uti.
"Tapi nyonya, kemanapun Nona Silvi pergi saya yang harus mengantarnya," ucap Frans.
"Tapi kali ini Silvi perginya dengan aku, apakah Dave tidak akan percaya denganku?" tanya Uti yang langsung membuat Frans mati kutu. Tentu saja Dave selalu menuruti perintah Uti.
"Baik, nyonya!" Frans menunduk.
"Tolong kamu berikan pupuk di pohon buah nagaku ya, di bungkus pupuknya sudah ada takarannya!" perintah Silvi.
"Baik Nona," jawab Frans.
Uti dan Silvi masuk ke dalam mobil. Walaupun mereka sudah berhasil membuat Frans untuk tidak mengantar mereka, tapi masalah mereka tidak cukup sampai di situ. Karena pengawal Silvi mengikuti mobil Silvi dari belakang.
"Bagaimana ini, Uti?" bisik Silvi.
"Tenang saja," jawab Uti setengah berbisik.
__ADS_1
"Nak, pinjam intercomnya! Dan aku ingin mampir di minimarket depan itu!" ucap Uti pada sopir yang usianya masih muda.
"Baik, Nyonya!" jawab sopir itu. Sopir tidak mungkin menolak permintaan Uti. Ia mengarahkan mobilnya untuk belok, masuk ke area minimarket.
Uti memperhatikan intercom yang ia pegang, lalu ia tersenyum smrik.
"Ini Uti yang berbicara, aku dan Silvi akan berhenti sebentar di minimarket, kalian tunggu di parkiran saja!" ucap Uti kepada pengawal melalui intercom.
"Siap, Nyonya!" sahut pengawal.
Uti mengembalikan intercom itu. Silvi hanya diam menurut. Begitu mobil berhenti di parkiran, Uti dan Silvi turun dari mobil. Mereka berdua masuk ke dalam minimarket, sopir dan pengawal mereka menunggu di depan.
"Dari sini bandaranya sudah dekat, bukan?" tanya Uti.
"Iya, Uti. Tinggal sekitar 3 kilometer saja. 15 menit kalau jalanan padat." jawab Silvi.
"Bagus, waktunya cukup!" sahut Uti.
Uti melihat sekitar, ia melihat seorang gadis yang usianya tidak jauh dari Silvi di dalam minimarket itu. Uti meninggalkan Silvi dan menghampiri gadis itu. Silvi memeperhatikan dari kejauhan. Silvi melihat Uti memberikan begitu banyak uang cash kepada gadis itu. Lalu gadis itu masuk ke dalam toilet yang ada di sudut minimarket.
"Masuklah ke toilet, tukar bajumu dengan baju gadis tadi! Jangan keluar dari minimarket sebelum Uti dan para pengawal pergi dari sini," bisik Uti.
"Astaga, Uti jenius! Terima kasih Uti!" Silvi memeluk Uti.
"Sama-sama, cantik! Nanti jika sudah selesai cepat kembali ke sekolah ya! Gadis itu nanti akan menjalankan tugasnya selama di sekolahmu sesuai arahanku!" sahut Uti.
"Silvi sayang Uti," ucap Silvi.
"Uti tahu itu, titip salam untuk Reza ya! Bilang padanya untuk segera melamar cucuku ini!" ucap Uti. Kedua pipi Silvi merah mendengar ucapan Uti.
Silvi bergegas masuk ke dalam toilet menyusul gadis tadi. Hanya ada satu pintu toilet yang tertutup, Silvi mengetuknya. Pintu itu terbuka, Silvi langsung masuk ke dalam. Mereka berdua berdiri saling membelakangi.
"Ini," gadis itu memberikan pakaiannya pada Silvi. Silvi memberikan seragam dan hoodienya.
"Sempurna," ucap Silvi saat menatap gadis itu sudah memakai seragam dan hoodie milik Silvi.
"Sepertinya aku pernah melihatnya," gumam Silvi.
"Pakai penutup kepalanya seperti ini, dan pakai masker ini juga!" perintah Silvi.
"Baik," jawab gadis itu.
Beruntung Silvi selalu memakai hoodie saat berangkat ke sekolah. Hoodie itu sekarang berguna.
"Siapa nama kamu?" tanya Silvi.
"Celyn," jawab gadis itu.
Gadis itu mengangguk. Silvi tidak terlalu memperhatikan wajahnya karena mereka harus cepat. Silvi menyuruh gadis itu untuk keluar dan pergi bersama Uti. Sementara ia akan tinggal di toilet dulu sampai Uti dan semua pengawal pergi dari minimarket. Ia masih punya cukup waktu.
Silvi mengintip dari balik dinding pembatas, Uti sudah pergi. Mobilnya dan mobil pengawal juga sudah tidak ada di parkiran. Silvi dapat melihat dengan jelas karena bagian depan minimarket itu terbuat dari kaca.
"Aku siap!" Silvi menyemangati dirinya sendiri. Ia memakai masker. Sebelumnya ia membeli dua botol minuman dingin. Baru dia pergi dari minimarket. Tidak lupa ia mematikan ponselnya.
Dengan semangat yang membara, ia berjalan menuju halte bus terdekat. Keberuntungan sedang berpihak padanya, tidak lama kemudian sebuah bus berhenti di hadapannya. Silvi bergegas naik. Artinya ia akan segera sampai di bandara.
-----------------
Di depan gerbang sekolah Silvi,
Uti melambaikan tangannya saat gadis yang berpura-pura menjadi Silvi masuk ke dalam sekolah. Tidak ada satupun pengawal yang mencurigai. Seperti prediksi Uti, karena mata Silvi dan gadis itu mirip. Para pengawal menyebar sesuai posisinya. Sementara Uti ia pulang ke mansion.
"Semoga aman sampai selesai hehehe.." gumam Uti.
------------------
Bug,
Silvi melompat dari bus saat bus berhenti di halte seberang bandara. Ia berlari sekencang-kencangnya masuk ke dalam bandara. Pandangan matanya menyisir seluruh tempat, tidak ada Reza di sana. Silvi melihat papan information, pesawat Reza akan terbang 30 menit lagi.
"Bodoh... Kak Reza pasti sudah masuk di check in area!" keluh Silvi.
Silvi berlari menuju check in area. Ia berhenti saat tempat itu berada 30 meter di depannya. Ia menatap kedua security yang menjaga pintu. Security itu yang menghalanginya dulu. Silvi harus bersiap menghadapi security itu.
Saat Silvi akan masuk ke pintu itu, kedua security itu mencegahnya. Kejadian sama seperti beberapa bulan lalu.
"Saya hanya ingin bertemu dengan seseorang sebentar," ucap Silvi.
"Tidak bisa, nona!" sahut security itu.
Silvi menghentakkan kakinya ke lantai berkali-kali karena kesal. Air matanya sudah mengalir deras. Ia menangis seperti anak kecil. Banyak orang melihat Silvi.
"Aduh dek... Jangan menangis!" ucap salah satu security.
Mereka merasa terkejut karena Silvi menangis dengan keras. Semua pengunjung bandara memperhatikan mereka. Security itu merasa bingung, bisa-bisa mereka berdua disalahkan karena Silvi menangis.
"Dek jangan menangis! Saya kasih permen ya? Kami tidak ingin dituduh sebagai penjahat anak-anak!" ucap security itu.
__ADS_1
"Aku tidak butuh permen, kalau mau pabriknya juga bisa saya beli!" seru Silvi.
"Aduh, anak konglomerat ternyata!"
"Kalau adik ingin masuk, kami tetap tidak mengizinkan! Peraturannya memang seperti itu,"
Silvi menangis lagi, ia melepas maskernya karena sudah basah dengan air mata.
"Loh... Kamu gadis itu kan?" ucap salah satu security.
"Gadis yang memaksa masuk beberapa bulan lalu?"
Silvi melongo, kedua security itu masih mengenalnya.
"Apakah sekarang kamu mau menemui pria itu lagi?" tanya security itu.
Silvi mengangguk, ia berhenti menangis.
"Dia duduk di sana!" security itu menunjuk deretan bangku di belakangnya.
Silvi terdiam sebentar, lalu ia membalikkan tubuhnya. Di deret bangku yang berada di dekat jendela, ada seorang pria yang tengah duduk dengan santai. Pria itu memakan snack, ia sepertinya menikmati pertunjukkan yang baru saja terjadi di hadapannya. Silvi buru-buru menyeka air matanya yang masih mengalir di pipi. Ia menoleh, menatap kedua security yang tengah tertawa.
"Dasar anak muda zaman sekarang," cicit security itu.
Kedua pipi Silvi mereh, ia sangat malu. Ia tadi sudah menangis sambil duduk dan menghentakkan kakinya seperti anak kecil. Ia berpikir security tadi akan mengizinkannya masuk, pasti mereka tidak ingin ada keributan di bandara. Tetapi yang terjadi sungguh memalukan. Silvi merengek minta masuk tetapi orang yang ia cari duduk santai menyaksikan aksinya. Bagaimana bisa ia tidak melihat Reza di bangku itu tadi?
"Hai!" seru Reza.
Bukannya menghampiri Reza, Silvi justru berjalan menjauh. Reza tertawa melihat tingkah Silvi. Ia bergegas mengikuti Silvi.
"Aku malu sekali," ucap Silvi, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Menjauhi orang-orang yang sejak tadi menatapnya.
Pluk,
Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Silvi yakin itu pasti Reza.
"Jangan mengejarku! Aku sedang malu sekarang, Kak! Kalau Kak Reza mau berangkat sekarang berangkat saja! Aku malu karena Kak Reza juga!" seru Silvi.
"Maaf, Nona! Saya hanya ingin memberitahu lantai di depan nona baru saja saya bersihkan karena ada tumpahan air, maaf mengganggu!" ucap petugas kebersihan.
Silvi menoleh ke belakang, memang bukan Reza. Lalu ia melihat di hadapannya, ada sebuah cone berwarna orange.
"Astaga, aku mempermalukan diriku lagi!" keluh Silvi.
Reza yang sekarang sudah di belakang Silvi tertawa dengan keras. Silvi menghentakkan kakinya karena kesal. Reza menggandeng tangan Silvi, membawanya duduk di salah satu bangku tanpa mempedulikan orang-orang yang menatap mereka.
"Dasar!" Reza menunjuk kening Silvi.
"Bodoh?" tanya Silvi.
"Kamu yang mengatakannya, bukan aku!" sahut Reza.
"Gara-gara kakak aku jadi malu! Kalau ada kantong kresek pasti sudah aku pakai untuk menutupi wajahku!" keluh Silvi.
"Ini!" Reza menyodorkan kantong kresek dari saku tas yang ia gendong.
"Nih nih!" Silvi justru menggunakan kantong itu untuk membungkus kepala Reza. Mereka berdua tertawa bersama.
Silvi lalu memeluk Reza dengan erat. Ia pasti akan rindu tertawa bersama Reza seperti ini.
"Iihh cengeng!" ledek Reza, dadanya terasa basah. Pasti Silvi menangis.
"Biarin! Bukankah pesawat Kak Reza sebentar lagi lepas landas?" tanya Silvi di sela tangisannya.
"Belum, aku mengatur ulang penerbanganku!" jawab Reza.
"Maksudnya?"
"Saat aku menelponmu tadi, sebenarnya aku baru bangun tidur! Aku kesiangan jadi aku rubah saja, aku pesan penerbangan agak siang!" sahut Reza.
"Benarkah?" Silvi melepaskan pelukannya.
"Iya, sekitar dua jam lagi!" jawab Reza.
"Kalau masih dua jam, kenapa Kak Reza sudah di sini?"
"Karena aku tahu kamu akan melakukan ide gila untuk menemuiku!" Reza terkekeh.
Silvi teringat dengan gadis yang menggantikan dirinya di sekolah. Apakah akan aman jika ia ke sekolah dua jam lagi? Ah... itu urusan nanti, pikir Silvi.
"Aku punya sesuatu untukmu, kak!" seru Silvi.
Silvi mengeluarkan dua botol minuman dingin yang ia beli di minimarket tadi.
"Taadaaa..."
Reza mencubit kedua pipi Silvi dengan gemas. Mereka mengobrol sambil menikmati minuman yang dibawa Silvi. Menghabiskan waktu sebelum mereka berpisah oleh jarak lagi.
__ADS_1
...............
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar!