Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
PAPA BOTAK


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Kehamilan di usia yang sudah setengah abad, bukan hal yang mustahil. Tapi juga mempunyai risikonya tersendiri. Tiga bulan pertama kehamilan Katy, Katy sehat dan tidak mempunyai keluhan. Morning sickness yang ia alami juga tidak parah. Ngidamnya bahkan tidak minta yang aneh-aneh. Hanya sebatas minta nasi goreng atau mie goreng saja. Saat memasuki bulan keempat dan kelima semuanya juga masih normal.


Hari ini kandungan Katy genap berusia enam bulan. Keluhan ringan mulai ia alami, dari bulan kelima sebenarnya ia juga mempunyai keluhan. Kedua kakinya bengkak, badannya juga mudah lelah. Yang membuat semua orang khawatir adalah tekanan darah Katy agak tinggi. Dokter menyarankan untuk lebih banyak istirahat. Selain itu dokter juga sudah menjelaskan persalinan akan dilakukan dengan operasi cesar. Karena jika melakukan persalinan normal risiko yang akan dihadapi lebih tinggi. Mengingat fisik Katy yang tidak muda lagi dan komplikasi yang mungkin akan terjadi.


Beruntung Erick selalu siap siaga untuk Katy dan calon baby mereka. Erick benar-benar tidak pergi ke kantor. Fokusnya hanya untuk menjaga Katy dan buah hati mereka. Kemanapun Katy pergi, Erick pasti akan selalu mendampinginya. Sekalipun ke kamar mandi, Erick akan mendampinginya. Untuk urusan makanan yang dimakan Katy sehari-hari, juga tidak luput dari perhatian Erick. Misalnya saja sekarang, Erick sendiri yang mengupaskan buah untuk cemilan Katy.


"Ayo dimakan buahnya, agar kalian berdua sehat!" ucap Erick saat menghidangkan semangkuk apel yang sudah dipotong dan anggur.


"Terima kasih, sayang!" jawab Katy.


"Sudah sore masih bikin orang baper saja!" seloroh Silvi.


Silvi baru saja pulang dari sekolah, dia tadi berniat untuk makan, tapi ternyata ia mendapat suguhan adegan romantis dari papa dan mamanya yang sedang duduk bersama di meja makan. Ia jadi teringat Reza. Sebenarnya sih baru pagi tadi ia mengobrol online dengan Reza. Tapi kalau melihat orang yang bermesraan membuatnya rindu mendadak.


"Kalau kamu pengen, nanti papa ngomong sama dia!" sahut Erick.


"Iih papa, tahu aja apa yang Silvi mau," Silvi terkekeh.


"Mama ketinggalan berita apa ini?" tanya Katy.


"Anak gadis mama sudah cinta-cintaan," Erick terkekeh.


"Benarkah? Siapa pria yang sial itu?" tanya Katy.


"Kenapa mama berkata seperti itu?" Silvi cemberut.


"Kamu itu gadis, seorang gadis! Tapi tidak ada manis-manisnya sama sekali, hobinya berkelahi, memanah, menembak! Temannya juga seekor anjing. Pria yang menyukaimu pasti bukan pria biasa, mama jadi penasaran," ucap Katy terkekeh.


"Kelak mama akan tau siapa pria luar biasa itu," Silvi terkekeh.


Silvi bergegas berlari menuju lift untuk menghindari Katy yang semakin penasaran. Katy mendengus kesal karena Erick enggan menjawab pertanyaan Katy mengenai pria yang mereka bahas tadi. Erick mengalihkan pembicaraan.


"Sudah sore, ayo istirahat!" ajak Erick.


"Gendong!" ucap Katy dengan manja.


"Aku tidak yakin, sayang!" Erick berkacak pinggang sembari menatap tubuh Katy yang mengembang karena hamil.


"Maksudmu aku gendut, gitu?" tanya Katy.


"Bukan itu masalahnya, aku bicara tentang tubuhku! Sekalipun kamu gendut kalau aku masih muda, sampai ujung duniapun aku siap menggendongmu. Tapi sekarang aku sudah tidak muda lagi sayang, aku tidak yakin dengan tubuhku! Bagaimana kalau nanti aku encok," Erick terkekeh.


"Oh begitu... Kalau begitu bawakan kursi roda saja, seperti tadi!" ucap Katy.


Sejak satu minggu lalu, Katy menggunakan kursi roda untuk berpindah dari satu tempat le tempat lain. Karena memang ia cepat lelah Dan kakinya bengkak sekali.


"Siap, ratuku!" jawab Erick.


"Kamu sudah bangkotan tapi masih romantis juga," Katy tersipu malu.


"Fisik boleh menua, tapi hati ini masih sama, eeaakk!" Erick terkekeh.


Tapi sesampainya di kamar, Katy malah terlihat murung. Berbeda sekali saat masih di meja makan tadi. Erick yang menyadari perubahan mood Katy, langsung menanyai istrinya itu.


"Ada apa sayang?" tanya Erick.


"Lihat ini!" Katy menunjukkan ponselnya, ternyata sejak tadi Katy bermain ponsel.


"Kenapa?" tanya Erick.


Erick merasa bingung karena Katy menunjukkan video seorang pria botak sedang memasak nasi goreng.


"Aku pengen!" kedua mata Katy tampak berkaca-kaca.


"Baiklah, tunggu sebentar ya, akan aku buatkan segera!" Erick mengelus kepala Katy.


"Sungguh?" tanya Katy.


"Apakah aku terlihat seperti pelawak? Aku sedang bersungguh-sungguh sekarang! Sudah berkali-kali aku memasak nasi goreng untukmu kan?" jawab Erick.


"Iya benar, aku ingin makan nasi goreng! Tapi bukan sembarang nasi goreng, aku ingin kamu seperti pria ini!" Katy menunjuk ponselnya.


"Mudah saja," jawab Erick spontan.


Tapi kemudian ia melotot, ia mengambil ponsel Katy, melihat video itu lagi.


"Seperti ini?" seru Erick.


"Iya," Katy mengangguk.


"Botak?" tanya Erick lagi.


"Iya, sayang" Katy mencubit kedua pipi Erick.


"Sayang, jangan bercanda!" protes Erick.


"Apakah aku terlihat seperti badut? Aku tidak bercanda!" sahut Katy.


"Iya, seperti badut. Perut sudah bulat tinggal pakai hidung tomat saja," jawab Erick sekilas.

__ADS_1


"APA??" pekik Katy.


"Aduh... bukan maksudku begitu sayang. Tapi... Arghh! Baiklah aku akan menjadi botak!" jawab Erick pasrah.


Katy bersorak gembira, ia menunggu Erick dengan sabar di ranjangnya. Sementara Erick ia turun ke lantai satu. Ia mencari Joe untuk membantunya menjadi botak.


"Seperti apa wujudku nanti jika aku botak, ada-ada saja!" Erick menggerutu.


Kebetulan di lantai satu, tepatnya di ruang tengah semua anggota keluarga sedang berkumpul, bermain bersama Davin. Mereka semua mendengar gerutuan Erick.


"Papa mau jadi botak? Astaga! Besik biar samaan sama dedek ya, pa?" Dave terkekeh.


" Huss..." Aryn menyenggol siku Dave.


"Diam kamu!" seru Erick.


"Dedek bayi yang minta ya, pa?" tanya Silvi.


"Iya, pusing papa! Dari dulu cuma minta nasi goreng buatan papa, sekarang minta nasi goreng buatan papa botak!" keluh Erick.


"Turutin saja ya, pa? Demi dedek bayi," Silvi mendangkol lengan papanya.


"Iya, ini papa juga sedang menuruti keinginan dedekmu, cuma dimana Joe ya? Papa mau minta tolong dibotakin," ucap Erick.


"Joe di ruangannya, pa!" sahut Dave.


"Biar Silvi saja yang botakin, pa!" seru Silvi.


"Jangan mau, pa! Dia potong rambut saja ke salon sok-sokan mau botakin!" seloroh Dave.


"Aku ini sudah pernah melakukannya," seru Silvi.


"Baguslah kalau begitu, ayo cepat botakin papa! Nanti kalau ke salon pasti lama, lebih cepat lebih baik!" seru Erick.


Silvi menyuruh Erick untuk duduk di kursi, ia memasangkan handuk besar agar rambutnya tidak mengotori baju atau menempel di tubuh. Tidak ada yang menduga, Silvi pandai mencukur. Tidak butuh waktu lama, kepala Erick sudah botak halus.


"Wow, good job girl!" Erick memuji Silvi yang ternyata ahli juga dalam urusan rambut.


"Licinnn," Dave menggoda.


"Berkilau," imbuh Silvi.


"Papa kayak The Rock, ya?" Erick bergaya di depan cermin.


"Lumayan, pa!" Aryn terkekeh.


"The Rock itu siapa?" seru Uti.


"Mirip botaknya doang ini," seloroh Uti membuat semua orang terkekeh.


Erick bergegas menuju dapur, memasak nasi goreng untuk Katy dan buah hatinya. Untuk memuaskan istrinya yang sedang mengidam, Erick meminta Silvi untuk mengambil video saat sedang memasak.


"Papa botak, itu kecapnya kurang!" seru Silvi.


"Haizz, bentar!" sahut Erick.


Ily, Sonya, maupun pelayan lain hanya memperhatikan dari jauh. Mereka tidak diizinkan membantu sedikitpun. Sampai nasi goreng itu matang, baru mereka bekerja.


"Okay, sekarang papa botak ke kamar dulu ya? Thanks, girl!" Erick mengacak pucuk kepala Silvi.


Silvi terkekeh, Erick secara tidak langsung menyetujui jika Silvi memanggilnya papa botak.


"Sejak kapan kamu bisa mencukur rambut?" seru Dave saat Silvi kembali bergabung dengan anggota keluarga lain.


"Aku tidak tahu jika kamu bisa mencukur loh, Silvi!" imbuh Aryn.


"Sebenarnya aku hanya melakukan apa yang menerapkan apa yang aku lakukan pada Mira dan Cheetos saja," jawab Silvi.


"Maksudnya?" seru semua orang serempak.


"Aku memang belum pernah mencukur orang, tapi aku sering mencukur Mira dan Cheetos!" Silvi terkekeh.


"Astaga! Bagaimana perasaan papa saat dia tahu orang yang mencukurnya adalah tukang cukur hewan? Hahaha..." Dave tertawa.


Ceklek,


Erick masuk ke kamar dengan antusias. Katy yang tadi bermain ponsel langsung menaruh ponselnya. Kedua matanya berbinar melihat kepala botak Erick dan nasi gorengnya.


"Terima kasih, sayang!" Katy memeluk Erick dengan erat.


"Ayo dimakan," Erick menyuapi Katy.


Satu hal lagi yang membuat Erick berlatih bersabar, Katy mengunyah nasi gorengnya sambil menatap kepala botak Erick. Tapi Erick merasa bahagia bisa menuruti ngidam istrinya. Malam harinya, Erick seperti biasa tidur dengan menyenderkan kepalanya di dada Katy. Sementara Katy, kini suka mengelus kepala botak Erick.


----------------


Di kamar Davin,


Di usia yang sudah genap 9 bulan, Davin dibiasakan untuk tidur sendiri di kamarnya. Meskipun begitu, Dave dan Aryn akan bermain dan menemani Davin sampai putra kecil mereka tertidur.


Seperti malam ini, Dave dan Aryn masih bermain dengan Davin di kamarnya. Davin sekarang sudah bisa merangkak. Tidak jarang, Aryn maupun Dave menyaksikan secara langsung saat jagoannya sedang berusaha berdiri dengan berpegangan pada meja ataupun ranjang. Oleh karena itu semua furniture di kamar Davin dilapisi dengan busa di setiap sudut atau bagian yang mungkin akan melukai.


Davin juga sudah bisa mengucapkan kata sederhana. Misalnya saja, dada dan mama. Davin mengucapkan dada untuk memanggil Dave. Sementara mama untuk memanggil Aryn.

__ADS_1


"Dada..." celoteh Davin.


Sekarang Davin dan Dave sedang bermain kuda-kudaan. Davin memakai sebuah topi ala koboi, sementara Dave menirukan suara kuda.


"Pegangan yang erat, kuda akan segera berangkat!" seru Dave.


Davin memegang erat bahu Dave. Dave merangkak dengan kencang di kamar Davin. Aryn sesekali berteriak karena Davin hampir jatuh, tapi Davin justru tertawa.


"Mama... mama!" seru Davin. Dave berhenti merangkak tepat di depan Aryn.


"Ada apa, sayang?" tanya Aryn.


Davin menepuk-nepuk punggung daddynya, lebih tepatnya di belakangnya. Davin sepertinya ingin Aryn ikut bergabung naik kudanya.


"Ohh Davin ngajak mama kuda-kudaan sama daddy juga?" Aryn terkekeh.


Davin tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya yang sudah tumbuh beberapa. Dave langsung menatap wajah polos anaknya.


"Kenapa Davin mengajak mama juga? Davin tahu kan mama itu sedikit bulat?" bisik Dave pada Davin.


"Apa? Bulattt? Apa maksudmu sayang?" Aryn berkacak pinggang menatap Dave dan Davin.


"Eh tidak... Itu donat yang dimakan Davin kemarin bentuknya bulat, iya kan?" Dave menatap Davin.


Davin terdiam, ia menatap daddynya sebentar lalu menatap Aryn. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan kedua orangtuanya.


"Aku kira yang kamu maksud bulat itu aku," sahut Aryn.


"Mana mungkin, sayang! Badan kamu saja sangat seksi, apalagi setelah Davin lahir kan ya? Seperti gitar spanyol," Dave mengedipkan sebelah matanya pada Aryn.


"Aku senang mendengarnya! Okay, sekarang kita main kuda-kudaan!" seru Aryn.


Aryn duduk di belakang Davin, Dave menahan nafasnya saat Aryn naik ke punggungnya. Sebenarnya Aryn tidak gemuk, tapi memang semakin berisi. Davin tertawa keras dan bertepuk tangan. Dave pun mulai merangkak.


"Ayo kudanya lebih kencang! Koboi mau melawan musuh!" seru Aryn sembari mengangkat pistol mainan Davin.


Davin pun melakukan hal yang sama, ia juga mengangkat pistol mainannya. Dave terkekeh melihat tingkah Aryn. Ia jadi semangat untuk bermain bersama keluarga kecilnya.


Setelah dua putaran, Dave berhenti. Karena Aryn yang memintanya, Davin tertidur. Dengan hati-hati Aryn memindahkan Davin ke ranjangnya. Dave memasangkan selimut di tubuh Davin sampai batas dada. Mereka mencium kening Davin bersamaan, lalu meninggalkan Davin di kamarnya. Di kamar Davin tentu sudah dilengkapi kamera CCTV, yang langsung terhubung dengan monitor besar di samping televisi kamar Dave dan Aryn. Dengan begitu Dave dan Aryn bisa tahu jika Davin sewaktu-waktu bangun atau menangis di tengah malam.


"Waktu sangat cepat berlalu, rasanya baru kemarin aku menikahimu, jagoan kita sudah besar saja!" ucap Dave yang memeluk Aryn.


"Benar, sayang! Tanpa kita sadari nanti Davin akan segera tumbuh dewasa," jawab Aryn.


"Dia pasti akan sangat tampan seperti daddynya," Dave tersenyum sombong.


"Bikinnya kan sama aku, tapi kenapa Davin tidak ada mirip-miripnya sama sekali denganku?" protes Aryn.


"Genku lebih kuat," Dave terkekeh.


"Baiklah, yang terpenting bagiku, jangan sampai sifat daddynya menurun padanya! Aku tidak ingin Davin mempermainkan wanita, apalagi itunya besar sama sepertimu," lirih Aryn.


"Itunya apa?" goda Dave.


"Jangan pura-pura tidak tahu!" sahut Aryn.


"Memangnya itu apa?" Dave menyenggol Aryn.


"Egonya!! Hahaha pasti kamu sudah berpikir yang aneh-aneh, kan? Dasar mesum!" seru Aryn meledek.


"Siapa yang mikir aneh-aneh? Justru kamu lah yang mesum sekarang!" Dave balik mengejek.


"Jangan mengelak," protes Aryn.


"Sudahlah, aku ingin main kuda-kudaan lagi saja!" seru Dave.


"Besok saja, Davin kan sudah tidur!" jawab Aryn.


Dave tidak mengatakan apapun. Ia hanya mencolek-colek lengan Aryn. Sambil mengedipkan sebelah matanya. Aryn pun paham, tapi Aryn menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Sayang...." seru Dave.


"Apa?" sahut Aryn.


"Ayooo!" seru Dave.


"Kamu tahu tidak?" tanya Aryn.


"Tidak," jawab Dave.


"Kamu belum mengatakan apapun," imbuh Dave membuat Aryn menepuk dahinya.


"Tanggal merah!" Aryn terkekeh.


"Kenapa?" Dave malah bertanya.


"Tidak boleh lah," jawab Aryn.


Dave tidak percaya, ia memeriksanya. Benar, tangannya bisa merasakan sebuah benda yang menghalangi. Davelemas, ia mengira setelah tadi bermain kuda-kudaan dengan Davin, ia bisa bermain juga dengan Aryn. Tapi ternyata harus terhalang tanggal merah. Apalah daya, ia hanya bisa menenangkan dirinya dengan mandi air dingin. Brrrrr🥶


...................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar ya!

__ADS_1


__ADS_2