Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
BELANJA


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Mei tidak bisa berkata apapun. Ia terus mengikuti Zack yang menarik tangannya. Kedua matanya tidak lepas menatap tangannya yang digandeng Zack.


"Masuk!" Zack membukakan pintu mobilnya untuk Mei.


Mei masuk ke dalam mobil tanpa sepatah katapun. Zack berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil. Mobil Zack melaju meninggalkan mansion Dave.


"Kenapa diam saja?" tanya Zack memecah keheningan suasana di dalam mobil.


"Tidak apa-apa," jawab Mei lirih.


Zack heran, Mei terlihat sangat berbeda sekali pagi ini. Tadi saat sarapan di mansion Dave, Mei menjadi pendiam setelah ia membahas tentang baby. Sampai sekarang Mei masih saja diam. Padahal biasanya Mei sangat urakan. Apalagi saat bersamanya, pasti ada saja hal yang ia debatkan. Pagi ini pertama kalinya meraka tidak bertengkar saat bertemu. Tapi mungkin saja Mei itu salah tingkah atau malu. Karena tadi Zack membahas punya baby dengannya.


"Bisa malu-malu juga gadis ini," gumam Zack.


Mobil Zack melaju mulus di jalanan ramai. Sepuluh menit berlalu tanpa obrolan sedikitpun. Zack tidak kehilangan ide. Ia mencoba untuk mengganggu Mei. Ia menyetel musik rock band kesukaannya dengan volume yang besar. Zack berharap Mei akan marah.


"Kita lihat seberapa lama kamu bisa jadi pendiam seperti ini," gumam Zack


Di luar dugaannya, Mei tidak marah sama sekali. Mei hanya mengalihkan pandangannya ke kaca mobil. Ia bahkan tidak menutup telinganya. Terakhir Zack dengar dari Aryn, Mei paling anti dengan yang namanya musik rock. Tapi yang dilihatnya tidak sesuai dengan bayangannya.


"Minta disabit asbak nih kepalanya," gumam Mei.


Zack tidak tahu jika sebenarnya Mei sangat kesal. Memang ia terlihat biasa saja, tapi dalam hatinya ia mengumpat. Akhirnya Zack mengecilkan volume musiknya. Ia akan mencoba cara lain. Zack mengambil tisu, ia gulung dan lempar ke arah Mei.


"Benar-benar menguras kesabaran! Lihat saja nanti!" gumam Mei.


Tisu itu tepat mengenai wajah Mei. Tapi bukannya marah, Mei justru mengambil tisu itu lalu membuangnya melalui kaca mobil.


"Heh, jangan buang sampah sembarangan!" seru Zack.


"Hmmm," jawab Mei.


Kali ini Mei tidak menatap kaca, tatapannya lurus kedepan. Zack bisa melihat dengan jelas wajah Mei. Ada banyak keringat di wajah Mei. Zack meletakkan tangannya di depan AC yang berada di hadapan Mei. AC-nya dingin, tapi kenapa Mei berkeringat?


"Kenapa kamu berkeringat seperti itu? Aku tahu aku itu tampan, tapi segerogi itukah kamu?" Zack terkekeh.


"Masih jauh tempatnya?" Mei tidak menanggapi Zack, justru menanyakan hal lain.


"Sebentar lagi," jawab Zack.


"Beneran gerogi nih si Mei, keringetan banyak gitu, pasti nggak tahan duduk dekat denganku makanya tanya tempatnya masih jauh atau enggak," gumam Zack.


Mobil Zack memasuki area parkir sebuah Baby shop yang besar dan terkenal. Dave tidak menentukan dimana mereka harus membeli perlengkapan untuk babynya. Zack memilih untuk berbelanja di baby shop ini karena Dave pasti ingin yang terbaik untuk babynya. Lagipula Dave sudah memberikan black cardnya kepada Zack. Hukuman yang Dave berikan tidak seberat yang ia bayangkan kemarin. Ia pikir Dave akan menguras tabungan dari gajinya selama ini untuk membeli perlengkapan. Ternyata Zack hanya membelanjakan saja. Sebenarnya Zack mampu membeli tokomya, tapi Zack selama ini lebih memilih uang hasil kerja kerasnya dari nol daripada harta orang tuanya. Ia bukan penikmat harta orang tua.


"Sampai," ucap Zack tepat saat mobilnya terparkir sempurna di area parkir yang luas itu.


"Akhirnya... Aku sudah tidak tahan!" seru Mei. Ia langsung membuka belt dan buru-buru membuka pintu. Tapi ternyata Zack menahannya.


"Tidak tahan apa?" Zack kebingungan.

__ADS_1


"Aku mau cepat-cepat masuk!" seru Mei.


"Kamu antusias sekali membeli perlengkapan baby, pasti juga ingin cepat-cepat belanja untuk baby sendiri ya?" ucap Zack.


"Lepaskan! Aku sudah tidak tahan!" seru Mei berusaha melepaskan tangan Zack yang menahan tangannya.


"Sebentar! Aku ikut! Barengan kesananya!" sahut Zack.


"Aku itu mau buang air besar! Kebelet pup!Sudah tidak sanggup aku menahannya! Mereka ingin segera terbebaskan! Cepat lepaskan!" seru Mei.


Mei berlarian keluar meninggalkan Zack yang masih melongo di dalam mobil.


"Gadis spesies apa dia itu? Kukira nervous karena duduk satu mobil denganku, ternyata hanya menahan pup!" keluh Zack.


Zack turun dari mobil, mengikuti Mei yang sudah berlari jauh. Bahkan Mei sudah masuk ke dalam baby shop itu. Zack bergegas masuk juga ke dalam baby shop itu. Terlihat Mei terburu-buru masuk ke dalam toilet. Zack menunggu sambil melihat-lihat berbagai macam model baju khusus baby. Sesaat kemudian Zack tertawa dengan keras. Membuat semua orang di sekitarnya menatapnya aneh.


"Kebelet pup," lirih Zack takut tawanya didengar orang lain lagi.


Seorang pelayan menghampirinya. Menawarkan bantuan untuk menemukan perlengkapan yang Zack inginkan. Tapi Zack menolak, ia akan mencari barangnya satu persatu bersama Mei. Pasti akan menyenangkan. Akhirnya yang ditunggu pun datang. Mei berjalan mendekati Zack. Wajahnya sudah tidak semuram tadi, dan tetap cantik pastinya walaupun baru selesai pup.


"Duh malu nih, pake kebelet pup segala! Padahal ini pertama kalinya jalan sama Zack....Hus! Mei! Kontrol dirimu, kamu sudah bilang mau ganti jodoh, jangan baper lagi! Masak mau jilat ludah sendiri!" gumam Mei.


"Sudah?" tanya Zack.


"Sudah," jawab Mei sok cool, padahal aslinya sedang menahan malu.


"Okay, ayo segera selesaikan hukuman ini!" ucap Zack.


Zack memonyongkan bibirnya menunjuk jejeran baju baby di belakang Mei. Mei mengangguk, mereka memilih baju untuk baby Dave dan Aryn.


"Tunggu Zack! Kenapa baju yang kamu pilih pink semua?" seru Mei.


"Karena lucu!" jawab Zack.


"Bagaimana kalau babynya cowok, masak pakai baju pink?" protes Mei.


"Pasti akan tambah lucu, lagipula baju ini hanya untuk newborn. Kalau sudah besar beli baju gambar robot!" jawab Zack.


"Tidak bisa, pokoknya beli warna netral saja, biru, hijau, atau merah gitu!" seru Mei dengan tegas.


"Padahal baju-baju warna pink ini sangat imut!" sahut Zack.


Mereka berdua masih berdebat mengenai warna baju yang akan di beli. Mereka rupanya tidak sadar, jika suara mereka itu keras dan mengundang perhatian para pengunjung lain. Seorang pelayan shop datang menghampiri mereka.


"Maaf, tuan nona! Apakah anda membutuhkan bantuan untuk memilih baju newborn yang bagus? Persiapan untuk menyambut kelahiran anak pertama pastinya membuat kalian sangat antusias dan bingung untuk memilih." ucap pelayan itu.


"Persiapan kelahiran? Anak pertama?" sahut Mei melongo.


"Mari saya bantu," pelayan itu hendak mengajak mereka berdua untuk melihat koleksi baju newborn yang lain.


"Mbak jangan salah paham dulu! Kami itu belanja bukan untuk baby kami, tapi untuk baby teman kami. Lagipula kami ini musuh," jawab Mei.


"Gadis ini..." gumam Zack.

__ADS_1


"Maaf, saya pikir kalian berdua pasangan suami istri! Karena terlihat sangat cocok dan serasi!" pelayan itu meminta maaf.


Pelayan menunjukkan koleksi baju newborn terbaik toko mereka. Zack dan Mei membeli banyak baju dengan berbagai macam model.


"Sudah lengkap semua bajunya?" tanya Zack.


"Lihat saja sendiri!" sahut Mei judes.


"Demi hukuman ini jangan judes dulu lah!" seru Zack.


"Hmm..Sudah lengkap bajunya, dari baju lengan pendek, panjang, baju terusan tanpa lubang kaki, sampai baju renangnya ada semua!" jawab Mei.


Zack membuka sebuah note yang diberikan Dave tadi.


"Bagus, kalau begitu! Sekarang kita beli botol susu, perlengkapan mandi, sepatu, topi, jaket, kaos kaki, kaos tangan, stroler, gendongan bayi, selimut, almari kecil warna putih, bak mandi portable, ayunan elektrik,....." Zack terhenti karena napasnya habis. Note itu panjang sekali.


"Banyak sekali!" seru Mei.


"Dave itu niat jadi daddy enggak sih, ini kita beli semua perlengkapannya! Sepertinya kemarin dia hanya membeli tempat tidurnya saja!" keluh Zack.


"Astaga! Kamu yang harus bayar, uangku mana cukup!" Mei mengkhawatirkan biaya yang akan mereka keluarkan. Berbelanja di baby shop semewah ini pasti akan sangat mahal.


"Jangan khawatir! Lihatlah, Dave menyuruhku untuk menggunakan ini!" Zack menunjukkan black card.


"Wah... Kalau dengan ini kita bahkan bisa membeli toko ini! Kita gunakan sedikit uangnya untuk berbelanja, sebagai ongkos tenaga!" seru Mei girang.


"Jangan," Zack terkekeh.


"Kenapa? Dave tidak akan jatuh miskin jika kita juga berbelanja," jawab Mei.


"Dasar!" Zack mengacak rambut Mei.


Deg,


Jantung Mei berdegup kencang lagi. Perasaannya campur aduk saat tangan kekar Zack mengacak pelan rambutnya. Mei merasakan desiran aneh di dadanya. Sama halnya dengan Zack, ia juga merasakan hal yang sama. Hanya saja ia terus menampik perasaannya.


"Come on! Seorang Zack tidak mungkin jatuh cinta semudah ini," gumam Zack.


Kini mereka saling menatap. Mei merasakan tubuhnya merinding. Tidak salah lagi,


"Kemana?" seru Zack pada Mei yang tiba-tiba berlarian meninggalkannya.


"Sepertinya sambal yang aku makan semalam bereaksi!" sahut Mei tanpa rasa malu.


"Lagi?" seru Zack.


"Kamu tunggu saja! Aku sudah tidak tahan lagi!" sahut Mei.


"Dasar!" Zack terkekeh.


......................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian!

__ADS_1


__ADS_2