Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
BERANGKAT


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Author minta maaf ya sudah beberapa hari ini tidak update episode baru. Karena ada hal penting yang harus author kerjakan beberapa hari ini. Author usahakan untuk rutin update lagi, so stay tuned ya readers tercintaku!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


Gemericik air terdengar nyaring di kamar Dave dan Nita. Sekarang memang bukan waktunya untuk mandi karena masih pukul 2 pagi. Tapi karena olahraga malam mereka baru selesai jadi Dave membersihkan tubuhnya di bawah guyuran shower. Jujur saja ia tidak akan bisa tidur jika tubuhnya penuh dengan keringat. Senyuman manis selalu menghiasi wajahnya akhir-akhir ini.


Benar apa kata orang. Kebahagiaan itu bukan dicari tapi diciptakan. Jika kita terus mencari yang akan kita dapatkan hanyalah rasa ketidakmampuan untuk mendapatkan rasa kebahagiaan itu sendiri.


Dave melilitkan handuk putihnya di pinggang. Ia melangkah perlahan mendekati ranjang. Seulas senyum terlihat di wajah tampannya saat melihat Aryn yang sudah tertidur pulas di ranjang. Pasti Aryn sangat kelelahan melayaninya. Akhirnya Dave bergabung ke dalam selimut. Tangannya ia gunakan untuk menopang kepalanya. Sementara tangan lainnya membelai lembut wajah milik Aryn.


"Terima kasih sudah membantuku untuk menciptakan kebahagianku sendiri. Aku tidak tahu, jika aku tidak bertemu denganmu di malam itu, mungkin saat ini aku masih terpuruk dalam kegelapan." ucap Dave lirih dengan tatapan sendunya.


Dave meraih remote dari nakas, ia mematikan lampu. Ia memposisikan tubuhnya menghadap istri mungilnya itu.


Dua puluh menit,


Empat puluh menit,


Dave tidak kunjung memejamkan matanya. Mungkin karena mandi ia jadi tidak mengantuk sekarang. Berkali-kali Dave mencoba memejamkan matanya. Hingga Ia tertidur sebentar, mungkin hanya sekitar 30 menit. Lalu ia bangun lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk tetap terjaga hingga sang surya menyapa. Ia sudah tidak sabar menunggu pagi datang.


Aryn meregangkan ototnya perlahan sembari menggosok matanya.


"Eh," tanpa sengaja tangannya menyenggol sebuah benda lembut di sampingnya.


"Good morning istriku!" sapa Dave.


Ternyata pipi suaminya yang tidak sengaja tersenggol. Dave terlihat ceria namun sekeliling bola matanya menghitam seperti panda. Wajah suaminya itu terlihat lelah sekali.


"Kamu bangun lebih awal atau tidak tidur?" tanya Aryn.


"Aku tidak bisa tidur, jadi aku memandangi wajahmu saja! Tapi wajah cantikmu ini membuatku semakin tidak mengantuk dan ingin membuka mataku lebar-lebar" jawab Dave tersenyum.


Blush,


Kedua pipi Aryn merah seperti tomat.

__ADS_1


"Ayo lekas bersiaplah!" seru Dave yang sudah bangkit dari ranjang. Sebelumnya ia kecup kening Aryn sekilas hingga membuat wajah Aryn semakin memera


Aryn memandangi punggung suaminya yang menghilang di balik pintu walk-in closet. Ia penasaran, apa yang membuat suaminya begitu semangat pagi ini. Padahal beberapa jam lalu mereka baru menyelesaikan olahraga malam mereka. Suaminya memang terlihat lelah, tapi twajahnya terlihat sangat ceria.


Aryn mengusap kasar wajahnya, ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Sementara itu kini Dave sudah rapih dengan baju casual dan sepatu ketsnya. Kakinya melangkah dengan cepat menuju ruang kerjanya untuk menemui Ken sesuai rencananya kemarin.


"Semuanya sudah siap bos! Dua jam lagi jet bos siap take off! Saya juga sudah menyuruh beberapa pelayan merapihkan koper anda dan nona. Saya sudah mengosongkan jadwal anda tiga hari ke depan." Ken melapor kepada Dave dengan sesekali menunjukkan layar iPadnya.


Dave mengangguk, sudah lima kali ia menguap selama Ken melakukan laporan. Ia merasa sangat mengantuk dan lelah. Ken memiringkan kepalanya mengamati keadaan bosnya pagi ini.


Apa yang Dave lakukan semalam? Begadang? Buruk sekali keadaannya pagi ini.


"Bos? Apakah bos baik-baik saja? Jika bos tidak enak badan saya masih mempunyai cukup waktu untuk menunda ataupun mengubah jadwal bos!" ucap Ken dengan hati-hati.


"Diem lo kalau masih mau kerja sama gua!" ucap Dave dengan ketus.


"Oh iya, lo handle urusan kantor selama gua pergi. Reza juga bantuin lo. Jangan lupa jaga Silvi baik-baik!" perintah Dave kepada Ken.


"Siap bos!" sahut Ken bersemangat.


Untung saja Ken tidak disuruh stand by bersama Dave selama honey moon. Bisa dibayangkan betapa menyakitkannya mendampingi pasutri yang tengah bulan madu sementara dirinya adalah seorang jomblo ngenes. Kalau kepengin bisa ribet urusannya.


Aryn tidak tahu kenapa Dave menyuruhnya untuk bersiap-siap. Mungkin Dave akan mengajaknya berjalan-jalan di mall atau cafe.


Ceklek,


Sosok yang Aryn cari keberadaannya sekarang sudah berdiri di hadapannya.


"Kita berangkat sekarang!" seru Dave dengan riang.


"Tunggu! Katakan padaku kita akan pergi kemana Dave?" ucap Aryn, ia menahan tangannya yang digandeng Dave.


"Maldives!" seru Dave dengan menampilkan deretan giginya yang rapih.


"What? Maldives?" Aryn terkejut.


"Iya, sayang! Apakah kamu lupa? Kemarin aku sudah bilang bukan, kalau kita akan honey moon!" jawab Dave santai.


Aryn tidak bisa menyembunyikan dari Dave jika ia sangat terkejut. Maldives, keindahan alamnya bak surga dunia yang tersembunyi.

__ADS_1


"Tapi, Maldives? Itu sangat jauh Dave dari negara ini! 17 jam perjalanan, itupun menggunakan pesawat!" keluh Aryn.


Aryn tahu betul letak Maldives yang sangat jauh dari tempat tinggalnya sekarang.


"Jauhnya jarak yang kita tempuh akan terbayarkan dengan indahnya tempat yang sudah aku siapkan untukmu! Aku menyiapkan segalanya untukmu, akan aku pastikan kamu mengenangnya seumur hidup!" ucap Dave yang menangkup kedua pipi Aryn.


Dave menggandeng mesra Aryn. Keduanya turun ke ruang tengah beriringan. Semua orang menunggu mereka di ruang tengah.


Untuk tiga hari ke depan Reza, Zack, dan Ken akan tinggal di mansion Dave. Mereka mempunyai tanggung jawab untuk menjaga Silvi selama Dave pergi dengan Aryn. Beberapa anak buah dan pelayan ditugaskan membantu menjaga dan memenuhi keperluan Dave dan Aryn selama berlibur. Semua orang terlihat berbahagia mengantarkan pasutri itu di depan pintu utama, kecuali Reza dan Angel.


Reza menatap nanar pasutri itu. Wajahnya terlihat sedih, tatapan matanya sayu. Silvi diam-diam memperhatikan gerak-gerik Reza. Perang dingin di antara mereka masih terjadi.


Aku yakin kakak mencintai Kak Aryn, bukan? Sakit rasanya setelah tahu orang yang aku cintai menyukai istri dari kakak kandungku sendiri. Tapi hatiku lebih sakit melihat kakak seperti ini. Mau sampai kapan kakak terkurung dalam perasaan kakak sendiri?


Silvi langsung memalingkan wajahnya saat Reza menatapnya.


Sebenarnya ada apa denganmu, Silvi? Kamu tidak seperti Silvi, adik kecilku yang selama ini aku kenal!


Sama halnya dengan Reza, Angel menatap nanar kebersamaan Dave dan Aryn. Di dalam hatinya masih ada keinginan untuk memiliki Dave.


"Tidak ada celah untukmu lagi, Angel! Lupakan Dave, lihatlah mereka akan berlibur bersama dan tidak lama lagi Dave junior akan hadir di mansion ini! Jalani kehidupanmu yang sekarang!" lirih Samuel di dekat telinga Angel.


Angel menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia melirik perutnya yang sekarang terlihat sedikit buncit. Semua ucapan Samuel benar, sekarang ia harus menjalani hidupnya.


"Bikin keponakan perempuan yang cantik untukku ya, kak!" seru Silvi saat mengantarkan Dave dan Aryn ke depan pintu utama.


"Kamu ini kecil-kecil antenanya tinggi!" celetuk Zack membuat semua orang terkekeh.


Aryn langsung berlari masuk ke dalam mobil. Ia tidak kuasa membendung rasa malunya.


"Bikin yang banyak, biar nanti Silvi latih jadi girlband international hehehe!" seru Silvi lagi.


"Rencana kakak juga gitu," celetuk Dave saat masuk ke dalam mobil.


Mobil Dave melesat menghilang di belokan depan gerbang utama diikuti mobil yang berisi rombongan lenongnya alias para pengawal dan pelayan.


...................


Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya!

__ADS_1


__ADS_2