Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
KETAHUAN


__ADS_3

WARNING:


SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.


HAPPY READING 😘


..............................


Air garam itu mengguyur seluruh tubuhnya. Semua luka di tubuh si gajah membuatnya merasakan rasa sakit yang luar biasa. Hingga akhirnya si gajah kaku, tidak bergerak lagi.


"Bereskan!" teriak Dave.


Prang,


Dave, Reza, dan Ken langsung menoleh ke sumber suara. Suara itu seperti vas yang terjatuh, asal suaranya dari depan ruangan itu. Dave berjalan perlahan memeriksa apakah ada orang di depan ruangan itu.


"Aduh," rintih Aryn, ia buru-buru membereskan vas yang ia senggol.


Tangannya yang gemetaran perlahan merapihkan bunga yang berceceran dan meletakkannya kembali di dalam vas yang menggelinding tadi.


Flashback on


"Ayolah kak, lima belas menit lagi!" rengek Silvi.


"No, Silvi! Atau kau mau kakak kirim ke Afrika?" seru Dave dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Oke oke! Aku akan tidur!" jawab Silvi dengan malas.


"Ajak kakak iparmu juga, dia juga harus istirahat sekarang!" ucap Dave, ia melirik Aryn sejenak.


Silvi dan Aryn berjalan menuju lift. Mereka akan pergi ke kamar masing-masing dan tidur.


Tapi saat pintu lift akan tertutup, samar-samar Aryn mendengar percakapan Dave. Ia sangat penasaran karena mendengar Dave menyuruh anak buahnya menyiapkan seember air garam. Akan Dave apakan air itu?


Ting,


Pintu lift terbuka lebar di lantai tiga, Silvi berjalan keluar lebih dulu meninggalkan Aryn yang masih terdiam di tempatnya. Baru kemudian Aryn keluar dari lift , tapi ia memutuskan untuk masuk ke dalam lift lagi. Ia penasaran sekaligus curiga, apa yang dilakukan oleh Dave dan teman-temannya.


Aryn menyusuri lantai pertama mansion Dave, dari ruang tamu hingga ke halaman belakang. Tapi ia sama sekali tidak melihat Dave maupun yang lainnya. Saat ia meninggalkan halaman belakang dan hendak masuk ke dalam mansion, samar-samar terdengar suara derap kaki orang yang tengah berlari. Lalu Aryn bersembunyi di balik pohon kecil pinggir halaman.


"Kenapa Samuel dan Zack berlari seperti itu?" gumam Aryn.


Samuel dan Zack baru saja keluar dari pintu rahasia menuju ruang bawah tanah. Aryn mengamati pintu itu dengan teliti. Pintu itu tersembunyi di balik tanaman yang menjuntai di dinding mansion.

__ADS_1


"Itu tempat apa ya? Apa yang mereka lakukan disana sebenarnya? Oh God! Apakah mereka pesta sabu?" gumam Aryn.


Setelah memastikan situasi aman, Aryn berlari menuju pintu itu. Ia menyibak tanaman itu dengan hati-hati. Sebuah pintu kayu tua menyambutnya. Aryn memutar handel pintu perlahan, lalu ia menutupnya lagi setelah berhasil masuk. Kedua matanya membelalak lebar, pupilnya menyesuaikan kegelapan ruangan ini. Ada kursi dan meja tua di dekatnya. Perhatiannya terpusat pada pintu di sebelah meja kecil itu. Pintu besi itu terbuka sedikit, hingga terlihat ruangan lain yang lebih terang.


Aryn berjalan perlahan mendekati pintu besi tua itu. Ia mendengar teriakan dan suara orang tertawa dari dalam. Kepalanya menengok ke dalam.


"Astaga!" lirih Aryn.


Keringat dingin membasahi dahinya. Baru saja ia melihat pemandangan yang begitu mengerikan. Terlihat Ken dan beberapa orang sedang mengangkat mayat tanpa kepala, salah satu dari mereka membersihkan darah di lantai. Dan yang lebih mengejutkan, ia melihat Dave tertawa puas di depan orang yang berlumuran darah yang sedang menjerit kesakitan. Aryn melangkah mundur perlahan, siapakah Dave sebenarnya?


"Tempat ini tidak aman untukku!" lirih Aryn, ia melangkah mundur tanpa memperhatikan belakangnya.


Prang,


Tangannya menyenggol sebuah vas bunga. Tubuhnya semakin gemetaran sekarang.


Flashback off


Dave melihat seorang wanita sedang berjongkok memperbaiki vas bunga yang terjatuh. Rambut wanita itu menjuntai menutupi wajahnya.


"Apakah Silvi lagi yang mengintip?" gumam Dave.


Aryn merasa ada seseorang yang mendekatinya. Tangannya semakin gemetaran.


Aryn terdiam, ia menyibak rambutnya perlahan lalu mendongakan kepalanya ke atas. Habis sudah, ternyata Dave tahu kalau ada yang mengintipnya.


"Kau! Sedang apa kau di sini? Kau mengintip?" seru Dave.


Dave terkejut, rupanya Aryn yang diam-diam masuk ke dalam ruangan ini. Ia tadi mengira jika yang mengintip adalah Silvi. Pantas saja ketahuan, Aryn tentu masih amatir jika dibandingkan dengan Silvi sang spesialis ngintip mengintip.


"A...aku... aku tadi hanya, anu," Aryn mencoba mencari alasan.


Perlahan Aryn berdiri dan berjalan ke belakang, ia teringat dengan apa yang Dave lakukan di dalam. Melihat Aryn mundur, Dave berjalan semakin mendekat.


"A..a...aku tidak sengaja masuk kesini," ucap Aryn dengan takut.


Dave hanya tersenyum smirk, ia terus melangkah maju mendekati Aryn yang mundur menjauhinya.


"Sungguh aku tidak mendengar apapun, Dave! Aku juga tidak melihat apapun!" seru Aryn.


"Aku tidak menanyakannya kepadamu, Aku tahu kau pasti sudah melihat dan mendengar kejadian di dalam sana!" ucap Dave dengan lirih hampir tidak terdengar oleh Aryn.


"Ma...maaf!" lirih Aryn, ia semakin ketakutan.


Bug,

__ADS_1


Punggung Aryn menghantam dinding di belakangnya. Dave hanya berjarak 10 sentimeter di depannya. Ia hendak berlari ke kanan, tapi terlambat. Dave sudah menguncinya dengan kedua tangan kekarnya. Sekarang tidak celah untuk kabur. Aryn menelan lidahnya, keringat dingin terus menetes di dahinya.


"Kau tidak seharusnya berada di sini! Tempat ini terlarang untuk siapapun!" lirih Dave di samping telinga Aryn.


"Ma..maaf!" bulu kuduk Aryn meremang.


"Kau tahu apa yang akan kulakukan jika seseorang melanggar aturanku?" lirih Dave.


"Aku tidak tahu, tolong biarkan aku pergi!" ucap Aryn, bibirnya bergetar menahan tangisnya.


"Aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah!" sahut Dave dengan tatapan tajam.


Dave marah karena Aryn melanggar aturannya. Tapi Aryn tidak sepenuhnya salah, ia tidak tahu aturan itu. Dave menyelipkan anak rambut Aryn ke belakang telinganya. Lalu ia mengangkat dagu Aryn dengan kasar agar istrinya itu menatapnya.


"Aku tidak akan mengatakan apapun tentang ruangan ini, tapi jangan sakiti aku lagi! Tolong!" tangis Aryn pecah, ia menangis ketakutan di hadapan Dave.


Dada Dave terasa sesak melihat air mata Aryn yang mengalir deras di pipinya. Ia menarik Aryn dan menenggelamkan kepala Aryn di dada bidangnya. Dave mengutuki dirinya sendiri, saat ini Aryn pasti sedang ketakutan. Tapi sedari tadi ia malah bersikap kasar dan mengancamnya. Kalau seperti ini ia tidak akan bisa memikat hati Aryn. Dan Aryn akan membencinya.


"Aku tidak akan menyakitimu," lirih Dave, ia mengusap lembut kepala Aryn. Ia melembutkan ucapannya.


Deg,


Aryn terbawa suasana, Kali ini ia merasakan sisi Dave yang lain. Seluruh tubuhnya terasa merinding saat Dave mengelus lembut kepalanya. Jantungnya berpacu dengan cepat. Tapi otaknya berlainan dengan hatinya. Ia melepaskan pelukan Dave.


"Bahkan kemeja dan tanganmu penuh dengan darah," ucap Aryn.


"Hanya sedikit!" jawab Dave.


"Kenapa kau melakukannya?" tanya Aryn dengan takut-takut.


"Karena mereka sudah menyerangmu," jawab Dave dengan datar.


Deg,


Aryn melongo mendengar jawaban Dave. Apakah kepala Dave kemasukan air? Atau tadi tertimpa kelapa? Dave tiba-tiba menjadi lembut dan perhatian kepadanya. Tapi tetap saja Aryn merasa bingung dan kesal. Karena kadang-kadang Dave juga kasar.


Cup,


Dave langsung berjalan masuk ke dalam ruangan tadi meninggalkan Aryn yang masih melongo.


"Dave!" seru Aryn, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


..............


Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya!

__ADS_1


__ADS_2