
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
"Kamu!" pekik Aryn.
Mei terlihat bingung, "Kalian sudah saling mengenal?" tanyanya dan langsung mendapat tatapan tajam dari perempuan itu.
"Dia ini ibu tiriku!" seru Aryn.
Ya, perempuan yang menyekap Aryn dan Mei adalah Susi. Mei menatap perempuan yang disebut ibu tiri oleh Aryn. Ia menatap dari ujung kepala sampai kaki perempuan itu.
"Pantas saja dia galak dan kejam," ucap Mei.
"Diam kau!" bentak Susi.
Susi duduk di kursi tepat di hadapan Aryn. Hanya ada kebencian yang terlihat di sorot matanya.
"Hanya segini usahamu untuk kabur dariku? Lihatlah sekarang aku berhasil menangkapmu sekaligus calon anakmu! Kira-kira bagaimana perasaan Dave Winata saat istri dan anak yang masih di dalam kandungan ini aku lenyapkan dari dunia ini?" ucap Susi.
"Sebelum kau melakukannya Dave akan melenyapkanmu terlebih dahulu!" seru Aryn.
Baru kali ini Aryn tidak merasa takut kepada siapapun. Sebelumnya menatap ibu tirinya saja tidak berani. Dan saat Ara tiba-tiba datang menemuinya Aryn juga merasa ketakutan. Tapi kali ini ia merasa mendapat keberanian berkali-kali lipat besarnya ketika suaminya direndahkan oleh perempuan itu. Apakah hanya ibu tirinya yang ada di sini? Sejak tadi ia tidak melihat perempuan lain? Apakah Ara tidak terlibat? Kenapa Ara terus berusaha menemuinya?
"Jangan terlalu berharap suamimu datang menyelamatkanmu! Karena jika ia datang pun, dia juga tidak akan selamat!" seru Susi.
"Apakah kau tidak kenal siapa suamiku? Dia bisa melakukan apapun, pengecut sepertimu akan dia hancurkan dengan mudah bahkan sebelum kau menyadarinya!" seru Aryn dengan sinis.
Plak plak
Kedua pipi Aryn ditampar bergantian. Kerasnya tamparan itu membuat pipi Aryn memerah bahkan dari sudut bibir kirinya keluar darah.
"Setitik darah Aryn yang keluar, aku yakin suaminya akan mengambil gantinya berpuluh-puluh kali lipat! Dasar ibu tiri!" seru Mei. Mei memeluk Aryn dengan erat.
Susi menepukkan tangannya dua kali. Dua pria botak datang menghampirinya.
"Ikat mereka!" seru Susi.
Kedua pria botak itu menghampiri Aryn dan Mei. Mereka mengikat kedua gadis itu di kursi dengan sangat erat.
"Heh pria botak! Aku pastikan jika aku bebas nanti aku akan menuang sebotol penuh obat penumbuh rambut agar rambut kalian gondrong!" seru Mei.
"Hey kau! Kenapa kau yakin kalau kalian akan bebas?" seru Susi.
"Karena kejahatan pasti kalah, kebaikan yang selalu menang! Isshh ngomong apa sih aku," ucap Mei.
Plak,
Mei turut mendapatkan tamparan keras dari Susi. Hingga membuatnya merintih kesakitan.
"Orangtuaku saja tidak pernah memukulku, beraninya kau melakukannya!" seru Mei.
Susi tersenyum sinis, ia melayangkan pukulan pada wajah Mei lagi. Lalu ia melakukan hal yang sama pada Aryn.
Dave beserta teman-temannya melanjutkan pencarian mereka. Kali ini Dave sangat yakin dan bersemangat karena lokasi terlihat sangat jelas di pagi hari. Tidak seperti tadi malam.
"Berhati-hatilah! Perhatian sekeliling kalian dengan benar!" seru Dave mengomando.
Baru saja Dave selesai berbicara. Frans berteriak dengan sangat kencang dari sisi barat. Kebetulan Dave berada tidak jauh dari Frans. Ia bergegas mencari Frans.
Nampak Frans berdiri kaku bersandar di sebuah pohon besar. Ada sebuah pisau besar yang menancap di sela-sela kakinya, tepat berada di bawah aset berharganya. Kalau ia tidak berjinjit pasti pisau itu menghancurkan masa depannya.
"Tuan tolong saya!" lirih Frans.
"Jangan bergerak!" perintah Dave.
Dave mendekati Frans dengan langkah yang berhati-hati. Baru dua langkah ia mendekati Frans. Tapi,
Krek,
Dave menginjak sesuatu. Dengan cekatan Dave menoleh dan sebuah pisau melesat dari belakangnya, beruntung Dave sigap menghindari pisau itu.
"Tuan..." lirih Frans.
Dave berbalik menatap Frans, pisau itu menancap di samping leher Frans. Kini posisi Frans semakin sulit.
"Tempat ini dipenuhi perangkap! Sepertinya mereka menyewa Rambo untuk membuatnya! Berhati-hatilah!" ucap Dave melalui intercom.
Tidak ingin mengambil risiko, Dave berjongkok dan memeriksa rerumputan yang ada di bawahnya. Beruntung ia berhasil menemukan dua buah jebakan. Jika ia menginjaknya pasti Frans akan mati sia-sia di tempat ini. Dan Dave harus menyantuni keluarganya.
Dave mendekati Frans, perlahan ia mencabut kedua pisau itu. Lalu ia menyimpan pisau itu ke dalam tas senjata yang terikat di pinggangnya.
"Selalu saja menyusahkan!" keluh Dave.
__ADS_1
"Maaf, tuan! Saya masih amatir!" jawab Frans.
Rombongan Dave kini lebih berhati-hati. Mereka memeriksa apapun yang ada di depan mereka sebelum melangkah. Wajah Dave berbinar saat Samuel menunjukkan layar ponselnya.
"Kita sudah dekat!" lirih Samuel.
"Sepertinya tidak semudah itu kawan!" seru Dave yang menunjuk orang-orang yang siap menyerang mereka.
Frans menelan ludahnya dengan susah payah. Tangannya gemetaran melihat para musuh yang menghadang. Mereka memang tidak kalah jumlah tapi orang yang menghadang mereka berpenampilan mengerikan dengan tangan yang mengepal.
"Jumlahnya terlalu sedikit, cepat berpencar! Cari tempat berlindung! Akan ada serangan lain! Yang akan maju melawan orang-orang itu rombongan Zack!" perintah Dave.
Zack dan rombongannya maju melawan orang-orang yang terlihat seperti tukang pukul itu. Dan yang lainnya bersembunyi.
"Gunakan ini untuk melindungi dirimu!" ucap Samuel yang memberikan sebuah pistol kepada Frans.
Frans semakin gemetaran, apakah mereka akan beradu tembak seperti di film action yang biasa ia tonton. Karena kesal, Samuel menyeret Frans untuk mencari tempat berlindung.
Dor dor dor,
Mereka mendapat serangan bertubi-tubi dari musuh yang tidak terlihat wujudnya.
"Darimana asal peluru ini, Dave! Kita harus menemukan mereka sebelum kita habis ditembaki!" Samuel berbicara melalui intercom.
Dave memicingkan matanya. Ia menembakkan pelurunya ke arah sembarang. Lalu ada serangan balik dari musuh.
Dor dor,
"Mereka licik sekali! Lihatlah di atas pohon itu!" ucap Dave melalui intercom.
Dave tidak bisa menganggap remeh musuhnya kali ini. Musuhnya sangat memanfaatkan lokasi mereka. Ia jadi teringat Film Rambo.
Dor dor dor,
Terjadi baku tembak di antara dua pihak. Zack dan rombongannya yang berhasil melumpuhkan barisan tukang pukul pihak musuh memanfaatkan situasi untuk bergerak maju. Rombongan Samuel melindungi mereka dari kejauhan. Satu per satu penembak yang bersembunyi di pepohonan jatuh. Kini saatnya Dave untuk bergerak maju.
Dor dor dor,
Samuel menyerang tiga orang musuh yang terlihat di semak-semak dengan dua pistol sekaligus. Ia meniup pucuk senapannya saat musuhnya jatuh bergelimpangan.
"Kalau Angel melihat ini, pasti dia bangga mempunyai suami sehebat aku!" ucapnya.
Dari kejauhan masih ada satu musuh lagi yang mengarahkan senapannya pada Samuel. Frans yang melihatnya tidak tinggal diam.
"Awas, Tuan Sam!" teriaknya saat merebut satu pistol Samuel.
Frans membunuh orang itu dengan berondongan peluru. Tangannya lemas saat orang itu jatuh terjengkang. Kedua pistol yang ia pegang jatuh ke tanah.
"Maafkan aku ma, aku baru saja membunuh orang huhuhu!" Frans menangis.
Samuel menghela napasnya, "Dasar!" serunya.
Samuel, Frans, dan rombongannya berjaga di sana. Mereka memantau rumah sederhana itu dari jarak yang lumayan. Tepatnya mereka di balik batu tepi danau. Frans yang masih menangis tersedu-sedu mendadak bersorak saat Zack menumbangkan satu per satu penjaga rumah itu.
Zack dan rombongannya memberi jalan kepada Dave untuk masuk. Dengan cepat Dave mendobrak pintu depan rumah itu. Beberapa anak buahnya masuk melalui pintu belakang untuk melakukan pengepungan. Dave menelusuri satu per satu ruangan. Ada dua penjaga yang menghadangnya. Dengan senang hati Dave menyambut mereka. Ia menghindari pukulan mereka dengan lincah.
Bug bug
Ayunan tongkat kasti berlapis paku besar menghantam keduanya.
Arrgghh....
Teriakan keduanya membuat siapapun ngilu jika mendengarkannya. Penjaga pertama lengannya robek dengan daging yang mencuat keluar. Penjaga kedua perutnya keluar darah yang merembes. Darah segar menciptakan noda merah di lantai putih itu. Melihat musuhnya kesakitan Dave justru semakin bringas.
Bug bug,
Pukulan terakhir untuk kedua musuhnya. Tepat mengenai kepala mereka. Membuat rahang penjaga pertama remuk dan pelipis penjaga kedua menganga.
Dave meninggalkan kedua mayat itu. Ia meletakkan tongkat kastinya di samping vas bunga. Dan,
Brak,
Dave mendobrak salah satu pintu kamar yang terkunci. Kedua matanya menangkap sosok yang ia rindukan. Di sana juga ada sahabatnya Aryn. Kedua tangannya mengepal saat melihat kondisi Aryn. Aryn dan temannya diikat di kursi.
Aryn terlihat lemas, rambutnya acak-acakan, wajahnya lebam dan memar. Ujung bibirnya bahkan berdarah. Kondisi Mei juga buruk, tapi tidak separah Aryn, hanya pelipisnya saja yang lebam.
"Turunkan senjatamu, atau aku cekik istrimu!" seru Susi. Kedua tangannya sudah mencengkam leher Aryn dengan kuat.
Dave hanya tersenyum tipis dan menaik turunkan alisnya. Ia meletakkan pistolnya di lantai. Susi tertawa dengan keras.
Dor dor,
Dua buah peluru bersarang di dada perempuan kejam itu. Dave memang meletakkan pistolnya. Saat Susi lengah, ia mengeluarkan pistolnya yang lain tanpa sepegetahuan Susi.
"Dave," lirih Aryn.
__ADS_1
Dave langsung mengelap tangannya yang berlumuran darah dan berlari menghampiri Aryn. Ia melepaskan tali yang mengikat Aryn. Kedua tangannya menangkup wajah istrinya itu. Diciumnya seluruh wajah istrinya tanpa terlewat sejengkalpun.
"Apa yang dilakukan suami Aryn sampai tangannya penuh darah hiiyyy!" gumam Mei.
"Kamu datang," lirih Aryn.
"Aku pasti menyelamatkanmu dan baby kita, sayang! Itu tugasku," ucap Dave, ia mengelus perut Aryn dengan sayang.
"Aku tahu kamu pasti datang," Aryn memeluk Dave dengan erat.
"Ehem... Hey suaminya Aryn, by the way aku juga ingin dibebaskan nih!" seru Mei.
"Aku lupa," jawab Dave dengan datar membuat Aryn mencubit pipinya gemas.
"Please jangan buat aku pengen," rengek Mei.
Dave pun membantu Mei untuk melepaskan ikatannya. Begitu ikatannya lepas, Mei langsung melompat-lompat.
"Terlalu lama diikat sahabatmu menjadi gila," ucap Dave yang merangkul Aryn.
Aryn tidak menjawab. Kini ia duduk bersimpuh di hadapan mayat ibu tirinya. Ada rasa sedih yang menyeruak, air matanya menetes. Walaupun Susi jahat, tapi tetap saja dia ibu tirinya. Ia merasa sedih ibu tirinya meninggalkan dengan cara seperti ini.
"Aku sudah memaafkanmu, bu! Aryn juga minta maaf Dave melakukan ini," ucap Aryn.
Dave mendekat dan merangkul bahu Aryn. Dave mengatakan akan mengurus pemakaman Susi dengan selayaknya.
"Wow, Dave Winata! Aku tidak bisa meragukan ketangguhanmu!" seru seseorang dari ambang pintu.
Dave, Aryn, dan Mei menoleh serempak. Seorang pria yang tidak asing bagi Dave berdiri di ambang pintu, di belakang pria itu berdiri dua orang bagian dari hidup Dave.
"Dion," lirih Dave.
"Bagus kau masih mengenalku, bagaimana apakah kamu sudah siap merasakan kehilangan orang tuamu seperti yang aku rasakan dulu?" tanya Dion.
"Dasar badebah! Lepaskan mereka jika kau tidak ingin mati sia-sia seperti ayahmu!" teriak Dave.
Erick dan Katy dipaksa masuk ke dalam ruangan itu oleh anak buah Dion. Keduanya ditodong senjata tepat di bagian kepala. Zack, Samuel ataupun teman Dave yang lain tidak mungkin melawan Dion jika taruhannya nyawa mama dan papa Dave.
Dave tidak menyangka, Dion menjadikan mama dan papanya untuk mengancamnya.
"Biar lebih seru, aku akan memberikan pilihan dan kau harus memilihnya! Kau pergi membawa Aryn sekaligus temannya dengan selamat dan meninggalkan orangtuamu di sini, atau kau pulang dengan kedua orangtuamu dan meninggalkan Aryn di sini?" ucap Dion.
"Lalu bagaimana dengan nasibku? Kenapa namaku tidak dimasukkan ke dalam pilihan?" seru Mei
"Diam!" semua orang menatap tajam Mei. Nyali Mei menciut, ia menunduk diam.
"Setelah kau merebut Elsa dan merusak hidupnya, sekarang kau juga berniat merebut Aryn rupanya!" sindir Dave.
"Siapa yang tidak mau dengan wanita secantik dia, tapi sebenarnya aku ingin balas dendam! Kau sudah membunuh ayahku dengan keji! Jika kau memilih orangtuamu, aku ingin membuat anakmu menderita!" seru Dion.
Zack hendak mengarahkan pistolnya pada Dion, tapi anak buah Dion juga bersiap menembakkan timah panas ke kepala orangtua Dave. Dave menyuruh Zack untuk mundur.
"Selamatkan mama dan papa, Dave! Lagipula mama tidak pernah merestuimu dengan wanita itu!" seru Katy.
"Mama jangan memperkeruh suasana, mama harus tahu Aryn sedang mengandung cucu kandung mama!" seru Dave.
"Lalu kau akan membiarkan mama dan papa mati ditangan badebah ini?" seru Erick.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun terluka!" seru Dave.
"Cepat ambil keputusanmu, Dave! Aku tidak punya banyak waktu!" seru Dion.
Dave mengelap wajahnya dengan kasar. Walaupun mereka sangat egois tapi orangtua tetaplah orangtua. Dave tidak bisa memilih salah satu dari mereka. Ia juga tidak berniat untuk mengorbankan salah satu dari mereka, ia akan berusaha untuk menyelamatkan semuanya. Zack dan lainnya hanya bisa menatap kejadian ini dengan penuh rasa gelisah. Jika mereka bergerak sudah pasti akan ada nyawa yang melayang. Kalau mereka diam saja tetap akan ada nyawa yang melayang.
"Bawa pergi mama dan papa dari sini, Dave!" lirih Aryn.
"Tidak sayang, aku akan membawa pulang kalian semua! Kalau perlu biar aku yang menanggung dendam dia!" Dave menolak.
"Dave, kali ini dengarkan aku!" lirih Aryn di tengah isakan tangisnya.
"Kamu mau mengorbankan dirimu dan baby kita ha? Apa yang kamu katakan? Aku tidak ingin kehilanganmu dan baby kita! Jangan mengatakannya lagi!" seru Dave.
"Wow, aku terharu mendengarnya! Kalau aku bisa membunuh semuanya kenapa aku harus memberikan pilihan?" ucap Dion.
Mei terpaku di tempatnya berdiri. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Nyawa menjadi taruhan.
"Kita mulai dari yang muda dulu, karena kalian saling mencintai, aku tidak ingin memisahkan kalian berdua! Aku akan mengirim kalian berdua beserta anak kalian ke neraka!" seru Dion mengacungkan pistolnya.
Dave dengan sigap memeluk Aryn, menjadikan tubuhnya perisai untuk Aryn. Aryn menutup matanya dan semakin mengeratkan pelukannya.
Dor dor dor,
"Tidak!!!" seru Katy.
.....................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya! Love you all!