Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
BERENANG


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


"Silvi, nanti anak gua gabung ya!" Samuel mengedipkan sebelah matanya.


"Gabung apa kak?" tanya Silvi kebingungan.


"Itu, girlband yang kamu rencanakan!" Samuel cekikikan.


"Beres, kak!" Silvi mengacungkan kedua jempolnya pada Samuel.


Angel menghembuskan napasnya dengan kasar, "Tidak ada yang waras di mansion ini," gumamnya saat masuk ke dalam mansion.


"Tuh, calon istri lo ngambek tuh! Mana tahu dia punya rencana sendiri untuk baby kalian ea...ea" goda Zack.


"Asal jangan cowok aja babynya. Parah sih, takutnya nanti Samuel menurunkan ilmu playboynya ke babynya!" celetuk Reza.


"Sam!! Samuel!!!" teriak Angel dari dalam.


"Gua lupa, harusnya gua ikut kemanapun dia pergi!" seru Samuel yang menepuk dahinya sendiri.


"Ciee, bibit-bibit cinta mulai tumbuh nih! Jangan lupa kasih pupuk yang banyak biar subur!" goda Reza.


"Diem lo! Angel itu selalu muntah-muntah saat jauh dariku!" seru Samuel kesal.


"Pasangan aneh! Kalau berjauhan itu harusnya rindu bukan muntah-muntah!" celetuk Silvi terkekeh.


"Kalau suatu saat istri kalian hamil nanti, baru tahu rasa kalian!" seru Samuel kesal.


Samuel berlari masuk ke dalam mansion tanpa mempedulikan sahabatnya yang tertawa mengejek.


"Perhatian perhatian! Bercandanya cukup sampai di sini. Sekarang kembali ke tugas masing-masing! Zack, lo jaga Silvi di mansion! Reza, lo ikut gua ke kantor. Dan Silvi tetaplah di mansion, akan ada guru privat yang akan membantumu belajar di mansion." seru Ken layaknya mengomando pasukannya.


"Sekarang weekend, kak! Masa harus belajar lagi!" keluh Silvi.


"Kamu itu harus lebih rajin belajar, jangan hanya baca novel romantis aja yang rajin!" seru Zack.


"Selama kakak bolak-balik di mansion ini, belum pernah tuh lihat kamu belajar! Kalau nggak baca novel ya cuma main game atau nonton film sama Reza!" imbuh Ken.


"Kok nama gua dibawa-bawa?" Reza menatap Ken.


"Silvi juga butuh quality time buat diriku sendiri kak! Menurut kakak aku nggak pernah belajar? Lalu 6 jam Silvi di sekolah itu ngapain, kak? Jualan buku? Silvi nggak suka nih, Kak Zack dan Kak Ken mainnya keroyokan!" protes Silvi, ia langsung masuk ke dalam mansion. Kakinya sengaja dihentak-hentakkan dengan keras di lantai saat berjalan masuk.

__ADS_1


"Gua ikut lo ke kantor," ucap Zack memohon kepada Ken.


Zack tidak pernah menginginkan untuk berada di mansion dengan Silvi. Adik Dave itu selalu jahil kepadanya. Ia teringat terakhir kali menjaga Silvi, ia malah harus mandi bersama Brown. Waktu itu Silvi memintanya untuk memandikan Brown di halaman belakang. Brown adalah beruang madu peliharaan Silvi. Meskipun Brown sudah terbiasa berinteraksi dengan manusia, tapi tetap saja dia beruang madu yang besar dan mengerikan.


"Yang bertugas mengurus kantor itu Ken sama gua! Jangan ngada-ngada lo!" protes Reza.


"Gua kapok mandiin Brown!" sahut Zack.


"Berarti tambah akrab sama Brown, dong? Siapa tahu nanti lo bisa gosok giginya Sindy," Reza terkekeh saat membayangkan wajah ketakutan Zack menggosok gigi Sindy, si harimau betina milik Silvi.


"Selesai gosok giginya tanganku tinggal satu! Breng**k lo!" umpat Zack.


"Mafia kok penakut! Jangankan gosok giginya Sindy, lihat jarum suntik aja langsung kabur!" ledek Reza.


"Diiiiaaaammmm!" teriak Ken.


Reza dan Zack langsung menutup mulut mereka rapat-rapat. Bahkan Zack sampai menundukkan kepalanya.


"Orang pendiam kalau sedang marah seram juga," bisik Zack pada Reza.


"Zack, lo ikut gua ke kantor sekarang!" ucap Ken dengan nada sedikit tinggi.


Lumayan juga Dave pergi tiga hari. Bisa latihan jadi bos hehehe.


Zack menyempatkan untuk melambaikan tangannya lewat kaca pintu mobil yang sengaja ia buka. Terlihat wajah Reza yang murung mengalihkan pandangannya. Zack baru menutup kaca pintunya saat Ferarri spider milik Ken keluar dari gerbang utama mansion.


"Damn! " umpat Reza.


Kalau saja perang dingin antara Silvi dan dirinya tidak sedang berlangsung. Reza akan sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan Silvi. Menonton film bersama, bermain game, dan pasti bermain dengan Mira. Tapi beberapa hari terakhir ini Silvi memperlakukan Reza dengan kasar dan dingin. Sangat sangat sangat berbeda dengan Silvi yang Reza kenal. Sekarang bagaimana ia akan melewati tiga hari ke depan dengan orang yang memusuhinya? Sudah puluhan kali Reza mondar-mandir di depan lift.


"Naik...tidak...naik... tidak...naik...tidak," Reza terus mengatakannya tepat di setiap kancing jaketnya.


"Naik..." ucap Reza di kancing jaket terakhirnya.


Reza mengelap wajahnya dengan kasar. Ia melangkahkan kakinya dengan kesal. Lalu melemparkan bokongnya tepat di kursi area kolam renang.


"Okay, Silvi! Karena kamu duluan yang mengajakku berperang, maka sekarang kamu akan merasakan juga bagaimana rasanya sikap cuek dan dinginku! " gumam Reza.


"Kalau bukan tugas, gua males jagain lo!" lirih Reza berakting layaknya sedang berbicara dengan Silvi langsung.


"Oh gitu! Silvi juga males dijagain sama kakak!" sahut Silvi yang sudah berdiri di belakangnya.


"Mampus gua!" umpat Reza dalam hatinya.


"Silvi nggak mau belajar sama guru privat itu, kakak suruh dia pergi aja!" ucap Silvi.

__ADS_1


Reza mengatur nafasnya, memejamkan matanya sebentar. Lalu, ia berjalan dengan santai tanpa mempedulikan Silvi. Ia kembali duduk dengan santai di kursinya.


"Kak Reza!" teriak Silvi.


"Apa," jawab Reza dengan gaya sok cool.


"Suruh guru privat itu pergi!" ucap Silvi.


"Kemarin kamu bilang kamu bisa mengurus dirimu sendiri, bukan?" jawab Reza dengan santai.


Silvi sangat terkejut dengan perubahan sikap Reza. Semarah apapun Reza dengannya, Reza tidak pernah cuek kepadanya. Ia bergegas membuka jubahnya. Hari ini Silvi memutuskan akan berenang.


Byur,


Silvi melompat masuk ke dalam kolam. Kaki dan tangannya bergerak dengan lincah hingga ia sampai di ujung kanan kolam, lalu ia berenang lagi ke ujung kiri. Tapi ketika Silvi berada di tengah kolam tiba-tiba kaki kananya terasa sakit.


"Argghh, tolong!" teriak Silvi sambil terus berusaha menggerakkan tangannya untuk mencari pertolongan.


Mendengar teriakan Silvi, Reza bergegas melepas jaket yang ia gunakan. Ia juga melepas sepatunya dan kaosnya, menyisakan celana jeans panjang yang ia gunakan. Beberapa pelayan dan penjaga yang mendengar teriakan Silvi langsung berlarian ke kolam renang.


Byur,


Reza melompat ke dalam kolam. Ia segera meraih tubuh Silvi yang sudah lemas di tengah-tengah kolam. Lalu ia membawa Silvi ke tepi kolam dengan di bantu penjaga.


"Silvi...Silvi..." Reza menepuk-nepuk pipi Silvi.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat ambilkan handuk, bodoh!" bentak Reza pada beberapa pelayan yang berdiri di belakangnya.


Salah satu pelayan langsung berlari masuk ke dalam untuk mengambilkan handuk. Pelayan lain yang masih tinggal di kolam juga ikut masuk ke dalam. Mereka takut menjadi sasaran Reza. Reza terlihat sangat cemas dan marah sekarang.


"Silvi...bangun!" Reza menggoyangkan bahu Silvi.


Reza berlarian mengambil jaketnya. Ia menutup tubuh Silvi dengan jaketnya. Ia berusaha menekan-nekan dada Silvi, berharap air yang tadi masuk ke dalam tubuhnya bisa keluar seperti di film yang ia tonton kemarin. Tapi tetap tidak ada respon dari Silvi.


"Apa yang harus gua lakuin? Mampus gua, Dave bakalan jadiin gua makan siang Sindy!" Reza terlihat sangat kebingungan.


"Nafas buatan, tuan!" seru salah satu penjaga memberikan ide.


"Benar," ucap Reza yang langsung bersiap-siap memberikan nafas buatan.


Ia menangkup kedua pipi Silvi dengan tangannya, lalu wajahnya semakin mendekati wajah Silvi. Sasarannya adalah bibir pink Silvi yang kini terlihat pucat. Tiga penjaga yang berdiri tidak jauh darinya sekarang membalikkan tubuh mereka.


.............


Hayooooo! Kira-kira bagaimana kelanjutannya ya? Stay tuned!

__ADS_1


__ADS_2