Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
PIZZA


__ADS_3

WARNING:


SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.


HAPPY READING 😘


...........................


Reza membunyikan klakson mobilnya berkali-kali. Jalanan sangat padat sore ini. Kakinya terasa gatal ingin segera menginjak gas pol.


Ting,


Reza menepikan mobilnya setelah melihat notifikasi pesan dari Silvi.


Apakah Kak Reza mengirim pizza untukku? Penjaga baru saja memberikan pizza kepadaku, pengantar pizza mengaku kepada penjaga jika pizza itu pesanan dari kakak,


Reza terkejut saat membaca pesan Silvi. Ia tidak memesan ataupun mengirim apapun untuk Silvi. Jika memang ia ingin memberikan sesuatu untuk Silvi pasti ia akan mengantarnya langsung pada Silvi. Ia membalas pesan Silvi dengan cepat, ia takut ada sesuatu yang berbahaya dalam pizza itu.


Jangan sentuh pizza itu! Aku akan segera sampai di sana!


Tanpa membuang waktu, Reza menginjak pedal gasnya. Reza memutar balik mobilnya, ia tidak jadi pergi ke apartemen Zack. Tujuannya sekarang adalah rumah sakit. Untung saja jalan menuju rumah sakit tidak padat, jadi ia bisa menyalip ke kanan dan kirinya.


"Tangkap!" seru Reza kepada satpam yang berjaga.


Ia melemparkan kunci mobilnya. Rumah sakit ini milik perusahaan Dave, jadi seluruh pengawai di rumah sakit ini mengenalnya dengan baik termasuk satpam tadi. Reza mempercayakan mobilnya untuk diparkirkan oleh satpam itu. Ia bergegas menuju ruang perawatan Silvi.


"Kak," seru Silvi.


Reza mengambil pizza yang berada di atas meja. Diambilnya sepotong pizza lalu ia masukkan potongan pizza itu ke dalam akuarium. Di atas kulkas, ada sebuah akuarium mini berisi ikan hias. Setelah memakan potongan pizza tadi, ikan hias itu mati.


"Lihat!" teriak Reza pada kedua penjaga yang bertugas menjaga Silvi selama di rumah sakit.


Kedua penjaga itu terlihat terkejut, lalu menundukkan kepalanya masing-masing.


"Jika Dave tahu, maka besok pagi jenazah kalian akan diantarkan ke rumah kalian!" seru Reza.


"Keluar!" teriak Reza.


Reza duduk di kursi sebelah bed Silvi. Ia memijat pelipisnya. Hari ini bukan hanya dirinya yang hampir celaka. Ia curiga dalang di balik penyerangan Samuel ada hubungannya dengan semua ini.


"Kak Reza?" lirih Silvi.


"Ada apa?" tanya Reza.


"Apakah kakak baik-baik saja?"


"Entahlah! Aku sedang pusing sekarang! Hampir saja kamu celaka, untung saja kamu mengirim pesan padaku!" jawab Reza.


Flashback On


Silvi mengganti channel TV dengan malas. Ia merasa sangat bosan di ruang perawatan ini. Kecuali jika Reza datang menemuinya, ia akan mempunyai teman mengobrol dan bercanda.


Tok...tok...tok

__ADS_1


Suara ketukan dari luar membuyarkan lamunan Silvi.


"Siapa? Buka saja pintunya!" tanya Silvi setengah berteriak.


Ceklek,


"Nona, di luar ada seorang pengantar pizza! Dia mengatakan hendak mengantarkan pesanan dari Tuan Reza!" ucap salah satu penjaga.


"Dari Kak Reza ya? Ya sudah, bawa masuk pizzanya!" seru Silvi.


Penjaga itu pun keluar dari ruang rawat Silvi. Beberapa saat kemudian, penjaganya membawa sekotak pizza. Silvi mengamati kotak pizza itu dengan cermat. Ia buka kotaknya, tidak ada yang mencurigakan. Tapi ia teringat sesuatu, kemarin Reza memberitahunya untuk berhati-hati pada kiriman barang atau makanan dari siapapun itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan pada Reza, ia ingin memastikan jika pizza itu benar-benar kiriman dari Reza.


Flashback Off


"Kamu ternyata pandai sekali!" Reza mengacak rambut Silvi dengan gemas.


"Kakak baru tahu? Aku memang pandai sejak lahir, kak!" seru Aryn dengan bangga.


"Apakah kamu ingin makan pizza sekarang?" tanya Reza.


"Iya, kak!" jawab Silvi dengan bersemangat.


"Aku akan menyuruh penjaga membelikannya untuk kita!" seru Reza.


Reza bangkit dari kursinya. Ia membuka pintu lalu menutupnya lagi dengan rapat.


"Belikan dua kotak pizza!" ucap Reza yang menyerahkan beberapa lembar uang kepada salah satu penjaga.


"Kau ingat wajah pengantar pizza tadi?" tanya Reza pada penjaga yang satunya.


"Ingat, tuan!"


Reza mengirimkan pesan pada anak buahnya untuk memeriksa CCTV di seluruh rumah sakit 30 menit terakhir.


..........................


"Aryn, Dave! Cepat bagun! Atau pilot akan menerbangkan pesawat tanpa kalian di dalamnya!" teriak Uti dari luar kamar Aryn.


Aryn yang mendengar suara Utinya mulai membuka matanya perlahan. Yang ia lihat pertama kali adalah Dave yang masih tertidur pulas di hadapannya. Dave terlihat sangat tampan saat tidur.


"Kau terlihat tampan dan sangat manis saat sedang tidur seperti ini! Tapi saat matamu terbuka, tatapanmu mengalahkan tajamnya tatapan harimau yang sedang kelaparan!" lirih Aryn, ia takut Dave terbangun karena suaranya.


"Apakah aku semenakutkan itu?" batin Dave.


Sebenarnya Dave juga terbangun saat Uti berteriak di depan kamar mereka, malah sebelum Aryn terbangun. Tapi ia pura-pura masih tidur saat melihat Aryn yang mulai mengerjapkan matanya.


"Dave bangun!" seru Aryn.


Ia mencoba menepuk-nepuk bahu Dave untuk membangunkannya. Tapi Dave tidak kunjung membuka matanya. Aryn tersenyum smirk.


"Daveee! Banguuunnn!" teriak Aryn tepat di telinga Dave.


"Kenapa kau berteriak? Pengang telingaku!" seru Dave dengan kesal.


"Sorry! Salah sendiri kau tidak bangun-bangun!" seru Aryn yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Dalam sepuluh menit Aryn sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Dave sedikit heran.


"Kau sudah mandi?" tanya Dave.


"Iya," jawab Aryn dengan cuek, ia sedang memakai sepatu putihnya.


"Kau mandi dengan metode apa? Baru sepuluh menit sudah selesai!" seru Dave.


"Metode bebek, mandi bebek!" Aryn memutar bola matanya dengan malas.


"Cepatlah bersiap! Kita akan ketinggalan pesawat nanti!" seru Aryn yang sudah rapih dari atas sampai bawah.


"Pilot tidak akan menerbangkan pesawatnya sebelum ada perintah dariku!" jawab Dave.


"Aisss... masih pagi, jangan mengada-ngada! Penumpang pesawatnya tidak hanya kita!" balas Aryn.


"Siapa bilang? Kita akan terbang menggunakan jet pribadiku!" seru Dave yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Dave dan Ken menyusul Aryn menggunakan jet pribadi kemarin. Karena mendesak, Dave menyuruh Ken untuk memesan tiket dan pulang ke Amerika lebih dulu.


"Kenapa aku bisa lupa? Mansionnya saja sangat mewah, terdiri dari 4 lantai! Sudah pasti dia sangat kaya raya!" gumam Aryn.


Dave baru keluar dari kamar mandi setelah 30 menit lamanya. Aryn tidak heran. Mereka berdua bergegas turun untuk sarapan bersama Uti.


"Wah wah! Akhirnya kalian turun juga!" seru Uti.


"Selamat pagi, Uti!" sapa Dave.


Uti mengangguk dan tersenyum. Jika hanya sekedar ucapan selamat pagi, Uti memahaminya tanpa bantuan Aryn ataupun Frans untuk menerjemahkan.


"Kau bawa turun koper mereka!" perintah Uti pada Frans.


"Siap, Uti!" jawab Frans dengan bersemangat.


Mereka menikmati menu sarapan dengan hening. Hanya ada suara sendok dan garpu beradu yang terdengar. Memang sudah menjadi tata tertib di rumah Uti, tidak boleh mengobrol saat makan. Jika ingin membicarakan sesuatu harus menunggu setelah selesai makan.


"Aryn pamit, Uti! Aryn akan merindukan Uti!" ucap Aryn saat memeluk Utinya.


"Jadilah istri yang baik untuk suamimu! Sering-seringlah menelpon Uti, ya!" sahut Uti.


"Jaga istrimu, Dave!" seru Uti pada Dave.


Setelah mendengar terjemahan dari Aryn, Dave langsung mencium tangan Uti. Frans sudah membawa koper Dave dan Aryn ke dalam mobil.


"Tunggu!" seru Uti menghentikan langkah Dave dan Aryn.


"Ada apa, Uti?" jawab Aryn.


"Bersikaplah manis sedikit, Dave!" ucap Uti.


Uti meraih tangan Aryn dan mekatakkannya di atas tangan Dave.


"Gandeng istrimu! Kalau diambil orang baru tahu rasa kau!" Uti terkekeh.


Dave tersenyum saat mendengar terjemahan dari Frans. Sementara Aryn, ia tersipu malu.

__ADS_1


.....................


Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Silahkan tinggalkan komentar kalian juga!❤️


__ADS_2