
Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅
..........................
Sinar matahari mulai masuk ke celah-celah kaca jendela yang masih tertutup gorden. Pagi yang cerah. Hari ini adalah hari pernikahan Samuel dan Angel. Para wanita sibuk merias diri di kamar Silvi. Sementara para pria bersiap-siap di kamar Dave. Namun, Samuel terpaksa bergabung karena Angel bisa muntah-muntah jika ia tidak ada di dekatnya. Aryn dan Silvi sibuk mondar-mandir saling membantu merias dirinya masing-masing. Karena Angel, satu-satunya wanita di mansion yang pandai merias akan menikah. Jadi ia tidak bisa membantu Aryn dan Silvi yang terbilang amatir dalam hal berdandan. Sejak pagi tadi Angel sudah harus duduk diam di kursi untuk dirias tukang salon yang dipesan Samuel.
"Babang nggak adil, seharusnya pesan dua lagi untuk merias aku dan Kak Aryn!" protes Silvi pada Samuel.
"Hemat pangkal kaya," jawab Samuel.
"Emangnya perusahaannya babang bangkrut sampai harus berhemat seperti ini?" tukas Silvi.
"Tidak, kok! Sebagai calon papa, aku harus mencontohkan hal yang baik untuk anakku sejak dia berada di dalam kandungan," jawab Samuel sambil mengelus perut Angel yang sudah terlihat sedikit buncit.
"Bilang aja babang itu pelit tidak usah membawa-bawa calon keponakanku yang masih dalam kandungan itu! " ucap Silvi.
"Silvi!" teriak Aryn dari dalam kamar mandi.
"Ada apa, kak? Apakah ucapanku salah?" tanya Silvi.
Aryn pasti meneriaki Silvi karena kata-kata yang diucapkan Silvi pada Samuel tadi.
"Masuklah, resletingku susah dinaikkan! Tolong bantu aku!" seru Aryn membuat Silvi terkejut, ia kira kakak iparnya itu akan memarahinya.
Samuel menahan tawanya saat mendengar Aryn hanya meminta bantuan Silvi untuk menaikkan resleting, tapi Silvi sudah terlihat sangat panik. Mungkin Silvi mengira Aryn akan memarahinya karena sudah meledek Samuel.
"Sebentar!" jawab Silvi, ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Tolong bantu kakak," ucap Aryn.
"Tambah gemuk," celetuk Silvi
"Ah...perasaan enggak deh!" jawab Aryn yang langsung memandangi dirinya di cermin.
"Kalau kakak tidak bertambah gemuk kenapa bajunya jadi sempit seperti ini? Minggu lalu kan sudah diukur badannya, seharusnya pas!" ucap Silvi saat membantu Aryn menaikkan resletingnya.
"Tidak mungkinkan bajunya yang mengecil?" tambah Silvi.
"Kamu benar juga, Silvi! Ini semua pasti gara-gara kakakmu itu!" jawab Aryn terkekeh sambil berkacak pinggang di depan Silvi.
"Gara-gara Kak Dave? Kak Aryn hamil? Syukurlah, artinya aku akan mempunyai keponakan! Bagaimana kalau di perut Kak Aryn ada dua? Wah senangnya mungkin aku bisa mendapat dua keponakan sekaligus!" ucap Silvi girang, ia mengelus perut Aryn yang datar. Aryn terkekeh melihat mulut Silvi yang terus mengoceh.
"Bukan Silvi... maksud kakak, ini semua gara-gara Dave itu karena Dave selalu memaksa kakak untuk banyak makan! Kamu lihat sendiri bukan, saat makan ia selalu mengisi penuh piringku" ucap Aryn terkekeh.
"Silvi pikir kakak sedang...." lirih Silvi.
Aryn tersenyum tipis, semua orang terlihat sangat menantikan kehadiran Dave junior di perutnya. Ia hanya bisa berdoa di dalam hati, agar dirinya dan Dave segera diberi kepercayaan untuk memiliki Dave junior di tengah-tengah keluarga kecil mereka.
"Doakan saja, sedang diusahakan!" bisik Aryn di telinga Silvi, lalu mereka tertawa bersama.
Tok...tok...tok
"Apa yang kalian lakukan di dalam?" seru seseorang dari luar kamar mandi.
"Kakakmu," lirih Aryn pada Silvi, ia hafal betul suara suaminya.
__ADS_1
Silvi membuka pintu kamar mandi, lalu mereka berdua keluar dari kamar mandi.
"Bagaimana kak?" tanya Silvi, kedua matanya melirik Dave dan Aryn bergantian.
"Beautiful," ucap Dave.
Dave memandangi Aryn yang tampil cantik dengan dress tile putih selutut. Ditambah rambut hitam Aryn yang digerai, membuat Dave tidak berkedip. Aryn sampai tersipu malu dibuatnya. Aryn memang tidak terlalu pandai berdandan, tapi make upnya yang tipis dan natural justru membuat Aryn terlihat sangat menawan.
Lalu Dave memandangi Aryn lagi dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Istriku ini cantik sekali, tapi akan lebih cantik kalau memakai alas kaki!" ucap Dave membuat semua orang terkekeh.
Astaga, Aryn tidak sadar jika dari tadi ia tidak memakai alas kaki. Biasanya ia selalu memakai alas kaki walaupun hanya sandal, mungkin karena sibuk merias diri ia jadi melupakannya. Ia bergegas mengambil sepatu yang sudah disiapkan di dekat meja belajar Silvi.
"Mau pakai alas kaki atau tidak, kamu selalu terlihat cantik!" ucap Dave yang mengulurkan tangannya.
Aryn tersipu malu menyambut uluran tangan Dave. Dave lalu menarik Aryn masuk ke dalam pelukannya.
"Kalau bermesraan lihat-lihat situasi dan kondisi terlebih dahulu, jangan asal peluk sjaa di depan anak kecil pula!" seru Silvi, ia langsung membalikkan badannya menghadap tembok.
"Anak kecil siapa?" tanya Dave.
"Tidak ada anak kecil di sini, mana ada anak kecil yang gemar membaca novel romantis 21+?" ledek Samuel.
"Kalian ini sama saja!" seru Silvi kesal, ia mengambil ponselnya lalu meninggalkan kamar.
Semua orang terkekeh melihat Silvi yang merajuk, tapi tidak dengan Aryn. Ia hanya diam di pelukan Dave. Entah kenapa ia merasa tidak suka dengan bau badan Dave. Ia mencoba menahannya tapi perutnya terasa bergejolak. Aryn langsung mendorong tubuh Dave dan berlarian masuk ke dalam kamar mandi.
Hoeekkk...hooeekk...
Terdengar Aryn memuntahkan semua yang telah ia makan pagi tadi. Dave bergegas menyusul masuk ke dalam kamar mandi.
"Keluar Dave!" ucap Aryn.
"Ada apa?" tanya Dave.
"Kamu bau," seru Aryn, tangan kirinya menghalangi Dave agar tidak mendekatinya.
Lantas Dave mencium badannya sendiri. Tidak bau, hari ini ia menggunakan parfum yang sama. Parfum yang sebelumnya sangat disukai oleh Aryn.
"Badanku wangi, aku menggunakan parfum seperti biasa sayang! Ada apa denganmu?" tanya Dave kebingungan.
"Kamu bau sekali, Dave! Sungguh, aku tidak bohong. Kamu tidak mandi ya?" seru Aryn, ia sampai menutup hidungnya.
"Sudah tampan maksimal seperti ini masa belum mandi, jangan aneh-aneh sayang!" protes Dave.
"Aku tidak mau tahu, cepat mandi dan gunakan parfum yang banyak!" perintah Aryn.
"Tapi aku sudah mandi, sayang!" jawab Dave.
"Kalau kamu tidak mandi lagi, jangan dekati aku!" ancam Aryn.
"Baiklah, apapun akan aku lakukan untukmu!" jawab Dave lemas.
Dave bergegas meninggalkan kamar Silvi. Samuel dan Angel hanya melongo menyaksikan drama pagi hari pasangan itu. Setelah Dave pergi, mual yang dirasakan Aryn ikut pergi juga. Akhirnya ia bisa bernapas lega.
"Lo sakit?" tanya Samuel.
__ADS_1
"Enggak, kok! Hanya tidak tahan saja mencium aroma tubuh Dave! Aroma tubuhnya seperti tidak mandi satu minggu!" jawab Aryn.
"Dave tidak mungkin sebau itu," sahut Angel.
"Entahlah, mungkin ada yang salah dengan hidungku!" jawab Aryn sedikit ngegas kepada Angel. Maklum Angel salah satu wanita yang tergila-gila dengan Dave. Jadi perlu digas sedikit jika ia ikut bicara perihal Dave.
"Baru kali ini ada orang yang mengusir Dave!" ucap Samuel terkekeh.
"Mau bagaimana lagi, aku sudah lemas tidak tahan dengan baunya!" jawab Aryn terkekeh.
-----------------
Di kamar Dave,
Di saat Zack dan Ken tengah sibuk menata rambut masing-masing, Dave masuk ke dalam kamar dengan wajah masam.
"Pagi-pagi wajah lo udah kusut aja, kurang jatahnya?" seru Zack.
"Coba lo cium badan gua!" seru Dave.
"Gua masih normal, Dave! Masih menyukai wanita bukan sesama jenis!" Zack menatap Dave dengan tatapan curiga.
"Gua juga masih normal! Cepet lo cium! Masa Aryn bilang gua bau! Dan dia bilang gua harus mandi lagi" ucap Dave yang terlihat kesal.
Akhirnya Zack menuruti perintah Dave, ia mencium bahu dan tangan Dave, semuanya wangi.
"Wangi, kok! By the way, gua minta parfum yang lo pakai ini ya?" ucap Zack.
"Ambil ambil!" sahut Dave.
Tidak mau ambil pusing, Dave segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya sesuai permintaan Aryn. Ia bahkan menggunakan sabun sampai tiga kali. Dan baru keluar setelah tiga puluh menit. Setelah itu ia menggunakan jas putih yang lain. Parfum yang ia gunakan pun berbeda dan lebih banyak.
"Kalau demi cinta apapun pasti akan dilakukan, cieee!" seru Zack.
"Kaum jomblo harap diam!" seru Ken yang terdengar menyindir Zack.
"Sebentar lagi, status jomblo itu akan gua lepas!" jawab Zack terkekeh.
"Terserah lo, sebagai sahabat gua cuma bisa mendoakan biar lo nggak di demo lagi!" Ken tertawa terpingkal.
"Shit!" umpat Zack, ia menghampiri Ken. Zack sepertinya akan menoyor kepala Ken.
"Sekarang lo coba cium Ken!" seru Dave menghentikan tangan Zack. Alhasil Ken lolos dari Zack.
"Siap!" jawab Ken.
Ken mendekatkan hidungnya pada tubuh Dave. Dari bahu, dada, perut, lengan, bahkan sampai ketiak pun ia telusuri satu persatu.
"Wangi," seru Ken sambil mengangkat kedua jempolnya.
Dave mengangguk. Ia berharap badannya sudah wangi untuk hidung Aryn juga. Dengan semangat yang berkobar, Dave berjalan cepat menuju kamar Silvi. Ken langsung mengekor di belakang Dave, ia menghindari Zack yang akan mengejarnya.
"Shit!" umpat Zack.
.................
Wah... Ada apa dengan Aryn ya?
__ADS_1
Stay tuned!