Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
AKU BELUM SIAP


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


.........................


Sang surya malu-malu keluar dari tempatnya. Sinar hangatnya mengintip kerusuhan yang terjadi di kamar Dave.


"Geser, Dave!" pekik Aryn saat Dave semakin mendekati Aryn.


"Kamu ini kenapa? Didekati suami sendiri menolak?" protes Dave.


Sejak setelah makan semalam, Aryn membuat pembatas di tengah-tengah ranjang mereka. Aryn menggunakan dua guling sebagai pembatas itu. Hal itu ia lakukan karena semalam Dave menuntut haknya.


Dave menenggelamkan wajahnya di leher Aryn. Napasnya menyapu kulit leher Aryn hingga membuat Aryn bergidik.


"Singkirkan benda ini!" Dave melempar guling itu ke lantai, wajahnya terlihat memerah seperti menahan sesuatu.


Hanya karena mencium aroma tubuh Aryn, tubuh Dave kembali menegang. Bahkan lebih buruk dari semalam.


"Lepaskan Dave! Ini sudah pagi, aku akan menyiapkan barang-barangmu! Bukankah kau ada meeting di luar kota siang ini?" Aryn mencoba mencari alasan.


"Karena aku akan pergi siang ini, jadi temani aku sebentar!" ucap Dave dengan suara serak.


Dave mengeratkan pelukannya, hingga tubuhnya menempel dengan Aryn.


"Tapi Dave...." ucapan Aryn dipotong Dave.


"Aku sudah tidak tahan, Aeyn! Bolehkah aku?" tanya Dave.


Deg,


Jantung Aryn berdegup dengan kencang, seperti baru saja berlari sepuluh putaran. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Sejak semalam ia sudah berusaha menjauh dari Dave dengan meletakkan guling di antara mereka. Tapi sekarang, Dave bahkan sudah menciumi lehernya.


"Aku...aku belum siap!" sahut Aryn dengan lirih.


Mendengar jawaban Aryn, Dave beranjak dari ranjang. Ia berjalan dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi tanpa berkata sepatah katapun pada Aryn. Hingga membuat Aryn merasa bersalah. Dengan cepat, Aryn berlari menyusul Dave. Ia menggedor-gedor pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.


"Dave!" seru Aryn.


"Maaf...bukan maksudku menghindar dari kewajibanku sebagai seorang istri. Tapi kau paham jika aku...aku memang belum siap, aku harap kau memahaminya! Maafkan aku! Apakah kau marah?" seru Aryn.


Ia menempelkan telinganya di pintu kamar mandi. Hanya suara gemericik air yang ia dengar.


"Apakah kau mendengarku, Dave?" tanya Aryn.


"Jangan menggangguku!" teriak Dave dari dalam kamar mandi.


"Ba...baik!" jawab Aryn dengan lirih karena merasa takut mendengar teriakan Dave.

__ADS_1


Ceklek,


Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan sosok Dave yang hanya berbalut handuk sebatas pinggang. Wajahnya terlihat memerah, kedua matanya sayu. Ia terlihat bersusah payah menahan hasratnya. Mendengar jawaban Aryn yang ketakutan, ia memutuskan untuk keluar sebentar.


"Aku tidak bermaksud untuk membentakmu," lirih Dave.


"Iy...iya!" jawab Aryn dengan lirih.


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu sekarang! Aku akan menunggu sampai kamu siap! Aku tidak ingin memaksakan keinginanku, itu hanya akan melukaimu! Aku harap kamu juga segera mencintaiku" lirih Dave dengan tatapan sayunya.


Apakah itu artinya Dave sudah mencintai Aryn? Tidak ada yang tahu.


"Terima kasih, aku akan menyiapkan kopermu!" jawab Aryn.


Dave lantas mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar mandi. Ia terpaksa harus menuntaskan hasratnya sendiri, ia sudah tidak bisa menahannya. Setelah itu baru ia membersihkan tubuhnya.


Dave baru keluar satu jam kemudian, saat Aryn sudah selesai menyiapkan semua keperluannya di dalam koper. Sebenarnya Dave hanya pergi untuk beberapa jam saja, tapi mengingat sifat rempongnya yang melebihi batas standar membuat koper adalah hal wajib yang harus di bawa.


"Apakah Ken sudah datang?" tanya Dave yang baru keluar dari kamar mandi.


"Sudah," jawab Aryn.


"Dimana dia sekarang?" tanya Dave.


"Di dapur, Ily yang memberitahuku! Katanya sedang belajar memasak ayam goreng!" jawab Aryn sesuai dengan laporan Ily melalui intercom tadi.


"Dave!" pekik Aryn yang menutup mata dengan kedua tangannya.


"Apa sayang?" jawab Dave dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau kan bisa berganti pakaian di dalam sana!" seru Aryn menunjuk walk-in closet.


"Semua ini milikmu, tidak masalah jika aku berpakaian di sini, hanya ada kita berdua di sini!" Dave terkekeh.


"Dasar mesum!" teriak Aryn.


Aryn memilih untuk mengalah, ia membalikkan badannya menghadap ke tembok. Jika ia meneruskan perdebatannya dengan Dave, ia akan kalah.


"Bantu aku memasang dasi ini!" seru Dave.


"Apakah pakaianmu sudah lengkap?" tanya Aryn.


"Sudah!" jawab Dave.


Aryn membalikkan tubuhnya, memang benar Dave sudah berpakaian lengkap. Dave sudah memakai kemeja birunya, hanya saja ia masih memakai celana boxer. Tidak masalah, daripada tidak bercelana. Aryn mengambil dasi berwarna hitam, ia naik ke atas ranjang agar bisa memasangkan dasi dengan mudah.


"Cebol!" ledek Dave.


"Pakai sendiri nih!" Aryn bersiap turun dari ranjang.

__ADS_1


"Okay okay! Maafkan aku, sayang! Jangan marah terus seperti itu, nanti tambah cebol loh!" ucap Dave terkekeh.


"Kau ini merayu atau menghina?" protes Aryn.


Cup,


"Kamu terlihat lucu saat sedang marah!" seru Dave terkekeh.


Aryn menunduk malu, pipinya merona.


"Apakah kamu sedang sakit, Aryn?" tanya Dave.


"Eh tidak... aku tidak sedang sakit!" jawab Aryn terkejut, Dave menangkup pipinya dengan tiba-tiba.


"Lalu kenapa pipimu merah seperti kepiting rebus hahaha!" seru Dave terkekeh.


"Dave!" seru Aryn yang memukul dada bidang Dave.


Ting,


Sebuah notifikasi pesan masuk menghentikan perdebatan mereka. Dave mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Ken mengingatkan jika mereka harus segera berangkat. Dave lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku kemejanya. Tangannya meraih tangan Aryn, ia mengarahkan tangan Aryn untuk memasangkan dasi miliknya.


"Kita lanjutkan setelah aku pulang nanti, sekarang pasangkan dasiku!" ucap Dave dengan kedipan genitnya.


Aryn memutar bola matanya dengan malas, ia memasang dasi Dave dengan cepat. Dave bergegas memakai jas dan jam tangannya. Sementara Aryn sudah menenteng tas kerja dan koper milik Dave. Aryn menahan tawanya.


"Dave, apakah kau tidak melupakan sesuatu?" tanya Aryn yang berusaha menahan tawanya.


"Tidak ada! Tinggalkan koperku, nanti pengawalku yang akan membawakannya!" seru Dave.


"Tapi Dave..." ucapan Aryn dipotong Dave.


"Aku berangkat dulu, sayang! Jaga dirimu baik-baik! Kamu mau aku bawakan oleh-oleh apa?" tanya Dave setelah mencium kening Aryn sekilas.


"Dave," ucapan Aryn dipotong Dave lagi.


"Nanti kamu kirim pesan kepadaku saja, katakan apa yang kamu inginkan! Jangan lupa untuk belajar mencintaiku!" seru Dave yang membuka pintu kamarnya.


Aryn bergegas mengejar Dave sebelum semua orang melihat Dave dalam keadaan memalukan seperti ini.


"Dave!" teriak Aryn menghentikan Dave yang baru beberapa langkah meninggalkan pintu kamarnya.


"Ada apa lagi, Aryn? Aku sudah terlambat!" keluh Dave yang berusaha sabar menghadapi Aryn.


"Celanamu ketinggalan!" seru Aryn yang tertawa terpingkal.


"Apa?" teriak Dave.


Lantas Dave melirik tubuh bagian bawahnya yang hanya dilapisi celana boxer. Aryn tertawa terpingkal melihat Dave yang langsung melihat sekelilingnya. Kalau saja ada penjaga atau pengawal yang melihat, citranya sebagai bos bisa hancur. Dave langsung berlari dan menarik Aryn masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2