
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
"Oweee...oweee...."
Mendengar tangisan jagoan kecilnya, Dave langsung terbangun. Ia melirik box bayi yang berada di sampingnya. Rupanya Davin terbangun lagi. Dua jam yang lalu jagoan kecilnya baru saja minum sampai kenyang, lantas kenapa terbangun lagi?
"Hey, bos! Ada apa? Apakah pempersmu penuh?" ucap Dave.
Dave mengecek pampers Davin, tidak penuh. Berarti Davin menangis bukan karena pampers. Ia melirik Aryn yang tertidur pulas, pasti Aryn lelah seharian menjaga Davin. Karena tidak ingin mengganggu tidur Aryn, Dave menggendong Davin dan membawanya ke balkon kamarnya. Sebelumnya ia mengambil dot yang berisi susu di box Davin.
"Apakah jagoan daddy lapar?" ucap Dave saat memberikan susu pada Davin.
Putranya itu langsung menyedot susu dengan tidak sabaran. Sampai pipi montoknya terkena cipratan susu.
"Sabar, bos! Aku tidak memintanya, susu ini hanya milikmu," Dave terkekeh.
Sejak pertama kali Davin dibawa pulang dari rumah sakit satu bulan lalu, Dave membantu Aryn mengurus Davin. Walau terkadang masih harus membuka tutorial di YouTube. Dave sendiri yang meminta agar box Davin diletakkan di sampingnya, sebenarnya Davin mempunyai kamar sendiri. Tapi Aryn dan Dave tidak tega membiarkannya tidur sendiri. Dave juga meminta Aryn untuk memompa ASI-nya. ASI itu dimasukkan ke dalam dot. Agar saat Davin sering bangun di tengah malam seperti ini, Dave bisa membantu Aryn untuk memberikan susu. Dave tidak tega membangunkan Aryn yang baru tidur lagi 2 jam lalu.
"Kamu lapar atau doyan sih, Vin?" Dave menatap Davin gemas.
Setelah Davin menghabiskan susunya, Dave memposisikan Davin menghadap dadanya, lalu Dave menepuk punggung Davin perlahan. Tujuannya agar Davin bersendawa. Dave melakukannya dengan sedikit mengayunkan badannya juga, siapa tahu Davin tertidur.
"Jagoan daddy tidak tidur?" Dave menatap Davin yang sepertinya enggan untuk tidur.
Davin menatap daddynya, bibir kecilnya menampilkan senyumnya. Seolah mengatakan jika ia tidak ingin tidur saat ini.
"Okay, bagaimana kalau daddy bercerita? Daddy akan bercerita tentang masa kecil daddy, kelak kamu contoh hal yang baik saja ya!" ucap Dave.
Dave benar-benar menceritakan masa kecilnya pada Davin, putranya yang baru berusia satu bulan itu. Banyak yang Dave ceritakan, mulai dari sahabatnya waktu kecil, kenakalan yang dia lakukan, sampai saat Silvi lahir. Dave menikmati momennya bersama dengan Davin. Sembari bercerita, tangannya mengelus kepala Davin, agar jagoan kecilnya tertidur. Cukup lama Dave mengoceh sendiri di balkon. Sampai penjaga yang tidak sengaja melihatnya bertanya padanya, dengan siapa ia berbicara.
Akhirnya Davin tertidur, Dave mengayun-ayunkan Davin yang tertidur di gendongannya agar Davin tidur semakin pulas. Sebenarnya ada ayunan elektrik, tapi Davin menangis saat di letakkan di ayunan itu.
Dave berjalan perlahan menuju box bayi, membaringkan Davin di dalamnya. Tidak lupa ia berikan kecupan selamat tidur untuk Davin. Jam di atas nakas masih menunjukkan bahwa sekarang masih tengah malam. Dave menguap, ia akan kembali tidur. Ditariknya Aryn masuk ke dalam pelukannya. Aryn hanya menggeliat pelan, kepalanya mencari tempat ternyamannya yaitu dada Dave. Dave mengecup kening Aryn cukup lama. Tidak terlupakan olehnya untuk mengucapkan terima kasih pada istrinya itu. Dave teringat saat Aryn berjuang di antara hidup dan mati untuk melahirkan buah hati mereka. Bagi Dave, ia tidak akan pernah bisa membalas besarnya perjuangan Aryn itu. Ia hanya bisa memberikan semua cinta dan perhatiannya.
"Owee...oweee......"
Davin menangis lagi. Aryn menggosok matanya perlahan, ia tersenyum saat menatap ke arah box Davin. Dave sudah berdiri di sana.
"Sayang, biar aku saja! Kamu tidur, besok kamu harus ke kantor!" Aryn menghampiri Dave.
"Tidak apa, biar aku saja! Aku yang akan memberikan susu untuknya lagi, pemeprsnya sudah kuganti baru saja!" jawab Dave.
"Tadi Davin bangun juga ya? Kenapa kamu tidak membangunkanku?" protes Aryn.
"Iya, dia bangun 4 jam lalu. Kamu pasti lelah seharian menjaga Davin, apalagi kita tidak membiarkan Davin diasuh baby suster! Kamu istirahat saja, lagipula aku bosnya di perusahaan! Kamu tidak perlu mengkhawatirkan urusan kantor!" Dave mengecup pucuk kepala Aryn.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang!" Aryn memeluk Dave sebentar, lalu naik ke ranjang lagi.
Seperti biasa, Dave menepuk-nepuk pelan punggung Davin agar dia bersendawa. Aryn merasa bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga kecil ini. Tidak disangkanya, Dave menjadi lebih pengertian setelah lahirnya Davin. Walaupun pagi sampai sore bekerja di kantor, setiap sampai rumah Dave selalu membantu Aryn untuk merawat Davin. Terlebih kalau malam hari.
"Apa Davin mau dengar cerita lagi? Jagoan daddy suka mendengar cerita ya?" Dave mentoel hidung Davin.
Davin tersenyum kecil. Dave menghujani pipi gembul Davin dengan ciuman gemas. Beruntung Davin sudah terbiasa dengan tingkah daddynya, jadi ia hanya diam saja. Davin termasuk bayi yang anteng, hanya menangis kalau lapar, haus, pampers penuh saja.
"Jangan cerita yang aneh-aneh ya, sayang!" sahut Aryn.
"Loh mommy belum tidur lagi?" tanya Dave.
Aryn sebenarnya masih sedikit malu-malu dipanggil mommy.
"Tidak bisa tidur lagi, dad!" jawab Aryn.
Berbeda dengan Aryn, Dave sangat suka dipanggil daddy.
"Sudah coba merem matanya?" tanya Dave.
"Anak kecil juga tahu kalau mau tidur matanya merem, sayang! Aku tidak mengantuk," Aryn terkekeh.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menceritakan kisah untuk kalian berdua!" ucap Dave.
Aryn mengangguk dengan antusias. Perlahan Dave naik ke ranjang dengan Davin yang berada di gendongannya. Dave membaringkan Davin di tengah-tengah mereka. Lalu ia bergaya layaknya seorang ibu yang akan mendongengkan cerita untuk anak-anaknya. Davin menampilkan senyum di bibir kecilnya saat melihat daddynya. Mungkin karena Dave suka bercerita sejak Davin dalam kandungan, sekarang Davin jadi suka mendengar cerita dari Dave.
"Cerita kali ini mengisahkan seekor buaya dengan kancil," ucap Dave.
"Aku menemukannya di internet, ada versi englishnya! Kamu pernah menceritakan kisah itu padaku saat aku tidak bisa tidur, tapi judulnya berbeda! Ceritanya bagus, jadi aku akan menceritakan itu pada Davin juga," jawab Dave.
Aryn mengangguk, ia memposisikan kepalanya mendekat Davin. Davin anteng, seperti sedang menunggu ceritanya. Dave pun memulai ceritanya, tangan kanannya mengelus kepala Aryn, tangan kirinya menepuk-nepuk paha Davin yang berbaring di sampingnya. Dave bercerita dengan penuh penghayatan, sampai menirukan suara dari tokoh-tokohnya.
"Sayang, suara buaya itu bagaimana?" tanya Dave.
"Baru saja aku mendengar suara buaya," Aryn terkekeh.
"Sayang......." Dave cemberut.
"Just kidding, sayang! Kamu sudah mantan buaya kan ya, aku lupa! Coba kamu tanya Zack saja kalau begitu," Aryn mencubit pipi Dave dengan gemas.
Belum sampai ceritanya selesai, Aryn dan Davin sudah terlelap. Dave tersenyum lebar menatap keduanya. Ia memakaikan selimut untuk keduanya.
"Selamat tidur, cintaku!" Dave mencium pucuk kepala mereka, lalu memeluk mereka. Memeluk mereka dengan posesif, mereka adalah harta yang paling berharga untuk Dave.
-------------------------
Tok tok tok....
__ADS_1
"Davin!" seru Silvi di depan kamar Dave dan Aryn.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar itu. Tentu karena sang pemilik kamar masih tidur semua.
Tok tok tok....
"Davin!" seru Silvi lagi.
Kalau Davin, walaupun dia mendengar namanya dipanggil oleh auntynya tentu tidak akan menyahut, karena Davin belum bisa bicara. Usianya saja baru satu bulan lebih satu hari.
"Davin! Main yuk!" seru Silvi.
Dave menggeliat pelan, ia melirik Aryn dan Davin di sampingnya. Keduanya masih tidur. Dave berjalan gontai menuju pintu.
"Davin! Main yuk!" seru Silvi lagi.
Ceklek,
Pintu kamar Dave terbuka, Dave menggosok wajahnya dengan kasar. Ternyata Silvi yang berteriak-teriak di depan kamarnya. Adiknya itu sangat suka bermain-main atau hanya sekedar menunggui Davin yang sedang tidur. Setiap pagi seperti ini, pasti sudah memanggil-manggil Davin.
"Apa? Davin masih tidur, tidak ingin bermain denganmu!" seru Dave.
"Aku tidak percaya, minggir kak! Aku ingin melihat Davin!" Silvi berusaha menerobos masuk tapi dihadang oleh tubuh Dave.
"Mau jadi adik durhaka? Kenapa tidak percaya dengan kakak, aku ini daddynya!" ucap Dave dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Baiklah... Padahal aku ingin mengajak Davin main!" sahut Silvi.
"Nanti saja kalau sudah bangun," jawab Dave.
"Okay!"
"Kak..." panggil Silvi saat Dave akan kembali masuk kamar lagi.
"Apa lagi? Jangan bilang lagi kamu ingin cepat menikah agar cepat punya baby! Mau kakak kirim ke Zimbabwe?" jawab Dave.
Entah apa yang terjadi pada Silvi, kemarin Silvi mengatakan ingin menikah muda dan punya baby seperti Davin. Membuat Dave kesal saja.
"Bukan! Tolong bilangin ke papa sama mama dong!" ucapnya.
"Apa?" tanya Dave.
"Aku ingin dibuatkan adik," Silvi menampilkan deretan giginya.
Blam,
Dave menutup pintu kamarnya. Silvi mengerucutkan bibirnya, ia kembali ke kamarnya dengan kesal.
__ADS_1
..............
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian!