
Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅
..........................
Rombongan Dave dan Aryn hampir tiba di lokasi tujuan setelah 15 menit mengudara. Dave memutuskan untuk menggunakan Sea Plane lagi daripada menggunakan speed boat, alasannya tentu karena Aryn menyukainya. Pemandangan indah dari ketinggian memanjakan mata mereka. Vila dan restoran yang berjajar di atas air laut yang biru kehijauan terlihat indah dari ketinggian.
"Kamu senang, sayang?" tanya Dave yang merangkul bahu Aryn.
"Sangat sangat senang, Dave!" seru Aryn.
"Dimana panggilan sayang itu? Kamu melupakannya," sahut Dave.
"Iya ondel-ondelku!" jawab Aryn tertawa.
"Aku yakin jika kamu lihat bagaimana ondel-ondel itu sebenarnya, pasti kamu tidak akan sebangga ini aku panggil ondel-ondel hahaha!" gumam Aryn dalam hatinya.
Di belakang kursi mereka, Frans hanya bisa menahan tawanya. Ia tidak menyangka jika istri bosnya benar-benar jahil, sementara Dave juga terlalu polos hingga tidak tahu jika ia sedang dikerjai istrinya.
"Bagaimana bisa Tuan Dave sebangga ini dipanggil ondel-ondel oleh istrinya? Memang kalau sudah cinta, apapun yang diucapkan pasangannya akan terdengar indah baginya," gumam Frans.
Dave mengeratkan tangannya yang merangkul bahu Aryn saat sang pilot mendaratkan Sea Plane yang mereka tumpangi di waterbase. Dave dan Aryn berjalan di depan dengan Frans dan para pengawal mengekor di belakang mereka.
Sebuah bangunan besar nan megah berdiri kokoh di hadapan mereka. Sama seperti rata-rata bangunan di negara ini, bagunan di hadapan mereka ini juga terbuta dari papan-papan kayu. Banyak pepohonan rindang dan tanaman hias di depannya. Tempat ini tidak terlihat seperti pusat perbelanjaan, melainkan gift shop. Dari luar saja sudah terlihat beberapa tas anyam dipanjang di almari kaca super besar. Gift shop ini ternyata jauh lebih aesthetic dari pusat perbelanjaan yang diceritakan Rio. Seperti biasa, tangan Aryn mulai aktif mengambil foto selfie.
"Ayo kita kembali ke vila, sayang!" seru Aryn saat memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Tangan kanannya menarik lengan Dave, mengajaknya meninggalkan tempat ini.
"What? Kembali ke vila? Don't kidding me, sayang! Kita bahkan belum masuk ke dalam!" sahut Dave terkejut.
"Aku sudah selesai berfoto! Kamu mau belanja?" tanya Aryn.
"Aku? Kamu yang akan berbelanja sayang! Aku mengajakmu ke sini agar kamu berbelanja souvenir bukan hanya untuk foto! Ayo!" Dave membimbing Aryn untuk masuk ke dalam gift shop.
"Tadi aku kan sudah bilang, aku hanya ingin berfoto saja! Tapi kalau kamu memaksa aku untuk berbelanja, aku tidak akan menolaknya kok ! Kata pak ustadz rezeki tidak boleh ditolak!" seru Aryn terkekeh.
Dave mengacak rambut Aryn dengan gemas. Tingkah Aryn yang apa adanya inilah yang membuat Dave klepek-klepek. Dave melepaskan genggaman tangannya saat mereka berdua sudah berada di dalam. Frans dan pengawal lainnya hanya menunggu di luar saja sesuai perintah dari Dave. Aryn takjub melihat semua produk yang disusun rapi di almari kaca besar. Semua produk ini adalah produk lokal namun terlihat sangat berkualitas. Aryn berhenti di depan sebuah tas anyaman berwarna cokelat tua. Tas itu terlihat sangat sederhana namun fasionable.
"Kamu menyukainya?" tanya Dave membuyarkan lamunan Aryn.
"Iya, tas itu terlihat bagus sekali!" jawab Aryn.
Seorang pelayan membantu untuk mengambilkan tas itu. Aryn memandangi tas itu dengan antusias. Akhirnya Aryn memilih tas itu, ia juga mengambil 2 tas lagi dengan model yang sama tapi warna yang berbeda. Aryn akan memberikan kedua tas itu untuk Silvi dan Angel sebagai oleh-oleh. Saat sedang asyik melihat-lihat souvenir, ada seseorang yang mencolek bahunya.
"Baaaaa!" seru Dave.
Dave memakai sebuah topeng yang berwarna merah lengkap dengan alis yang tebal mirip dengan wajah ondel-ondel. Dengan isengnya, ia sengaja mengejutkan Aryn. Dave juga menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Tapi bukannya terkejut atau takut, Aryn justru tertawa cekikikan.
"Kamu terlihat lebih ondel-ondel dari ondel-ondelnya sendiri!" seru Aryn terkekeh.
"Tentuu!" seru Dave berbangga diri.
__ADS_1
Karena gagal mengejutkan Aryn, Dave meletakkan kembali topeng merah itu ke tempatnya semula. Dave sama sekali tidak memikirkan kebenaran yang diucapkan Aryn, jika wajah ondel-ondel berwarna merah. Kejahilan Dave tidak hanya sampai di situ saja.
"Gelang ini bagus, bukan? Satu untukku dan satunya lagi untuk..." ucapan Aryn terpotong saat ia menyadari Dave tidak ada di belakangnya lagi.
"Dave?" seru Aryn celingukan mencari Dave.
"Dave... jangan bercanda! Ayo keluarlah!" seru Aryn.
Hening,
Tidak ada tanda-tanda kedatangan Dave. Aryn bahkan sudah mencari di semua sudut ruangan. Tapi ia tidak melihat batang hidung suaminya. Saat ini gift shop ini terbilanh sepi, karena hanya ada tiga atau empat pengunjung yang berada di dalam.
"Ayo keluarlah, aku tahu kamu tidak mungkin meninggalkan istri secantik diriku di tempat ini sendirian, kecuali jika kamu siap aku diculik om om tampan lokal!" ucap Aryn dengan kesal.
Tapi, Dave tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Okay, ondel-ondelku! Jadi kamu menantangku ya? Aku hitung sampai tiga, jika kamu tidak keluar juga malam ini tidak akan ada jatah!" Aryn mengeluarkan jurus pamungkasnya.
"Satu...."
"Dua...."
"Dua setengah..."
Aryn menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. Ia bahkan sampai menghitung menggunakan pecahan, tapi Dave belum muncul juga.
"Dua tiga per empat..."
Apakah Dave meninggalkannya? Bagaimana bisa suaminya tega meninggalkan istrinya sendirian?
"Punya suami satu aja tega ninggalin sendirian di gift soft! Terus bagaimana caranya aku kembali ke vila? Naik apa? Aku tidak tahu caranya memesan Sea Plane! Arrgghh... boro-boro naik Sea Plane, bayar belanjaan ini saja tidak bisa. Aku tidak membawa uang sepeserpun, dompet ada di kamar. Hanya ponsel ini yang aku bawa!" Aryn mengomel sendiri.
Lalu ia berjalan keluar gift shop, ternyata Frans dan pengawalnya masih berada di luar. Itu artinya ia bisa kembali ke vila dan menemui Dave. Ia bisa menghukum suaminya itu.
"Ada yang bisa saya bantu, nona?" tanya Frans.
"Dimana Dave? Dia meninggalkanku sendirian di sini!" seru Aryn dengan kesal.
"Maaf nona, sejak tadi kami tidak bergeser sedikitpun dari posisi kami sekarang. Dan kami sama sekali tidak melihat Tuan Dave keluar dari tempat ini!" jawab Frans.
"Lalu?" tanya Aryn.
"Mungkin tuan sedang berada di toilet," jawab Frans.
"Tidak ada, aku sudah mencarinya di sana!" seru Aryn kesal.
"Apakah nona sudah mencoba untuk menelpon tuan?" tanya Frans.
"Ponselnya ada di vila, sedang di charge!" jawab Aryn ketus.
"Baiklah, nona! Kami akan membantu anda untuk mencari Tuan Dave sekali lagi! Jika memang tuan tidak ada, kami akan mengantarkan nona kembali ke vila!" jawab Frans tegas.
Aryn masuk ke dalam gift shop itu lagi dengan diikuti Frans beserta empat orang pengawal.
__ADS_1
Mereka mulai menyisir seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Dave. Tapi, setelah lima belas menit mereka mencari, tetap saja Dave tidak ditemukan. Sepertinya memang benar Dave sudah pergi dari tempat itu.
"Sepertinya Tuan Dave sudah pergi dari sini, nona! Mari kami antar nona kembali ke vila!" ucap Frans dengan lirih, ia takut ucapannya memperburuk suasana hati Aryn yang sudah buruk karena ditinggal Dave.
"Tunggu! Kita belum mengecek satu tempat lagi!" seru Aryn.
Frans dan keempat pengawal saling memandang, mereka yakin sudah memeriksa semua tempat.
"Keranjang itu!" seru Aryn menunjuk sebuah keranjang besar di dekat almari kaca besar. Keranjang itu terbuat dari rotan.
"Ondel-ondelku ada di dalam," lirih Aryn.
"Maaf nona, tapi ondel-ondel tidak mungkin muat berada di dalam keranjang itu," sahut Frans.
"Benar, mana mungkin ondel-ondel muat masuk ke dalam sini!" seru salah satu pengawal.
"Kalian jangan berisik, kalau mau ngobrol di luar saja! Yang aku maksud ondel-ondel itu bos kalian, sekarang cepat ayo kita buka!" seru Aryn.
"Bagaimana aku bisa lupa jika Tuan Dave adalah ondel-ondelnya Nona Aryn," gumam Frans menahan tawa. Keempat pengawalnya pun hanya bisa menunduk sambil menahan tawa. Seorang bos besar sekaligus pimpinan para mafia Red Blood diberi nama ondel-ondel oleh istrinya.
Aryn melangkahkan kakinya dengan perlahan, seperti mengendap-endap. Ia menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, memberikan isyarat agar semua orang diam. Kedua tangannya membuka tutup keranjang itu dengan perlahan.
"Tuan Dave?" lirih Frans, ia benar-benar terkejut melihat seorang Dave Winata tertidur di dalam keranjang rotan.
"Hanya Nona Aryn yang bisa merubah Tuan Dave yang kejam dan datar seperti tembok toilet, menjadi Tuan Dave yang konyol dan bucin seperti ini! Jadi pengen nikah," gumam Frans yang senyum-senyum sendiri.
"Astaga, Dave! Susah payah aku mencarimu, aku sudah mengira jika kamu meninggalkanku! Ternyata kamu malah enak-enak tidur di dalam sini!" seru Aryn.
Dave meringkuk seperti bayi di dalam keranjang itu. Ia sama sekali tidak terusik dengan suara Aryn. Frans dan para pengawal hanya menatap Dave dengan tatapan tidak percaya.
"Daveeee!! Banguuunnnn!" teriak Aryn di depan wajah suaminya.
"Sepuluh menit lagi, sayang!" jawab Dave, ia menjawab sama persis saat ia dibangunkan Aryn seperti biasa.
Aryn menepuk jidatnya sendiri. Dave ini mengantuk atau memang doyan tidur.
"Sepuluh menit lagi ya? Jangankan sepuluh menit, kamu boleh tidur di keranjang ini semalaman," ucap Aryn terkekeh.
"Keranjang?" lirih Dave sambil menggosok kedua matanya.
"Oh My God ! Aku ketiduran di keranjang ini, shit!" umpat Dave.
"Siapa suruh sembunyi di dalam situ?" tukas Aryn.
"Aku hanya ingin mengerjaimu, tapi kamu terlalu lama aku jadi ketiduran hehehe!" sahut Dave, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah drama petak umpet Dave yang gagal itu, mereka kembali ke vila karena sudah masuk waktu makan siang. Frans sudah menyiapkan makan siang khusus untuk mereka berdua di balkon.
..............
Dave ada-ada saja ya readers? Semakin lama sepertinya Dave ketularan menjadi jahil ya? Walaupun gagal tapi setidaknya ondel-ondelnya Aryn ini sudah berusaha wkwkwk,
Stay tuned ya! Dan ikuti terus keseruan kisah mereka berdua!
__ADS_1