
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Keesokan harinya,
Seperti biasa Aryn duduk santai di meja makan menunggu suaminya menyajikan menu sarapannya. Dave sudah terbiasa dengan dapur. Setiap pagi sebelum ke kantor dia sendiri yang menyiapkan sarapan dan susu untuk Aryn. Bos mafia berubah drastis setelah kehadiran Aryn dalam hidupnya. Wajah yang dulu sedatar tembok toliet pun menjadi banyak tertawa sekarang.
Aryn dan Dave pasti sarapan di jam yang lebih awal daripada Silvi dan Uti. Karena Dave selalu berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Pernah suatu hari Aryn bertanya kepada Dave, mengapa suaminya itu berangkat lebih awal dari pegawainya.
"Kenapa kamu selalu berangkat lebih awal dari pegawaimu, sayang? Kamu kan bosnya," tanya Aryn.
"Aku pemimpin di perusahaan itu, apapun yang aku lakukan pasti mereka perhatikan dan mereka jadikan panutan. Dengan itu juga aku ingin mereka merasakan jika aku berjuang bersama mereka untuk memajukan perusahaan," jawab Dave.
Sungguh jawaban yang tidak terduga. Aryn merasa beruntung bisa menjadi istri Dave. Walaupun pertemuan mereka tidak menyenangkan waktu itu.
"Susu hangat rasa alpukat untuk mommy dan baby!" Dave meletakkan segelas susu di hadapan Aryn.
Aryn tersenyum menatap suaminya yang selalu menyiapkan kebutuhannya dan baby mereka.
"Terima kasih, daddy!" sahut Aryn dengan senang.
Dave menatap Aryn yang tengah meminum susunya dengan bersemangat. Sonya menghampiri meja makan dengan kedua tangannya yang membawa dua piring spageti buatan Dave. Sonya bertugas melayani khusus kebutuhan Aryn, tapi terkadang ia juga membantu pekerjaan lain.
"Terima kasih, Sonya!" ucap Aryn saat Sonya meletakkan piring spageti di meja.
"Sudah menjadi tugasku," sahut Sonya.
Sonya kembali ke dapur, sudut matanya melihat Frans yang berdiri di sudut dapur bersama dengan penjaga lain. Sonya buru-buru mengalihkan pandangannya saat ia tahu Frans juga menatapnya.
"Apakah dia baru saja menatapku?" gumam Sonya.
Frans menatap Sonya lebih lama sampai Sonya salah tingkah dibuatnya. Bungkus spageti yang seharusnya ia masukkan ke tempat sampah justru ia masukkan ke dalam kulkas.
"Bungkus spagetinya tidak usah dimasukkan ke kulkas, kalau ada spagetinya tidak apa-apa!" Ily terkekeh.
"Eh," Sonya tersadar, ia segera mengambil bungkus itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Bodoh sekali aku! Jadi malu sendiri kan!" gumam Sonya.
"Menarik," gumam Frans.
Dave dan Aryn sempat menoleh, mendengarkan keributan yang terjadi di dapur. Mereka ikut tertawa melihat tingkah Sonya.
"Spageti lagi?" Aryn tertawa kecil.
"Hanya ini masakanku yang layak makan," Dave tertawa.
Aryn teringat beberapa hari yang lalu Dave mencoba untuk membuat sup. Karena terlalu bersemangat, sup yang ia buat hanya bersisa sayur-sayuran yang menempel pada panci saja. Dave saat itu sibuk mengiris bawang merah untuk digoreng sesuai permintaan Aryn. Ia tidak memperhatikan kuah supnya yang surut. Pagi itu Dave menyajikan panci, wadahnya membuat sup kepada Aryn. Aryn ingat betul waktu itu Dave mengatakan sayang maaf sepertinya pancinya bocor, kuah supnya habis menetes dan aku tidak menyadarinya. Aryn hanya bisa tertawa, mana mungkin peralatan memasak di mansion ini ada yang bocor, apalagi panci itu terlihat sedikit gosong. Aryn selalu tertawa jika mengingatnya.
"Benar juga, spageti ini masakanmu yang layak untuk dimakan selain nasi goreng! Rasanya lumayan..." komentar Aryn saat memasukkan sesendok spageti ke dalam mulutnya.
"Spageti ini instan, aku hanya perlu menghangatkannya di microwave hehehe," Dave menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dave dan Aryn tertawa bersama.
__ADS_1
Para pelayan dan penjaga yang melihatnya seperti terhipnotis. Aryn lah yang bisa membuat Dave tertawa selepas ini. Suatu hal yang dulu terbilang haram untuk Dave lakukan. Tapi sekarang menjadi wajib dilakukan. Mereka menikmati sarapan mereka dengan sesekali bercanda.
"Apakah kamu sudah menemukan Ara?" lirih Aryn saat membantu Dave memakai dasinya.
Sudah menjadi kebiasaan Aryn untuk membantu Dave memakai dasi dan jasnya.
"Semua anak buahku sudah berusaha, tapi aku belum juga menemukannya. Kamu tahu bukan aku tidak bisa pensiun sebelum Ara ditemukan? Jadi kamu tenang saja aku akan menemukannya!" Dave menangkup kedua pipi Aryn.
Sesuai dengan janjinya dulu, Dave akan membubarkan kelompok mafianya setelah para musuhnya teratasi. Misi terakhir mereka adalah menemukan Ara, adik tiri istrinya. Di samping itu mereka masih aktif melakukan transaksi gelap berbagai macam senjata. Keputusan untuk pensiun benar-benar harus diperhitungkan waktunya. Tentu banyak musuh Red Blood yang akan memanfaatkan momen pensiun itu untuk menguasai dunia gelap daratan Amerika yang berada di kekuasaan kelompoknya.
"Selamat pagi," sapa Ken yang baru saja datang.
Seperti biasanya Ken datang untuk menjemput Dave. Tangan kanannya selalu siap memegang iPadnya. Tapi hari ini ada yang berbeda dengan Ken. Wajahnya masam, tidak secerah hari-hari sebelumnya.
"Saya bacakan jadwal hari ini Bos?" ucap Ken.
"Nanti saja," sahut Dave.
"Siap, bos" jawab Ken lemas.
"Sekarang katakan, apa kau tidak mendapatkan jatah semalam?" Dave tertawa kecil.
"Kamu ini," Aryn menepuk pelan bahu Dave.
"Biarkan saja! Lihatlah wajahnya ini, lebih kusut dari pantat ayam!" Dave tertawa.
Ken memutar bola matanya dengan malas. Bosnya ini sungguh menyebalkan. Ucapannya semakin pedas di telinga. Walaupun ucapan Dave benar ia tidak mendapatkan jatahnya semalam. Naina marah karena Ken memakan kulit ayam goreng miliknya. Ken merasa istrinya itu sangat berlebihan.
"Semalam aku tidur dibalkon," lirih Ken. Aryn dan Dave saling menatap lalu tertawa bersama.
"Selingkuh? Naina mau menikah dengannya saja sudah harus bersyukur dia, mana ada perempuan yang mau menerima pria batu seperti dia!" Dave mengejek.
Ken menghela napas panjang. Sabar Ken, batinnya.
"Aku memakan kulit ayam goreng miliknya," lirih Ken.
Aryn dan Dave saling menatap, lalu tertawa bersama. Mereka dikelilingi oleh orang-orang dengan pasangan yang aneh.
"Ini tidak lucu, bos! Aku lapar sekarang, dia tidak masak apapun untukku!" Ken kesal.
"Makanlah dulu, Ily akan menyiapkannya," ucap Aryn di sela tawanya.
"Tidak ada bantahan, dia sudah mengorbankan waktunya untuk bekerja keras untukmu. Biarlah dia makan dulu kasihan istrinya marah!" Aryn menghalangi Dave yang akan mengomel.
"Baik, nyonya!" sahut Dave terkekeh.
Ken duduk di meja makan, menunggu makanan. Beberapa saat kemudian Ily datang dengan membawa makanan untuk Ken. Ken menatap wajah Ily, wajah wanita yang pernah ia sukai dulu. Tapi takdir memiliki jalannya masing-masing. Ia dipertemukan dengan Naina dan menikah dengannya. Ily juga sudah bahagia bersama Joe.
"Terima kasih," ucap Ken. Ily hanya tersenyum lalu meninggalkan meja makan untuk kembali ke dapur.
Dave menunggu Ken di ruang tengah. Pertama kalinya Dave menunggu Ken untuk berangkat ke kantor. Biasanya Ken lah yang menunggu. Aryn benar-benar bisa membuat Dave menjadi pribadi yang lebih baik. Dave menjadi lebih sering tersenyum, bercanda, dan ramah kepada karyawan maupun anak buahnya. Walaupun sekarang sekalipun Dave sedang bercanda, tapi ucapan yang keluar dari mulutnya selalu membuat orang sakit hati. Sebelumnya Dave sangat tegas kepada anak buahnya dan pelayan yang bertugas di mansion. Dulu, sebelum Aryn datang di mansion itu, untuk kesalahan kecil yang dibuat pelayan atau penjaganya, Dave tidak segan-segan menyiramkan air panas ke tubuh mereka.
"Maaf, bos! Sudah membuatmu menunggu," seru Ken yang sudah menghampiri Dave di ruang tengah.
__ADS_1
"Bagus kalau kau sadar diri," sahut Dave.
"sabar," gumam Ken.
Dave memeluk Aryn cukup lama, lalu mencium kening dan perutnya. Rasanya berat untuk pergi ke kantor. Dave mengecup bibir Aryn sekilas.
"Sayang, hari ini aku libur saja deh!" ucap Dave.
"Kenapa?" tanya Aryn.
"Aku tidak mau meninggalkanmu," jawab Dave, walaupun dengan ekspresi yang datar tapi berhasil membuat Aryn terkekeh.
"Kalau begitu aku ikut," Aryn menampilkan senyum manisnya.
"Sungguh?" Dave bertanya lagi.
"Iya," Aryn mentoel hidung Dave.
Dave menggandeng tangan Aryn, membawanya masuk ke dalam mobil. Ia merasa senang Aryn ikut bersamanya.
---------------------------
Di kamar Silvi,
Silvi baru saja selesai mandi. Ia memakai baju seragamnya. Pagi ini ia merasa tidak bersemangat. Reza akan kembali ke Paris pagi ini. Rasanya ia hanya bertemu sebentar dengan Reza kemarin. Ia masih belum puas. Apalagi ia harus merahasiakannya. Silvi menyisir rambutnya dengan malas-malasan. Hingga nada dering ponselnya mengagetkannya. Dengan cepat ia mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari Reza.
"Halo, kak?" ucap Silvi.
"Halo, Silvi! 1 jam lagi pesawatku lepas landas!"
"Kakak serius mau berangkat ke Paris pagi ini?" Silvi berkata lirih
"Dua rius malahan!"
"Kak, aku tidak sedang bercanda!" pekik Silvi
"Aku juga,"
"Kenapa buru-buru sekali? Perusahaan itu kan milik orang tua, kakak! Tapi Kak Reza bersikap seperti pegawai, orangtua kakak tidak akan memecat kakak hanya karena libur sebentar, apalagi orangtua Kak Reza tinggal di mansion yang ada di kota sebelah," ucap Silvi.
"Aku harus menyelesaikan urusanku dengan wanita yang membuatmu cemburu buta sampai menghilang lama. Aku juga harus segera membuktikan kepada kakakmu, aku bukan cowok brengsek dan manja!"
"Baiklah," Silvi menghela napas berat.
"Aku janji akan selalu menghubungimu,"
Tut,
Silvi memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Ia merasa kesal sekaligus sedih karena kepergian Reza ke Paris untuk yang kedua kalinya. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
"Huft..." Silvi keluar dari kamarnya, ia akan turun untuk sarapan bersama Uti.
....................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar ya! Love you all!