
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
...............................
Mobil Ferrari F60 milik Dave melaju dengan mulus meninggalkan tempat itu. Selang lima menit, tiga mobil hitam tiba di lokasi kejadian. Mereka semua adalah anak buah Dave. Mereka mengangkut mayat dan dua orang yang masih selamat ke dalam mobil. Sesuai perintah Dave, dua orang yang masih hidup itu akan diangkut ke mansion. Beberapa orang lainnya membersihkan lokasi kejadian, mereka juga menyingkirkan mobil Aryn yang remuk di beberapa bagian.
Tidak jauh dari lokasi dibalik semak belukar, ada seseorang berpakaian serba hitam diam-diam merekam kejadian yang terjadi di hadapannya. Ia mengakhiri rekamannya setelah ketiga mobil anak buah Dave meninggalkan lokasi. Baru kemudian ia akan laporan kepada bosnya.
Di sebuah kamar yang bernuansa hitam, seorang pria duduk termenung di depan meja kerjanya dengan menatap sebuah foto. Dalam foto itu terlihat seorang ayah dan putranya sedang tersenyum menatap kamera. Setiap hari hanya itu yang ia lakukan di dalam kamarnya jika tidak mengecek kantor. Saat jam menunjukkan pukul 2 pagi, baru ia memaksa matanya untuk terpejam. Setelah kepergian ayahnya, kehidupannya kosong. Tidak ada ekspresi yang terlihat di wajahnya selain kebencian.
Tok...tok...tok
"Masuk!"
"Silahkan tuan!" anak buahnya menyerahkan sebuah ponsel kepadanya.
Dengan malas ia memutar video yang ada di ponsel itu. Seketika matanya melotot.
Prang,
Ponsel itu dibanting ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Serangan pertamaku berhasil, Samuel brengs*k itu berhasil kulumpuhkan. Tapi kenapa serangan kedua sampai serangan keempatku gagal semua? Adiknya yang polos gagal kuracuni, anak mami itu juga gagal kukerjai... Arrggghhh!"
Prang,
Dibantingnya semua benda yang ada di kamarnya. Sorot matanya menatap tajam sosok anak buahnya yang selama ini menjadi orang kepercayaannya.
"Kau sama sekali tidak becus menjalankan rencana yang sudah kubuat matang-matang!" teriak pria itu.
"Maaf, tuan! Tapi memang yang anda hadapi sekarang bukan orang sembarangan," jawab anak buahnya.
"Kau bahkan memuji musuhku! Cih, sebenarnya siapa yang aku jadikan orang kepercayaanku ini!"
"Tapi..."
"Cukup!" teriak pria itu.
Tangan kanannya seperti mengambil sesuatu yang ada di dalam saku jasnya.
"Kau sudah tidak aku butuhkan lagi, kau sama sekali tidak becus!"
Dor dor dor,
__ADS_1
Tiga peluru menembus dada anak buahnya. Dia jatuh terjerembab di lantai dengan darah yang sudah merembes kemana-mana. Tubuh anak buahnya kaku tidak bergerak sama sekali, tewas seketika. Sesaat kemudian ia membalikkan tubuh anak buahnya yang sudah tidak bernyawa, ia injak dadanya hingga darah segar terus mengucur dari dadanya. Teriakan amarah yang di selingi tawa memenuhi langit-langit kamar itu.
Sementara di dalam mobil, Dave mulai dihinggapi rasa khawatir. Luka di tangan Aryn masih saja mengeluarkan darah. Padahal tadi ia sudah membalutnya dengan saputangan miliknya. Aryn terlihat sedikit pucat dan sesekali meringis kesakitan. Dihadapan Aryn Dave terlihat biasa saja, bukan Dave namanya jika tidak bisa menampilkan muka datar andalannya. Tapi sebenarnya ia khawatir juga, hanya gengsinya masih agak tinggi jadi ia memilih untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya. Dave mempercepat laju mobilnya, ia juga sudah mengirim pesan kepada Paman Kevin untuk datang ke mansion.
"Mobil itu," lirih Dave.
Ia melihat sebuah mobil yang familiar terparkir di halaman mansionnya. Terlihat jelas ada semburat kekesalan pada sorot mata Dave.
"Aku bisa jalan sendiri!" seru Aryn saat Dave akan menggendongnya.
Dave menghembuskan napasnya dengan kasar. Wanita yang ia hadapi ini keras kepalanya bukan main. Ia berjalan di belakang Aryn dengan kedua tangannya berjaga-jaga jika Aryn mendadak lemas.
"Dave," seru Erick.
Kedua pasang mata seorang papa dan putranya bertemu. Tidak terlihat adanya ikatan di antara mereka. Dave justru mengalihkan pandangannya. Ia menatap wanita yang berdiri di sebelah papanya, yaitu mamanya, hanya beberapa detik lalu ia mengalihkan pandangannya. Dan Aryn menunjukkan senyum termanisnya untuk kedua mertuanya. Seperti yang sudah-sudah mertuanya hanya melengos tidak mempedulikannya.
"Dimana Silvi, Dave?" tanya Katy.
"Di rumah sakit!" jawab Dave.
"Sandiwara apa lagi ini? Bukannya kau yang membawanya pulang?" seru Erick.
Flashback on
Tiga puluh menit sudah berlalu, tapi Silvi belum juga di bawa kembali ke kamarnya. Katy terlihat mondar-mandir di dekat bed pasien.
"Coba papa cek deh Silvi ada dimana!" seru Katy.
Dengan langkah penuh wibawanya, ia menyusuri lorong rumah sakit. Semua pegawai, perawat, maupun dokter yang berpapasan menunduk hormat kepadanya. Tentu saja mereka menghirmati Erick, rumah sakit ini adalah salah satu aset perusahaan Dave. Sesampainya di depan ruang rountgen, Erick celingukan melihat pintu yang sebagian terbuat dari kaca. Tapi ruangan kosong.
"Bukannya dokter yang tadi membawa Silvi saya untuk rountgen, sekarang dimana Silvi?" tanya Erick.
"Maaf, tuan! Tadi Tuan Dave sudah menjemput Nona Silvi dan membawanya pulang, ini kesalahan saya lupa menginformasikan!" jawab sang dokter.
Erick mengepalkan kedua tangannya, "Lama kelamaan Dave itu sudah seperti musuh bagiku, ingin bertemu putriku sendiri saja sangat sulit! Anak kurang ajar itu bahkan mengajari adiknya untuk melawanku!" gumam Erick.
Flashback off
Pikiran Dave menerawang jauh, mencoba menganalisa apa yang terjadi sebenarnya. Tapi tiba-tiba Aryn terduduk di sofa, wajahnya semakin pucat. Darah Aryn merembes keluar. Dave melihat sekilas mobil Paman Kevin sudah terlihat, ia segera menggendong Aryn ala bridal style. Alhasil Aryn terkejut dan meronta untuk diturunkan.
"Lepaskan aku, Dave!" protes Aryn.
"Kalau kulepaskan sekarang juga, bisa dipastikan lukamu akan bertambah banyak!" ancam Dave.
Aryn terdiam, kini ia pasrah berada di dalam gendongan Dave. Ia bahkan semakin mengeratkan pelukannya pada leher Dave.
"Dave!" seru Erick.
"Kalian duduk-duduk dulu dengan santai, sebentar lagi pelayan akan membawakan minuman hangat untuk kalian! Nanti aku akan membawa Silvi turun menemui kalian!" jawab Dave yang langsung masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Dengan perlahan Dave merebahkan tubuh Aryn di ranjang. Selang lima menit Paman Kevin dan dua orang perawat masuk ke dalam kamar mereka dan langsung melakukan tugasnya. Luka di tangan Aryn dibersihkan dengan hati-hati. Tindakan yang mereka lakukan tentu tidak luput dari pemantauan Dave.
"Pelan-pelan!" seru Dave saat salah satu perawat memberikan salep pada luka Aryn yang sudah selesai dijahit.
Perawat mengangguk dan menuruti perintah Dave. Mereka mengoleskan salep dengan sangat perlahan. Itupun Dave masih saja protes.
"Hey! Jangan kau tekan!" seru Dave.
Salah satu perawat yang akan menutup luka Aryn dengan perban langsung mengangkat tangannya ke udara karena saking terkejutnya. Paman Kevin hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, keponakannya ini memang sungguh menyebalkan. Perawat lainnya tetap melanjutkan membalut luka itu, sepertinya ia perawat senior dan sudah hapal dengan tabiat Dave.
"Balutkan perbannya dengan hati-hati!" seru Dave lagi.
"*Untung tampan! Kalau tidak sudah aku tinggalkan nona ini dari tadi!"
"Apapun yang kami lakukan selalu salah di matamu, tuan! Tuhan tolong bantu kami untuk segera menyelesaikan tugas penuh tekanan ini huhuhu*!"
Huffftttt
Akhirnya luka Aryn tertutup perban dengan sempurna. Perawat mengelap keringat dingin di dahinya.
"Perdarahannya sudah berhasil kuhentikan, untuk empat sampai lima hari ke depan jangan biarkan luka istrimu terkena air! Ini obat dan beberapa vitamin untuknya! Kami permisi," ucap Paman Kevin.
"Mari kuantar sampai ke lift!" seru Dave.
Sebelum meninggalkan kamar, Dave menatap sekilas Aryn. Terlihat Aryn sudah tertidur di ranjang, syukurlah wajahnya tidak pucat lagi. Ia menutup pintunya dengan perlahan, ia mengantarkan Paman Kevin sampai ke depan pintu lift.
"Terima kasih, Dave!" seru Paman Kevin, ia berniat menyindir Dave yang sama sekali tidak berterimakasih.
"Sama-sama, paman!" jawab Dave dengan tampang tanpa dosa.
Paman Kevin menghembuskan napasnya dengan kasar. Mana mungkin seorang Dave mengeluarkan kata-kata sakral itu. Sekarang Dave harus menyelesaikan satu persatu masalahnya. Dan ia akan memulainya dari masalah Silvi.
Dave melangkahkan kakinya dengan tegas menuju kamar Silvi, tanpa mengetuk ia langsung membuka pintu itu.
"Kak Dave aku bisa jelaskan semua ini!" seru Silvi panik.
"Aku tahu, pasti mereka mendatangimu di rumah sakit bukan? Mereka memaksamu untuk ikut bersama mereka?" sahut Dave.
"Iya, kak! Kakak tahu bukan, aku tidak suka tinggal bersama mereka! Jadi aku menelpon Kak Reza untuk membantuku," jawab Silvi.
"Sudah kuduga, kau melibatkan Reza! Sekarang mama papa ada di bawah, temui mereka untuk beberapa menit!" ucap Dave.
"Aku tidak mau kak!" seru Silvi.
"Silvi... Seburuk apapun sikap mereka kepadamu, mereka tetap mama dan papamu! Temui mereka sebentar beberapa menit saja, jika mereka mulai membicarakan bisnis merea atau mulai memaksamu untuk pulang kau beristirahatlah kembali!" seru Dave.
Silvi menyetujui perkataan Dave. Ia berjalan perlahan mengekor di belakang Dave menuju ruang tamu, menemui mama dan papa mereka.
.........................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All
Follow IGku: Sekararum142