Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
TAMU MANDIRI


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Aryn berjalan perlahan di sekitar kolam. Kedua matanya sejak tadi menatap ke dalam kolam. Dave sedang berenang di sana rupanya. Sementara Aryn berjalan mengelilingi kolam. Kelahiran baby mereka tinggal satu bulan lagi. Aryn disarankan untuk berjalan-jalan di area mansion dan melakukan senam untuk ibu hamil. Agar persalinannya nanti lancar. Kalau masalah jenis kelamin baby mereka, baik Aryn maupun Dave sengaja tidak ingin mengeceknya. Biarlah menjadi kejutan untuk mereka nantinya.


"Sayang, aku lelah! Sejak tadi aku sudah seperti gangsingan," keluh Aryn.


Dave berenang menepi, naik ke pinggi kolam. Ia meraih jubahnya lalu menghampiri Aryn yang sudah terduduk lemas di kursi pinggir kolam.


"Pegal sekali pinggangku," keluh Aryn.


"Sini biar aku pijat," ucap Dave.


Dave duduk di belakang Aryn, tangannya dengan lihai memijat pinggang Aryn.


"Aku akan membuat janji dengan dokter obgyn terkenal untuk melakukan operasi cesar," ucap Dave.


"Sudah aku bilang, aku ingin melahirkan secara normal!" jawab Aryn.


"Aku tidak tega melihatmu kesakitan, sayang! Sembilan bulan kamu mengandung baby kita, membawanya kemanapun! Kedua kakimu saja bengkak seperti itu, sudah cukup aku tidak ingin melihatmu kesakitan!" ucap Dave sendu.


"Dokter Dessy mengatakan kandunganku sehat dan aku juga mampu untuk melakukan persalinan normal, sayang! Kamu tidak perlu terlalu mencemaskannya, semuanya akan baik-baik saja! Dokter Dessy juga seorang dokter obgyn hebat di negara ini." sahut Aryn.


"Baiklah... Oleh karena itu kita harus berusaha agar persalinannya normal, kamu ingat tidak artikel yang aku baca kemarin?" tanya Dave.


"Yang mana?" Aryn bertanya balik.


"ML akan mempercepat persalinan," bisik Dave.


"Dasar omes!" Aryn memukul bahu Dave.


"Siapa omes?" tanya Dave.


"OMES, otak mesum!" seru Aryn.


"Biarkan saja! Kalau mesumnya sama istri tetangga baru itu salah, ini mesum sama istri sendiri kok!" Dave cengar-cengir.


"Duduknya jangan deket-deket gini," keluh Aryn.


"Kenapa?" Dave justru semakin mendekatkan tubuhnya pada Aryn.


"Ada Mei," Aryn menunjuk Mei yang tiba-tiba muncul di dekat mereka.


"Kenapa kau selalu datang kemari? Lama-lama aku semakin yakin kau itu bukan manusia, tiba-tiba muncul, di waktu yang tidak tepat pula!" Dave kesal.


"Kau baru tahu ya kalau aku bukan manusia? Buka matamu lebar-lebar, aku ini bidadari surga!" jawab Mei.


"Bidadari? Mungkin maksudmu itu malaikat!" sahut Dave.


"Ah iya benar, aku malaikat berhati mulia..." Mei merentangkan tangannya.


"Bukan, malaikat maut!" Dave tertawa kecil.


Bug,


Karena marah, Mei melemparkan sepatunya ke wajah Dave. Seketika aroma terasi memenuhi lubang hidung Dave yang mancung itu.


"Astaga! Sudah berapa minggu sepatu ini tidak kau cuci!" pekik Dave yang langsung melemparkan sepatu itu ke kolam.


"Sebenarnya belum kucuci sejak aku membelinya bulan lalu hehehe" Mei menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dave dan Aryn saling menatap tidak percaya. Gadis bermata sipit, kulit putih, body bohai macam Mei bisa jorok seperti ini. Benar-benar gadis langka.


"Spesies langka," celetuk Dave.


"Habislah! Kolam renang kita tercemar, sayang!" seru Aryn yang langsung memanggil pelayan untuk mengambil sepatu itu.


Mei cengar-cengir saat melepas sepatunya yang lainnya. Ia duduk di sebelah Aryn. Aryn sedikit bergeser menjauhinya. Mei mendekati Aryn lagi. Tapi Aryn bergeser lagi.


"Hey... Lihatlah perut sahabatmu sudah besar, jangan mengganggunya! Lebih baik cepatlah menikah agar kau berhenti menggangguku dan Aryn!" seru Dave.


"Carikan dulu jodohnya!" balas Mei.


"Sepatu bau terasi seperti itu masih yakin dapat jodoh?" Aryn terkekeh.


"Kamu tahu kan, aku tinggal sendirian di apartemen. Aku mengerjakan semuanya sendiri jadi lupa deh mencucinya hehehe," ucap Mei.

__ADS_1


"Banyak alasan," seloroh Dave.


"By the way, aku tamu loh! Tidak ada jus dan camilan?" tanya Mei tanpa malu.


"Syukurlah masih sadar diri kalau kau ini tamu! Biasanya kalau mau makan ngambil sendiri ke dapur," seru Dave meledek Mei.


"Iya benar sekali! Tapi Aryn kan selalu bilang kalau aku harus menganggap mansion ini seperti rumahku sendiri, jadi aku akan menjadi tamu yang mandiri!" Mei berjalan santai menuju dapur.


"Tamu yang mandiri... Cih!" keluh Dave.


Dave mendudukkan bokongnya di samping Aryn. Ia masih mengomel tentang Mei. Tapi masih saja Aryn membela. Aryn berkata kalau tidak ada Mei nanti sepi, sunyi, hambar, dan lain-lain.


Cup,


Dave terdiam seketika. Bibirnya yang terus mengomel sejak tadi mendadak mendapatkan kecupan singkat dari bibir Aryn.


"Jangan marah-marah terus, nanti awet tua loh!" goda Aryn.


"Kamu ini...." Dave menghujani wajah Aryn dengan kecupan.


"Cut!" teriak Zack menggema layaknya sutradara.


Dave dan Aryn menatap ke sumber suara. Zack berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Adegannya sampai di sini dulu! Gua mau minta tanda tangan nih!" seru Zack yang mendekati Dave sambil menunjukkan sebuah berkas.


"Kenapa tidak minta tadi waktu di kantor?" tanya Dave.


"Lo sih pulang awal terus!" protes Zack.


"Terserah gua lah, gua bosnya!" Dave menyombongkan diri.


"Laper nih, nggak disuguhin cemilan gitu?" seru Zack.


"Inikah namanya jodoh?" lirih Aryn di dekat telinga Dave.


"Sepertinya begitu, biarkan mereka bertemu hari ini," lirih Dave.


"Ambil sendiri di dapur!" seru Dave.


"Jadilah tamu yang mandiri, pelayan di sini banyak tugasnya!" seru Dave.


"Cih, tamu mandiri! Tamu yang mandiri atau tuan rumahnya yang malas? Tamu adalah raja, tapi di mansionmu ini derajat tamu anjok menjadi pelayan!" sahut Zack kesal.


Zack melangkahkan kakinya menuju dapur. Mulutnya tidak hentinya mengomel. Gunanya apa punya pelayan banyak tapi tamunya disuruh mengambil minuman dan makanan sendiri. Dave dan Aryn tertawa puas. Setelah ini Zack dan Mei akan bertemu.


"Semoga saja tidak bertengkar, aku takut perabot dapur rusak!" Aryn tertawa kecil.


"Biarkan saja! Sekarang aku mau menjenguk jagoanku!" Dave menggendong Aryn.


"Kenapa kamu selalu memanggilnya jagoan? Kita tidak tahu baby kita laki-laki atau perempuan," ucap Aryn.


Dave melotot matanya ke arah Aryn karena Aryn tidak berpegangan. Akhirnya Aryn merangkul leher Dave. Dave membawa Aryn ke kamar mereka.


"Jawab, sayang!" seru Aryn kesal karena pertanyaannya tadi belum dijawab oleh Dave.


"Apanya? Apa yang harus aku jawab?" tanya Dave.


"Iisshh... Pertanyaanku yang tadi! Kenapa kamu selalu memanggil baby kita jagoan? Padahal kita tidak tahu nanti babynya laki-laki atau perempuan!" seru Aryn.


"Karena aku berharap babynya laki-laki," jawab Dave membuat Aryn terkejut.


"Bukankah kita sudah sepakat?" tanya Aryn.


"Aku berpikir, kalau babynya laki-laki, aku dan dia bisa menjagamu!" jawab Dave.


"Aaa... So sweet!" Aryn tersipu malu.


 ---------------------


Di dapur,


Mei sibuk membuka almari pendingin. Ia ingin minum yang segar. Diambilnya sebuah semangka dari rak almari pendingin. Ia teringat kesegaran jus semangka yang dipesan Aryn sewaktu di kantor Dave waktu itu.


Ily dan Sonya yang melihat tidak menegurnya, karena Mei bukan orang asing lagi bagi penghuni mansion. Terutama pelayan bagian dapur. Mei adalah pengotor dapur. Belum lama Mei berada di dapur tapi lantai dapur sudah dihiasi kulit semangka yang bertebaran.


"Aku buatkan sekalian untuk Aryn, kalau Dave biar dia mengunyah kulitnya hahaha!" Mei bermonolog.

__ADS_1


Sonya dan Ily hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Mei. Mei selalu bermusuhan dengan Dave.


"Pelayan selusin, tamu disuruh mengambil minuman dan cemilan sendiri!" Zack masih mendumel.


Langkah kakinya terhenti tepat di belakang Mei yang sedang membuat jus. Zack terdiam dan mengamati apa yang dilakukan Mei.


"Jujur aku rindu denganmu, rindu dikejar!" gumam Zack.


Mei memasukkan semua potongan semangka ke dalam blender, ditambah sedikit susu. Entah karena lupa atau tidak tahu, Mei tidak menutup blendernya. Dan sekarang Mei menyalakan blendernya.


Jjroott....


Semua isi blender melayang ke udara, terjadilah hujan jus semangka di dapur. Wajah Mei dipenuhi jus yang belum sempurna diblender. Ily dan Sonya saling menatap lalu tertawa keras. Benar dugaan mereka, dapur menjadi kacau karena ulah Mei. Mei membalikkan tubuhnya.


"Aaaa... Hantu semangka!" teriak Mei histeris.


Zack melotot, ia melirik lemari kaca di sebelahnya. Wajahnya penuh dengan jus semangka. Tampak mengerikan dengan biji-biji semangkanya yang ikut menempel di wajahnya. Sonya dan Ily tidak bisa berhenti tertawa. Sonya mengambil ponselnya dan memotret Zack dan Mei.


"Ngaca dulu!" seru Zack.


Mei menoleh ke arah almari kaca. Ia terkejut melihat wajahnya yang juga dipenuhi jus semangka lengkap dengan bijinya.


"Aaaa....Kenapa aku juga jadi hantu semangka?" teriaknya dengan keras.


"Tutup mulutmu, suaramu membuat telingaku berdengung! Semua ini ulahmu, hanya membuat jus saja sampai mengacaukan dapur!" Zack membungkam mulut Mei


Deg,


Mei dan Zack saling menatap. Dari sudut dapur Sonya terus memotretnya. Tangan Zack masih membungkam mulut Mei. Jantungnya berdetak tidak beraturan.


"Astaga Mei! Fokus! Kendalikan jantungmu! Aku tidak boleh seperti ini! Jangan sampai Zack tahu kalau aku masih menyimpan perasaan untuknya!" gumam Mei .


Zack lengah, ia terhanyut dalam tatapan mata Mei. Mei menggigit tangan Zack.


Aauuww...


Zack langsung menggibaskan tangannya, mengerang kesakitan. Bekas gigi Mei tertinggal di tangannya. Mei berlari meninggalkan Zack yang terus mengumpat.


"Hey mau kemana kau? Dasar gadis gila!" umpat Zack saat Mei berlari meninggalkannya.


Zack berlari menyusul Mei. Semua pelayan dan penjaga tertawa melihat Mei dan Zack kejar dengan wajah yang dipenuhi jus semangka.


"Berhenti kau! Sini kugigit tanganmu, kau harus merasakan sakitnya!" seru Zack.


"Tidak mau! Kejar saja kalau bisa, aku mantan atlet lari di sekolahku dulu!" sahut Mei.


Mei berlari dengan cepat. Zack sampai berhenti beberapa kali karena kelelahan. Sepertinya Mei memang benar mantan atlet. Kini Zack mengejar Mei yang berlari menuju kebun Silvi.


"Nanti kalau dia capek juga berhenti sendiri!" ucap Zack, ia beristirahat di bawah pohon alpukat yang rindang.


Mei masih terus berlari masuk ke dalam kebun. Napasnya mulai tersengal-sengal. Ia akhirnya berhenti, mengatur napasnya. Lututnya terasa pegal. Ia menoleh ke belakang.


"Loh dia kemana?" ucap Mei.


Mei tidak melihat Zack di sekitarnya. Ia pun berlari kembali. Ia sudah berlari jauh rupanya. Dari kejauhan ia melihat Zack yang duduk bersandar di pohon alpukat. Mei menghampirinya.


"Kenapa berhenti? Sudah kejar-kejarannya?" tanya Mei saat berhenti di hadapan Zack.


"Capek, istirahat dulu! Sini!" Zack menepuk rumput yang menjadi alas duduknya.


Mei mengangguk, ia merebahkan bokongnya di sebelah Zack. Menggunakan tangannya untuk kipas. Sesekali tangannya menyeka keringat.


"Nah, kena kau!" Zack memegang tangan Mei.


"Kamu curang!" pekik Mei.


Zack menggenggam tangan Mei dengan erat. Mei berusaha melepaskan tangan Zack, tapi Zack lebih kuat. Zack membuka mulutnya bersiap untuk menggigit Mei. Mei memejamkan kedua matanya.


Plak,


Mei menggunakan tangannya yang dipegang Zack untuk memukul pipi Zack dengan lumayan keras. Zack mengerang kesakitan lagi. Mei langsung berdiri dan berlari meninggalkan Zack lagi.


"Awas kau ya!" teriak Zack.


.................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Love you All!

__ADS_1


__ADS_2