Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
RENCANA KEJUTAN


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Tidak terasa, perkiraan persalinan Aryn tinggal satu minggu lagi. Semua penghuni mansion mempersiapkannya dengan matang. Ken sudah aktif menghandle urusan kantor karena Dave lebih sering menemani Aryn sekarang. Setiap hari selalu ada sebuah mobil yang sengaja di parkir di depan pintu utama mansion, Dave yang memintanya. Agar saat Aryn mengalami kontraksi mereka bisa langsung meluncur ke rumah sakit. Erick dan Katy sudah tiga hari ini menginap di mansion Dave. Mereka sudah tidak sabar menanti cucu pertama mereka.


Sebagai suami dan calon papa yang siaga, Dave mengikuti kelas untuk belajar menggendong, mangganti popok, sampai memandikan baby. Dave dan Aryn sepakat, mereka tidak menggunakan jasa baby sister nantinya.


Sore ini, Aryn berjalan di sekitar kolam renang. Dave selalu menggandeng tangannya, tidak pernah meninggalkannya sendiri. Setiap pagi dan sore hari Aryn selalu berjalan-jalan dan sedikit melakukan yoga untuk ibu hamil. Agar persalinannya bisa lancar nanti. Tubuh Aryn bulat seperti kebanyakan ibu hamil, tidak hanya perutnya saja yang membesar kedua pipinya juga ikut membesar. Dave dan Aryn mengobrol ringan berjalan memutari kolam.


"Sudah cukup, ayo duduk!" Dave membawa Aryn duduk di bangku pinggir kolam.


"Terima kasih, sayang!" ucap Aryn saat Dave memberikan jus strawberry untuknya.


Dave mengelus perut istrinya dengan penuh cinta. Baby yang ia tunggu-tunggu beberapa hari lagi akan terlahir ke dunia. Ia membayangkan akan ada suara tangis baby di mansion ini.


"Apakah kejutannya sudah siap?" tanya Aryn.


"Sudah beres," Dave mengacungkan jempolnya.


Hari ini bertepatan dengan hari bersejarah 31 tahun lalu. Hari dimana kedua orang tua Dave mengucap janji suci mereka. Seburuk apapun perbuatan kedua orangtuanya di masa lalu, mereka tetap orang tua Dave. Mereka juga sudah menyadari kesalahan yang mereka perbuat dan minta maaf. Dave berencana akan mengadakan pesta kejutan. Sederhana, namun Dave berharap bisa menyenangkan kedua orang tuanya. Tidak banyak orang yang ia undang, hanya sahabatnya saja. Sejak sore ini mereka berusaha membuat Erick dan Katy untuk tidak masuk ke kamar mereka.


"Aduh, jagoan daddy mau sup ya?" ucap Dave dengan suara yang dikeras-keraskan saat Katy lewat di dekat mereka.


"Benarkah Aryn?" seru Katy.


Dave tersenyum, Seperti dugaannya Katy menghampiri mereka.


"Iya, ma! Aku ingin sup, dengan sedikit ditaburi bawang goreng. Pasti nikmat dimakan sore-sore!" jawab Aryn.


"Kamu harus merasakan sup buatan mama kalau begitu," ucap Katy.


"Tidak usah ma, biar pelayan saja yang membuatnya!" jawab Aryn.


"Biar mama saja, menantu dan cucu mama harus merasakan sup buatan mama!" Katy beranjak menuju dapur.


"Papa dimana, ma?" seru Dave.


Katy menoleh, "Silvi memintanya untuk ikut memetik alpukat!" jawab Katy.


Pluk,


Dave dan Aryn melakukan tos. Rencana mereka pasti akan berhasil.


"Tapi sayang, aku tidak yakin dengan supnya!" ucap Dave saat Katy sudah pergi.


"Kenapa?" tanya Aryn.


"Sejak aku kecil dulu, mama itu tidak pernah masuk ke dapur, apalagi menyentuh kompor! Masak air saja sampai kering pancinya!" jawab Dave.


"Astaga! Kamu harus membantuku untuk memakannya," Aryn terkekeh.


"Baiklah..." jawab Dave lemas.


------------------------------- 

__ADS_1


Di kamar Erick dan Katy,


Zack dan Samuel memasang hiasan di dinding kamar itu. Ken, ia mengambil kue pesanan sekaligus menjemput Naina. Mei dan Angel memompa balon, balon-balonnya akan diterbangkan ke langit-langit kamar. Sementara Frans, ia menggendong Kelyn. Putri Samuel dan Angel. Kelyn tidur pulas di gendongan Frans, saat akan dipindah ke ranjang Kelyn menangis, mau tidak mau Frans yang bertugas menjaga Kelyn.


"Sudah cocok lo!" seru Samuel.


"Iya bener itu, Kelyn anteng banget sama lo!" sahut Angel.


"Ehem...." Mei melirik Frans.


"Kamu kenapa?" seru Zack.


"Ehem....." Mei masih melirik Frans.


Zack menyadari, kalau Mei melirik Frans. Pasti Mei sedang berusaha mendekati Frans.


"Minum nih! Eham ehem aja dari tadi!" Zack memberikan segelas air.


"Sewot banget sih!" protes Mei.


"Lihat deh, aura kebapakkannya terlihat jelas sekali," Mei menyenggol tangan Angel agar Angel mendengarkannya.


Samuel terkekeh, ia menaikkan sebelah alisnya. Angel yang melihatnya juga tertawa.


"Berapa lama aku harus menggendongnya?Tanganku kesemutan!" keluh Frans.


"Duduklah, taruh bantal ini dibawah tangan lo! Kelyn tidur pulas, kalau dia bangun nanti rewel!" Angel memberikan bantal pada Frans.


"Biar aku bantu!" Mei bangkit dari duduknya, hendak membantu Frans.


"Aku bisa sendiri," ucap Frans.


"Nah, meleyot nggak tuh? Ditolak mentah-mentah," Samuel terkekeh.


"Frans cuek banget sih, tapi justru yang cuek begini yang bikin penasaran!" ucap Mei.


"Ngomong apa kamu ini, selesaikan balonnya!" Zack sewot.


Zack sengaja menghalangi Mei yang akan menghampiri Frans. Alhasil Mei kesal dan memilih untuk melanjutkan tugasnya. Mengisikan nitrogen ke dalam balon. Agar semua balonnya terbang ke langit-langit kamar.


Sesekali Mei melirik Frans yang masih menggendong Kelyn. Frans memang sangat tampan dengan kulit eksotisnya. Debaran jantung Mei berbeda. Berbeda dengan saat bersama Zack. Apakah ia sudah melupakan Zack dan menaruh hari pada Frans? Tidak ada yang tahu.


"Lo tau nggak? Cowok seperti Frans itu tipenya modelan gitar spanyol," Angel berbisik pada Mei.


"Benarkah?" tanya Mei.


"Iyalah! Pada dasarnya semua pria akan tertarik pada bentuk seperti gitar spanyol!" jawab Angel.


Mei melirik tubuhnya. Tubuhnya memang tidak seperti gitar spanyol. Tapi ukuran dada dan bemper belakang miliknya sepertinya terbilang lumayan. Hanya saja Mei lebih sering menggunakan baju yang longgar.


"Apakah ini sudah cukup?" tanya Mei sambil membusungkan dadanya.


"Lumayan sih, tapi hanya pas di tangan saja! Kalau dibandingkan denganku saja masih jauh," Angel terkekeh.


"Apakah ada rahasia untuk membuatnya seperti itu?" bisik Mei.

__ADS_1


"Dipijat hahaha," jawab Angel.


"Tidak ada cara lain, yang instan gitu?" tanya Mei.


"Mana aku tahu," sahut Angel.


Obrolan itu berakhir begitu saja. Menyisakan banyak pertanyaan di benak Mei. Selama ini Mei memang kurang memperhatikan penampilannya. Baju yang kelonggaran, kadang tidak match dengan celananya. Dan lagi, bentuk tubuhnya yang pas-pasan, pantas saja dia jomblo. Walaupun kulitnya putih, wajahnya bersih, tapi kalau penampilannya seperti itu, siapa yang tertarik? Ia harus sedikit membenahi diri.


-----------------------


Di kebun,


Silvi ikut andil dalam rencana pesta kejutan untuk orangtuanya. Oleh karena itu, ia mengajak Erick untuk memetik alpukat bersamanya.


"Ini bisa dipetik?" tanya Erick.


"Bisa, pa! Itu tiga buah di dekatnya juga sudah masak!" jawab Silvi.


Postur tubuh Erick tinggi, dan pohon alpukat di sini tidak terlalu tinggi. Jadi beberapa ranting dapat digapai Erick dengan mudah. Sebaliknya, tubuh Silvi tidak terlalu tinggi sama dengan Katy, mamanya. Kakaknya yang memiliki postur tubuh sama dengan papanya. Silvi memetik alpukat dengan bantuan sebuah tongkat panjang yang sudah dilengkapi corong di ujungnya. Buah alpukatnya tidak akan jatuh ke tanah.


"Dimana pria itu?" tanya Erick membuat Silvi terkejut.


"Siapa yang papa maksud?" Silvi bertanya balik.


"Reza lah, pria yang kamu selamatkan dari peluru Dave waktu itu," Erick terkekeh.


"Papa tidak tahu? Kak Dave menyuruhnya untuk pergi jauh dariku," jawab Silvi.


"Jadi dia benar-benar pergi?" tanya Erick.


Erick tahu jika Dave dan Reza mempunyai masalah hari itu. Tapi ia tidak tahu kalau Dave sampai memusuhi Reza dan menyuruhnya pergi.


"Iya," jawab Silvi singkat.


"Kemana?" Erick menatap putrinya. Erick tahu ada kesedihan yang disembunyikannya.


"Paris," lirih Silvi.


"Kamu tidak menyusulnya? Bukankah kamu sangat tergila-gila padanya, sayang?" Erick terkekeh.


"Silvi takut pada kakak," Silvi tertawa lirih sambil memeperhatikan sekelilingnya.


"Biar nanti papa yang bicara padanya," ucap Erick.


Mereka berdua kembali memetik buah alpukat yang sudah siap panen itu. Erick terlihat sangat menikmati momen bersama putrinya. Sebelumnya ia tidak pernah memperhatikan putrinya. Erick dulu hanya sibuk mengurus bisnis, hingga akhirnya Silvi lebih memilih tinggal bersama Dave. Putrinya ternyata sudah tumbuh besar. Menjadi sosok gadis yang lincah, pemberani, dan ceria. Erick sangat terkejut saat Silvi mengenalkan hewan peliharaannya hari itu. Kebun ini juga membuatnya terkejut.


"Sepertinya papa juga ingin mempunyai kebun di mansion papa," ucap Erick.


Silvi menatap lekat Erick, "Papa dan mama tinggal bersama kami saja, kebun ini akan menjadi milik papa juga." ucapnya.


"Dengan senang hati, papa menerima tawaranmu! Nanti papa bicarakan dengan kakakmu," Erick merangkul putrinya itu.


....................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian!

__ADS_1


__ADS_2