
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Tidak kalah seru dengan acara belanja Zack dan Mei. Silvi dan Reza tengah berbincang online di kelas Silvi. Kelas itu masih sepi.
"Kelasnya kok sepi?" tanya Reza.
"Jelas lah! Kak Reza masih belum percaya aku siswa ter-rajin?" tanya Silvi.
"Kalau siswa terkisruh itu baru bisa dipercaya!" Reza terkekeh.
"Masih nggak percaya? Lihat tuh tukang kebunnya saja baru datang!" Silvi mengarahkan kamera ponselnya pada seorang tukang kebun yang berjalan membawa perlengkapan kebersihan.
"Mantab!! Lalu dimana Frans dan pengawalmu?" tanya Reza.
"Dua orang berjaga di depan kelas, Frans dan pengawal lainnya kusuruh menunggu di kantin memesan kopi! Tapi kasihan kantinnya belum buka, mungkin mereka akan menunggu lama hehehe!" sahut Silvi.
Reza tersenyum, dalam hatinya ia berjanji akan membahagiakan gadisnya ini. Gadis yang selalu memperjuangkannya, bahkan pernah menjadikan dirinya sebagai tameng untuknya.
"Kak Reza kenapa? Kok sedih gitu?" tanya Silvi.
"Kamu selalu berjuang untukku," lirih Reza.
"Baru tahu ya? Makanya cepat kawinin aku!" seru Silvi.
"Nikah bukan kawin! Nikah itu tidak semudah yang kamu pikir, nikah lalu hamil, tidak sesimpel itu!" sahut Reza.
"Kenapa Kak Reza selalu menghindar kalau aku meminta untuk dikawini? Aku tahu Kak Reza bertemu dengan gadis melon itu minggu lalu kan?" seru Silvi.
Minggu lalu Silvi mendapatkan foto kiriman dari Doni. Silvi sebenarnya sudah tidak memata-matai Reza, tapi Doni memang pindah ke Paris sejak dua bulan lalu untuk urusan pekerjaannya yang juga dipindahkan Dave ke Paris. Foto itu menunjukkan Reza sedang di hadang oleh Zara. Di foto itu Reza terlihat biasa saja, bahkan menghindari dari gadis itu. Tapi si gadisnya yang kegatelan, memamerkan dada melonnya untuk menggoda Reza.
"Gadis melon?" Reza tertawa keras.
"Iya, Zara itu lo! Itunya kan sama seperti melon!" sahut Silvi kesal.
"Kan sudah kubilang, aku tidak suka melon! Tapi sukanya jeruk," Reza mengedipkan sebelah matanya.
Silvi spontan menunduk, melihat kepunyaannya. Lalu ia berpikir keras.
"Kalau jeruk nipis?" tanya Silvi.
"Jeruk nipis? Jeruk mandarin lah biar mantab dan pas ditangan hahaha!" Reza tertawa.
Silvi melihat kepunyaannya yang hanya sebesar jeruk nipis. Sedangkan Reza ingin yang besarnya seperti jeruk mandarin. Apa yang harus ia lakukan?
"Kamu kenapa?" tanya Reza.
"Tidak apa-apa kok," Silvi memaksa untuk tersenyum.
Reza tertawa, ia tahu apa yang dipikirkan oleh Silvi. Ia tadi hanya bercanda saja, ia pasti menerima dan mencintai Silvi apa adanya. Tidak peduli itu jeruk mandarin ataupun jeruk nipis. Tapi Reza tidak tahu kalau Silvi menganggap serius ucapan Reza tadi. Silvi menjadi murung sekarang.
"Kak Reza sudah dulu ya, Silvi mau cari sarapan ke kantin," Silvi mengakhiri sambungan telepon mereka.
"Baiklah, take care!" sahut Reza.
Tut,
__ADS_1
Silvi menatap layar ponselnya. Ia mengetik sesuatu di ponselnya, mencari informasi dari ponselnya.
"Produk apa ini?" lirih Silvi saat mendapatkan hasil pencarian di ponselnya.
Produk yang muncul di ponselnya terlihat asing. Sepertinya tidak ada di negaranya. Ia harus mencari tahu. Produk ini penting untuknya, harus ia dapatkan.
Silvi sibuk berkutat dengan ponselnya, teman-teman kelasnya mulai berdatangan. Silvi cuek kepada mereka, karena memang ia tidak punya teman di kelasnya. Bukan karena alasan, Silvi tidak suka gaya mereka yang sok kaya dan cantik. Daripada berteman dengan mereka dan menghabiskan uang jajannya untuk shopping di mall, selama ini Silvi lebih memilih menyendiri dengan membaca novel atau bermain ponsel.
Sampai waktu sekolah selesai pun, Silvi benar-benar tidak berinteraksi dengan temannya. Hanya saja waktu Silvi keluar dari kelas, ada saja temannya yang mengoloknya. Mengatakan Silvi anak manja dan suka pamer karena punya banyak pengawal alias bodyguard. Silvi hanya cuek.
"Jangan!" teriak Silvi pada pengawalnya yang akan mendekati siswi itu.
"Mundur!" Frans memberikan perintah pada pengawal yang lain.
"Ayo Kak Frans pulang! Orang seperti mereka tidak perlu ditanggapi! Terkadang orang yang banyak mulut itu tidak punya otak untuk berpikir!" seru Silvi berjalan menjauh.
"Baik, nona!" jawab Frans sambil melirik siswi yang tadi mengolok Silvi.
Siswi itu memalingkan wajahnya lalu melenggang pergi menuju mobilnya. Silvi menunggu pengawal membukakan pintu mobil. Kebetulan hari ini Silvi menggunakan mobil Dave yang jarang dipakai. Mobilnya tengah di servis. Sebuah BMW X6 M tengah menunggunya.
"Dasar sombong! Ke sekolah saja pakai mobil semewah itu dan bawa banyak bodyguard! Dewasa dikit dong, manja! Harta milik orang tua dan kakak saja disombongin!" seru siswi itu.
"Aku bawa mobil ini karena semua mobil di garasi memang seperti ini semua. Bukan pamer, tapi memang keluargaku mampu! Dan satu hal lagi, kakakku sangat peduli dengan keamananku karena itu dia membayar mahal bodyguard!" sahut Silvi sinis dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Cih..." siswi itu menatap sinis Silvi.
Silvi duduk dengan santai di dalam mobil tanpa memikirkan siswi yang mengejeknya tadi.
"Apa perlu diberi pelajaran, nona?" tanya Frans.
"Baik, nona!" jawab Frans terkekeh.
Silvi kembali fokus pada ponselnya. Ia mencari informasi sebanyak mungkin dari produk yang ia temukan di internet tadi. Mengenai fungsi sampai efek sampingnya. Sementara Frans fokus mengemudikan mobil. Hening, tidak ada obrolan di dalam mobil sampai mereka tiba di mansion Dave.
Ada mobil Erick di halaman, Silvi menegok sebentar lalu masuk ke dalam mansion. Frans mengekor di belakangnya.
"Silvi... Bagaimana sekolahmu nak?" tanya Katy.
Erick dan Katy hari ini berkunjung. Mereka membawa beraneka macam perlengkapan bayi bermerk untuk calon cucu mereka. Bahkan Erick membawa sebuah mobil mainan yang berukuran besar.
"Seperti biasa ma, lancar! Mama dan papa apa kabar?" Silvi memeluk Erick dan Katy bergantian.
"Kami sehat, dan semangat karena menyambut Dave junior tentunya!" sahut Erick.
"Tapi kenapa papa beliin mobil mainan untuk calon keponakanku? Calon keponakanku itu perempuan yang akan menjadi idaman para lelaki!" protes Silvi.
"Dave juga selalu memanggilnya jagoan," imbuh Aryn.
"Calon cucu papa pasti laki-laki, dia yang akan meneruskan perusahaan papa!" jawab Erick.
"Kalau di lihat-lihat sepertinya anda benar pak besan, perut Aryn terlihat sangat bulat dan mancung ke depan!" sahut Uti.
"Wah.. benar juga!" sahut Katy.
"Benarkah itu Uti?" tanya Dave dengan antusias, sementara Silvi cemberut.
"Konon katanya begitu. Tapi laki-laki atau perempuan bukan suatu masalah, yang penting ibu dan bayinya sehat," Uti menengahi.
__ADS_1
"Samuel dan Angel sudah lama tidak datang kemari? Anaknya sudah lahir bukan?" tanya Erick.
"Iya, pa! Baby mereka baru mendapat imunisasi kemarin, badannya demam dan sedikit rewel! Minggu lalu Samuel bolak-balik ke luar negeri juga, jadi mereka tidak bisa sering datang main kesini!" jawab Aryn.
Mereka mengobrol bersama di ruang tengah. Bahkan Frans turut bergabung. Silvi hanya berganti mandi di kamarnya lalu turun untuk bergabung juga. Keluarga ini jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Erick dan Katy semakin dekat dan menyanyangi Aryn. Aryn merasa mempunyai mama dan papa. Erick dan Katy belajar dari kesalahan di masa lalu, mereka tidak memaksakan kehendak mereka lagi pada Dave maupun Silvi.
Kini Dave dan Aryn membuka satu persatu perlengkapan baby yang dibawa Erick dan Katy. Banyak sekali, ada berbagai model baju baby, topi kecil yang lucu, dan juga sepatu untuk baby. Di saat mereka tengah asik membuka perlengkapan, Zack dan Mei datang.
Zack dan Mei berjalan gontai menghampiri semua orang di ruang tengah. Masing-masing dari mereka menenteng belanjaan, dan di belakang mereka juga ada beberapa anak buah yang membantu.
"Sudah semua?" tanya Dave.
"Belum lah, ini baru sebagian! Almari, box bayi, ayunan, dan bak mandinya belum sempat memilih! Dikira gampang?" jawab Mei.
"Gampang lah, tinggal tunjuk-tunjuk saja! Lagipula aku yang bayar!" sahut Dave.
"Tidak semudah itu kawan! Gadis ini lebih lama berada di toilet daripada membantuku memilih!" seru Zack membuat semua orang tertawa.
"Jangan asal menyalahkan orang lain dong! Ini juga gara-gara Zack! Masak dia memilih warna pink semua!" Mei mulai emosi.
"Karena lucu semua!" sahut Zack.
"Seleramu feminim sekali, Zack! Sejak kapan casanova tengil sepertimu menyukai pink?" seru Dave.
"Apa kata babyku nanti, mau dipanggil aunty Zack...." imbuh Aryn.
"Suami istri ini kompak banget kalau mengataiku. Lagipula apa masalahnya dengan warna pink, kalian juga belum tahu kan babynya berjenis kelamin apa kan?" ucap Zack.
"Cerewet banget, laki bukan sih!" seloroh Mei.
"Dasar anak muda! Kurang-kurangi bertengkarnya, kalian tidak takut jatuh cinta? Benci itu benih-benih cinta loh!" Katy menengahi Zack dan Mei.
"Tidak akan!!!!" jawab Zack dan Mei kompak.
"Nah kan! Sudah kompak begitu! Om telpon papamu saja ya, Zack! Biar cepat dinikahkan saja!" seru Erick yang tertawa lebar.
"Jangan om! Nanti papa tambah rewel minta menantu dan cucu!" seru Zack.
Sudah sejak lama papa Zack menyuruh putra sulungnya untuk segera menikah. Bisa jadi papanya langsung setuju jika Erick yang mengatakannya. Erick dan papanya berteman cukup dekat. Apalagi papa Zack rewel minta cucu.
"Telpon aja, pa!" seru Dave mengompori.
"Benar itu, pa!" imbuh Aryn.
"Iihh Aryn, tidak setia kawan!" seru Mei.
"Jangan sok gengsi, Mei! Nanti aku ikut rombongan mempelai wanitanya, aku suruh Dave membawa keluargamu kemari semua" Aryn antusias.
"Jangan ngada-ngada, sayang!" protes Dave.
"Maaf hehehe..." Aryn tersenyum manis pada Dave.
Zack dan Mei menjadi sasaran empuk mereka semua hari ini. Tidak hentinya mereka menjodoh-jodohkan Zack dan Mei. Tidak ada yang tahu jika sebenarnya di hati keduanya sudah sama-sama menyimpan rasa. Hanya saja masih ditutupi rasa gengsi.
.................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Love you All!
__ADS_1