
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Reza merentangkan tangannya lebar-lebar. Menghirup udara di negara yang menyimpan sejuta memori dan cerita. Walaupun panas, Reza tetap menikmatinya. Kedua matanya menatap bandara di hadapannya. Tiba-tiba ada yang mencolek bahunya. Reza menoleh, di belakangnya ada sepasang pria dan wanita tua.
"Tuan, bisakah anda minggir? Kami juga mau turun!" ucap pria tua itu.
Reza baru tersadar jika ia berhenti di tengah-tengah tangga pesawat, menghalangi penumpang lain yang akan turun dari pesawat. Reza cengar-cengir menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Silahkan," Reza menepi memberikan jalan.
Pasangan tua itu bergandengan menuruni tangga pesawat. Reza menatap mereka. Tas dari wanita itu dibawakan oleh suaminya. Sesekali mereka tertawa bersama.
"Aku berharap kita bisa menua bersama seperti mereka," lirih Reza sambil menatap foto yang selalu menjadi wallpaper ponselnya akhir-akhir ini.
Reza sangat jarang menggunakan pesawat pribadi, ia lebih nyaman menggunakan pesawat komersil seperti kebanyakan orang. Reza bergegas menuruni anak tangga, ia berlarian keluar dari bandara dan mencari mobil jemputannya. Sang sopir menancap gas ke tempat tujuan yang telah di beritahu Reza. Reza terlihat sangat segar walaupun hanya tidur beberapa jam di pesawat tadi. Orang yang akan ia temuilah yang membuatnya sesegar ini.
Jantungnya berdegup dengan kencang saat mobil yang ia tumpangi berhenti di depan sebuah gedung sekolah. Terlihat siswa dan siswi dari sekolah itu berhamburan keluar gedung. Reza melirik jam ditangannya. Sekarang waktunya siswa-siswi sekolah menengah itu pulang.
Reza fokus menatap seorang siswi yang berjalan sendirian tanpa seorang temanpun. Gadis itu berhenti di samping gerbang. Ia terlihat sedang mencari seseorang. Beberapa saat kemudian gadis itu berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Lalu ia duduk di bangku yang berada di seberang sekolah, bangku itu tepat di depan mobil Reza.
"Kukira akan sulit untuk menemuimu, tapi sekarang kamu ada di depan mataku," lirih Reza.
Reza bergegas turun dari mobil sebelum kesempatannya hilang. Jantungnya semakin berdegup kencang. Tidak lupa ia bawa boneka yang dibelinya sebelum kemari.
"Hi!" seru Reza gugup, ia menggunakan boneka yang ia bawa untuk menutupi wajahnya.
Gadis itu beranjak dari kursinya. Perlahan Reza menunjukkan wajahnya. Kedua mata gadis itu melotot, seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Kak Reza!" seru gadis itu.
"Aku datang, Silvi!" sahut Reza.
Ya, gadis itu adalah Silvi. Reza frustasi karena semenjak kejadian itu Silvi memutuskan semua akses komunikasi. Ia memutuskan untuk menemui Silvi untuk menjelaskan secara langsung. Kebetulan maminya juga menelponnya untuk pulang. Reza memanfaatkan kesempatan ini untuk menemui Silvi juga.
Reza merentangkan tangannya lebar-lebar, Silvi pasti juga sangat merindukannya. Kedua matanya terpejam menunggu pelukan hangat dari Silvi.
Bug bug bug,
"Auwww!" pekik Reza.
Bukannya mendapat pelukan pengobat rindu, Silvi justru memukul dada Reza berkali-kali. Air matanya mengalir dengan deras.
"Sakit Silvi!" keluh Reza.
"Sakit? Sakit ini tidak seberapa dengan sakit yang kamu berikan kak! Kak Reza ngapain ke sini? Belum puas membuatku patah hati?" seru Silvi.
"Aku mau menjelaskan semuanya!" Reza menangkap tangan Silvi yang memukuli dadanya.
"Menjelaskan apa lagi? Semuanya sudah jelas!" seru Silvi.
Reza menghela napasnya, ia menarik paksa tangan Silvi. Membawanya masuk ke dalam mobil.
"Lepaskan kak! Kak Reza jangan macam-macam!" teriak Silvi.
Reza tidak menghiraukan teriakan Silvi, ia harus meluruskan kesalahpahaman ini. Bagaimanapun caranya hubungannya dengan Silvi harus kembali seperti semula.
"Jalan pak!" perintah Reza.
Mobil Reza melaju kencang meninggalkan sekolah Silvi. Reza merebut ponsel Silvi, ia mematikan ponsel itu.
"Hentikan mobilnya!" seru Silvi.
Reza tidak menjawab, ia tidak melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Silvi. Silvi terus memberontak, tapi ia tidak bisa berbuat banyak apalagi tangannya digenggam oleh orang yang selama ini membuat hatinya gelisah. Silvi memandangi tangannya yang digandeng oleh Reza.
__ADS_1
Mobil berhenti di sebuah hotel yang tidak jauh dari sekolah Silvi. Reza menarik Silvi keluar. Banyak pasang mata menatap mereka, terutama para pegawai hotel. Mereka tidak percaya anak dari atasan mereka menggandeng seorang gadis yang bulan lalu baru genap berusia 16 tahun ke hotel. Apalagi Silvi masih menggunakan seragam. Reza membawa Silvi menuju kamar yang biasa disiapkan maminya untuknya. Hotel ini milik orangtuanya.
"Aku tidak menyangka Tuan Muda itu seorang pedofil,"
"Kak lepaskan! Kak Reza tidak dengar apa yang dikatakan resepsionis itu?" seru Silvi.
"Biarkan saja! Nanti aku suruh mami untuk memecatnya!" sahut Reza.
"Ini hotel milik mami?" tanya Silvi.
"Iya," jawab Reza dengan angkuh.
"Milik mami, bukan milik Kak Reza! Tidak ada gunanya menyombongkan harta milik orang tua!" seru Silvi.
"Kamu lihat nanti, perusahaan yang kakak teruskan akan berkembang dan menyaingi milik kakakmu!" sahut Reza.
Seorang pegawai hotel menghampiri Reza, memberikan kunci kamar yang biasa digunakan Reza jika berkunjung ke hotel itu. Reza memaksa Silvi untuk mengikutinya. Ia baru melepaskan tangan Silvi saat mereka sudah sampai.
Blam,
Reza menutup pintu kamar itu dan menguncinya. Ia berdiri mematung di samping pintu. Ia menatap Silvi.
"Kenapa Kak Reza mengunci pintunya?" Silvi gugup.
"Aku harus menyelesaikan semua ini! Akan aku buktikan semuanya!" Reza berjalan mendekati Silvi.
Silvi semakin gugup. Ia berjalan mundur menjauhi Reza. Ia merasa takut, memang ia dulu sering menghabiskan waktu bermain game di kamar bersama Reza. Tapi hari ini Reza terlihat berbeda. Ditambah mereka sudah pernah saling mengungkapkan perasaannya.
"Aku menghubungimu ribuan kali, tapi kamu tidak pernah memberiku kesempatan satu menit saja untuk mengatakan semuanya." ucap Reza.
"Tidak ada yang perlu dikatakan kak, semuanya sudah jelas!" Silvi terus berjalan mundur.
"Apanya yang jelas? Kamu langsung mempercayai apa yang kamu lihat sebelum mendengar penjelasanku! Ini tidak adil, aku berhak memberikan penjelasan!" seru Reza.
Bug,
Pletak,
"Apa yang kamu pikirkan! Dasar mesum! Jangan terlalu banyak baca novel!" seru Reza.
"Siapa yang mesum?" Silvi mengelak.
"Kenapa kamu menutup matamu? Kamu pasti berpikir aku akan menciummu bukan? Dasar mesum!" seru Reza.
"Iihhhh... Kak Reza jangan terlalu percaya diri! Aku menutup mata karena mataku kelilipan saja," elak Silvi.
"Banyak alasan!" seru Reza.
Reza menatap kedua mata milik Silvi. Ia snagat merindukan cinta tulus yang terpancar dari kedua manik kecil itu.
"Kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku beberapa bulan terakhir ini. Aku mengirim anak buahku untuk memantaumu setiap saat, setiap hari aku seperti orang gila! Aku masih tetap mengirimkan pesan pada nomor dan akun sosial media yang kamu non-aktifkan. Minum tidak enak, mau makan tidak nafsu, mau mandi selalu malas! Semua itu karenamu!" ucap Reza.
"Eww... Pantas saja Kak Reza bau!" Silvi menutup hidungnya.
Reza menggelengkan kepalanya. Ini yang membuat dirinya tergila-gila dengan gadis kecil itu. Biarlah ia dikatai pedofil, ia sanggup menunggu Silvi.
"Waktu kakak hanya satu menit untuk menjelaskan foto-foto itu!" seru Silvi.
"Silvi, kita tidak sedang sidang kenapa kamu pelit sekali!" keluh Reza.
"50 detik lagi..." sahut Silvi.
"Baiklah..." jawab Reza.
"Wanita yang ada dalam foto itu adalah mantan kekasihku, dia anak dari sahabat kecil papiku! Aku anak satu-satunya dari papi dan mami. Dulu sebelum aku lahir, papi membuat kesepakatan dnegan sahabatnya itu untuk menjodohkan aku dengan anaknya. Setelah aku tumbuh besar dan menjadi pria setampan ini, papi mengatakan hal itu. Awalnya aku tidak menolak karena wanita itu cantik dan sexy,"
__ADS_1
Plak,
Silvi menampar pipi Reza dengan sangat keras.
"Sakit Silvi! Kenapa kamu menamparku?" pekik Reza.
"Kak Reza mengatakan wanita itu cantik dan Sexy!" sahut Silvi.
"Memang itu kenyataannya, dia benar-benar cantik dan sexy!" jawab Reza.
Plak,
Pipi kirinya turut mendapatkan tamparan dari Silvi.
"Auuwww!" pekik Reza.
"Rasakan!" seru Silvi.
"Baru begitu saja kamu menamparku dua kali, bagaimana kalau aku mangatakan wanita itu cantik luar dan dalam, karena aku sudah pernah melihat semuanya! Hanya belum merasakannya saja," sahut Reza.
"Ooppss..." Reza menyadari kebodohannya, ia langsung menutup mulutnya. Tidak meneruskan perkataannya.
Plak,
Sekali lagi Silvi menampar pipi Reza. Untuk ketiga kalinya Reza meringis menahan perih di pipinya. Silvi sering ikut berlatih bertarung, menembak, bermain basket, berkuda, kadang juga memanah. Kekuatan tangan Silvi tentu dia atas kekuatan tangan wanita pada umumnya.
"Mau lagi?" tanya Silvi.
"Sudah...sudah cukup!" sahut Reza.
"Cepat lanjutkan! Waktu kakak sudah habis tapi karena aku baik dan tidak sombong jadi aku beri 1 menit lagi!" ucap Silvi.
"Waktuku habis karena kamu menamparku berkali-kali! Habis pipiku yang tampan ini!" keluh Reza.
"Jangan membuatku berubah pikiran," Silvi menatap tajam Reza.
"Baiklah," Reza menyatukan tangannya di depan dada, meminta maaf kepada Silvi.
"Awalnya memang aku tidak menolak, bahkan kami berpacaran waktu itu. Tapi aku harus ikut Mami ke negara ini, aku bergabung dengan Dave! Akhirnya kami menjalani hubungan jarak jauh. Baru beberapa bulan berjalan, anak buahku menangkap basah wanita itu sedang bermain dengan seorang pria di hotel. Aku meninggalkannya, tapi dia kembali mendekatiku lagi setelah dia tahu aku kembali ke Paris! Dia memanfaatkan nama papanya, papanya sekarang sedang dirawat intensif karena penyakit jantung! Aku bersumpah, aku sama sekali tidak berniat untuk kembali padanya. Kalau dalam foto itu aku memegang tangannya itu atas paksaannya dengan menggunakan nama papanya untuk mengancam. Karena papanya hanya tahu jika hubungan kami baik-baik saja. Aku sungguh tidak memiliki perasaan apapun dengannya. Sudah kukatakan bukan, aku hanya memikirkanmu!" Reza menunduk.
Silvi terdiam, ia merasa dirinya sudah salah paham. Seharusnya sejak dulu ia memberikan kesempatan untuk Reza memberikan penjelasan. Jadi baik dirinya maupun Reza tidak ada yang salah paham.
"Kenapa tidak sejak dulu Kak Reza mengatakan semua ini?" tanya Silvi.
"Bagimana caranya, kamu tidak pernah mengangkat telponku bahkan kamu menonaktifkan semuanya!" Reza tertawa kecil.
"Oh iya ya... Berarti Silvi yang salah ya kak?" sahut Silvi.
"Iya lah, kamu yang salah. Coba aja kamu mau mengangkat telponku," Reza berakting sedih.
"Maaf ya kak...Maafin Silvi," Silvi menggapai tangan Reza.
"Okay aku maafkan, tapi ada syaratnya!" jawab Reza. Reza benar-benar tidak menyangka Silvi bisa dengan mudahnya ia kerjai.
"Apa syaratnya kak?" tanya Silvi.
"Kamu tidak boleh lagi marah denganku," jawab Reza.
Silvi langsung mengangguk dengan cepat, "Iya aku tidak akan marah lagi" ucapnya.
"Thank you... Ayo aku akan mengantarmu pulang!" Reza menggandeng tangan Silvi. Reza berhasil membuat amarah Silvi meredam.
Silvi mengangguk, mereka berjalan beriringan menuju lift.
..................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian!