
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
..............................
Uti meraih tangan Aryn dan mekatakkannya di atas tangan Dave.
"Gandeng istrimu! Kalau diambil orang baru tahu rasa kau!" Uti terkekeh.
Dave tersenyum saat mendengar terjemahan dari Frans. Sementara Aryn, ia tersipu malu.
"Ayo!" ucap Dave.
Aryn berusaha mengimbangi langkah Dave yang panjang. Dave cuek, tidak menyadari jika Aryn sampai berlarian di belakangnya.
"Sumpah deh! Nggak cuma mukanya yang datar kaya tembok, tapi hatinya juga batu nggak peka sama sekali!" gerutu Aryn.
"Jangan mencelaku terus!" seru Dave saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Mobil Hummer H3 milik Dave meluncur membelah jalanan. Lalu lintas pagi ini cukup padat. Waktu tempuh yang seharusnya hanya 20 menit menjadi 40 menit. Kali ini Dave tidak menggandeng tangan Aryn. Dave berjalan jauh di depan Aryn, ia terlihat berjabat tangan dengan dua orang pria berseragam putih khas seorang pilot dan copilot.
"Selamat pagi, Nona!" sapa salah satu pramugari.
Aryn mengangguk dan tersenyum ramah. Aryn menatap takjub kemewahan jet pribadi milik Dave. Nampak Dave sudah siap di kursi penumpangnya.
"Aryn!" panggil Dave seraya menepuk kursi di sebelahnya.
Aryn mendudukan bokongnya di kursinya. Kedua matanya masih setia memandangi setiap sudut pesawat. Warna cream dan gold semakin menambah kesan mewah pada Dassault Falcon 900LX ini. Dave tersenyum simpul, dengan cepat ia memasangkan sabuk pengaman Aryn.
Aryn memang sering berpergian dengan menggunakan pesawat, tapi tetap saja ia selalu merasa takut saat akan take off ataupun landing. Tanpa sadar ia menggenggam tangan Dave dengan erat.
"Apakah kita akan menyebrang jalan?" seru Dave, pandangan matanya fokus pada jendela di sampingnya.
"Hah?" Aryn tidak mengerti arah pembicaraan Dave.
"Kau menggenggam tanganku dengan sangat erat," balas Dave.
"Maaf, aku sedikit takut!" ucap Aryn dengan malu-malu.
"Apakah kau tidak pernah naik pesawat sebelumnya? Bilang saja kau hanya ingin terus berdekatan denganku seperti ini!" ucap Dave yang mengedipkan sebelah matanya.
"Rasa percaya dirimu terlalu tinggi!" ucap Aryn.
Ia melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Dave. Lalu ia memalingkan wajahnya. Dave hanya terkekeh melihat tingkah Aryn. Belum lama Aryn melepas tangannya, tiba-tiba jet mereka seperti mengalami guncangan-guncangan kecil yang membuat Aryn ketakutan lagi. Aryn langsung memeluk erat lengan Dave. Dengan cekatan Dave melepas sabuk pengaman Aryn, lalu ia manarik Aryn ke dalam pelukannya. Dave hanya melakukannya sesuai instingnya saja. Ia berpikir jika sekarang ia harus menenangkan Aryn.
__ADS_1
"Jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan!" seru Aryn yang melepaskan pelukan Dave.
"Kau ini aneh sekali! Kau yang memelukku, aku hanya membalas pelukanmu!" balas Dave.
"Aku...aku kan hanya refleks saja!" seru Aryn, ia memasang kembali sabuk pengamannya.
"Tapi sebenarnya memang mau, kan?" Dave tersenyum menggoda Aryn.
"Terserah kau saja!" jawab Aryn yang membuat Dave terkekeh.
Dua orang pramugari tersenyum canggung dan berbisik-bisik saat melihat Dave dan Aryn yang sedang berdebat. Bagi mereka, adegan perdebatan Dave dan Aryn terlihat sangat menggemaskan dan lucu. Mereka langsung buru-buru membalikkan badan mereka saat Dave menatap dengan tajam.
........................
"Ini pizza pesanan tuan!" ucap penjaga.
"Oke!" jawab Reza yang menerima dua kotak pizza.
Reza bergegas membawa dua kotak pizza itu masuk ke dalam ruangan Silvi. Kedua mata Silvi tampak berbinar menatap sekotak pizza yang diberikan Reza. Reza duduk di sebelah bed Silvi, ia menikmati pizza yang ada di hadapannya dengan lahap. Hingga ada sisa pizza di sudut bibirnya.
"Kak," ucap Silvi sambil menunjuk sudut bibir Reza.
"Mana?" tanya Reza.
Silvi mengambil selembar tisu, ia mengelap sudut bibir Reza dengan penuh perasaan. Reza sama sekali tidak mempedulikan tatapan Silvi. Saat Silvi selesai mengelap sudut bibirnya, Ia langsung lanjut melahap pizzanya lagi.
"Jangan kebanyakan melamun!" seru Reza mengagetkan Silvi.
"Iy...iya kak!" ucap Silvi.
Silvi mengambil sepotong pizza dan memasukkannya sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. Tatapan matanya tidak berpindah sedetik pun.
"Jika memang Kak Reza jodoh wanita lain, maka jadikan aku wanita itu Ya Tuhan!" Batin Silvi.
Ting,
Suara notifikasi pesan masuk pada ponsel Reza membuyarkan lamunan Silvi.
Ini rekaman CCTV depan apartemen dan juga rekaman CCTV rumah sakit, tuan! Dan teman saya yang mengikuti mobil misterius di depan apartemen kehilangan jejak, tuan!
Rupanya anak buah Reza yang mengirimkan pesan. Ia juga menerima kiriman beberapa video rekaman CCTV. Ia kemudian memanggil kedua penjaga Silvi untuk masuk.
"Perhatikan baik-baik video ini! Tunjukkan pengantar pizza beracun itu!" seru Reza yang memutar rekaman CCTV rumah sakit.
Kedua penjaga itu mengangguk paham lalu melihat video dengan teliti.
"Stop, tuan! Itu dia orangnya!" seru salah satu penjaga.
"Sungguh?" Tanya Reza.
__ADS_1
"Iya, tuan! Saya masih ingat wajah dan postur tubuhnya!" jawab penjaga itu.
Reza menjeda video itu. Ia mengambil tangkapan layar berkali-kali.
"Sekarang kalian lihat video yang ini! Apakah orang ini sama dengan pengantar Pizza itu?" seru Reza.
"Wajahnya tidak terlihat, tapi postur tubuhnya berbeda jauh, tuan! Mereka bukan orang yang sama!" jawab penjaga.
Sekarang Reza segera meluncur ke apartemen Zack. Ia menyetir mobilnya sendiri, ada mobil SUV putih yang sengaja mengikuti Reza. Ternyata mobil itu isinya anak buahnya. Reza akam tiba di apartemen Zack dalam waktu 30 menit.
Begitu sampai, Reza langsung berlarian masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai 10 lantai dimana unit apartmen Zack berada.
"Bro!" seru Zack.
"Dimana Samuel?" tanya Reza.
"Santai, dia ada di dalam. Ayo masuklah dulu!" ucap Zack.
Zack membimbing Reza untuk masuk ke dalam apartemennya. Apartemen Zack ini juga tergolong apartemen mewah. Apartemen Zack didominasi warna abu-abu, jadi terkesan sangat maskulin. Reza mengekor di belakang Zack hingga mereka masuk ke dalam sebuah kamar. Terlihat Samuel sedang terbaring lemas tidak berdaya di ranjang. Ada banyak luka dan lebam di wajahnya, tapi tidak membuat ketampanannya menurun. Kepala Samuel dibebat perban putih. Ada luka dengan 2 jahitan di pelipisnya. Sepertinya luka di kepala Samuel tidak membuatnya lupa akan gebetan-gebetannya. Buktinya dengan keadaan yang masih lemas ini, ia sibuk membalas pesan dan sesekali mengangkat telepon dari gebetannya.
"Dasar! Lagi sakit masih saja sibuk mengumbar janji manis!" seru Reza yang membuat Samuel langsung menoleh ke arahnya.
"Eh lo, Za!" Samuel tersenyum lebar menunjukkan deretan giginya.
Samuel meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia duduk dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Kenapa mereka nyerang lo?" sahut Reza yang penasaran.
"Mereka cuma orang bayaran, gua masih belum tahu kenapa gua diserang!" jawab Samuel.
"Bisa jadi ini semua ulah Hans," Seru Reza.
"Gua juga mikir gitu, Za! Pasti Angel itu sudah menceritakan perbuatanmu kepada ayahnya! Sebagai ayah, pasti dia tidak terima putrinya diperlakukan seperti itu!" sahut Zack.
"Angel nggak mungkin buka mulut!" seru Samuel.
Samuel sangat yakin jika Angel tidak mungkin melaporkan kebejatannya kepada ayahnya. Karena Samuel mengancam akan menyebarkan video ranjang mereka jika Angel berani membuka mulut.
"Gua tadi juga hampir celaka!" ucap Reza.
"What happened, bro?" tanya Zack.
"Mobil Gua disabotase orang, apa mungkin penyerangan Samuel dan kejadian yang gua alami dalangnya sama?" seru Reza.
Samuel dan Zack mengangkat bahu mereka bersamaan.
..........................
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All!
__ADS_1