Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
KEPIKIRAN


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


...........................


Di pagi yang cerah ini Ken bermalas-malasan di ranjangnya. Sesekali ia mengecek hanphonenya. Juga iPad khusus untuk pekerjaannya. Seketika kedua matanya terbelalak melihat documen-dokumen kiriman anak buahnya. Salah satunya dari Doni.


"Kenapa Doni tidak menghubungi Dave langsung?" gumamnya.


Jarinya lincah mengotak-atik iPad miliknya. Membaca satu persatu dokumen itu dengan teliti.


"Apakah weekend ini harus gua habiskan untuk bekerja lagi? Kalau begini caranya jadi perjaka tua deh!" keluh Ken. Ia harus segera bersiap untuk mengikuti instruksi dari Doni. Sekelebat ingatannya dengan kejadian semalam muncu saat ia sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


Flashback on


Are you okay?" seru Ken.


"Gua nggak kenapa-kenapa kok, lumayan gua udah lama nggak olahraga!" sahut wanita itu, ia berbalik menghadap Ken.


"Lo?" seru Ken dan wanita itu bersamaan.


"Ternyata lo cewek sinting kemarin! Nyesel gua nolongin lo!" seru Ken.


"Lo pikir gua nggak kesel ditolongin sama pria mesum seperti lo!" balas wanita itu.


"Enak aja! Asal lo tahu gua kemarin salah masuk toilet!" Ken berkacak pinggang.


"Ohh," sahut wanita itu.


"Bener-bener nggak ada otak ya lo! Kemarin lo nendang aset gua sekarang nggak ada ucapan maaf sama sekali!" hardik Ken. Ia menatap tajam kedua bola mata wanita di hadapannya itu, "Tampang keren kayak gini!" lanjut Ken.


"Okay! Maaf.... Puas lo!" seru wanita itu.


Wanita itu berbalik dan melangkah meninggalkan Ken. Tapi sesaat kemudian langkahnya terhenti. Ia terlihat celingukan menoleh sekelilingnya yang gelap dan sepi. Awalnya ia terpaksa lewat jalan ini karena taksi yang ia tumpangi mogok di tengah jalan, jadi ia jalan kaki sampai tempat ini. Karena itulah ia dihadang preman brandalan tadi. Sekarang keadaannya berbeda. Setelah kejadian tadi ia sedikit ragu melanjutkan langkahnya.


Gimana nih...kalau gua balik lagi gengsi lah! Tapi kalau gua nekat jalan terus nanti dicegat lagi terus diculik, terus digilir... iiihhh serem! Gua bisa aja ngelawan, tapi kalau mereka bawa senjata! Aduh... Apalagi sekarang lagi rame-ramenya penemuan mayat tanpa organ dalam! Serem dah kalau ginjal gua diambil, metong dong gua!


Menyadari wanita itu hanya bengong do tempatnya, Ken berinisiatif menegur wanita itu duluan.


"Oy cewek sinting! Lo mau bareng nggak? Kalau nggak salah kemarin ada temukan mayat korban mutilasi di sekitar tempat ini!" seru Ken.


Ken berjalan santai masuk ke dalam mobil. Ia memejamkan matanya dan berhitung sampai tiga.


Satu...Dua...Tiga


Blam,


Wanita itu sudah berada di dalam mobilnya.


"Jalan!" seru wanita itu.


"Let's go!" seru Ken menancap gas meninggalkan tempat itu.


"Oh iya, cewek sinting! Rumah lo dimana?" ucap Ken tanpa menoleh wanita itu.


"Pertama-tama, jangan panggil gua dengan sebutan cewek sinting lagi, nama gua itu Naina!" protes Naina.


"Okay, Naina!" jawab Ken.

__ADS_1


Naina mengarahkan Ken hingga sampai di apartemennya. Ken bengong di belakang kemudinya.


"Lo tinggal di sini juga?" tanya Ken.


"Iya," jawab Naina datar.


"Aje gile, gua juga tinggal di sini. Lantai 10 unit 205!" seru Ken.


Naina tidak merespon Ken, ia bergegas turun dari mobil.


"Terima kasih!" seru Ken.


"Sama-sama!" sahut Naina.


Ken tersenyum sendiri sembari menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan menggemaskan Naina.


Flashback off


"Lagi-lagi kepikiran cewek sinting itu lagi! Huft... semoga bukan jodoh gua!" gumam Ken.


Secepat kilat ia menyelesaikan ritual mandinya. Ia tidak memakai jas hari ini, hanya kaos dan celana jeans saja. Mobilnya melesat kencang membelah jalanan kota. Ken harus ikhlas weekendnya kali ini ia habiskan untuk bekerja. Di tengah jalan sebuah mobil hitam menarik perhatiannya. Mobil itu selalu mengikutinya dari jarak yang lumayan jauh. Ken sengaja mengurangi kecepatannya, tapi mobil itu tidak berusaha mendahului mobilnya, mobil itu tetap melaju di belakangnya.


"Gua kerjain baru tahu rasa lo!" gumam Ken tersenyum smirk.


Dua ratus meter di depan akan ada perempatan. Di tengah perempatan utu terdapat sebuah air mancur besar, biasanya digunakan untuk memutar arah. Ken menambah kecepatan, sudut matanya menandnag spion. Mobil hitam di belakangnya juga terlihat menambah kecepatannya, tidak mau kehilangan jejak Ken.


Ketika sampai di perempatan itu, Ken sengaja berputar di air mancur itu beberapa kali. Mobil hitam itu melakukan hal yang sama. Ken sempat melihat jelas kedua orang yang berada di dalam mobil itu, mereka berpakaian serba hitam. Ia juga menghapal nomor plat mobil mereka. Setelah berkali-kali memutari air mancur, Ken melihat sebuah mobil box besar melaju dari arah selatan. Ken bergegas mengambil jalan ke arah barat. Perhitungan Ken tepat, mobil hitam di belakangnya berushaa mengikuti. Tapi sayang, mobil box melaju kencang dari selatan dan menabrak keras mobil hitam itu. Mobil hitam tadi terguling dua kali hingga mengeluarkan asap. Boom! Mobil itu meledak layaknya adegan dalam film Hollywood. Ken merasa seperti Vin Diesel dalam sesaat.


"Rasakan! Mobil pemberian Dave mantul juga!" seru Ken tersenyum penuh kemenangan.


Ferrari Spider berwarna biru itu diberikan Dave saat ia berhasil menenangkan tender besar. Ia bergegas menancap gas menuju mansion Dave sebelum masalah semakin bertambah. Menurut instingnya akan ada masalah baru menghampiri Dave.


"Musuh amatiran!" ledek Ken.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobilnya melewati jalanan pavling dengan mulus. Dari kaca spionnya terlihat jelas pria tadi mengamatinya sekarang.


"Bro!" seru Zack.


Ken mendongak, terlihat Zack berdiri di depan pintu utama mansion. Sepertinya Red Blood berkumpul hari ini.


"Lo ditelpon Reza juga?" tanya Zack.


"Enggak, gua ada kabar penting sekaligus genting!" seru Ken.


"What?" tanya Zack penasaran.


"Kuy kita masuk! Gua jelasin di dalam!" jawab Ken yang melangkah masuk duluan.


Zack memutar bola matanya malas, akhirnya mengekor di belakang Ken.


"Akhirnya kalian datang juga!" seru Dave.


"Dave, gua mau lapor!" seru Ken, ia berbicara kepada Dave layaknya sahabat saat di luar jam kerja.


"Gua udah tahu! Doni sudah menghubungiku!" sahut Dave.


Ken menghembuskan napasnya dengan kasar. Rupanya Doni juga memberitahu Dave semuanya, ia mengira jika baru dirinya yang tahu.


"Ada apa ini?" tanya Zack penasaran.

__ADS_1


Akhir-akhir ini Zack melewatkan acara kumpul bersama Red Blood. Hal itu karena pekerjaannya menumpuk ditambah masalah selingkuhannya.


"Makanya jangan selingkuh mulu!" ledek Reza.


"Sialan lo!" keluh Zack.


"Lo ngapain di sini?" tanya Zack pada Angel.


Zack cukup mengenal Angel, seorang model yang merintis karir dengan memacari pengusaha ternama. Tapi Zack tidak mengenal sosok Angel yang memimpin sebuah perusahaan ternama. Kelicikan Angel merintis karir cukup membuktikan seberapa kotornya wanita itu. Baru satu bulan lalu ia memutus kontrak kerja dengan Angel. Sebagai pemilik perusahaan entertainment paling kondang di negara ini, Zack tidak ingin mempekerjakan model macam Angel. Bahkan dulu Angel pernah menawarkan diri untuk tidur dengannya agar Zack membantu karirnya sebagai model.


"Calon istrinya Sam!" seru Ken yang berdiri di sampingnya.


"Gila lo, Sam! Gua nggak mau tahu, lo batalin rencana gila lo itu sekarang juga!" seru Zack.


"Udah mlendung duluan!" celetuk Reza membuat Samuel menoyor kepalanya.


"Duduk!" Dave melirik Ken dan Zack bergantian.


Ken memilih duduk di sebelah Samuel. Sementara Zack mengekor Ken, ia duduk di samping Ken.


"Angel hamil anaknya Samuel, setelah Samuel mendapatkan izin dari orangtuanya mereka langsung nikah!" Dave menjelaskan kepada Zack.


"Tapi dia itu...." protes Zack.


"Kalau nggak terlanjur melendung, gua juga bakalan nggak setuju!" seru Dave.


"Gua juga!" sahut Ken.


"Gua juga!" seru Reza.


"Aku juga!" ucap Silvi dengan kesal, ia sangat sangat tidak rela jika Babang Samuelnya menikahi wanita ular.


"Gua juga," sahut Angel membuat semua orang menatapnya.


"Gua cinta mati sama Dave!" ucapnya tidak tahu malu membuat semua orang melotot ke arahnya, tidak terkecuali Aryn.


Aryn merapatkan mulutnya, tangan kanannya mengepal di bawah meja.


"Nih garpu kak!" seru Silvi menyerahkan sebuah garpu.


Aryn memutar-mutar garpu di tangan kirinya. Matanya menatap nyalang Angel. Wajah Angel terlihat pucat pasi. Semua orang bergidik ngeri melihat Aryn yang seketika berubah menjadi garang.


"Bini Dave serem juga kalau lagi marah!" lirih Zack pada Ken.


"Lebih serem dari Dave! Ngeri kalau garpu itu sampai terbang ke mata Angel!" sahut Ken.


"Lo...lo tadi mau laporan apa Ken?" ucap Samuel bergetar, ia juga takut melihat kegarangan Aryn.


Prang,


Aryn menjatuhkan garpunya di piring. Semua orang menunduk takut. Tapi tidak dengan Silvi, ia malah tertawa cekikikan melihat Dave dan teman-temannya takut kepada Aryn.


"Eh... anu! Doni tadi menghubungiku," seru Ken karena terkejut.


"Ada masalah apa?" tanya Reza.


...............


Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya!

__ADS_1


__ADS_2