
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Berjam-jam Dave menyusuri semua sudut kota. Frans hanya bisa mengikuti perintah Dave yang duduk di jok belakang. Karena Ken sedang ada tugas lain, jadi Frans lah yang disuruh Dave untuk menemaninya mencari rambut peri. Sudah banyak toko snack yang Dave datangi, tapi tidak ada satupun toko yang menjualnya. Frans bisa menebaknya saat ia dan Dave akan masuk ke dalam toko snack itu, rambut peri terlalu kuno untuk dipajang di toko semodern itu. Bahkan Dave memerintah Frans untuk masuk ke dalam Asian Supermarket. Tapi lagi-lagi tidak ada rambut peri di sana. Ada satu Asian Supermarket yang menjualnya, sayangnya stoknya sudah habis.
"Biasanya di negaramu rambut peri dijual dimana?" tanya Dave pada Frans.
"Di depan sekolah, pasar malam, toko snack..." jawab Frans.
"Kita sudah mendatangi semua tempat itu, tapi tidak ada satupun yang menjualnya!" jawab Dave.
"Sepertinya mencari rambut peri di kota ini akan susah untuk dilakukan, tuan! Kita memang sudah meneliti semua toko snack, tapi toko snack di kota ini tidak menyediakan makanan kuno seperti itu. Apalagi di sekolah, semua sekolahan di kota ini sudah modern. Tentu makanan yang dijual juga tidak sekelas rambut peri. Sebaiknya mencari di kota lain," ucap Frans.
"Kau benar! Mencari rambut nenek di kota ini adalah mustahil. Aku harus mencari di kota lain tapi pasti membutuhkan waktu yang lama! Baiklah agar tidak membuang waktu lagi, aku akan segera menghubungi semua anak buahku! " seru Dave membuat Frans terkejut.
Dave cukup lama berkutat pada ponselnya. Ternyata ia benar-benar menghubungi semua anak buahnya. Ia juga mengirimkan perintah untuk anggota Red Blood melalui pesan group.
"Kalau aku tidak bisa mendapat rambut peri itu Aryn akan menolak untuk diperiksa besok, aku sudah tidak tahan lagi jika harus menjaga jarak 2 meter dengan Aryn! Aku harus mendapatkannya! Biarpun geng mafiaku juga harus mencarinya sampai ke pelosok negara!" gumam Dave.
Sesuai perkiraannya, semua anggota Red Blood tidak akan berani melawan perintahnya. Beberapa saat kemudian Dave tersenyum smrik sambil menatap ponselnya. Ia membayangkan hari ini para mafia akan menjelajah kota untuk mencari rambut peri. Sebelum pensiun dan bubar, bolehlah ia menyuruh mereka lagi.
"Maaf, tuan! Apakah tuan akan mengecek asian supermarket lagi? Satu kilometer lagi akan ada asian supermarket, asian supermarket terakhir di kota ini!" ucap Frans dengan menatap Dave dari kaca spion.
"Kenapa masih bertanya? Tentu aku akan mengeceknya!" seru Dave membuat Frans langsung terdiam.
Frans bergegas mengarahkan mobil bosnya itu masuk ke dalam area parkir supermarket. Ia mengekor di belakang Dave yang sudah berjalan masuk. Namun, lagi dan lagi asian supermarket itu tidak menjual rambut peri. Dave kembali ke dalam mobil dengan mulutnya terus mengomel.
"Sekarang kita akan kemana, tuan?" tanya Frans.
Hening, tidak ada jawaban dari Dave. Frans menghembuskan napasnya dengan kasar saat ia melihat Dave melalui kaca spion.
Dave sedang sibuk dengan ponselnya. Terlihat beberapa anak buahnya mengirimkan pesan memberikan laporan kepadanya. Ternyata anak buahnya yang tinggal di kota F tidak menemukan rambut peri pesanan Dave. Anak buah lain yang tinggal di kota NM juga tidak menemukan pesanan Dave di kotanya. Lalu Dave mengetik pesan untuk seseorang.
To: Istriku
Sayang maaf, aku tidak berhasil mendapatkan rambut peri. Aku sudah mendatangi semua tempat tapi tidak ada satupun tempat yang menjualnya. Bahkan anak buahku yang berada di kota lain juga sudah mencarinya,
Dave harap-harap cemas menunggu balasan Aryn. Berkali-kali ia mengecek ponselnya. Hingga sepuluh menit berlalu baru ada notifikasi pesan masuk.
From: Istriku
Hmm,,,
Hanya sesingkat itu balasan yang Aryn berikan,
To: Istriku
Kamu boleh meminta hal lain, asal kamu tidak marah padaku! Aku pasti akan membelikannya,
From: Istriku
Aku sudah tidak menginginkan apapun lagi :(
Melihat balasan terakhir Aryn membuat Dave menjambak rambutnya sendiri. Istrinya itu tidak pernah meminta apapun darinya. Untuk pertama kalinya ia minta sesuatu Dave tidak bisa memenuhinya. Padahal hanya rambut peri yang Aryn minta.
"Kembali ke mansion!" perintah Dave.
"Baik, tuan!" jawab Frans.
Semua tempat sudah ia datangi, rambut peri benar-benar tidak ada di semua tempat itu. Lebih baik Dave pulang ke mansion, walaupun dengan tangan kosong. Ia akan membujuk Aryn nanti.
Saat mobilnya melewati jalan depan rumah sakit milik perusahaan, Dave menepuk kencang pundak milik Frans.
__ADS_1
"Putar balik, parkirkan mobil di depan rumah sakit!" seru Dave.
Frans mengangguk, ia segera memutar arah. Dan menepikan mobil di depan rumah sakit. Dave langsung turun masuk ke dalam. Terlihat para pegawai menunduk ramah, memberikan hormat pada Dave.
"Panggilan Paman Kevin!" perintah Dave pada salah satu perawat yang menyapanya.
Perawat itu langsung balik badan dan berlarian melewati lorong. Tidak berapa lama kemudian, seorang dokter yang kira-kira berusia hampir sama dengan papa Dave datang menghampiri.
"Ada apa?" tanya Paman Kevin, wajahnya terlihat cemas.
"Paman harus ikut bersamaku," seru Dave, ia menggandeng Paman Kevin, membawanya menuju mobil.
Paman Kevin hanya pasrah saat digandeng Dave. Semua pegawai rumah sakit memeperhatikan mereka berdua. Berkali-kali Paman Kevin mencoba bertanya apa yang terjadi, tapi Dave masih tidak menjawab. Membuatnya semakin cemas dan penasaran.
"Apa yang terjadi sampai kau menculikku seperti ini?" tanya Paman Kevin.
"Nanti paman juga tahu," jawab Dave.
Setiap kali Paman Kevin bertanya, pasti jawabannya hanya sama seperti itu. Hingga mereka tiba di depan mansion jawaban Dave masih saja sama.
Dave membawa Paman Kevin masuk ke dalam kamarnya. Terlihat Aryn sedang berbaring di ranjang, ia tidak menyambut kedatangan Dave. Benar dugaan Dave, Aryn marah kepadanya.
"Sayang," panggil Dave dari jarak 2 meter. Ia takut Aryn akan mual dan muntah lagi.
Aryn tidak menjawab, ia hanya menatap Dave dengan tatapan yang datar.
"Paman Kevin akan memeriksamu," lanjut Dave.
Dave memutuskan untuk memeriksa keadaan Aryn sekarang. Ia takut jika Aryn akan menolak besok.
"Memangnya aku kenapa?" tanya Aryn.
"Jadi ini alasanmu menculikku? Aryn sedang sakit?" tanya Paman Kevin.
Paman Kevin hanya tersenyum saat mendengar penjelasan tingkah aneh pasangan itu.
"Kapan terakhir kamu datang bulan?" tanya Paman Kevin pada Aryn.
"Aku lupa paman," jawab Aryn lirih.
"Kapan aku terakhir datang bulan, Dave?" tanya Aryn pada Dave.
Dave tampak diam sejenak, "Minggu lalu seharusnya kamu datang bulan," jawab Dave.
Paman Kevin dibuat melongo dengan jawaban Dave. Dave lebih hafal jadwal datang bulan Aryn, daripada Aryn yang mengalaminya. Benar-benar pasangan aneh, batin Paman Kevin.
"Jadi sudah telat tujuh hari, ya? Aku sarankan kalian berkonsultasi saja dengan dokter kandungan! Aku harus kembali ke rumah sakit, pasienku banyak yang menunggu." ucap Paman Kevin.
Dave dan Aryn hanya saling tatap hingga Paman Kevin sudah pergi dari kamar mereka.
"Dokter kandungan?" ucap mereka bersamaan.
"Dave? Apakah aku?" tanya Aryn.
"Hamil?" sahut Dave.
"Tidak tahu," jawab Aryn membuat Dave gemas.
"Bersiaplah, kita berangkat ke rumah sakit sekarang!" ucap Dave lembut.
Aryn mengangguk, ia bergegas untuk bersiap-siap.
__ADS_1
Di kebun,
Terlihat Sonya telibat cekcok dengan Silvi. Awalnya Sonya pergi ke kebun karena ia memberitahu Reza jika ia sempat memasang kamera tersembunyi di berbagai tempat. Salah satunya di kebun. Sonya berharap mendapatkan petunjuk dari kamera itu. Tapi sejak beberapa hari kameranya tidak bisa diakses, tidak ada data masuk ke dalam ponselnya yang terhubung dengan kamera itu. Karena penasaran Reza mengajak Sonya untuk mengecek kameranya. Dan Silvi mengikuti mereka.
Saat Sonya memanjat pohon alpukat untuk mengambil kamera, ia terpeleset. Reza menangkapnya. Dari situlah pertengkarannya dengan Silvi dimulai.
"Lepasin!" teriak Silvi.
Reza langsung melepaskan tangannya yang merangkul Sonya. Sontak saja Sonya jatuh ke tanah.
"Sorry," lirih Reza.
"It's okay," jawab Sonya.
"Manja! Manjat gitu aja jatuh, pasti lo sengajakan untuk mencuri perhatian Kak Reza!" seru Silvi.
"Mana mungkin saya sengaja menjatuhkan diri," jawab Sonya.
Reza terduduk di remput. Ia menikmati perdebatan Silvi dan Sonya. Apalagi Silvi terlihat sangat tidak suka dengan Sonya. Ia merasa sedang diperebutkan.
"Katanya mau melindungi Kak Aryn, tapi manjat pohon aja tidak bisa!" ledek Silvi.
"Pohonnya licin, nona!" jawab Sonya dengan menekan setiap perkataannya.
"Sudah mengaku saja, kamu sengaja jatuh biar bisa berdekatan dengan Kak Reza kan? Kaya Silvi, dong! Mau selicin apapun pasti bisa memanjat!" seru Silvi.
"Benarkah, nona?" tanya Sonya.
"Apakah perlu bukti?" tanya Silvi dengan kesal.
"Tentu, nona!" jawab Sonya.
"Tunjukkan dimana kamera itu!" perintah Silvi.
"Di ranting paling atas itu," jawab Sonya sambil menunjukkan pada Silvi.
Tanpa banyak bicara Silvi memanjat pohon alpukat itu. Sonya is terkekeh memandangi Silvi yang sudah berada di atas pohon. Sementara Reza, ia hanya bisa menatap Silvi tidak percaya.
"Kamu ini polos sekali, Silvi! Mau-maunya dikerjain wanita ini, menggemaskan sekali kamu!" gumam Reza.
Gerakan Silvi sangat lincah. Ia berjalan perlahan di atas dahan pohon. Ia lalu mengambil sebuah kamera kecil di ranting paling atas. Setelah mengambilnya, ia langsung turun.
"Terima kasih, nona! Nona sudah membantuku mengambil kamera ini," ucap Sonya terkekeh, ia mengambil kamera itu dari tangan Silvi.
"Sial!" umpat Silvi.
Reza beranjak dari duduknya. Ia menatap Silvi sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini menggemaskan sekali!" ucap Reza saat mencubit kedua pipi Silvi dengan gemas.
Deg,
Dada Silvi bergemuruh. Cubitan tangan Reza di pipinya tidak hanya membuat pipinya merah, tapi juga membuat seluruh tubuhnya lemas. Rasa kesalnya karena sudah dikerjai Sonya hilang seketika karena cubitan mesra Reza di pipinya.
"Lihatlah tuan, nona! Kameranya ternyata dirusak!" seru Sonya membuat momen mesra-mesraan Reza dan Silvi terhenti.
"Sudah kuduga, musuh ini sangat cerdas dan teliti! Sampai kamera sekecil ini saja dia tahu!" sahut Reza.
"Wanita ini selalu saja ingin mencari perhatiannya Kak Reza!" keluh Silvi.
...............
Stay tuned!
__ADS_1