
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
.............................
"Tidak terbalik? Bukannya kau yang harus memberikan penjelasan kepadaku karena kau sudah kabur dari mansionku?" balas Dave.
Dave melangkahkan kakinya mendekati Aryn, Aryn yang keberaniannya pada Dave mulai menciut segera melangkah mundur.
"Auuww!" pekik Aryn saat punggungnya terpentok dinding di belakangnya. Ia tidak bisa menghindar sekarang.
Tubuh mungil Aryn terhimpit oleh badan Dave. Kedua tangan Dave menempel pada dinding, mengukung tubuh Aryn.
"Mau apa kau? Mundur!" seru Aryn memberanikan diri.
Dave hanya memiringkan kepalanya dan tersenyum, wajahnya semakin mendekati Aryn. Aryn bergidik ngeri melihat sorot mata Dave. Kini wajah Dave hanya berjarak 2 senti dengan wajahnya, Aryn memejamkan matanya.
Klik,
"Aku hanya ingin menyalakan lampu saja!" jawab Dave yang sudah duduk di atas ranjang.
Aryn membuka matanya, kedua pipinya merah seperti tomat. Ia sangat malu dengan pikirannya yang traveling kemana-mana. Jika ada kantong kresek, pasti sudah Aryn gunakan untuk menutupi wajahnya saat itu juga. Dave terkekeh melihat gerak-gerik Aryn.
Dave turun dari ranjang, melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat lengket setelah melakukan perjalanan jauh. Melihat Dave yang masuk ke dalam kamar mandi, Aryn mengambil sebuah buku dan membacanya di ranjang.
"Apa yang dia lakukan di dalam? Sudah 30 menit lebih! Seperti perempuan saja!" gumam Aryn.
"Aryn!" teriak Dave dari dalam kamar mandi.
"Hmm," jawab Aryn.
"Siapkan pakaianku!" seru Dave.
"Hmm," jawab Aryn.
Aryn meletakkan bukunya di nakas. Ia turun dari ranjang dengan malas. Ia buka koper milik Dave. Koper Dave belum dibongkar, jadi ia harus membuka dan memilihkan pakaian untuk Dave. Setelah ia mendapat celana selutut dan kaos putih polos, ia tutup koper itu dan meletakkan pakaian Dave di atas ranjang. Aryn kembali naik ke ranjang dan membaca bukunya.
"Dimana bajuku?" tanya Dave yang baru keluar dari kamar mandi.
Aryn hanya mencebikkan bibirnya ke arah baju Dave. Aryn kembali fokus membaca bukunya. Dave memutar kedua bola matanya malas.
"Kau ini bagaimana? Dimana CDku?" seru Dave.
"Tangan dan kakimu buat apa?" tanya Aryn kesal.
__ADS_1
Emosi Dave mulai memuncak, tapi dengan cepat Dave mengingat ucapan Zack.
"Sabar, Dave! Kontrol emosimu, kau harus sabar! Ingatlah ucapan Zack!" batin Dave.
"Menyiapkan keperluan suami adalah tugas seorang istri! Kesabaran juga ada batasnya, Aryn! Jangan buat aku melampaui batas kesabaranku!" seru Dave.
Melihat tangan Dave yang sudah mengepal, Aryn tidak mau mengambil risiko. Ia turun dari ranjang dan mengambil CD milik Dave.
"Ini!" seru Aryn.
"Hmm," jawab Dave.
Dalam hitungan ketiga, Dave sudah membuang handuknya ke sembarang arah. Ia memakai pakaiannya di hadapan Aryn. Aryn langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Dave. Ia sangat terkejut dengan tindakan Dave.
"Apakah kau tidak malu?" tanya Aryn dengan kesal.
"Aku tidak telanjang di hadapan istri orang, untuk apa aku malu?" jawab Dave.
"Terserah," sahut Aryn dengan cuek.
Dave naik ke ranjang, ikut masuk ke dalam selimut bersama Aryn. Ia merapatkan selimutnya sampai ke batas perutnya. Aryn sedikit menggeser tubuhnya menjauhi Dave. Dave yang melihat gerak-gerik Aryn dengan sengaja langsung memeluknya.
"Lepaskan!" seru Aryn.
"Biarkan seperti ini lima menit saja, aku lelah. Kau kabur jauh sekali!" jawab Dave.
Aryn memutar bola matanya malas, akhirnya Aryn tidak tega untuk melepaskan tangan Dave. Wajah Dave terlihat lesu dan kelelahan. Tapi lima menit sudah berlalu tapi Dave tidak melepaskan pelukannya. Aryn yang juga lelah, ikut tertidur dalam pelukan hangat Dave.
Sementara Dave, tangannya meraba-raba bantal di sebelahnya. Saat ia membuka matanya, Aryn sudah tidak ada di sampingnya. Dave langsung terduduk menggosok-gosok kedua matanya, mengumpulkan kesadaran. Dibukanya pintu kamar mandi, tapi tidak ada Aryn di sana. Dave panik, ia menyambar ponselnya yang tergeletak di nakas. Dave berniat menelpon Aryn, tapi kemudian ia teringat nomor Aryn sudah tidak aktif lagi.
"Arrgghh!"
"Dia pikir berapa banyak stok kesabaran yang kupunya? Setiap waktu selalu saja menguji kesabaranku!" keluh Dave.
Tidak menyerah sampai di situ, Dave mengambil ponselnya lagi dan menelpon Ken. Setelah berdering empat kali, baru Ken mengangkat teleponnya.
"Ada masalah, bos?"
"Cepat cari Aryn! Saat aku terbangun dia sudah tidak ada di kamar! Kau ajak si Frans,"
"Siap, bos!"
Tut,
Sambungan telepon mereka diputuskan sepihak oleh Dave. Ia bergegas keluar dari kamar, ia akan mencari Aryn juga. Penampilan Dave berantakan, rambutnya acak-acakan dan kaosnya juga lusuh. Dave memutuskan untuk mencari di sekitar rumah terlebih dahulu.
Ketika Dave melewati dapur, sayup-sayup ia mendengar suara sendok dan garpu beradu. Ia menghentikan langkah kakinya, telinganya ia pasang baik-baik.
"Aryn?" lirih Dave saat melihat seorang wanita sedang duduk di meja makan.
__ADS_1
Dave melangkah perlahan mendekati Aryn. Ia berjalan mengendap-endap seperti seekor harimau yang mengintai mangsanya.
"Baaaaa!" seru Dave.
Aryn menyemburkan kuah mie rebusnya tepat di wajah Dave yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Aryn!" seru Dave.
"Sorry sorry, salah sendiri kau mengejutkanku!" seru Aryn.
"Sabar Dave! Sabar! Ingat ucapan Zack, kau tidak boleh kasar kepadanya!" batin Dave.
Dave menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia berusaha mengontrol emosinya. Ia tidak boleh bersikap kasar pada Aryn.
"Cepat bersihkan!" seru Dave yang menunjuk wajahnya.
Aryn mengambil dua lembar tisu dari meja makan. Dibersihkannya wajah Dave perlahan.
Deg,
Aryn menghentikan gerakan tangannya, matanya menatap Dave.
"Kenapa menatapku seperti itu? Sudah suka padaku?" tanya Dave dengan senyum smirknya.
Aryn terkesiap, ia terlihat gelagapan mendengar pertanyaan Dave.
"Jangan kepedean!" seru Aryn, pipinya terlihat memerah.
Aryn buru-buru membereskan mangkuk bekas mie rebusnya. Ia bergegas meninggalkan dapur. Sementara Dave, ia mengambil minuman dingin dari kulkas. Kepalanya harus didinginkan.
Drrttt...drrttt
"Halo, bos! Gawat!"
"Ada apa? Kalian pulanglah, Aryn sudah kutemukan!"
"Bukan tentang Aryn, bos! Samuel diserang orang, bos!"
"Shit! Dimana dia sekarang?"
"Di apartemen Zack, bos! Zack yang menemukannya di jalan!"
"Kau pesan tiket untukmu dan berangkatlah ke sana, besok aku akan menyusul! Suruh Frans pulang, jangan libatkan dia dalam urusan ini!"
"Siap, bos!"
Dave menggebrak meja makan dengan cukup keras, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Beberapa saat setelah minumannya habis, ia bergegas kembali ke kamar Aryn.
.......................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Tinggalkan juga komentar kalian! Stay tune!