
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
...............................
Pesawat Dassault Falcon 900LX mendarat dengan mulus di Dulles International Airport. Dengan langkah tegasnya Dave berjalan menuruni anak tangga, Aryn mengekor di belakangnya. Dua orang anak buah sudah menyambutnya.
Dave terlihat berbincang dengan dua orang pengawal itu. Karena tubuhnya sudah letih, Aryn tidak mempedulikan apa yang dilakukan Dave. Hingga dua pengawal itu membimbingnya masuk ke dalam mobil Range Rover Sport 3.0 HSE mewah. Aryn berada di mobil itu hanya dengan dua ornag pengawal tadi. Sementara Dave, ia masuk ke dalam mobilnya sendiri, terpisah dengan Aryn.
"Bos kalian mau kemana?" tanya Aryn.
"Bos ada urusan penting, Nona. Kami ditugaskan untuk mengantar Nona pulang ke mansion," jawab salah satu pengawal.
Aryn menghembuskan napasnya dengan kasar. Sikap Dave sangat membingungkan. Terkadang Dave bersikap sangat manis dan menggoda pada Aryn. Tapi terkadang keberadaan Aryn tidak dianggap sama sekali, seperti sekarang ini. Jika memang dia ada urusan penting, dia bisa mengatakannya pada Aryn secara langsung. Toh Aryn sekarang adalah istrinya, ia berhak mengetahui kemana dan dengan siapa suaminya pergi.
Aryn memejamkan kedua matanya. Perjalanan menuju mansion masih cukup jauh, ia bisa tidur untuk beberapa menit.
Ciitt,
"Auuww!" teriak Aryn, dahinya terpentok jok di depannya.
"Ada apa ini?" seru Aryn pada pengawalnya.
"Maaf, nona! Ada mobil yang berhenti mendadak di depan mobil kita," jawab salah satu pengawal.
Ada empat orang berbadan besar keluar dari mobil itu.
"Mana ponselmu?" seru Aryn.
Pengawal memberikan ponselnya pada Aryn. Dengan cekatan Aryn mencari kontak Dave di dalam ponsel tersebut. Perasaannya tidak enak, ia curiga empat orang itu berniat jahat.
"Hallo?"
"Dave, ini aku Aryn! Ada yang menghadang mobil ini, Dave!"
"Apa? Kau ada dimana? Kirim lokasimu sekarang!"
Tok...tok...tok
kaca mobil Aryn diketuk oleh orang itu. Aryn semakin panik.
"Buka!" teriak orang itu.
"Aryn dengar! Sekarang kirim lokasimu!"
Aryn tersadar, ia masih terhubung dengan Dave. Ia segera mengirim lokasinya saat ini pada Dave.
"Cepatlah kemari, ada empat orang berbadan besar. Aku tidak yakin pengawal bisa melawan mereka!"
"Jangan keluar dari mobil!"
Tut,
__ADS_1
Sambungan telepon mereka terputus. Aryn hanya bisa berdoa sekarang.
"Kami akan turun menghadapi mereka! Nona jangan keluar dari mobil!" seru salah satu pengawal.
"Jangan keluar! Aku sudah menelpon Dave!" sahut Aryn.
"Cepat turun atau aku pecahkan kaca ini!" teriak salah satu orang itu mengancam.
"Kami harus menghadapi mereka, nona! Kalau kami tidak keluar bisa-bisa nona terluka nanti!"
"Begitu kami keluar, nona langsung kunci pintunya!" seru pengawal Aryn.
"Baiklah!" jawab Aryn.
Kedua pengawal Aryn turun dari mobil, Aryn langsung mengunci pintu mobilnya. Terlihat pengawalnya sedang berbicara dengan keempat orang itu. Beberapa saat kemudian, keempat orang itu menyerang pengawalnya secara bersamaan. Aryn hanya bisa melihat dari dalam mobil.
Aryn menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Salah satu pengawalnya kini sudah tumbang. Dua orang dengan badan besar menghajarnya habis-habisan. Bahkan saat pengawalnya sudah terkapar lemas, orang-orang itu menendang tubuh pengawalnya dengan brutal. Ia dapat mendengar teriakan pilu pengawalnya, hingga akhirnya pengawalnya itu diam kaku tak bersuara. Sekarang hanya tinggal satu pengawalnya yang masih bertahan.
Bug,
Pengawalnya melayangkan sebuah pukulan pada salah satu dari mereka.
Bug bug bug,
Pengawal Aryn mendapatkan pukulan balasan yang mengincar perutnya. Dia berusaha menggunakan kedua tangannya sebagai tameng, tapi jumlah mereka terlalu banyak untuknya. Kedua tangannya di tarik oleh dua orang dengan tangan yang penuh tato. Dua orang lainnya menjadikan tubuh pengawal Aryn sebagai samsak tinju.
Di dalam mobil, Aryn merasa sangat cemas. Ia selalu menengok ke belakang mobilnya, berharap Dave dan bala bantuan datang untuk menyelamatkannya. Tapi nihil, jalanan terlihat sepi.
Bruk,
"Keluar!" teriak orang itu.
Aryn semakin cemas dan ketakutan. Ia menutup kedua telinganya agar tidak mendengar teriakan mereka.
"Keluar! Atau kami yang akan mengeluarkanmu!" teriak orang itu lagi.
Dengan tangan yang gemetaran, ia berusaha mengambil ponsel pemgawalnya yang terjatuh di bawah jok mobil. Ia akan menelpon Dave atau polisi.
"Hey Nona Dave Winata! Cepat keluar!"
Aryn tidak mempedulikan teriakan mereka. Ia terus mencoba menggapai ponsel di bawah jok. Seharusnya dengan tangan mungilnya ia bisa dengan mudah mengambil ponsel itu, tapi kini tangannya gemetaran ditambah orang-orang itu menggedor-gedor mobil membuatnya semakin sulit menggapai ponsel itu.
"Rupanya kau lebih senang jika kami menggunakan cara kasar!" seru orang itu.
Pyar,
"Aaaaaa..."
Kaca mobil berserakan di jok sebelah Aryn. Tangan kiri Aryn mengeluarkan darah segar karena terkena serpihan kaca. Orang itu memecahkan kaca pintu mobil belakang.
Pyar,
Dua orang lainnya memecahkan kaca mobil tepat di samping kemudi. Dan mereka bisa dengan mudah membuka kunci semua pintu di mobil itu.
"Keluar!"
Pintu yang ada di samping Aryn dibuka dari luar. Aryn meringis kesakitan karena orang itu memegang tangan kirinya yang terluka. Tapi sebelum Aryn di seret keluar, sebuah mobil sama mewahnya dengan mobil yang Aryn tumpangi melaju kecepatan di atas rata-rata dari arah belakang.
__ADS_1
Braaakkk,
Mobil itu menabrak dua orang yang akan memaksa Aryn keluar. Pintu mobil beserta dua orang itu terseret sejauh seratus meter. Mereka terkapar di jalan tertimpa pintu mobil Aryn yang ikut terseret. Terlihat darah yang berasal dari salah satu kepala mereka mengalir di aspal. Kepalanya terjepit pintu mobil itu. Sementara kondisi satu orang lainnya tidak kalah mengerikan, perutnya terkoyak hingga organnya sedikit terlihat.
Aryn melongo, kejadiannya cepat sekali. Kini sebelah kanannya melompong, tidak ada pintunya lagi. Ia memberanikan diri untuk menengok keluar. Tapi ia langsung menutup mulutnya, perutnya bergejolak setelah melihat banyak sekali darah. Sementara dua orang yang masih tersisa bergegas menghampiri mobil yang menabrak teman mereka.
"Dave!" pekik Aryn saat melihat sosok yang dikenalnya keluar dari mobil itu.
"Tetaplah di dalam mobil!" teriak Dave.
"Awas!" seru Aryn.
Dave langsung menoleh, ternyata orang-orang itu sudah bersiap melayangkan tendangan. Ia langsung melompat untuk mengindari tendangan mereka yang mengincar kakinya. Ia tersenyum sinis, lalu melompat dan melakukan tendangan. Dua orang itu terkapar di jalan. Tapi rupanya mereka tidak menyerah begitu saja, mereka berdiri lagi dan memasang kuda-kuda.
"Kyaa!" teriak kedua orang itu yang menyerang Dave bersama-sama.
Dave membungkuk untuk menghindari tinjuan mereka. Lalu ia menangkap kedua tangan mereka yang akan melayangkan tinju lagi. Dave memutar tangan mereka dan klek, tangan mereka patah. Kedua orang itu terkapar di aspal sambil memegangi tangan kanan masing-masing.
"Aku tidak akan membunuh kalian berdua, karena malam ini aku akan mengajak kalian berdua berpesta," seru Dave dengan suara beratnya.
Kedua orang itu langsung menggelengkan kepalanya dengan kencang. Mereka tahu betul siapa yang mereka hadapi. Sebenarnya mereka berdua tidak menyangka jika mereka bisa melihat wajah sang pemimpin Red Blood secara langsung. Ya! Memang Dave tidak menutupi wajahnya, ia tidak sempat mengambil topeng atau masker untuk ia gunakan.
"Cepat datanglah ke lokasi yang aku kirim! Bersihkan tempat ini sampai polisi tidak bisa mencium darah mereka lagi dan bawa pulang dua orang yang masih bernyawa!"
Tut,
Dimasukkannya ponsel itu ke dalam sakunya lagi. Dave bergegas melangkah mendekati mobil Aryn. Ia mengepalkan tangannya saat melewati mayat dua anak buah yang mengawal Aryn.
"Ayo keluar, sudah aman!" seru Dave.
Aryn mengangguk, ia keluar dari mobil dengan perlahan. Aryn menutup kedua matanya, betapa mengerikannya pemandangan di jalan ini. Mayat bergeletakan, darah menggenang di aspal, dan ada dua orang merintih kesakitan.
"Tanganmu terluka! Ayo cepat masuk ke mobilku!" seru Dave.
"Mereka bagaimana?" tanya Aryn.
"Anak buahku akan segera sampai dan membersihkan tempat ini," jawab Dave, ia membawa Aryn masuk ke dalam mobilnya.
"Kau tidak takut?" tanya Aryn.
"Untuk apa aku takut, mereka menyerangku lebih dulu!"
"Bukan itu maksudku!" seru Aryn yang sedang memasang sabuk pengaman.
"Lalu?" Dave memiringkan wajahnya,
"Kau tidak takut melihat kondisi mereka, darah mereka berceceran dimana-mana! Kau menabrak mereka dengan sangat keras!" sahut Aryn.
"Aku tidak akan melakukannya jika mereka tidak menyerangku!" ucap Dave.
Mobil Ferrari F60 milik Dave melaju dengan mulus meninggalkan tempat itu. Selang lima menit, tiga mobil hitam tiba di lokasi kejadian. Mereka semua adalah anak buah Dave. Mereka mengangkut mayat dan dua orang yang masih selamat ke dalam mobil. Sesuai perintah Dave, dua orang yang masih hidup itu akan diangkut ke mansion. Beberapa orang lainnya membersihkan lokasi kejadian, mereka juga menyingkirkan mobil Aryn yang remuk di beberapa bagian.
.................
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All
Follow IGku ya : sekararum142
__ADS_1