
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
..............................
Tap,
Tap,
Deru langkah Dave menggema di lorong lantai tiga. Ia bergegas menuju kamarnya, ada misi yang harus ia selesaikan. Ia menarik napas dalam-dalam lalu tangannya menarik bibirnya ke kanan dan ke kiri hingga tercipta senyum yang menawan. Kali ini Dave tidak mengetuk pintu kamarnya seperti tadi. Ia langsung memasukkan kode, dan pintu pun terbuka. Kakinya melangkah dengan penuh keyakinan masuk ke dalam kamar.
Terlihat Aryn sedang duduk bersandar di kepala ranjang, dengan sebuah buku di pangkuannya. Aryn sama sekali tidak mempedulikan kehadiran Dave di kamar itu.
"Ehem," lirih Dave.
Hening,
Perlahan Dave melangkah mendekati ranjang.
"Aryn," lirih Dave.
Tapi Aryn sama sekali tidak merespon panggilan Dave. Hingga membuat Dave sedikit naik darah.
"Sabar...sabar...tahan! Kuasai! Nggak boleh kasar!" batin Dave.
"Aryn," Dave memanggil Aryn dengan suara yang lebih keras dari tadi. Nihil, ia tidak mendapat balasan dari Aryn.
"Aryn, tolong! Jangan bersikap seperti anak kecil!" seru Dave, amarahnya sudah tidak bisa ia bendung.
Seketika Aryn terkesiap, ia melihat ke arah Dave. Ditutupnya buku yang sedari tadi berada di pangkuannya. Aryn menyibak selimutnya dengan sekali gerakan. Tubuh mungilnya turun dari ranjang, dengan langkah kecilnya ia mendekati Dave yang sedang mengepalkan kedua tangannya.
"Aku seperti anak kecil? Dave, please! Kau bahkan tahu siapa yang sebenarnya seperti anak kecil di sini!" seru Aryn.
Semenjak Dave mengucapkan janji bahwa dia tidak akan bersikap kasar kepadanya, Aryn mulai berani berbicara dengan menatap kedua mata Dave terus menerus. Tapi terkadang, traumanya tiba-tiba membuatnya kembali ketakutan.
"Maksudmu aku?" seru Dave, jarinya menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Aryn merespon pertanyaan Dave dengan mengangkat kedua bahunya. Bibirnya mencebik ke depan.
"Hey hey! Kau yang sejak tadi melipat wajahmu seperti tisu bekas!" Dave menatap kedua mata Aryn.
Aryn membelalakan kedua matanya. Enak saja Dave menyamakan wajah cantiknya ini dengan tisu bekas.
"Tampangnya serem, tapi mulutnya ini melebihi keluwesan emak-emak sein kiri belok ke kanan! Pengen aku kucir bibirnya itu!" batin Aryn.
"Aku tahu semua kejadian yang kau alami di mall, aku kemari untuk menyelesaikannya denganmu!" ucap Dave dengan suara khasnya tanpa menurunkan intonasinya.
"Baiklah," lirih Aryn mengalah. Jika tidak ada yang mengalah dari kedua pihak maka masalah mereka tidak akan pernah selesai, kebingungan mereka tidak akan kunjung mendapatkan jalan keluar. Keraguan di hati masing-masing juga tidak akan mendapatkan kepastian.
"Aku akui memang setelah penghianatan Elsa, rasa sakit hatiku pada Elsa membuatku menganggap wanita hanyalah mainan saja. Semenjak itu juga aku tidak tertarik ataupun mempercayai seorang wanita. Hari-hari kulewati dengan minum wine di bar dengan wanita seksi yang bergelayutan manja di lenganku. Aku memang tidak pernah merayu atau menggoda wanita manapun, mereka memberikan tubuhnya secara sukarela karena melihat kekayaanku yang melimpah. Setelah aku puas, aku berikan apa yang mereka minta lalu mereka kubuang begitu saja. Aku sadar aku hanyalah pria brengs*ek!" ucap Dave dengan menatap kedua mata Aryn.
"Dan salah satu dari wanita yang pernah kau tiduri, menitipkan pesan kepadaku jika dia merindukan berolahraga malam denganmu! Jangan-jangan kau masih menemuinya?" seru Aryn dengan raut wajah cuek.
"Aku belum selesai bicara, kau main potong saja! Dengarkan dulu!" protes Dave dengan sewot.
"Okay, fine! Hurry up!" seru Aryn.
"Setelah bertemu denganmu, aku melihat kedekatanmu dengan Silvi dan keberanianmu melawan Angel. Awalnya aku memilihmu karena kau terlihat mirip dengan Elsa, tapi ternyata kau berbeda dari yang lain! Aku tidak salah memaksamu menjadi istriku, karena pilihanku ternyata tepat! Di saat kau kabur dari mansion ini dan mengacuhkanku, aku menyingkirkan semua barang tentang Elsa! Aryn, please! Buka hatimu untukku! Belajarlah mencintaiku! Belajarlah menerima semua keburukan di masa laluku! Tapi kau harus tahu jika masa laluku sudah berakhir, kalaupun suatu hari nanti akan ada masalah yang muncul dari masa laluku, berjanjilah kau akan tetap percaya kepadaku! Aku sudah meninggalkan masa laluku jauh di belakang. Aku tidak pernah bertemu dengan wanita itu ataupun merindukannya, dia hanya ingin membuatmu marah saja! Semua wanita itu hanya penghibur saja! Perlu kau tahu, aku bahkan mengambil kursus dari Zack! Tolong, percaya kepadaku! Berikan kesempatan agar aku bisa membuktikan semua yang aku ucapkan!" ucap Dave berusaha menjelaskan isi hatinya.
"Kau yakin? Kau tidak pernah bertemu dengan salah satu dari mereka?" tanya Aryn menyelidik.
"Bagaimana dengan Elsa? Wanita itu juga mengatakan jika kau tidak pernah melupakan Elsa! Apakah kau benar-benar melupakannya?" tanya Aryn.
"Mau berapa kali kau ingin aku menjelaskannya ha? Aku sudah bilang jika aku juga ingin merasakan cinta lagi, aku sungguh-sungguh melupakan Elsa! Aku bahkan sudah tidak pernah memikirkannya, teringat wajahnya pun tidak!" seru Dave sewot, suasana seketika berubah memanas.
"Bukankah kau bilang jika aku terlihat mirip dengannya?"
"Hanya kedua matamu saja, lainnya tidak! Dan kalau di lihat-lihat kau terlihat sangat garang!" jawab Dave.
"Okay okay!" seru Aryn yang mengalah disebut garang oleh Dave.
"Sekarang kau tidak bisa mengelak, kau cemburu kan? Sejak pulang dari mall wajahmu terlihat sangat masam!" ledek Dave.
"Siapa yang cemburu?" protes Aryn.
Walaupun Aryn mengelak, tapi kedua pipinya tidak bisa berbohong sudah merah seperti tomat.
"Cemburu cemburu cemburu cemburu!" sorak Dave di depan Aryn.
__ADS_1
"Dave! Aku tidak cemburu!" protes Aryn.
Aryn mengalihkan pandangannya, Dave benar-benar membuatnya malu. Mulutnya memang terus mengelak tapi pipinya semakin memerah. Sementara Dave yang melihat tingkah Aryn merasa lega, ia tahu Aryn sudah tidak marah lagi kepadanya.
"Dengarkan, aku! Hanya kamu yang berhak atas diriku!" Dave menggenggam kedua tangan Aryn.
Deg,
Jantung Aryn bergemuruh, hari ini pertama kalinya Dave memanggilnya dengan sebutan kamu bukan kau lagi.
"Iya iya! Sudah kan? Sekarang aku mau memasak untuk makan malam!" Aryn melepaskan tangan Dave yang menggenggamnya.
"Belum waktunya makan malam! Tetaplah di sini! Apakah kamu tidak ingin memberikan tanda kepemilikan di tubuhku agar wanita-wanita itu tidak menggangguku lagi?" goda Dave dengan mengedipkan sebelah matanya, tangannya dengan cepat meraih pinggang Aryn dan memeluknya posesif.
"Tidak...tidak perlu! Aku percaya denganmu!" elak Aryn.
Dave melepaskan pelukannya, ia terkekeh melihat tingkah Aryn yang langsung berlari keluar dengan menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya.
"Dasar psikopat gila! Sudah kejam, garang, seram, sewot, rempong, mesum lagi!" Aryn mendumel hingga ia sampai di dalam lift.
Ken baru saja keluar dari ruang keamanan. Ia menerima laporan CCTV setiap sudut mansion dari Joe kepala keamanan. Karena kejadian penyerempetan mobil Silvi ia harus berkerja ekstra. Ponselnya terus berdering, notifikasi email masuk memenuhi layar ponselnya.
Bruk,
Dengan sigap Ken menangkap Ily yang hampir terjatuh ke lantai. Karena sibuk membaca email yang masuk, Ken tidak memperhatikan jalannya hingga menabrak Ily yang datang dari ruang tengah.
"Aku baru sadar jika Dave mempunyai kepala pelayan yang cantik!" gumam Ken yang ternyata di dengar oleh Ily.
"Maaf, tuan! Saya tidak sengaja!" Ily buru-buru menjauh dari Ken.
"Aku yang tidak memperhatikan jalan! Apakah kau terluka?" tanya Ken.
"Tidak, tuan!" jawab Ily dengan terus menunduk.
"Jangan panggil aku tuan! Panggil Ken saja!" seru Ken.
"Ba...baik, tuan! Maksud saya Ken!" sahut Ily.
Joe tertegun di tempatnya. Ia menatap tajam Ken yang sedang berbicara dengan Ily. Ia bahkan melihat saat Ken memeluk Ily. Beruntung tadi berkas Ken tertinggal di ruang keamanan, Joe memutuskan untuk menyusul Ken dengan kedua tongkatnya. Kakinya belum sembuh total pasca dihantam tongkat kasti kesayangan bosnya. Jadi ia bisa mengetahui Ken yang sepertinya tertarik kepada Ily. Terlihat jelas jika Ken terpesona tadi. Sudah lama ia memendam perasaan pada Ily. Eh, sekarang malah kalah start dengan Ken. Joe meletakkan berkas milik Ken di meja sebelahnya, ia berjalan menjauh dengan kesal.
......................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All ❤️