Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
JODOH?


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Di ruang rawat Aryn hanya tinggal Dave dan Aryn berdua. Erick, Katy, Uti, dan Silvi sudah dipaksa Dave pulang untuk beristirahat. Dave tidak ingin mereka kelelahan dan jatuh sakit. Ia sendiri yang akan menjaga dan merawat Aryn. Di luar ada Ken yang selalu stand by untuk membantu Dave. Tapi saat ini ia menyuruh Ken untuk mengantar Mei pulang ke apartmennya.


"Sayang," lirih Aryn.


"Iya sayang, apa kamu butuh sesuatu?" sahut Dave.


"Apakah aku boleh meminta sesuatu?" tanya Aryn takut-takut.


"Katakanlah," Dave tersenyum.


"Janji dulu kamu tidak akan marah!" Aryn menyodorkan jari kelingkingnya.


Dave tertawa kecil. Inilah yang membuat Dave jatuh cinta kepada Aryn setiap hari. Sikapnya yang apa adanya membuatnya klepek-klepek.


Dave mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Aryn.


"Tolong cari Ara," lirih Aryn.


"Ara? Ara adik tirimu?" seru Dave dengan wajah yang memerah.


"Kamu sudah berjanji," lirih Aryn.


Dave berusaha menenangkan dirinya, ia menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.


"Kenapa kamu memintaku untuk mencarinya sayang? Dia yang mendatangimu di supermarket bukan? Tanpa kamu mengatakannya padaku, aku tahu semuanya Mei juga mengatakan Ara juga menemuimu di kampus di hari kamu diculik," ucap Dave dengan nada selembut mungkin.


"Ibu meninggal, pasti ia sangat sedih. Sekarang bagaimana keadaannya di luar sana," suara Aryn bergetar.


"Kamu tidak perlu khawatir, Ara tidak akan menjadi gelandangan! Seluruh harta ayahmu dikuasai mereka, bukan?" ucap Dave.


"Bukan itu masalahnya. Kehilangan sosok ibu itu sangat menyakitkan. Aku pernah merasakannya. Dia pasti butuh tempat untuk berkeluh kesah," Aryn menangis.


Dave memeluknya erat, "Aku akan mencarinya sampai ketemu! Jangan menangis lagi, okay?" ucapnya.


Aryn memeluk Dave cukup lama. Hidungnya menghirup dalam-dalam aroma tubuh Dave. Rasanya ia enggan melepaskannya.


"Sayang, aku mandi dulu sebentar ya? Aku tidak tahan, tubuhku lengket semua!" Dave melepas pelukannya.


"Nanti aku harus pakai masker," keluh Aryn.


"Come on, apa kamu tega melihat suamimu seperti gelandangan seperti ini?" ucap Dave.


Rambut Dave terlihat berantakan, wajahnya kusam dan sedikit bercak darah yang mengering di kedua tangannya.


"Baiklah, tapi tidak boleh pakai sabun!" ucap Aryn.


"Sedikit?" Dave mencoba bernegosiasi dengan keinginan Aryn.


"Baiklah," jawab Aryn, ia menyiapkan maskernya di atas meja. Mungkin ia akan membutuhkannya saat Dave selesai mandi nanti.


 ---------------------


"Benar di sini apartemenmu?" tanya Ken, kedua bola matanya membukat sempurna.


"Iya," jawab Mei singkat.


"Apakah...." ucapan Ken terpotong.


"Maaf, aku tidak menerima tamu pria!" sahut Mei.


"Ha ha ha..." Ken tertawa dengan dibuat-buat.


"Siapa yang mau mampir? Ada hati yang harus kujaga," ucap Ken.


"Siapa juga yang memintamu untuk mampir? Aku hanya mengatakan saja kalau aku tidak menerima tamu pria," sahut Mei acuh.


Blam,


Mei menutup pintu mobil Ken dengan keras. Tapi baru dua langkah Mei pergi, ia kembali lagi.


"Beritahu bosmu untuk mengurus mobilku!" ucapnya.


Blam,


Mei menutup lagi pintu mobil dengan keras. Sampai membuat Frans mengelus dadanya.

__ADS_1


"Darimana istri Dave mendapat teman seperti dia?" gumamnya.


Mei melihat sekelilingnya, sepi. Biasanya di jam segini masih ada penghuni apartemen yang pulang kerja. Tapi malam ini sepi sekali. Hanya ada satpam di gerbang depan. Mei mengendap-endap masuk ke dalam lift. Pikirannya membayangkan adegan horor pada film yang ia tonton minggu lalu bersama Aryn. Aryn mengatakan film itu buatan dari negaranya. Dimana aktor dalam film itu diganggu hantu berbadan besar dan hitam di dalam lift.


Ting,


Mei sudah sampai di lantai 12, unit apartemennya ada di ujung. Begitu pintu lift terbuka, Mei mematung. Kakinya terasa sukit untuk digerakkan. Di depannya ada makhluk berbadan besar dan berwarna hitam.


"Aaaaa..... " teriak Mei.


Mei langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Hus... pergi kau dasar... aduh apa namanya ya?" Mei tidak ingat nama makhluk besar hitam itu.


"Ah iya, genderuwo! Pergi kau genderuwo! Jangan ganggu gadis perawan ini," seru Mei.


Pletak,


"Dasar makhluk jelek! Bukannya pergi malah menyentilku! Sakit tau..." Mei mengelus dahinya.


"Hey, tatap dulu wajahmu di cermin! Matamu itu terlalu sipit, sampai makhluk tertampan di muka bumi ini kau bilang jelek!"


"Genderuwo jaman sekarang narsis ya?" sahut Mei dengan mata yang masih tertutup.


"Dasar gadis gila! Buka matamu! Aku ini manusia, malah dipanggil gen..gen apa tadi?" protes pria itu.


"Genderuwo," jawab Mei.


"Makhluk apa itu? Aku tidak pernah mendengarnya," seru pria itu.


"Makanya


Memang susah untuk melafalkan nama hantu itu. Mei saja harus diajari Aryn berkali-kali, itupun ia masih sering salah. Mei membuka kedua matanya perlahan. Ia masih melihat sosok besar dan hitam.


"Dasar makhluk jelek, kau mencoba menipuku ya? Tubuhmu hitam semua kau bilang itu tampan?" protes Mei.


Pria itu melihat tubuhnya sendiri, tidak ada yang salah. Lalu ia menoleh, ternyata ia membelakangi lampu yang cukup besar. Ia menarik tangan Mei keluar dari lift.


"Lepaskan!" seru Mei.


"Sekarang buka matamu!" seru pria itu.


"kau mau diusir dari apartemen ini?" Pria itu menutup kedua telinganya.


"Jodohku," ucap Mei dengan kedua matanya yang berkedip-kedip.


"Aku bukan jodohmu!" seru Zack.


Ya, pria yang dipanggil genderuwo oleh Mei adalah Zack. Pria yang ia anggap sebagai jodohnya. Semoga saja menjadi kenyataan ya!


"Baru beberapa jam aku mengatakan kau adalah jodohku, sekarang kita bertemu lagi! Apa namanya kalau bukan jodoh?" seru Mei kegirangan.


"Heh, asal kau tahu! Ini hanya kebetulan! Apartemenku ada di sini, di lantai ini! Apa yang kau lakukan di sini, ingin bertemu om om?" Zack menempelkan telunjuknya di dahi Mei.


"Benarkah? Apartemenmu juga ada di lantai ini? Apartemenku juga, itu di ujung sana!" Mei menunjuk ke arah apartemennya.


Zack mengelap wajahnya dengan kasar. Buruk sekali nasibnya bertemu gadis ini. Satu gedunh apartemen pula.


"Itu artinya kita benar-benar jodoh!" ucap Mei.


"Lebih baik kau masuk ke apartmenmu, cuci tangan dan kaki, lalu tidur!" sahut Zack.


"Ish.. gosok gigi dulu lah!" protes Mei.


"Terserah!" Zack mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


"Meskipun kamu menyerah, tapi aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu eaaakkk!" seloroh Mei.


Zack melenggang santai masuk ke dalam lift. Mei berusaha mengejar, tapi pintu lift tertutup dengan rapat saat ia hampir sampai. Sekarang Mei benar-benar sendiri di depan lift. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapapun.


Dubrak,


"Aaaa.... genderuwo!" Mei berteriak dan lari tunggang langgang menuju apartemennya.


"Perempuan tadi kenapa?" gumam pak satpam.


Satpam tadi sedang membawakan barang-barang Zack. Karena tadi Zack turun ke bawah untuk mengambil barang-barang di mobil. Kebetulan pak satpam melihat dan menawarkan bantuan. Pak Satpam menggunakan lift lain, dan saat keluar lift ia menginjak tali sepatunya sendiri. Alhasil barang bawaannya jatuh. Di saat itu juga ia melihat seorang perempuan langsung menjerit dan berlarian.


"Ada apa, pak?" seru Zack yang baru keluar dari lift. Ia membawa sebuah kotak yang lumayan besar.

__ADS_1


"Maaf tuan, tadi saya tidak sengaja menjatuhkan barang-barang ini," ucap oak satpam.


"Tidak masalah, isinya hanya berkas bukan barang yang mudah pecah!" jawab Zack.


Pak satpam mengekor di belakang Zack. Apartemen Zack berada di dekat lift yang digunakan Mei tadi. Nampak Zack sedang menekan-nekan kode untuk membuka pintu apartemennya. Unit ini salah satu unit apartemen yang dimiliki Zack, masih ada unit apartemen lain miliknya yang berada di kawasan lainnya. Tapi apartemen inilah yang sering ia tiduri karena dekat dengan kantor papanya dan kantor, tempatnya bekerja. Zack hanya membantu sdikit di kantor papanya, karena papanya tidak pernah percaya kepadanya untuk urusan kantor.


"Tuan, apakah penghuni apartemen ujung sana seorang perempuan?" tanya pak satpam.


"Iya," jawab Zack. Tentu saja Zack tahu, pemilik unitnya sendiri yang mengatakannya.


"Tadi perempuan itu berlari ketakutan saat barang saya terjatuh, tuan! Lucu sekali!" ucap pak satpam.


"Pak satpam mau membantuku atau bercerita?" tanya Zack, ia sudah membuka pintunya.


"Maaf, tuan!" sahut pak satpam yang masih menertawai Mei.


 


Di mansion Dave,


Silvi baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Ia mengeringkan rambutnya yang masih basah. Ia masih saja memikirkan siapa yang menembak anak buah Dion. Yang Silvi pikirkan mengapa perempuan itu menembak anak buah Dion? Jika perempuan itu menembak anak buah Dion ototmatis perempuan itu berada di pihaknya.


"Kalau kamu masih di sini kak, mungkin kakak bisa menemukannya dengan mudah. Kak Reza detektif terbaik menurutku," gumam Silvi.


Silvi meletakkan alat pengering rambutnya. Ia berjalan gontai menuju ranjang. Diambilnya benda berbentuk pipih dari samping bantal. Benda pipih bernama ponsel itu masih bisu, tidak ada notifikasi pesan atau telepon dari sosok yang ia rindukan. Sudah berhari-hari sejak kepergiannya, Reza masih belum menghubunginya.


"Kakak sedang apa, dimana, dengan siapa?" gumam Silvi.


Akhirnya memutuskan untuk menghubungi Reza, jika hanya menunggu Reza yang menghubunginya bisa saja Reza sibuk sampai tidak ada waktu untuk menyentuh ponselnya. Silvi mendial nomor Reza, ia menempelkan ponselnya ke telinganya.


Nomornya tidak aktif. Silvi melempar ponselnya ke ranjang. Ia masuk ke dalam selimut.


"Apakah Kak Reza melupakanku? Apakah dia melupakan janjinya? Atau dia pergi ke sana sebenarnya untuk menemui wanitanya? Ah tidak... tidak... aku tidak boleh berprasangka buruk. Mungkin Kak Reza sibuk dengan pekerjaannya." gumam Silvi.


Terlintas di otaknya untuk meminta bantuan anak buah kakaknya yang bernama Doni. Doni berkali-kali membantu kakaknya untuk mencari informasi dan keberadaan seseorang, mungkin Doni juga bisa membantunya. Silvi turun dari ranjangnya, ia seperti mendapat semangat baru.


"Kak Dave kan sedang di rumah sakit, jadi mudah bagiku untuk mendapatkan nomor Kak Doni!" lirih Silvi ynag berjalan mengendap-endap menuju lift.


Begitu ia tiba di lantai 2, Silvi bersikap biasa saja, ia masuk ke ruang kerja Dave lalu menutup pintunya. Beruntung Silvi suka mengintip, ia jadi hapal kode keamanan pintu ruang kerja kakaknya. Ia tadi membawa laptopnya bersamanya. Ada begitu banyak CCTV di sini, jika Dave curiga kenapa ia masuk ke ruang kerjanya. Silvi akan menggunakan laptopnya sebagai alasan. Cukup dengan mengatakan bahwa jaringan di kamarnya sedikit buruk, jadi ia ke ruang kerja Dave agar tugasnya cepat terkirim. Di seluruh mansion, kekuatan jaringan di ruang kerja Dave adalah yang paling tinggi.


"Ini dia," Silvi berhasil mendapatkan nomor Doni saat ia membuka laptop kakaknya. Di ruang kerja Dave hanya ada dua CCTV sekarang. Silvi membuka laptop Dave di sudut yang tidak tertangkap CCTV.


Silvi bergegas menuju kamarnya lagi dengan bersikap biasa saja. Para penjaga hanya tersenyum, sepertinya mereka tidak curiga.


Blam,


Pintu kamar Silvi dikunci dari dalam. Sebelum ketahuan ada baiknya Silvi menelpon Doni sekarang. Terdengar dua kali nada sambung, telponnya baru tersambung.


"Halo? Kak Doni ini Silvi,"


"Halo? Ada apa Nona Silvi? Apakah Tuan Dave ada pekerjaan untuk saya lagi?"


"Tidak. Kali ini aku yang mempunyai tugas untukmu!"


"Apa yang harus saya lakukan, nona?"


"Reza sahabat kakakku pergi ke Paris, aku mau Kak Dion cari tahu informasi sebanyak mungkin. Dimana dia tinggal, dengan siapa dia tinggal, dimana kantornya, apa yang dia lakukan, dan dengan siapa dia!"


"Untuk apa, nona?"


"Jangan banyak bertanya deh! Ini urusan anak remaja,"


"Anak remaja?"


" Sudahlah, dan ingat jangan sampai Kak Dave tahu kalau aku memberikan tugas ini!"


" Baik, nona!"


Tut,


"Urusan anak remaja? Apa yang aku katakan tadi ya? Aku lupa kalau Kak Reza bukan golongan remaja hahahaha!" Silvi bermonolog di depan cermin.


Huft.....


Akhirnya Silvi bisa sedikit bernapas lega. Kak Doni orang yang cerdas dan kerja cepat. Pasti ia akan segera mendapat kabar baik.


.................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Dukungan kalian adalah semangat author!

__ADS_1


__ADS_2