
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Aryn meluruskan kakinya di atas sofa. Tangan kanannya sibuk mengambil kacang dari wadah dan memakannya. Tangan kirinya fokus mengelus perutnya yang sudah besar. Sementara kedua matanya menonton film yang ia putar di ponsel Dave. Dave merelakan ponselnya digunakan Aryn untuk mendownload drama Korea. Di ruangan Dave tidak ada televisi. Saat Aryn bertanya, Dave mengatakan jika ia ingin fokus berkerja, bukan menonton televisi. Aryn merasa bosan. Apalagi hari ini ia tidak ada kelas. Akan sangat membosankan jika ia hanya duduk di sofa dan makan kacang sambil menyaksikan suaminya bekerja. Ia ingin jalan-jalan berkeliling kantor, tapi Dave melarang.
Huft...
Aryn menghela napas panjang. Dave sama sekali tidak menoleh. Ia masih fokus dengan berkas yang ditunjukkan Ken.
"Ehem.." Aryn mencoba untuk memberikan kode.
Lagi-lagi Dave masih tidak memperhatikannya.
"Ehem, kacang!" seru Aryn.
Dave menoleh, "Cepat kau suruh petugas pantry untuk membawakan kacang lagi!" perintah Dave pada Ken.
"Baik, bos!" jawab Ken. Ia menelpon bagian pantry.
Aryn melongo, menatap kedua pria di hadapannya. Kacang yang Aryn maksud adalah untuk meledek Dave yang mengacuhkannya. Bukan kacang makanan. Aryn tidak ingin ambil pusing, ia mengambil ponselnya. Aryn mengirimkan chat untuk Mei.
Aryn: Kesini dong Mei!
Mei: Males ah, pasti ada Zack!
Aryn: Idih sotoy... Aku lagi di kantornya Dave.
Mei: Sotoy apa? Soto ayam?
Aryn: Isi otakmu hanya makanan saja. Sudah jangan banyak tanya, cepat kesini!
Mei: Males... Zack kan kerja di sana, Aryn!
Aryn: Jangan sok-sokan mau berpaling deh, nanti hilang beneran nyesel!
Mei: Sudah ada Babang Frans.
Aryn: Pokoknya kamu kesini, aku bosan sendirian. Cepat nggak pakai lama!
Lantas Aryn meletakkan ponselnya di meja, mengacuhkan pesan masuk dari Mei. Ia sengaja tidak membalas ataupun membukanya agar Mei datang menemuinya. Ia sudah sangat bosan duduk di sofa itu.
Terdengar Ken sedang berbicara dengan seseorang melalui intercomnya, "Masuk!" perintah Ken.
Seorang petugas pantry masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa beberapa toples besar berisi kacang-kacangan. Seperti kacang tanah, kacang polong, kacang mete, dan lainnya. Petugas itu menunduk memberikan hormat untuk Ken dan Dave lalu menghampiri Aryn. Ken dan Dave hanya menoleh sebentar lalu fokus lagi dengan berkas di hadapan mereka.
"Silahkan, Nona!" ucap petugas itu dengan ramah pada Aryn.
"Letakkan di meja saja, terima kasih!" jawab Aryn dengan senyum manisnya.
Petugas itu langsung pergi dari ruangan Dave. Aryn menatap semua kacang itu lalu menatap Dave dan Ken.
"Daddy sudah tidak sayang kita, sayang! Lihatlah, dia menyuruh kita untuk berjualan kacang," seloroh Aryn.
Ken tertawa kecil mendengar ucapan Aryn. Sementara Dave, ia beranjak dari kursinya, berjalan mendekati Aryn.
"Bukankah kamu yang meminta kacang ini?" Dave terkekeh.
"Ah sudahlah, tidak penting! Kacang ini nanti bisa aku suguhkan untuk Mei, dia akan datang!" jawab Aryn.
"Mei? Datang?" seru Dave.
"Iya?" Aryn terkekeh.
"Bisakah kamu cari teman lain?" pinta Dave.
"Kamu jahat sekali, sayang! Dia kan sahabatku satu-satunya. Kamu dengar kan baby, daddy mu jahat!" kedua mata Aryn sudah berkaca-kaca. Selama hamil Aryn memang menjadi lebih cengeng dari sebelumnya.
"Baiklah baiklah... Jangan menangis, okay?" Dave menangkup kedua pipi Aryn.
"Ehem," Ken pura-pura tidak melihat.
"Kembalilah bekerja! Kasihan Ken, istrinya kan sedang marah," ucap Aryn datar tapi begitu pedas di telinga Ken.
"Sabar...." gumam Ken.
"Dave..." panggil Aryn.
"Iya sayang?" jawab Dave yang baru saja mendudukan bokongnya di kursi.
"Aku ingin makan ice cream, maksudku baby kita yang ingin," ucap Aryn.
"Mau rasa apa sayang?" tanya Dave, kedua matanya fokus membaca berkas.
"Aku mau yang rasa coklat," jawab Aryn.
"Itu saja?"
"Emm.. tambah yang rasa vanilla, strawberry dan macha. Oh iya keempat rasa itu harus berwujud ice cream dengan stick dan dibeli di kedai ice cream terkenal selatan kota ini. Terus aku juga mau ice cream dalam cup yang rasa tiramisu dan vanilla blue yang ditambah irisan buah-buahan di mall dekat hotelmu yang ada di kota N. Jangan lupa ice cream sandwich yang ada di kedai ice cream kota C, beri sedikit parutan kulit jeruk ya sayang!" Aryn menjelaskan keinginannya.
Glek,
Dave menelan ludahnya saat mendengar begitu banyaknya ice cream pesanan Aryn. Jarak kota yang mereka tinggali dengan kedai ice cream kota N yang diinginkan Aryn kurang lebih 2.400 mil. Dan dari kota N ke kota C kurang lebih 550 mil.
__ADS_1
"Rasakan itu Dave hahahaha.... Sejak tadi kau hanya meledekku! Sekarang rasakan permintaan istrimu itu!" gumam Ken.
"Sayang..." lirih Dave.
"Apakah kamu tidak mau membelikannya?" kedua bola mata Aryn sudah berkaca-kaca.
"Tidak tidak... Aku akan membelikannya. Ice creammu akan segera datang! Tapi yang membeli Ice cram itu tidak harus aku bukan?" jawab Dave.
"Siapa saja boleh, asalkan pakai baju putih!" jawab Aryn.
"Hubungannya baju putih dengan membeli ice cream apa?" gumam Dave.
"Kau tidak dengar itu, Ken? Cepat ganti bajumu dengan baju warna putih?" seru Dave.
"Maksudnya, bos?" tanya Ken.
"Kau harus ganti baju putih karena harus membeli ice cream!" seru Dave.
"Tapi suami Nona Aryn kan anda bos, daddy dari babynya juga bos! Kenapa saya yang membelinya?" protes Ken.
"Berarti kau lebih memilih untuk jadi makan siang Sindy?" ancam Dave.
"Ah tidak tidak... Saya berangkat sekarang bos!" seru Ken yang langsung berlari keluar ruangan.
"Sabar..." gumam Ken.
"Kau boleh pakai jetku!" seru Dave.
"Sayang, kalau dipikir-pikir ucapan Ken benar. Kamu suamiku dan daddy dari babyku. Bukankah harusnya kamu yang pergi membelinya?" tanya Aryn.
Dave gelagapan, tidak tahu menjawab apa.
"Tapi tidak apa-apa sayang, kebetulan aku ingin Ken yang membelinya!" Aryn tertawa kecil.
"Syukurlah..." lirih Dave.
Dave mengambil berkas dan laptopnya. Ia duduk di sofa menemani Aryn. Aryn tersenyum lebar. Sesekali Dave mengelus perut buncit Aryn atau menggelitik kaki Aryn. Tiba-tiba, pintu ruangan Dave terbuka dari luar. Dave tadi memang tidak menguncinya.
Ceklek,
"Arynnn!" suara yang khas terdengar cempreng dari arah pintu.
Mei berdiri di ambang pintu dengan membentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Ia berlari menghampiri Aryn. Mereka berdua berpelukan lalu cium pipi kanan dan pipi kiri secara bergantian.
"Hi, suami sahabatku!" sapa Mei pada Dave.
"Apa? Masuk ruangan orang sembarangan!" seru Dave marah.
"Ini ruangan siapa?" tanya Mei.
"Kau siapa?" tanya Mei lagi.
"Dave lah!" jawab Dave.
Mei menepuk jidatnya, "Ini ruanganmu, kau itu suaminya sahabatku! Berarti kau juga sahabatku, aku bisa dong masuk ke ruangan kerja sahabatku sendiri!" ucapnya.
"Aku sahabatmu? Kau terlalu banyak berimajinasi!" seru Dave.
"Daripada kau, tidak pernah berimajinasi! Kau bahkan selalu marah, lihatlah wajahmu itu. Sangat kaku dan tua, saat lahir nanti anakmu akan memanggilmu kakek!" Mei meledek.
"Kau ini!" Dave marah.
Sementara Aryn, ia tertawa terbahak-bahak menyaksikan perdebatan sengit Dave dan Mei. Setiap bertemu Dave selalu menunjukkan rasa sebalnya secara langsung. Tapi entah mengapa Aryn suka jika Dave dan Mei berdebat seperti ini, terlihat lucu.
"Sudah sudah! Duduklah Mei!" Aryn meenpuk sofa sebelahnya.
Mei mendaratkan bokongnya dengan santai di sofa. Tanpa menghiraukan tatapan membunuh dari Dave. Ia justru menampilkan senyum mengejek, karena merasa Aryn berpihak padanya.
"Cicipi kacang-kacang ini, rasanya enak sekali! Aku akan menelpon pantry untuk menyiapkan minuman untukmu," ucap Aryn.
Aryn mengangkat gagang telepon yang terletak di atas meja kerja Dave. Ia meminta jus semangka pada petugas pantry.
"Sekalian minta kantong plastik ya, Ryn!" seru Mei.
"Okay!" sahut Aryn.
Aryn kembali duduk ke sofa dengan dibantu Dave. Dave memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya di meja kerja. Jika ia bergabung di sofa, yang terjadi ia pasti akan bertengkar lagi dengan Mei.
"Bagaimana keadaan calon keponakanku?" tanya Mei, mulutnya penuh dengan kacang. Walaupun tidak jelas, tetap saja Aryn paham.
"Dia sehat, semakin hari dia aktif menendang perutku!" jawab Aryn tidak jelas karena mulutnya juga sudah dipenuhi kacang.
"Bagaimana rasanya ditendang?" tanya Mei.
Bug,
"Awww... Kenapa kamu menendangku?" pekik Mei.
"Karena kamu belum hamil jadi akan sulit untuk kamu membayangkannya. Aku tendang saja kakimu, sekarang rasakan dulu kakimu yang ditendang!" Aryn terkekeh.
Di balik laptopnya, Dave hanya geleng-geleng kepala. Kedua wanita itu seperti anak kecil, mengobrol dengan mulut yang penuh dengan kacang. Kadang tertawa kadang menjerit.
Tok tok tok...
__ADS_1
Suara ketukan pintu meredam bisingnya obrolan Aryn dan Mei sementara.
"Masuk!" seru Dave.
Seorang petugas pantry membawa nampan dengan empat gelas jus semangka beserta kantong plastik pesanan Mei. Petugas itu meletakkannya di meja, memberikan hormat, lalu meninggalkan ruangan. Jus itu terlihat segar, warnanya yang merah merona ditambah embun di gelas yang semakin menunjukkan kesegarannya.
"Jusnya terlihat segar sekali!" cicit Mei.
"Tentu," sahut Aryn.
"Ini untukmu, sayang!" Aryn hendak berdiri, tangan kanannya sudah memegang segelas jus semangka untuk Dave.
"Kamu duduk saja sayang, aku bisa mengambilnya sendiri!" Dave langsung mengambil gelas dari tangan Aryn.
"Enak ya punya suami, apalagi sedang hamil. Jadi dimanja terus! Jadi pengen nikah!" cicit Mei.
"Memangnya ada yang mau menikahimu?" ledek Dave.
Mei cemberut, benar juga ucapan Dave. Sampai sekarang ia belum bertemu pria yang ingin menikahinya. Mei meraih jusnya dengan kesal.
"Kamu tidak ingin menemui Zack, Mei? Mumpung lagi di kantor ini," goda Aryn.
"Males... Setiap hari aku sudah ketemu dia di apartemen!" jawab Mei.
"Setiap hari? Wow..." seru Aryn.
"Biasa aja, kalau ketemu juga dia hanya mengajakku bertengkar!" sahut Mei.
Mei menatap jug semangka di meja yang masih tersisa satu gelas. Masing-masing dari mereka sudah mengambil satu gelas, lalu untuk siapa jus itu.
"Apa ada tamu lain?" tanya Mei.
"Tidak," jawab Aryn singkat.
"Lalu jus ini?" tanya Mei.
"Untukku!" Aryn terkekeh.
"Itu sudah!" Mei menunjuk jus yang sedang diminum Aryn.
"Ini untuk baby, kalau itu untukku! Ada dua perut sekarang!" Aryn tertawa kecil.
"Astaga..." Mei menepuk jidatnya.
"Lalu kantong plastik itu untuk apa? Kamu tadi memintanya bukan?" tanya Aryn.
"Oh iya!" Mei mengambil kantong plastik itu.
Mei membuka kantong plastik itu, lalu ia mengambil kacang dari masing-masing toples dengan tangannya. Dan memasukkannya ke dalam plastik tadi.
"Seperti yang kamu lihat, plastik ini untuk membungkus kacang-kacang lezat ini! Lumayan untuk cemilan, kalau ada yang gratis jangan disia-siakan!" seru Mei.
"Dasar culametan!" seru Dave.
Aryn terkekeh karena Dave selalu mengingat istilah-istilah kekinian dalam bahasanya yang Aryn beritahu dulu.
-----------------
Silvi melambaikan tangannya dari jendela bandara saat pesawat yang Reza tumpangi lepas landas. Saat pesawat itu sudah mengudarapun Silvi masih setia melambaikan tangannya.
"Melihatmu masih di bumi, itu saja sudah cukup!" lirih Silvi.
Ia berjalan dengan gontai meninggalkan bandara. Tidak lupa ia menggunakan maskernya. Sebuah taksi berhenti tepat di hadapannya, setelah ia berusaha menyetop tadi. Silvi menatap ponselnya yang sengaja ia matikan sejak berangkat kemari. Setelah melihat ponselnya dan teringat ia sudah menyuruh Doni untuk memata-matai Reza, perasaannya menjadi lebih tenang.
"Kak Doni pasti akan segera melapor jika ia melihatmu! Bukannya aku tidak percaya, kak! Tapi dalam urusan cinta, waspada itu perlu!" lirih Silvi.
Selama di perjalanan menuju sekolahnya, Silvi menyandarkan tubuhnya di jok. Kedua matanya terpejam, tapi ia tidak tidur. Ia hanya mencoba menenangkan dirinya. Setelah ini ia harus menyelesaikan rencana yang ia lakukan untuk menemui Reza tadi. Jangan sampai gadis yang menggantikannya terlalu lama menunggu dan rencana mereka terbongkar.
Dua puluh menit berlalu, taksi yang Silvi tumpangi berhenti di jalan samping sekolah. Uti mengarahkannya untuk masuk lewat gerbang samping.
Silvi berjalan dengan santai masuk melalui gerbang samping. Tidak ada yang curiga karena ternyata sekarang sudah jam istirahat. Itu artinya Silvi kembali di waktu yang menguntungkannya.
Sesuai arahan Uti tadi pagi, Silvi menuju kamar mandi siswa. Ia membasuh wajahnya dengan air kran yang mengalir. Lalu mengetuk pintu toilet yang tertutup satu persatu. Tidak sembarang mengetuk, ketukannya mempunyai arti. Dan dari salah satu pintu ada ketukan balasan. Pintu itu terbuka lalu Silvi masuk ke dalamnya tanpa ragu.
"Maaf lama," ucap Silvi.
Gadis bernama Celyn itu hanya tersenyum.
"Tidak ada pengawal yang curiga karena aku tadi pura-pura masuk ke dalam kelasmu, dan keluar saat mereka lengah. Tidak ada pengawal yang berjaga di lingkungan toilet juga. Jadi aman," jawab gadis itu.
"Okay!" jawab Silvi.
Mereka saling membelakangi. Dan menukar pakaian mereka lagi. Kalau bukan karena demi rencananya Silvi tidak akan mau bertukar pakaian lagi, gadis itu pun sama. Masing-masing dari mereka berdua pasti sudah berkeringat sebelum bertemu.
"Uti sudah membayarmu, bukan? Aku ucapkan terima kasih untuk bantuannya! Kau keluar setelah aku keluar!" ucap Silvi.
"Baik," jawab gadis itu.
Silvi meninggalkan Celyn seorang diri di dalam toilet itu. Saat hendak menutup pintu, Silvi menatapnya sejenak. Wajah gadis itu terlihat seperti gadis baik-baik. Tidak ada kejahatan di sorot matanya melainkan sebuah tatapan yang teduh.
...................
Maaf author telat up, ada masalah di dunia nyata yang harus diselesaikan dulu hehehe!
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian!