Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
PENGGANGGU


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


Hari demi hari berlalu dengan cepat. Tidak terasa besok adalah acara pernikahan Samuel dan Angel. Semua penghuni mansion disibukkan dengan tugas masing-masing. Para pelayan berlalu-lalang membawa berbagai macam keperluan dekorasi maupun bahan masakan. Beberapa penjaga juga terlihat sibuk menata tempat acara, yaitu halaman belakang. Acara pernikahan Samuel besok tidak jauh berbeda dengan pernikahan Dave dulu. Hanya saja pernikahan Samuel lebih ketat pengamanannya. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan Hans, jika ia tahu putrinya akan menikah dengan petinggi Red Blood.


Di sudut halaman belakang, terlihat Reza dan Silvi duduk bersebelahan. Silvi tidak tahu darimana ia mendapat keberanian untuk melupakan perihal perasaannya, duduk bersebelahan dengan Reza dan bersikap seperti sedang tidak ada masalah apapun.


"Kenapa kamu berpakaian seperti ini sih?" tanya Reza.


"Aku sangat bersemangat menjalankan misi kak, selain itu aku juga sudah sejak lama ingin menjadi detektif lalu menyamar seperti ini!" jawab Silvi.


Reza melihat lagi Silvi dari ujung rambut sampai kaki. Silvi menggunakan sebuah kacamata hitam dan pakaian serba hitam, mirip dengan seragam para pengawal Dave. Tangannya menenteng sebuah novel berjudul romantis. Sesekali ia menunduk untuk membaca novelnya, Reza tidak tahu itu salah satu bagian dari penyamarannya atau tidak.


"Tidak semua detektif harus menggunakan baju serba hitam, aku rasa kamu justru terlihat seperti anak geng motor!" ucap Reza yang fokus pada celana jeans Silvi yang berlubang.


"Ini namanya fashion, kak!" protes Silvi.


"Sudah diamlah! Bersikaplah biasa saja tapi tetap awasi monyetnya! Siapa tahu dia mempunyai teman di sini!" lirih Reza.


"Monyet?" tanya Silvi.


Reza menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Iya, dan kamu lah monyetnya!" ucap Reza kesal.


Silvi memang pandai menguping, tapi untuk urusan mengintai Silvi masih jauh dari kata pandai.


"Tidak mungkin ada monyet secantik dan seimut aku," jawab Silvi kesal karena ucapan Reza.


"Nah itu tahu!" sahut Reza.


Deg,


Singkat, namun ucapan Reza mampu menembus dinding pertahanan Silvi yang mencoba bersikap biasa saja kepadanya.


"Mulai sekarang kita akan menyamarkan nama orang yang intai, ya walaupun kakak juga tidak tahu siapa nama pelayan itu, pokoknya kita menggantinya dengan sebutan monyet saja! Jika ada musuh dalam selimut selain dia, pengintaian kita akan tetap aman!" jelas Reza.


Silvi mendengarkan penjelasan dari Reza dengan kepala yang terus menunduk. Mendadak tubuhnya terasa lemas setelah mendengarkan jawaban Reza yang membenarkan kalau dia cantik. Sementara Reza, ia sama sekali tidak mengambil pusing dengan kata-kata yang telah ia ucapkan.


"Silvi, kamu paham atau tidak?" tanya Reza membuat Silvi mengangkat kepalanya dan menatap Reza.


"Paham, kak!" jawab Silvi dengan cepat.


"Good," sahut Reza.


"Kalian sedang apa disini? Semua orang sedang sibuk bekerja tapi kalian justru mojok berduaan! Sangat tidak sopan," seru Samuel.


Saat Samuel sedang membawa kardus minuman melewati halaman belakang, ia memutuskan untuk menghampiri Reza dan Silvi yang terlihat sedang berduaan di sudut halaman.


"Siapa yang mojok? Babang kalau ngomong difilter dulu! Kita itu sedang...." protes Silvi yang langsung dipotong oleh Reza.


"Menghabiskan waktu bersama, di sini udaranya sejuk sekali cocok untuk tempat mengobrol!" sahut Reza, tangan kirinya mencolek tangan kanan Silvi.


Sentuhan tangan Reza seperti mengalirkan sengatan listrik ke tangannya. Silvi menatap Reza sebentar. Ia baru teringat jika misinya adalah misi rahasia, tapi Reza tidak harus memberikan jawaban yang membuat jantungnya berdetak kencang bukan?


"Sam, kemarilah!" teriak Angel yang terlihat pucat. Pasti Angel sudah mengeluarkan isi perutnya karena Samuel sedang berjauhan dengannya sekarang.


"Gua akan kesana!" balas Sam dengan berteriak juga.

__ADS_1


"Gua tinggal dulu, calon istri gua udah kangen," seru Sameul yang telah berlarian menjauh.


"Dia manggil lo karena udah capek muntah-muntah! Gitu aja sombongnya selangit!" ledek Reza.


Di kamar Dave,


Semua penghuni mansion sibuk menyiapkan acara pernikahan Samuel. Tapi tidak dengan Dave dan Aryn, mereka baru saja selesai membersihkan diri setelah pertarungan fajar yang mereka lakukan. Entah telah terjadi drama apa lagi pagi ini. Dave tidak berhenti mengomel. Aryn hanya terdiam menatap wajah suaminya yang sedang mengomel.


"Kenapa lihat-lihat?" seru Dave.


"Kamu lucu kalau sedang berbicara, apalagi mengomel seperti ini!" jawab Aryn yang menangkupkan kedua tangannya di pipinya sendiri.


"Hmm," Dave menjawabnya singkat.


"Kamu mau sarapan?" tanya Aryn.


"Hmm," jawab Dave singkat.


"Ondel-ondelku sayang, jangan marah dong!" Aryn mencoba merayu lagi.


"Hmm," Dave masih menjawab dengan singkat dan jutek.


Aryn mendengus kesal, biasanya kalau dipanggil ondel-ondel Dave akan luluh, tapi sekarang Dave masih merajuk.


"Sayang, Uti pernah berkata kepadaku jika kita terlalu lama memendam amarah, hal itu akan dimanfaatkan oleh setan disekeliling kita! Apakah kamu tidak takut?" lirih Aryn, suaranya hampir tidak terdengar.


"Aku tidak penakut sepertimu," jawab Dave ketus.


"Kamu mau di ranjang atau di kamar mandi? Aku akan menuruti keinginanmu, Dave! Jangan marah!" rayu Aryn.


"Hmm," jawab Dave.


Aryn memijat pelipisnya, apakah Dave tidak mempunyai jawaban lain selain hmm?


Dave sibuk mengotak-atik laptopnya. Ia membuka akun sosial media Aryn dengan laptopnya. Ya! Dave mengomel panjang lebar karena Aryn membuat akun sosial media. Dave mengetahuinya karena saat Aryn mandi tadi, ponselnya berbunyi dan menampilkan notifikasi dari aplikasi itu. Sekarang Dave tambah marah lagi karena Aryn memposting fotonya.


"Kenapa kamu hanya memposting fotomu yang sendirian? Agar semua orang mengira kamu single?" tanya Dave.


"Aku baru membuat akun itu saat aku terbangun tengah malam tadi dan tidak bisa tidur lagi! Jadi aku belum sempat memposting foto lain," jawab Aryn berusaha menjelaskan alasannya.


"Kamu itu terlihat sangat cantik di foto ini, sayang! Lihatlah baru dibuat semalam saja sudah banyak yang memberikan like dan komentar!" Dave mulai mengomel lagi.


"Bagus, dong! Siapa tahu besok sudah ada yang menawariku untuk endorse produk!" jawab Aryn.


Tentu banyak orang yang memberikan like, siapa sih yang tidak kenal Dave Winata. Walaupun ia tidak menggunakan nama Dave di akunnya tapi tetap saja mereka mengetahui istri dari Dave Winata. Di kolom komentar, hampir semua yang memberikan komentar adalah kaum adam, ada beberapa wanita yang memberikan komentar juga. Tapi mereka memberikan komentar negatif dan hinaan karena mereka iri dengan Aryn.


Sebenarnya Aryn selalu ingat jika Dave melarang keras ia mempunyai akun sosial media. Tapi semalam ia merasa sangat bosan dan Dave tidak mau bangun. Hal itu mendorongnya untuk membuat akun itu.


"Aku tidak mau tahu pokoknya sekarang juga kamu hapus akun ini," ucap Dave dengan nada sedikit mengancam.


"Tapi sayang Dave, pengikutku sudah lumayan!" jawab Aryn sedikit merengek.


"Atau aku yang menghapusnya?" tanya Dave.


Akhirnya Aryn mengambil ponselnya. Ia terdiam sebentar, lalu dengan berat hati ia menghapus akun itu.


"Sekarang kamu senang?" tanya Aryn yang menunjukkan ponselnya.


"Tentu aku sangat senang!" jawab Dave, ia menutup laptopnya.


Dave menghampiri Aryn yang duduk bersandar di kepala ranjang.

__ADS_1


"Aku tidak mau ada pria lain yang melihat wajahmu! Posesif, aku melakukannya karena kamu hanya milikku!" lirih Dave tepat di depan wajah Aryn.


Jarak mereka sangat dekat sekali, hingga bibir Dave menyentuk bibir Aryn saat berbicara. Aryn menutup matanya, seolah memberikan tanda jika ia ingin lebih dari sentuhan itu. Dave tersenyum smrik, lalu ia mendaratkan bibirnya dengan mulus di bibir istrinya. Cukup lama mereka saling menyalurkan rasa cinta mereka. Tangan Dave sudah tidak bisa berdiam di tempatnya. Kini tangannya mengelus lembut punggung Aryn dan mulai menyusup ke dalam kaos yang digunakan Aryn.


Nafas keduanya memburu. Tangan Aryn memeluk mesra leher Dave. Kaosnya sudah dilempar Dave ke lantai. Dave juga sudah membuang kaosnya sendiri. Sekarang tangnnya mulai turun ke bawah. Sedikit kesusahan membuka kancing jeans Aryn. Baru saja kancingnya terbuka, Aryn justru mendorongnya. Cepat-cepat Aryn memakai selimut untuk menutupi tubuh bagian atasnya.


"Ada apa?" tanya Dave dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Aku sudah mandi, Dave!" jawab Aryn dengan nafas yang ngos-ngosan juga.


"Aku juga sudah mandi, nanti kita mandi lagi! Kamu mau mencobanya di dalam bathup bukan? Akan aku ajarkan gaya baru!" lirih Dave di dekat telinga Aryn, membuat Aryn merinding.


Aryn memutar bola matanya malas, ia sendiri yang terkena imbas dari rayuannya. Dave mulai bergerilya di tubuh istrinya, tak jarang terdengar lenguhan dari bibir Aryn. Membuat Dave bersemangat untuk menikmati hidangan utamanya.


Tok...tok...tok


Suara ketukan pintu tidak membuat Dave gentar.


Tok...tok...tok


"Ada orang di luar, Dave!" ucap Aryn.


"Aku tahu, biarkan saja!" jawab Dave.


Aryn mengalah dan membiarkan Dave melanjutkan aksinya.


Tok...tok...tok


"Shit!" umpat Dave.


Dave turun dari ranjang dan memakai kembali pakaiannya. Tak lupa ia menutupi tubuh Aryn menggunakan selimut.


"Berani sekali kau mengganggu.." seru Dave dengan penuh amarah.


"Wow, lama sekali buka pintunya! Yang lain sibuk menyiapkan acara lo malah di sini! Aryn mana?" seru Zack celingukan mencari sosok Aryn.


"Ini mansion gua, terserah gua mau ngapain!" jawab Dave ketus.


Zack masih celingukan mengintip dari sisi tubuh Dave yang menghadang pintu untuk mencari Aryn. Ia penasaran apa yang terjadi di dalam karena wajah Dave terlihat memerah seperti menahan sesuatu.


"Lo nggak boleh melihat Aryn sekarang, sudah sana pergi! Cepat-cepatlah menikah supaya lo paham!" seru Dave sambil mendorong Zack untuk menjauh.


"Udah nggak tahan ya? Muka lo sampai merah semua hahaha! Muka-muka pengen!" ledek Zack.


"Awas lo! Kalau lo sudah menikah nanti setiap menit gua akan ketuk pintu lo!" seru Dave yang langsung membanting pintu dengan keras.


Blam,


Zack terkekeh di depan pintu kamar Dave.


Tok...tok...tok


Zack mengetuk pintu kamar Dave lagi.


"Pergi atau gua potong aset lo?" ancam Dave yang kepalanya sudah nongol di balik pintu.


Zack langsung berlarian meninggalkan Dave sambil memegangi aset berharganya.


..........


Maaf ya, author terlambat up nya!

__ADS_1


But, stay tuned ya! Author usahakan untuk terus up! Sehat selalu semuanya....


__ADS_2