
Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅
.....................
Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia memijat pelipisnya, pekerjaannya hari ini banyak sekali beruntung besok weekend. Tapi sesampainya di apartemen nanti ia masih harus mengecek email masuk dan juga mengatur jadwal Dave untuk seminggu ke depan.
"Sepi banget," gumam Ken saat melewati jalan alternatif.
Ia sengaja memilih jalan alternatif agar cepat sampai apartemen. Karena kalau lewat jalan utama di jam-jam seperti ini lalu lintas akan padat apalagi besok weekend, pasti banyak pasangan-pasangan yang keluar rumah untuk berpacaran. Ken menambah kecepatan mobilnya agar ia cepat melewati jalanan yang sepi ini.
Di tengah perjalanan samar-samar Ken melihat seorang wanita yang dihadang oleh empat orang preman berbadan gorila.
"Nggak beres nih, gua harus turun tangan!" ucap Ken yang langsung turun dari mobil menghampiri mereka.
"Hey," seru Ken membuat empat pria itu menoleh serempak.
"Percuma badan kalian sebesar gorila jika kalian beraninya mengganggu wanita!" seru Ken layaknya pahlawan dalam sinetron.
Empat pria itu langsung mendekati Ken, dengan mengepalkan tangan masing-masing. Ken menelan ludahnya, kini ia berhadapan dengan empat manusia berbadan gorila. Sementara wanita tadi melepaskan sepatu hak tinggi yang dia pakai.
Bug,
Wanita itu melemparkan sepatunya pada salah satu pria tadi.
"Lo nggak akan bisa menghadapi mereka!" seru wanita itu pada Ken.
"Kesini kalian, lawan gua!" serunya meneriaki keempat preman tadi bersiap dengan kuda-kuda andalannya.
"Kau yakin, cantik?" seru salah satu preman.
Ken memicingkan kedua matanya, ia terkejut mendengar teriakan wanita itu yang ingin menghadapi preman-preman sendiri. Mana mungkin seorang wanita bisa melawan preman brandalan ini. Karena jaraknya agak jauh dan juga gelap ia tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas.
"Hey jangan berani menyerang dia! Hadapi gua secara jantan, dia itu wanita yang harusnya dijaga!" sahut Ken membuat keempat preman tadi kembali berjalan mendekati Ken.
"Dasar kebanyakan gaya! Awas aja kalau nanti kalah!" gumam wanita itu.
"Mau jadi pahlawan ternyata!" ledek salah satu preman.
Ken memasang kuda-kuda, kedua matanya fokus mengamati keempat preman tadi. Ia tidak terlalu khawatir jika harus menghadapi empat orang sekaligus. Di saku belakang celananya Ken menyimpan pistol dan di kaos kakinya ia menyimpan dua belati kesayangannya. Terdengar berlebihan, tapi ia memang selalu membawa senjata jika berpergian dengan Dave untuk alasan keamanan dan keselamatan.
"Kyaa!" seru salah satu preman yang maju melesatkan tendangan pada Ken.
Ken yang sudah siap langsung menunduk hingga membuat preman tadi terjungkal di belakangnya. Ia tersenyum smrik saat preman lain mengarahkan tinjuan ke perutnya. Beruntung Ken cepat menyadari pergerakan mendadaknya. Ken menahan tinjuan itu dan memuntir tangan preman ke belakang.
"Patahkan!" teriak wanita tadi dari kejauhan.
Aaaaaaa....
__ADS_1
"Mantab!" seru wanita itu sambil melompat-lompat.
Preman itu mengerang kesakitan saat Ken mematahkan tangan kanan preman tadi dengan bringas. Preman yang jatuh di belakangnya langsung bangkit, ia melompat dan mengarahkan sikunya ke tengkuk Ken.
Bug,
Ken langsung menendang perut preman itu dan keras hingga terkapar di jalan.
"Lumayan juga," lirih wanita itu yang sekarang duduk di aspal jalan menonton pertarungan sengit Ken.
Melihat temannya yang sudah terkapar di aspal. Kedua preman yang tersisa menatap nyalang Ken.
"Ternyata kau pandai bertarung ya?" seru salah satu dari mereka.
Kyaaa....
Kedua preman yang tersisa maju menyerang Ken bersamaan.
"Woy! Satu satu dong!" seru wanita itu tidak terima.
"Diam kau!" seru Ken dan kedua preman serempak.
Kedua preman itu melesatkan tendangan maut bersamaan. Ken melompat untuk menghindari tendangan mereka. Baru saja ia mendarat di aspal, salah satu preman itu memukul perut Ken dari samping. Hingga Ken mundur beberapa langkah menahan rasa sakit di ulu hatinya. Preman yang satunya menyusul dengan melesatkan tendangan tepat di dada Ken.
Bruk,
Ken terkapar di aspal. Tangannya memegangi dada dan perutnya. Rupanya kedua preman ini lebih hebat dari dua preman yang sudah ia kalahkan tadi. Ia bersiap mengambil senjata dari kaos kakinya. Tapi kalah cepat dari preman tadi.
Bug,
Beruntung Ken masih sempat mencegahnya dengan menendang burung preman itu.
"Mampus tuh burung lo!" seru Ken yang sudah bangkit.
Sementara wanita yang Ken tolong, kini tengah berlari. Ia melihat salah satu preman mengeluarkan sebuah pisau lipat dan bersiap menyerang Ken diam-diam dari belakang.
"Awas!" seru wanita itu yang tengah melayangkan tendangan kepada preman tadi.
Preman itu masih belum menyerah, melihat ketiga temannya yang terkapar di aspal membuatnya semakin bringas. Ia kembali berdiri dan menatap nyalang wanita yang menendangnya tadi.
"Kyaaa!" seru preman itu menyerang wanita tadi dengan pukulan berkali-kali.
Ken melongo melihat kelincahan wanita itu menangkis semua pukulan preman yang membabi buta.
Bruk,
Preman itu terjerembab di aspal setelah mendapat tendangan maut di perutnya.
Ken menggelengkan kepalanya, menatap takjub wanita yang berdiri membelakanginya.
__ADS_1
"Are you okay?" seru Ken.
"Gua nggak kenapa-kenapa kok, lumayan gua udah lama nggak olahraga!" sahut wanita itu, ia berbalik menghadap Ken.
"Lo?" seru Ken dan wanita itu bersamaan.
......................
Bip bip bip bip
Aryn menggosok matanya perlahan. Tangannya menggapai alarm digitalnya itu lalu mematikannya. Ia menoleh ke sampingnya. Suami tampannya masih terlelap, tubuhnya tertutup dengan selimut sampai di lehernya sama dengan Aryn. Aryn menatap wajah suaminya sejenak. Baru kemudian ia meregangkan otot-ototnya,
"Aaauuuwww!" pekik Aryn saat mencoba meregangkan tubuhnya.
"Ada apa?" seru Dave langsung terbangun saat mendengar teriakan Aryn.
Aryn terdiam sekaligus merasa canggung. Dave tidak memakai pakaiannya hingga dada dan perut seksinya terekspos. Ia lalu meraba tubuhnya yang ternyata juga polos tanpa pakaian. Sekarang ia bingung bagaimana caranya memberitahu Dave jika seluruh tubuhnya terasa nyeri terutama bagian bawahnya. Ia jadi membayangkan kegiatan mereka semalam. Aryn menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tentu tubuhnya remuk redam karena semalam, Dave tidak mengampuninya walaupun ia sudah merengek dan menangis.
"Kamu kenapa? Apakah kamu mimpi buruk? Atau ada yang sakit?" Dave menyerang Aryn dengan banyak pertanyaan.
Tentu Aryn malah menjadi semakin canggung.
"Anu Dave... itu...sakit!" jawab Aryn menahan malu.
Mendengar jawaban Aryn, Dave senyum-senyum sendiri. Ia juga membayangkan apa yang mereka lakukan semalam. Jeritan dan lenguhan Aryn terngiang di kepalanya. Apalagi rengekan Aryn yang memintanya untuk menyudahi permainan mereka. Membuat senyum Dave semakin lebar.
"Dave?" seru Aryn membuyarkan lamunan Dave.
"Eh iya... mana yang sakit?" tanya Dave pura-pura tidak tahu.
"Bagian itu..." jawab Aryn malu.
"Istirahatlah, nanti sakitnya akan hilang!" ucap Dave.
"Tapi aku harus ke kamar mandi," rengek Aryn.
Dave mengelus pelan rambut Aryn, membuat jantung Aryn dag dig dug dor. Lalu Dave menyingkap selimutnya dan turun dari ranjang dengan santai.
"Dave!" pekik Aryn yang sudah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Tubuh ini milikmu, setelah hari ini kamu akan sering melihatnya! Begitu juga denganmu!" ucap Dave menyingkap selimut Aryn.
Tanpa banya bicara lagi, Dave menggendong Aryn ala bridal style. Aryn yang malu hanya bisa pasrah merangkul leher Dave dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik Dave. Dave lagi-lagi hanya terkekeh melihat sikap Aryn. Ia menggendong Aryn sampai di dalam kamar mandi sekaligus mendudukkannya di closet.
"Apa yang kau lakukan, Dave? Keluarlah, aku bisa sendiri!" seru Aryn.
"Aku akan mandi," jawab Dave dengan mengedipkan sebelah matanya.
..................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya!