
Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅
..........................
Di mansion Dave, hari kedua setelah Dave dan Aryn pergi honey moon,
Silvi baru saja selesai belajar bersama guru privat. Hari ini Silvi terpaksa melakukannya karena semalam Dave menelpon dan mengancamnya. Dave mengancam tidak akan memberikan uang bulanan untuk Mira, Cheetos, Sindy, dan Brown jika Silvi mengusir guru privatnya lagi. Padahal kemarin Silvi sudah memberikan uang penutup mulut untuk guru privat itu, tapi tetap saja kelicikannya terendus oleh kakaknya.
"Ada yang baru ditelpon mami nih!" sindir Silvi pada Reza.
Reza yang masih mendengarkan maminya berbicara di telpon langsung menoleh ke belakang.
"Kenapa? Kamu pengen ngobrol sama mami juga?" tanya Reza.
"Enggak kok, Silvi cuma iseng nanya!" jawab Silvi ketus.
"Yakin?" tanya Reza memastikan, ia menghidupkan loud speaker di ponselnya.
"Iya," jawab Silvi mantap.
"Apakah kamu bersama Silvi, honey?" tanya Mami Reza di seberang telepon.
"Iya, mi! Aku tadi kan sudah bilang, jika tiga hari ini aku tidak pulang ke rumah mami karena aku harus menjaga Silvi selama Dave honey moon!" jawab Reza.
"Kalau begitu berikan ponselmu pada Silvi, Mami ingin berbicara dengannya, sudah lama mami tidak mendengar kehebohan Silvi,"
Silvi terdiam saat mendengar suara mami Reza yang ingin berbicara dengannya. Niat hati ingin meledek sekarang ia malah terkena batunya.
"Kamu dengar tidak? Mami ingin berbicara denganmu, mungkin dia rindu karena sudah lama kamu menjauhiku dan juga mami!" sahut Reza menyerahkan ponselnya pada Silvi.
Setelah berpikir matang, akhirnya Silvi menerima uluran ponsel dari tangan Reza. Ia memang ingin menjauhi Reza, tapi Mami Reza tidak tahu apapun jadi Mami Reza tidak seharusnya ia jauhi. Ia duduk di sofa kosong sebelah Reza.
"Halo, mi!" ucap Silvi lirih.
"Hi sayangku! Kamu kemana saja ha? Sudah lupa dengan mamimu ini ya?"
"Maaf, mi! Belakangan ini Silvi pusing dengan pelajaran di sekolah baru Silvi, karena itu Silvi harus belajar lagi di mansion dengan guru privat," jawab Silvi sekenanya.
"It's alright, honey! Mami mengerti. Oh iya, Reza bilang kamu sedang marah ya? Ada masalah apa Silvi? Apa kesalahan Reza hingga membuatmu marah?" tanya mami Reza.
"Silvi hanya kesal dengan Kak Reza, mi!" jawab Silvi lirih.
Ia tidak mungkin memberitahu Mami Reza jika sebenarnya ia marah karena Reza diam-diam mencintai kakak iparnya, ia cemburu.
"Jika dia nakal kepadamu, bilang saja pada mami! Akan mami jewer telinganya! Weekend minggu depan temani mami shopping ya?"
"Iya, mi! Silvi akan pergi shopping bersama mami minggu depan, asal jangan ajak Kak Reza ya, mi?" tanya Silvi.
"Kalau hanya berdua saja nanti siapa yang akan membawakan barang belanjaan kita?" sahut Mami Reza.
"Apa-apaan ini, aku hanya dibutuhkan untuk menjadi kuli panggul barang kalian saja?" celetuk Reza.
"Tidak perlu mengajaknya mi, pengawal Silvi yang akan membawakan sekaligus menjaga kita!" seru Silvi.
"Okay, honey! Mami selalu setuju denganmu, lagipula Reza selalu menggerutu saat shopping!" ucap Mami Reza di seberang telepon.
"Iya benar, mi! Maaf mi, Silvi tidak bisa mengobrol terlalu lama, Silvi ada janji dengan Mira!" ucap Silvi dengan hati-hati.
"okay, honey! Sampaikan salamku untuk Mira ya! Belajar yang giat ya honey, agar sekolahmu cepat selesai dan bisa segera menjadi menantu mami! Jangan terlalu lama marah dengan Reza ya! Bye, honey!"
Tut,
"Menantu?" gumam Silvi.
Silvi menatap Reza, begitu juga sebaliknya.
"Emm, Silvi mau ketemu Mira dulu ya kak," ucap Silvi gugup mengembalikan ponsel milik Reza.
"Eh iya, Silvi! Aku juga mau menikmati jus buah nagaku," sahut Reza gugup.
Silvi memandang Reza tanpa berkedip sekalipun.
__ADS_1
"Eh, ada apa, Silvi? Katanya mau bertemu Mira, kenapa masih di situ dan memandangku seperti itu?" tanya Reza.
"Jus buah naganya panas ya kak, sampai ditiup-tiup seperti itu? Tapi sepertinya ada beberapa buah es batu didalamnya," ucap Silvi canggung.
Reza akhirnya menyadari kebodohan yang ia lakukan karena terlalu gugup tadi. Bagaimana bisa ia meniup jus yang dingin?
"Eh, anu... tadi ada semutnya, jadi ditiup agar semutnya pergi! Biasalah jusnya kan menggunakan gula dan susu jadi banyak semut!" jawab Reza sebisanya.
"Tapi kan kak, Kak Reza biasanya minum jus tanpa gula dan susu! Paling hanya menggunakan sedikit madu," sahut Silvi menahan tawanya.
Sumpah demi apa, Kak Reza cute banget kalau sedang gugup seperti ini! Aku nggak nyangka Kak Reza akan segugup ini,
"Eh, tapi jus ini terasa sangat manis! Jika memang tidak menggunakan gula ataupun susu, apakah jus ini terasa manis karena aku meminumnya sambil menatapmu?" ucap Reza setelah meminum jus buah naganya.
Sekarang giliran Silvi yang gugup dan salah tingkah. Sementara Reza, ia tertawa cekikikan.
Kamu ini lucu sekali Silvi, pintar sekali membuatku salah tingkah! Tapi baru aku keluarkan sedikit kata manisku, kamu sudah salah tingkah!
"Ada apa, Silvi? Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Reza terkekeh.
"Ah enggak kok kak, itu... aku hanya teringat novel semalam! Silvi ke kandang Mira dulu ya kak!" seru Silvi salah tingkah.
Silvi bergegas berlarian menuju pintu samping mansion. Sesaat, ia menoleh ke arah Reza. Lantas Reza pun memberikan senyuman termanisnya untuk Silvi.
"Silvi, awas didepanmu!" seru Reza.
Bruk,
Silvi menabrak dinding yang berada di sebelah pintu. Dalam hati ia mengutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia menbarak dinding Karena melihat Reza tersenyum. Akan ia letakkan dimana wajahnya itu.
"Pintunya sepertinya sudah dipindah, kemarin masih di sini!" seru Silvi sambil mengelus dinding yang ia tabrak, sesekali ia memelototi penjaga yang menahan tawa saat melihatnya terjatuh.
Sementara Reza, ia tertawa terpingkal di sofa. Lalu Silvi meliriknya tajam, walapun lirikan matanya terlihat seram tapi kedua pipi Silvi berwarna merah. Bukannya takut, Reza justru semakin tidak bisa mengontrol tawanya.
"Sindy sepertinya belum makan siang, Kak Reza bisa tolong masukkan makan siang Sindy ke dalam kandangnya? Tapi akhir-akhir ini dia sedikit manja, jadi sekalian disuapin ya kak," seru Silvi masih dengan lirikan tajamnya.
Glek,
Reza susah payah menelan ludahnya. Ia memang sering menemani Silvi saat memberi makan Sindy atau hewan peliharaan lainnya. Tapi kalau menyuapi Sindy, membayangkannya saja sudah cukup membuat tangannya gemetaran.
"Tadi waktu kakak menertawakanku, tangan kakak terlihat baik-baik saja. Bahkan bisa memukul-mukul sofa," sahut Silvi.
"Emm... maksud kakak yang sakit itu kaki kakak,...iya kaki kakak yang sakit nih!" jawab Reza gugup.
"Sungguh? Bukankah tadi kakak juga menghentak-hentakkannya?" seru Silvi menyelidik.
"Eh...anu..." lirih Reza.
"Tidak ada alasan lagi kak, Ayo kali ini kakak sedang beruntung, aku akan menemani Kak Reza!" seru Silvi.
"Yes!!!!" seru Reza sambil melompat.
"Tuh bener kan? Ayo cepat!" seru Silvi ketus.
Reza menutup mulutnya rapat-rapat, ia berjalan mengekor di belakang Silvi. Gadis kecil ini jika sedang kesal atau marah, bisa lebih kejam dari kakaknya.
..................
Maldives,
Setelah insiden hilangnya kaos kaki, Dave hanya duduk di sofa dan memainkan ponselnya. Ia sengaja tidak berbicara dengan Aryn.
"Sayang, kenapa kamu diam saja dari tadi? Apakah kamu sakit gigi?" tanya Aryn yang berguling-gulinh di ranjang.
"Hmm," jawab Dave singkat.
Sebenarnya Dave tidak kuat menahan dirinya untuk tidak menerkam istrinya yang sedang bertingkah menggemaskan di atas ranjang. Tapi ia harus menahannya agar Aryn tahu apa kesalahannya.
"Atau sedang sariawan?" tanya Aryn sambil memonyongkan bibirnya.
"Hmm," jawab Dave singkat dan ketus.
"Sebenarnya aku tidak tahu apa itu sariawan. Tapi ya sudahlah, ceritanya aku sedang marah, jadi harus menjawab singkat!" gumam Dave.
__ADS_1
"Dave kamu kalau kamu diam saja seperti ini, aku rasa kamu mirip ondel-ondel!" seru Aryn sambil menutup wajahnya bersiap menerima amarah Dave.
"Hmm," lagi-lagi Dave hanya menjawabnya singkat. Dave bersikap biasa saja.
"Demi apa dia nggak marah? Oh iya, dasar bule! Jelas banget dia tidak tahu apa itu ondel-ondel hahaha! Aku akan mengerjainya, " gumam Aryn dalam hatinya.
"Daveku yang wangi seperti trasi, tubuhmu yang macho seperti ondel-ondel, dan alis tebalmu yang mirip uler keket, jangan marah dong!" ucap Aryn yang sekarang bergelayutan manja di lengan Dave.
"Hmm," seperti dugaan Aryn, Dave tidak tahu jika ia sedang meledeknya.
Lima belas menit berlalu tanpa ada percakapan di antara mereka berdua.
"Ondel-ondelku, ayo kita berjalan-jalan! Aku akan mematuhi perkataanmu, kita akan pergi ke tempat yang kamu tentukan!" ucap Aryn lemas, ia benar-benar kehabisan akal untuk membuat Dave berbicara kepadanya.
Aryn tidak ingin membuat suaminya mendiamkannya. Ia takut menjadi istri yang durhaka karena membangkang suaminya. Tapi Aryn selalu meledek Dave dengan bahasanya, tidak apalah hanya sesekali tidak setiap hari.
"Sungguh?" tanya Dave antusias.
"Iya, sayang! Let's go!" seru Aryn dengan antusias.
"Wait! Aku masih marah!" seru Dave, ia melipat tangannya di depan dada.
"Aku minta maaf sayang! Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak marah lagi?" tanya Aryn.
"Cium aku!" jawab Dave lantang, hingga membuat semua ikan yang melintas menatap mereka. Eh, bercanda ya hehehe.
"Malu sama ikan, sayang!" protes Aryn.
"Tidak boleh ada penolakan!" ucap Dave.
Cup,
Aryn mencium Dave sekilas, ia menutupi kepala mereka berdua dengan majalah yang ada di sofa.
"Mereka bahkan sudah melihat olahraga malam kita, untuk apa kamu menutupi adegan kita tadi?" ucap Dave sambil mengelus lembut kepala Aryn.
"Sudah kan, let's go!" seru Aryn.
"Wait," sahut Dave.
"Apa lagi?" jawab Aryn lemas.
"Aku mau nanti malam kita olahraga sampai pagi!" lirih Dave.
"Iya, Dave! Kamu mau sampai pagi atau siang aku siap! Mau sambil jongkok atau nempel di dinding pun aku siap! Kamu mau di kamar, di dapur, atau di toilet pun siap! Sudah makan saja aku, makan sampai habis, Dave!" ucap Aryn pasrah.
"Aku akan menagih ucapnmu nanti malam! Let's go!" ucap Dave bersemangat.
"Let's go! Akhirnya jalan-jalan juga!" seru Aryn tak kalah semangat.
Aryn menyambar ponselnya lalu menggandeng tangan Dave. Dave pun menghadiahkan banyak kecupan di punggung tangan Aryn. Selama di perjalanan, Dave tidak melepas Aryn sedetikpun. Hingga membuat Frans gigit jari di belakang mereka.
"Sayang, kamu tadi memanggilku ondel-ondel bukan? Ondel-ondel itu apa? Panggilan sayang?" seru Dave.
"Ondel-ondel itu boneka sebesar manusia yang sangat tampan dan terkenal di Indonesia, Dave! Aku sangat suka melihat ondel-ondel!" jawab Aryn menahan tawa.
"Sungguh? Kalau begitu mulai sekarang kamu panggil aku ondel-ondel saja sayang!" ucap Dave spontan.
"Wuahahahahaha..." Frans tidak bisa menahan tawanya.
Dave langsung meliriknya tajam.
"Aku tahu kau pasti iri dengan keromantisan kami, kan? Makanya cari pacar!" ledek Dave.
"Baik, tuan!" jawab Frans yang masih menahan tawanya. Sebenarnya ia ingin memberitahu Dave, tapi Aryn memberinya kode untuk diam.
"Love you ondel-ondelku!" seru Aryn terkekeh.
"Love you too sayang!" jawab Dave yang menghadiahkan kecupan lembut di kening Aryn.
...............
Bagaimana readers? Pasangan mana yang lebih oke?
__ADS_1
Stay tuned ya!