Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
REZA PERGI?


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Zack dan Ken membantu Reza untuk masuk ke dalam apartemennya. Mereka tadi langsung membawa Reza ke rumah sakit walaupun Reza menolaknya. Reza merintih kesakitan saat merebahkan bokongnya di sofa. Tanpa diminta Ken bergegas menuju dapur dan membawakan segelas air mineral untuk sahabatnya.


"Thanks bro!" ucap Reza. Reza meneguk air itu sampai habis.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Ken.


"Cerewet banget sih lo, Ken! Sahabat babak belur gini, biarin dia istirahat dulu, baru nanti kita bisa mengintrogasi!" sahut Zack.


"Kenapa sih lo, selalu ngajak ribut! Gua tahu kita sedang bersaing untuk mendapatkan Naina, tapi kalau mau ribut lihat situasi dan kondisi dong!" seru Ken.


"Stop! Badan gua tambah sakit melihat kalian berdebat seperti ini!" seru Reza.


"Makanya jelasin!" sahut Ken dan Zack serempak.


"Okay, santai! Gua akan jelasin kok!" jawab Reza.


Zack dan Ken memasang telinga mereka baik-baik bersiap mendengar cerita dari Reza.


"Nungguin ya?" Reza terkekeh.


"Badan sudah biru semua masih sempatnya bercanda!" seru Zack.


Lantas Zack dan Ken menoyor kepala Reza dari kiri dan kanan secara bergantian.


"Awww... sakit!" keluh Reza.


"Okay, gua cerita! Dave tahu Silvi menyukaiku!" lanjut Reza.


"WHAT?.... APA?" seru Zack dan Ken.


"Silvi tadi secara tidak sengaja keceplosan, Dave akhirnya tahu! Dave marah besar karena dia menganggap gua sengaja membuat Silvi jatuh cinta mempermainkannya! Gua akuin ini kesalahan gua, kalau aja gua nggak menaruh hati untuk Aryn dan gua nggak mencoba merebutnya dari Dave dulu, pasti Dave tidak akan marah! Dave pasti tidak ingin adiknya sakit hati! Dia hanya ingin melindungi adik perempuannya!" ucap Reza lirih.


"WHAT...APA!" seru Zack dan Ken bersamaan.


"Kalian ini lupa alphabet atau bagiamana? Dari tadi hanya mengatakan 'Apa' saja!" keluh Reza.


"Are you crazy, man? Lo suka sama Aryn? Dan mencoba merebutnya? Lo itu sahabat gua atau bukan, masalah sebesar ini gua nggak tahu!" seru Zack.


"It's love at first sight, bro! Gua suka Aryn sejak pertama kali gua melihatnya dulu! Kita sama-sama tahu bagaimana cara Dave memperlakukan Aryn dulu! Asal lo tahu, perasaan gua ke Aryn lah yang membuat gua meninggalkan semua gebetan gua! Tapi setelah mereka bersama, gua sudah menjauh dan melupakan Aryn! Bahkan sekarang gua sudah tidak ada perasaan untuk Aryn!" jawab Reza.


"Kalau lo sudah tidak ada perasaan untuk Aryn, kenapa lo diam aja waktu dipukuli?" tanya Ken.


"Gua baru sadar hal itu saat Silvi dengan beraninya berdiri merentangkan tangannya untuk melindungku, sama seperti saat ia menghadang peluru itu! Detik itu juga gua merasakan ketulusan perasaan Silvi, saat gua melihat Silvi menangis dan menjerit saat gua dipukuli, gua bisa merasakan sakit yang lebih sakit dari rasa sakit dipukuli pengawal sebesar gorila! Rasanya gua nggak tega melihat Silvi seperti itu," jawab Reza lirih.


"Bro.. maksud lo, lo menyukai Silvi?" seru Zack.


"Entahlah, yang gua tahu isi otak gua sekarang cuma tentang dia tidak ada lagi tentang Aryn!" Reza memalingkan wajahnya.


"Terus sekarang lo tunggu apa lagi? Ayo kita ke mansion Dave, lo jelasin semuanya!" seru Ken bersemangat.


Zack dan Ken bersiap-siap, Zack mengambil kunci mobil sementara Ken bersiap untuk memapah Reza.


"Enggak ada yang perlu dijelasin, Dave tidak akan pernah menerima gua! Dia sudah menyuruh gua untuk pergi jauh, dia juga sudah memecat gua!" lirih Reza.

__ADS_1


"Setelah lo jelasin nanti, dia akan mengerti!" sahut Zack.


"Tidak akan, dia benci gua sejak lama! Dia hanya bersikap biasa saja demi menjaga persahabatan kita! Ini semua juga demi kebaikan Silvi, dia masih muda dan cantik. Dave tidak akan membiarkan adiknya bersama dengan pria brengsek seperti gua! Gua akan ke mansion mami dan papi malam ini. Gua akan menerima keputusan mereka," Reza menggibaskan tangan Ken.


"Keputusan apa?" seru Zack.


"Beberapa minggu lalu, mami meminta gua pulang ke mansion. Saat itu juga mereka berdua meminta gua untuk meneruskan dan memimpin induk perusahaan yang ada di Paris! Gua akan menerima keputusan mereka!" lirih Reza.


"Lo nyerah secepat ini? Lo lupa bagaimana Silvi memperjuangkan perasaannya? Gadis sekecil itu bro, lo akan menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan ini!" seru Zack.


Reza terdiam, ia teringat bagaimana beraninya Silvi menghadang timah panas yang meluncur ke arahnya. Gadis kecil itu mencintainya sangat besar. Tapi dia juga tidak bisa egois, Silvi adalah adik dari sahabatnya. Dave secara terang-terangan mengatakan jika dia tidak akan pernah sudi membiarkan Reza dan Silvi bersama. Lebih baik jika dia pergi jauh dari kehidupan Silvi.


"Andai gua bisa memutar waktu, pasti gua akan membalas perasaan Silvi dan membuat Dave mengerti. Sekarang semuanya sudah terlambat! Yang bisa gua lakuin hanya berusaha menjadi pria yang lebih baik dari sekarang, gua juga harus bisa membuktikan kalau Reza itu sudah berubah, mami dan papi juga menaruh harapan yang besar agar gua bisa meneruskan bisnis mereka! Mungkin ini jalan agar gua jadi orang yang berguna! Semoga saja jika waktu itu tiba Silvi belum berpaling dariku, kalau memang Silvi ditakdirkan untuk bersama gua, mau berpisah sejauh apapun itu pasti akan dipertemukan lagi," lirih Reza.


Zack dan Ken menghargai keputusan yang diambil sahabat mereka. Mereka meninggalkan Reza di apartemennya, biarlah Reza menenangkannya dirinya. Reza melemparkan ponselnya ke sofa. Kepalanya bersandar di bantalan sofa.


 


Keesokan harinya di mansion Dave,


Pukul 7 pagi Dave sudah siap dengan apron berwarna pink kesukaan Aryn. Seperti biasa ia sendiri yang akan membuatkan susu dan sarapan untuk istrinya. Aryn melihat aksi Dave dari meja makan. Dave akan membuat telur dadar pagi ini. Tiba-tiba ia membalik telur dadarnya seperti chef di acara televisi. Dan telur itu bisa mendarat sempurna setelah dilempar ke udara. Aryn berdiri dan memberikan tepuk tangan untuk suaminya. Begitu juga dengan para pelayan. Mereka kagum melihat Dave yang semakin pandai memasak.


Dalam hitungan menit telur dadar isi sayur spesial dan segelas susu sudah siap di hadapan Aryn.


"Kamu harus makan yang banyak!" seru Dave.


Aryn membuka maskernya dan menerima suapan dari tangan Dave langsung. Dari jarak sedekat ini Aryn dapat melihat dengan jelas kantung mata Dave yang menghitam. Itu pasti karena dia tidak tidur semalam.


Dentingan lift membuat Dave dan Aryn menoleh. Aryn berjalan dengan lemas menuju meja makan.


"Ily mana kotak makanku?" serunya.


"Aku berangkat dulu," ucapnya.


Tanpa mendengar jawaban dari Dave, ia memeluk Aryn sebentar lalu pergi. Dave menghela napasnya dengan kasar.


"Apakah kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Aryn.


"Iya, sayang! Reza tidak mencintai Silvi, dia hanya kan menjadikan Silvi pelarian saja! kalaupun dia mencintai Silvi aku tidak akan pernah mengizinkannya begitu saja, Silvi itu adikku satu-satunya! Aku tahu betul bagaimana pria itu." jawab Dave.


Aryn mengangguk, pada saat yang tepat nanti ia kan mencoba membicarakannya lagi dengan Dave. Masih ada peluang untuk Reza. Saat ini Dave masih dipenuhi dengan amarah dan kebencian. Aryn baru tahu jika Reza menaruh hati untuknya dari obrolannya dengan Dave semalam. Kebencian Dave dengan Reza bukan tanpa alasan. Tapi Aryn tidak tega melihat Silvi yang seperti kehilangan semangatnya. Ia tidak pernah melihat Silvi semuram ini.


Silvi masuk ke dalam mobilnya tanpa menyapa Frans. Frans mengerinyitkan dahinya, hari ini Silvi berubah 180°. Frans bergegas masuk ke dalam mobil dan melupakan apa yang ia pikirkan tadi. Setelah mengantar Silvi nanti ia masih harus mengantar Aryn. Biasanya Frans akan mengantar Silvi dan Aryn sekaligus tapi hari ini Silvi minta diantar lebih pagi dan kebetulan jadwal kelas Aryn agak siang hari ini.


Sampai tiba di sekolah Silvi, di antara Silvi dan Frans tidak ada percakapan sama sekali. Tidak seperti biasanya. Frans menatap punggung Silvi yang semakin menjauh. Ia terbiasa dengan sikap ceria gadis itu. Ia yakin pasti sudah terjadi sesuatu.


"Nona, tungggu!" teriak Frans.


Silvi menghentikan langkahnya, tapi tidak menjawab Frans. Frans bergegas berlari menghampiri.


"Apakah nona baik-baik saja?" tanya Frans.


"Iya," jawab Silvi singkat.


Lalu Silvi berjalan meninggalkan Frans. Frans tidak tinggal diam, ia menahan tangan Silvi.


"Ada apa lagi?" tanya Silvi.

__ADS_1


"Apakah Tuan Reza menyakiti, Nona?" tanya Frans tanpa basa-basi. Setahu Frans hanya Reza yang bisa membuat Silvi berubah seperti ini.


"Bukan urusan Kak Frans! Dan mulai sekarang, sandiwara ini sudah berakhir! Jadi jangan mencampuri urusanku!" sahut Silvi yang langsung menggibaskan tangan Frans.


Frans tertegun setelah mendengar ucapan Silvi. Selama sebulan lebih mereka bersandiwara. Ia merasa tidak rela jika semuanya harus berakhir.


"Astaga! Sadar Frans... ini hanya sandiwara dan semuanya sudah berakhir!" Frans memaki dirinya sendiri. Lantas ia bergegas masuk ke dalam mobil dan meluncur kembali ke mansion.


"Arrgghh!" teriak Reza.


Dia sengaja mengikuti mobil Silvi dari kejauhan. Ia juga mendengar semua obrolan Frans dan Silvi.


"Pantaskah aku mendapat cinta sebesar ini darimu, Silvi? Kamu bahkan sampai membuat sandiwara seperti itu untuk mendapatkan hatiku! Sementara aku selalu menutup mata padahal ada kamu yang menungguku dengan cinta yang tulus! Aku hanya sibuk dengan ambisiku," gumam Reza.


Reza mengelap wajahnya dengan kasar. Ia merasa sangat bingung sekarang. Apa yang harus ia lakukan? Memperjuangkan cintanya atau pergi agar Silvi mendapatkan pria yang lebih baik darinya? Reza meluapkan amarahnya dengan menendang mobil yang terparkir di depan mobilnya. Ia sebelumnya mengambil ancang-ancang terlebih dahulu. Dan,


Bruk,


"Arrgghh... sakit!" pekik Reza memegangi kakinya yang sakit.


Tendangan Reza mengenai bagian samping mobil itu sampai sedikit tergores catnya. Tapi Reza baru menyadari sesuatu, alarm mobil itu berbunyi dengan sangat keras.


"Shit!" umpat Reza.


Reza memperlihatkan sekelilingnya, semua orang sedang memperlihatkan mobil yang ia tendang tadi. Betapa terkejutnya Reza saat melihat Silvi juga menatap ke arah mobil itu. Reza langsung bersembunyi di balik mobilnya. Masalah akan semakin rumit jika Silvi melihatnya. Pengawal Silvi akan melapor pada Dave. Bisa saja Silvi yang dihukum.


"Aku seperti melihat Kak Reza tadi," gumam Silvi.


Silvi celingukan melihat sekeliling mobil yang alarmnya berbunyi. Sementara Reza, ia berjalan jongkok menuju pintu mobilnya dan langsung masuk ke dalam. Reza menancap gas meninggalkan area sekolah Silvi.


"Mobil itu...Itu mobil Kak Reza, nomor polisinya sama!" seru Silvi.


"Kak Reza....Tunggu kak!" Silvi berteriak sekencang-kencangnya.


Dari spion Reza melihat Silvi yang berteriak kepadanya. Ia menguatkan hatinya, ia menambah kecepatan mobilnya. Pesawatnya akan take off sebentar lagi, ia harus segera sampai bandara.


Silvi mengambil ponselnya, ia mencoba menelpon nomor Reza. Sudah tiga kali dia mencoba tapi Reza selalu menolak teleponnya. Sekarang nomornya malah tidak aktif. Silvi gelisah, ia akan bolos sekolah hari ini. Saat pengawal menahannya, ia mengancam akan memecat mereka. Silvi menyetop taksi. Di dalam taksi ia mencoba menelpon Zack.


"Hallo, Kak Zack! Kak katakan dimana Kak Reza?"


******


"Jangan diam saja kak, katakan!"


"Dia akan pergi ke Paris pagi ini, mungkin saja pesawatnya sudah take off!"


Tut,


Silvi mematikan sambungan teleponnya. Ia baru saja melihat Reza, artinya Reza belum berangkat.


"Ke bandara ya, pak!" perintah Silvi pada sopir taksi.


"Baik, nona!" jawabnya.


Silvi hanya bisa berdoa, semoga ia tidak terlambat. Ada banyak hal yang belum ia katakan kepada Reza. Dan ada banyak penjelasan yang harus ia dengar dari mulut Reza.


........................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar ya!


__ADS_2