Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
PENAKUT


__ADS_3

WARNING:


SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.


HAPPY READING 😘


..........................


Aryn berjalan dengan terburu-buru memasuki kamarnya. Jika ia mengingat kejadian di dapur tadi rasanya ia ingin sembunyi di lubang semut saat itu juga.


Aryn bergegas naik ke ranjangnya, ia naikkan selimutnya sampai menutupi kepalanya.


"Kau tidak boleh tergoda, Aryn! Buaya buntung bermuka tembok macam Dave harus tahu kalau wanita itu bukan mainan!" gumam Aryn di bawah selimutnya.


Ceklek,


Dave membuka pintu kamar Aryn, dan langsung menutupnya dengan keras. Sampai membuat Aryn terlonjak kaget. Dadi raut wajah Dave, terlihat jelas kalau saat ini Dave sedang marah. Dengan takut-takut, Aryn mengintip dari balik selimutnya.


Nampak Dave sedang mematikan lampu, lalu ikut bergabung Aryn di ranjang. Dave tidak mengatakan apapun. Aryn tahu suasana hati Dave sedang tidak baik, ia memilih untuk diam daripada nanti ia didorong dari ranjang lagi.


"Aryn! Apakah kau sudah tidur?" sahut Dave.


"Hmm," jawab Aryn.


"Dengar! Besok pagi aku harus kembali ke Amerika, ada urusan penting! Jadi besok pagi-pagi kemasi barang-barangmu!" seru Dave.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana!" jawab Aryn.


"Aryn!" bentak Dave.


Sekarang Dave terduduk di hadapan Aryn, kedua matanya menatap tajam Aryn.


"Aku tidak suka jika ada seseorang yang membantahku!" seru Dave.


Aryn semakin merapatkan selimutnya. Ia benar-benar takut sekarang. Pipinya bahkan sudah basah dengan air matanya. Baru beberapa menit lalu, Dave menggodanya. Tapi sekarang Dave kembali kasar kepadanya lagi. Melihat air mata Aryn, Dave semakin marah. Tangannya mencengkeram erat sprei di bawahnya.


"Apakah dia akan menyakitiku lagi?" batin Aryn.


"Arrgghh!" teriak Dave.


Pyar,


Dave melempar gelas yang berada di atas nakas. Pecahan gelas berserakan di lantai. Dave sadar jika ucapannya kasar pada Aryn. Ia melampiaskan kemarahannya pada gelas itu. Aryn langsung terduduk, bahunya bergetar. Aryn menangis sesenggukan.


"Berhentilah menangis! Sekarang tidurlah!" ucap Dave yang kini mendekati Aryn.


Aryn tidak menghiraukan ucapan Dave. Ia turun dari ranjang, lalu berlari keluar dari kamar. Dave menjambaki rambutnya sendiri. Ia bergegas mengejar Aryn yang berlari menuju kamar Uti.


"Kau benar-benar bodoh, Dave!" gerutu Dave.


"Uti!" seru Aryn di depan kamar Uti.


Tangannya menggedor-gedor pintu kamar Utinya. Sesekali ia menyeka air matanya.

__ADS_1


"Ada apa, Aryn? Malam-malam kau berisik sekali!" seru Uti yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Aryn takut!" Aryn menghambur ke pelukan Utinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Uti dengan cemas.


"Aryn!" seru Dave.


Dave semakin mempercepat langkahnya mendekati kamar Uti. Ia usap wajahnya dengan kasar saat melihat Aryn memeluk Utinya. Sekarang masalahnya menjadi semakin runyam.


"Apa yang terjadi, Dave? Kenapa cucuku ketakutan seperti ini?" tanya Uti.


Dave menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sama sekali tidak tahu apa yang dikatakan Uti. Aryn menghela napasnya dengan kasar. Terpaksa ia harus menerjemahkan ucapan Utinya.


"Kami tadi sedikit berdebat, Uti. Besok saya harus kembali ke Amerika karena urusan penting, saya mengajak Aryn untuk pulang bersama. Tapi Aryn menolak, saya sedikit terbawa emosi dan membentaknya!" ucap Dave.


Uti langsung melihat Aryn, memberikan isyarat untuk menerjemahkan ucapan Dave.


"Kau harus memahami sifat istrimu, Dave! Istrimu ini masih muda dan kadang kekanak-kanakan, dia juga mudah terbawa perasaan. Jadi Uti harap sebagai suami kau harus bisa memahami dan membimbing istrimu! Jangan dahulukan emosimu apalagi berbuat kasar padanya!" ucap Uti.


"Jika ada salah satu ada yang marah, maka harus ada yang menenangkan. Jangan lawan api menggunakan api. Jinakan api menggunakan sejuknya air. Jika kalian mempunyai masalah, jangan kabur! Selesaikan baik-baik dengan mencari solusi terbaiknya!" lanjut Uti yang mengelus pucuk kepala Aryn.


"Baik, Uti!" jawab Dave setelah mendengar terjemahan dari Aryn.


"Besok pagi pulanglah dengan suamimu!"


"Iya, Uti!" jawab Aryn dengan malas.


"Kalau Dave membentakmu lagi, beritahu Uti! Akan Uti jewer telinganya!" ucap Uti saat melepaskan pelukan Aryn.


........................


Pukul 4 sore di Amerika, Reza baru saja selesai packing barang-barangnya. Tiga jam lagi ia akan terbang ke Singapura. Ia sengaja tidak memberitahu Silvi. Rencananya ia akan menelpon Silvi nanti saat ia sudah sampai di Singapura.


"Apakah Dave sudah bertemu dengan Aryn?" gumam Reza.


Ia mengecek aplikasi chattingnya berkali-kali, tapi pesan yang ia kirim untuk Aryn tidak kunjung terkirim. Reza juga mencoba menelpon nomor Aryn, tidak aktif.


"Ya! Pasti Dave sudah bertemu dengan Aryn," gumam Reza.


Reza duduk di sofanya yang menghadap ke jendela. Jarak bandara dari apartemennya tidak jauh, jadi ia masih mempunyai waktu untuk bersantai.


Ketika Reza melihat kendaraan yang berlalu lalang di jalanan depan apartemennya, ia melihat dua orang mencurigakan. Salah satu dari mereka terlihat masuk kembali ke dalam mobil. Sedangkan satu orang lainnya celingukan di depan mobil hitam mereka, seperti sedang mengamati keadaan sekelilingnya. Reza sempat terkejut saat orang itu tiba-tiba melihat ke arahnya yang berada di lantai 8. Dengan cepat Reza langsung bersembunyi di balik gorden.


Pria berpakaian hitam itu berjalan dengan santai mendekati mobil Reza yang kebetulan diparkirkan di depan apartemen. Biasanya Reza memarkirkan mobilnya di basement, tapi karena semalam ia pulang dari mansion mamanya terlalu larut ia malas memasukkan mobilnya ke dalam basement.


"Shit!" seru Reza.


Dengan mata kepalanya sendiri, Reza melihat orang misterius itu mengotak-atik mobilnya. Reza berhasil mengambil gambar dengan ponselnya. Sayang sekali, Reza tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang dan plat mobil yang digunakan dengan jelas. Ya! Ia bisa mengecek CCTV nanti.


Ikuti mobil hitam yang sedang berhenti di depan apartemen dan siapkan mobilku yang lain!


Reza mengirim pesan singkat untuk anak buahnya. Reza yakin jika ia pergi ke bandara dengan mobil itu, ia akan celaka.


Drrttt...drrrttt

__ADS_1


Baru dua langkah ia meninggalkan pintu apartemennya, ponselnya berdering.


"Halo!"


"Pergilah ke apartemen Zack, Samuel diserang orang! Kita akan mendiskusikan masalah ini besok setelah Dave sampai di sana!"


"What!! Terus bagaimana dengan penerbangan ke Singapura?"


"Bos baru saja mengirim pesan, lo nggak akan pergi ke Singapura!"


"Oh My God! Syukur deh! Gua OTW ke apartemen Zack sekarang!"


"Oke!"


Jujur Reza merasa bersyukur karena Samuel diserang. Karena Dave membatalkan pemindahan tugasnya ke Singapura. Tapi tetap sebagai sahabat ia juga merasa cemas dan marah atas penyerangan Samuel. Reza segera menyambar kunci yang diberikan anak buahnya yang baru saja keluar dari lift. Kopernya ia tinggal begitu saja di depan pintu apartemennya.


.....................


Dave menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia bersiap membuka pintu kamar Aryn. Dengan perlahan ia membuka pintu itu. Terlihat Aryn menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut kecuali rambutnya. Ia naik ke ranjang, merebahkan tubuhnya di samping Aryn.


"Apakah kau tidak sesak napas?" tanya Dave memecah keheningan di antara mereka.


"Tidak," jawab Aryn.


"Kenapa kau menutupi seluruh tubuhmu seperti itu?" tanya Dave.


"Tidak apa-apa!" seru Aryn.


"Aku dengar jika seseorang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut seperti itu, nanti akan ada sesuatu yang membuka selimutnya!" lirih Dave.


"Diamlah!" Aryn membuka selimutnya sampai batas lehernya.


"Kau itu lucu sekali!" batin Dave.


"Penakut," ledek Dave.


Dave mengeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Aryn hingga tubuhnya menyentuh punggung Aryn. Aryn merasa geli karena napas Dave mengenai tengkuknya.


"Ranjang ini cukup besar dan muat untuk dua orang, harusnya kau punya cukup ruang untuk dirimu sendiri dan tidak perlu menggangguku!" seru Aryn.


"Apakah aku sedang tidur dengan istri tetangga? Apa masalahnya jika aku tidur seperti ini?" balas Dave.


"Geser! Aku tidak akan bisa tidur kalau seperti ini!" seru Aryn.


"Sungguh? Bukankah kau tadi tidur nyenyak saat aku peluk?" tanya Dave, tangannya kini memeluk pinggang Aryn.


"Dave!" Aryn melepaskan tangan Dave yang memeluk pinggangnya.


"Bibirmu mungkin bisa berbohong, tapi hatimu tidak!" seru Dave.


Aryn memutar bola matanya malas, ia membalikkan tubuhnya. Jarak mereka semakin dekat, dengan sekuat tenaga ia mendorong tubuh Dave agar menjauh darinya. Dave hanya terkekeh melihat tingkah Aryn. Karena ia sudah mengantuk, Dave akhirnya menggeser tubuhnya ke belakang. Jika perdebatan ini diteruskan, maka ia tidak akan tidur sampai pagi.


.........................


Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you pokoknya❤️

__ADS_1


__ADS_2