Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
JANJI REZA


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!


..........................


Silvi berkali-kali menyalakan ponselnya hanya untuk mengecek jam. Ia merasa sangat gelisah sekarang. Ditambah jalanan sedang padat sekarang. Taksi yang ia tumpangi hanya bisa bergerak perlahan. Hampir sepuluh menit berlalu tapi jalanan justru semakin ramai.


"Kenapa jalanan bisa sepadat ini, apa tidak bis lewat jalan lain?" seru Silvi.


"Maaf nona, kita terjebak macet. Sepertinya ada kecelakaan!" ucap sang sopir.


"Apakah masih jauh, pak?" tanya Silvi.


"Lumayan nona, sekitar 3 kilometer lagi," jawab sopir.


Silvi mengangguk, ia merogoh saku rok seragamnya. Ia mengeluarkan dua lembar uang kertas dan memberikannya kepada sopir taksi tersebut.


"Maaf nona, kebanyakan uangnya!" seru sopir taksi.


Tapi Silvi sudah berlari keluar taksi. Ia berlari di sepanjang trotoar khusus untuk pejalan kaki. Ada banyak pejalan kaki yang memaki karena disenggol oleh Silvi. Silvi hanya menoleh dan berteriak minta maaf. Di persimpangan jalan Silvi dapat melihat sebuah mobil yang rusak parah sedang dievakuasi. Pantas saja jalanan bisa macet, rupanya memang benar ada kecelakaan.


Keringatnya mengalir di wajah polosnya. Berkali-kali tangan mungilnya mengelap cucuran keringat di dahinya. Yang ada dipikirannya sekarang adalah ia harus sampai di bandara secepat mungkin atau ia akan kehilangan Reza selamanya. Silvi sempat mengirimkan pesan untuk bertanya kepada Zack tadi. Zack mengatakan Reza akan pindah ke Paris untuk menggantikan orang tuanya mengurus perusahaan mereka.


Sepertinya keberuntungan sedang berpihak pada Silvi sekarang. Ada seorang anak kecil menuntun sepedanya. Silvi bergegas menghampiri anak itu.


"Sepedanya kakak beli ya? Ini uangnya, sisanya untuk beli ice cream ya!" ucap Silvi yang mengeluarkan uang dari dalam tasnya. Tidak masalah jika uang jajannya habis, ia bisa meminta lagi pada kakaknya.


Anak kecil itu hanya mengangguk, lalu berlarian mendekap uang yang banyak itu. Silvi bergegas mengayuh sepedanya. Silvi mengayuh sepeda itu dengan semangat. Baju seragam yang ia gunakan kini menjadi lusuh dan sedikit basah oleh keringat. Senyumnya mengembang saat melihat papan petunjuk masuk ke area bandara. Begitu sampai di area parkir Silvi meletakkan sepedanya begitu saja di sebuah pohon yang lumayan rindang. Ada banyak pasang mata yang mengamati Silvi sejak ia masuk ke area parkir. Wajar saja Silvi menjadi pusat perhatian. Ia datang dengan menggunakan sepeda anak kecil dan seragam yang lusuh. Tapi Silvi tidak menghiraukannya, Ia berlari masuk ke dalam bandara.


"Kak Reza tidak boleh meninggalkanku begitu saja!" gumamnya dalam hati.


Silvi mengamati Flight Information Display System (FIDS) dihadapannya dengan teliti. Di sana hanya ada satu pesawat dengan tujuan Paris. Pesawat itu akan take off 15 menit lagi. Waktu yang terbatas untuk mencari Reza di bandara seluas ini. Menurut informasi yang diberikan Zack, Reza terbang menggunakan pesawat biasa. Berarti Reza masih di sini. Kalau saja Reza itu seperti kakaknya yang selalu menggunakan pesawat pribadi pasti Silvi tidak akan mempunyai kesempatan untuk menemui Reza.


Kakinya berjalan cepat menuju boarding area. Silvi berpikir Reza pasti sudah berada di sana karena pesawatnya akan lepas landas 15 menit lagi. Petugas keamanan bandara menahannya, Silvi tidak boleh memasuki boarding area. Akhirnya Silvi hanya bisa mencari Reza dari balik pintu kaca. Ia sampai naik ke atas kursi agar bisa melihat dengan jelas. Tapi Silvi tidak melihat Reza di sana. Silvi pun berlarian mencoba masuk lagi.


"Maaf, nona! Nona tidak boleh masuk, hanya penumpang dengan tiket dan petugas yang boleh masuk!" seru petugas keamanan.


"Izinkan aku masuk sebentar saja untuk menemui seseorang, kalau dia tidak ada di dalam kalian boleh menyeretku keluar! Tolong!" jawab Silvi.


"Tolong mengertilah, nona! Ini demi keamanan bandara, kami hanya menjalankan tugas!" seru petugas itu.


Silvi memberontak dan terus berteriak meminta masuk. Sampai semua orang menatapnya. Begitu juga dengan pria yang duduk paling depan. Ia berdiri menatap Silvi. Lalu secepat kilat pria itu memalingkan wajahnya.


Petugas bandara menyeret Silvi menjauh dari boarding area. Jangan mengira Silvi menyerah begitu saja, ia menggunakan kakinya untuk menendang petugas bandara itu berkali-kali. Tenaganya bertambah berkali-kali lipat saat suara petugas memberikan informasi kepada para penumpang bahwa pesawat akan take off sebentar lagi. Air mata Silvi bercucuran, ia mengayunkan kakinya dan,


Bug,

__ADS_1


Tendangannya kali ini tepat mengenai bagian bawah salah satu petugas bandara. Hingga petugas itu terduduk di lantai memegangi aset masa depannya. Silvi berlarian menuju pintu. Petugas lainnya menarik tangannya.


"Kak Reza!!!" teriaknya sekuat tenaga.


Seorang pria menghentikan langkahnya saat mendengar teriakan Silvi yang memilukan. Pria itu menundukkan kepalanya sejenak, ia tampak melepas kacamata hitam yang ia gunakan. Pria itu mengelap ujung matanya, dia menangis. Pria itu melepaskan topi yang ia gunakan dan membalikkan badannya.


"Kak Reza!!" teriak Silvi.


Ya, pria itu adalah Reza. Reza melambaikan tangannya dari jauh. Kedua matanya tampak merah. Apalagi saat melihat kondisi Silvi saat ini yang sangat berantakan dan menyedihkan.


"Jaga dirimu baik-baik!" seru Reza.


Silvi menggeleng cepat, ia ingin sekali berlari memeluk Reza. Tapi kedua tangannya dipegang erat oleh petugas bandara. Bahkan sekarang jumlah petugas yang menahannya bertambah banyak. Karena Silvi membuat keributan di bandara.


"Jangan pergi kak! Siapa yang akan bermain denganku nanti? Aku tidak punya satu pun teman untuk melakukan semua hal yang aku sukai!" seru Silvi dengan linangan air mata.


"Ada banyak hal yang belum aku katakan kak!" lanjutnya.


Reza mengepalkan tangan kanannya erat. Beberapa petugas memintanya untuk segera masuk ke dalam pesawat. Tapi kemudian ia membisikkan sesuatu kepada petugas itu. Reza melepaskan kopernya dan berlari menghampiri Silvi. Para petugas keamanan yang menahan tangan Silvi berangsur melepaskannya. Reza dan Silvi berpelukan. Para pengunjung dan penumpang bandara yang melihat momen ini sengaja mengabadikannya dengan ponsel masing-masing. Bahkan beberapa dari mereka terbawa suasana dan menitikkan air mata.


"Aku mencintaimu kak! Aku mencintaimu!" seru Silvi sesenggukan.


Reza semakin mengeratkan pelukannya. "Kenapa kamu mencintaiku sebesar ini?" sahut Reza lirih, ia melepaskan pelukannya.


"Aku tidak tahu," jawab Silvi polos.


"Tidak masalah jika Kak Reza tidak membalas perasaanku, yang terpenting aku bisa melihat senyum Kak Reza saja sudah cukup! Jadi jangan pergi ya kak?" lirih Silvi.


"Darimana kamu belajar mengatakan kata semanis ini? Masih kecil bukannya belajar malah ngebucin!" seru Reza.


"Aku serius kak!" seru Silvi.


"Siapa yang bilang kalau sedang melawak?" tanya Reza membuat Silvi cemberut.


"Dengar, untuk saat ini memang aku belum bisa membuktikan perasaanku kepadamu! Yakinlah aku sudah tidak mempunyai perasaan apapun untuk Aryn, hati ini mulai dipenuhi namamu! Tapi aku harus pergi saat ini, ada tanggungjawab yang harus kupenuhi! Aku tahu Dave tidak menyukaiku, tapi ingatlah janjiku hari ini! Aku akan kembali!" ucap Reza sendu.


Silvi memeluk erat Reza, ia tidak mampu berkata apapun. Lidahnya kelu, pikirannya buntu. Ia masih tidak yakin jika semua ini bukan mimpi. Reza baru saja mengatakan jika hatinya mulai dipenuhi oleh namanya. Entah Silvi harus sedih atau bahagia. Di satu sisi Reza akan pergi meninggalkannya, dan di sisi lain Reza mengungkapkan perasaannya dan berjanji akan kembali. Silvi juga mengerti keadaan Reza sekarang, Reza harus menjalankan tanggungjawab yang diberikan orang tuanya. Dan saat ini kakaknya juga sangat marah kepada Reza sampai memecatnya dari perusahaan.


"Aku harus pergi, semua penumpang pasti sedang mengumpat sekarang!" ucap Reza yang melepaskan pelukan Silvi.


"Berjanjilah sekali lagi kak, kakak akan kembali untukku!" seru Silvi.


"Aku berjanji!" Reza mengecup dahi Silvi.


Reza berjalan meninggalkan Silvi yang masih mematung. Tangannya melambai memberikan salam perpisahan. Silvi hanya tersenyum kaku, sampai Reza tidak terlihat lagi. Ia tidak bisa mengontrol tubuhnya. Ia menyentuh dahi yang dicium Reza tadi, tubuhnya terasa panas dingin karena ciuman itu. Silvi duduk di kursi tunggu. Dari kaca jendela ia dapat melihat pesawat yang ditumpangi Reza lepas landas. Air matanya mengalir di pipi. Walaupun Reza sudah berjanji akan kembali, tapi tetap perpisahan ini sangat membuatnya terpukul dan sedih.

__ADS_1


"Aku akan menunggumu kak, sampai hari itu tiba! Aku menunggumu!" lirih Silvi.


Setelah merasa sedikit lebih tenang, Silvi melangkah pergi dari bandara. Ia sempat membeli air mineral tadi, tapi tidak membeli makanan. Silvi tidak berselera untuk makan. Diambilnya sepeda yang ia beli dadakan tadi. Ia mengayuh sepedanya perlahan.


Silvi tidak kembali ke sekolahnya. Pakaiannya lusuh dan basah oleh keringat. Ia memutuskan untuk pulang ke mansion. Ya, ia mengayuh sepedanya sampai ke mansion. Jarak dari bandara ke mansion lumayan jauh, tapi kaki Silvi seakan tidak merasa lelah. Sepanjang perjalanan pun ia banyak melamun.


Semua pelayan dan penjaga panik saat melihat Silvi pulang ke mansion dengan kondisi yang payah. Ily dan Sonya langsung membawa Silvi ke ruang tengah. Silvi tidak menyadari jika Sonya juga membantunya. Dave sedang tidak ada di rumah, mengantar Aryn ke kampus. Sonya sempat mendengar pembicaraan Dave jika ia akan mengecek keadaan di kantor. Ily dan Sonya panik karena sebentar lagi Dave pasti pulang.


"Mari nona saya antarkan ke kamar," ucap Ily.


"Nanti saja, aku masih lelah!" jawab Silvi tanpa ekspresi.


"Tapi sebentar lagi Tuan Dave pasti pulang, nona!" sahut Sonya.


"Lalu? Peduli apa kau denganku? Gara-gara kamu semua ini terjadi! Masih berani juga kamu memperlihatkan wajahmu di depanku?"


seru Silvi.


Silvi merasa sangat marah saat melihat Sonya. Gara-gara wanita itu Reza harus berada jauh darinya tidak tahu sampai kapan. Sonya hanya menunduk, ia menyadari jika dirinya yang menyebabkan kekacauan di mansion ini kemarin. Sonya perlahan memberanikan dirinya untuk menatap Silvi. Tapi Silvi langsung berdiri dan meninggalkan ruang tengah saat Sonya akan mengatakan sesuatu.


Tepat di saat Silvi masuk ke dalam lift dan pintunya tertutup, Dave datang. Kedua mata Dave menatap tajam Ily dan Sonya.


"Sepeda siapa itu?" seru Dave dengan lantang.


"Itu...itu sepeda Nona Silvi, tuan!" jawab Ily.


"Sepeda Silvi? Itu sepeda anak kecil, jangan menipuku!" seru Dave.


"Tapi Nona Silvi tadi pulang menggunakan sepeda itu, tuan!" jawab Ily.


"Pulang?" seru Dave.


Dave langsung bergegas menuju lift. Apa yang terjadi sampai Silvi pulang? Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Dave membuka handle pintu kamar Silvi. Silvi tidak pernah mengunci kamarnya kecuali di malam hari. Kalaupun di kunci, Dave hafal kodenya.


"Astaga! Apa yang sudah kamu lakukan? Sepeda siapa yang kamu bawa, jangan sampai ibunya menuntut kakak Karena kamu mencuri sepeda anaknya!" seru Dave terkejut melihat kondisi Silvi.


"Sepeda itu sudah kubeli! Aku menggunakannya untuk pergi ke bandara!" jawab Silvi ketus, ada rasa kesal dalam hatinya.


"Bandara?" seru Dave.


"Iya, aku menyusul Kak Reza! Dia sudah pergi ke Paris sekarang, kakak puas?" seru Silvi dengan lantang.


"Baguslah jika pria brengsek itu pergi! Uang jajanmu akan kakak potong karena kamu bolos hari ini!" Dave berjalan meninggalkan kamar Silvi.


Silvi menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi. Ia akan membersihkan tubuhnya. Ia membawa ponselnya, siapa tahu Reza kan menghubunginya saat transit.

__ADS_1


..................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian!


__ADS_2