
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Dave merapatkan selimutnya, ia baru saja selesai mengganti pempers Davin yang penuh dan menidurkannya lagi. Dave tidur tepat menghadap Aryn, sangat dekat hingga bisa merasakan hembusan nafas Aryn yang teratur. Karena Aryn tidur dengan pulas. Jadi Dave yang bangun untuk mengganti pampers Davin tadi.
"Owee...owee..."
Baru tiga puluh menit Dave memejamkan matanya, Davin terbangun lagi. Dave melirik Aryn, istrinya itu tidak terganggu sama sekali dengan tangisan Davin. Sepertinya hari ini Aryn benar-benar lelah. Akhirnya Dave turun dari ranjangnya dan menghampiri box Davin.
"What's up, boss?" ucap Dave.
Dave menggendong Davin. Jagoannya itu sudah minum susu, pampersnya juga sudah diganti. Ia mencoba menepuk bokongnya agar jagoannya itu tertidur. Tapi Davin masih menangis.
"Jagoan daddy kenapa? Apakah ada yang sakit?" Dave meraba tubuh Davin.
Saat Dave mengelus perut Davin, ia berhenti menangis. Dave jadi mengerti, perut Davin sakit. Ia mengambil baby oil, mengoleskannya pada perut Davin lalu mengelusnya dengan perlahan. Dave ikut berbaring di sebelah Davin, karena matanya terasa berat. Tiba-tiba,
Broottttt....
"Kencang sekali kentutmu, daddy sampai kaget!" Dave terbangun.
Aryn menggeliat pelan, ia menggosok kedua matanya.
"Ada apa ini?" tanya Aryn.
"Perut Davin tadi sakit, aku elus eh malah dia kentut!" keluh Dave.
"Astaga!" Aryn terkekeh.
Aryn mendekatkan tubuhnya pada Davin, ia ikut mengelus perut Davin perlahan.
Brot broootttttt....
Wajah Davin tampak memerah setelah mengeluarkan gas dari perutnya. Dave dan Aryn terduduk, menatap jagoan kecil mereka.
"Kamu dulu tidak membayangkan Mei, kan?" ucap Dave.
"Maksudnya?" tanya Aryn.
"Aku takut jagoan kita seperti Mei yang suka kentut itu. Coba cium, baunya mirip kan?" ucap Dave.
"Jangan-jangan...." Aryn menatap Dave.
"Jangan-jangan apa? Jangan membuatku cemas, sayang!" protes Dave.
"Kentut Davin biasanya tidak sebau ini kecuali jika sedang........coba kamu cek pempersnya, sayang!" ucap Aryn.
Dave mengangguk, ia memposisikan Davin menyamping. Perlahan ia melepas celana Davin, baru kemudian ia membuka sedikit pempersnya. Seketika bau tidak sedap menyeruak. Dave langsung menutup hidungnya.
"Sayang...." ucap Dave.
"Kenapa?" tanya Aryn.
"Pantas saja baunya seperti kentut Mei, ini keluar ampasnya!" Dave terkekeh sambil terus menutup hidungnya.
"Sudah kuduga," Aryn terkekeh.
Mereka berdua mengganti pempers Davin. Aryn membersihkan tubuh Davin, dan Dave mendapat tugas mengurus pempers yang Kotor itu.
"Davin sudah wangi, daddy!" ucap Aryn menirukan suara anak kecil.
"Ayo sekarang siapa yang mau mendengar cerita daddy?" Dave menepuk-nepuk bantal di sebelahnya.
Aryn membaringkan Davin di tengah-tengahnya dan Dave. Keduanya menatap Dave, menunggu cerita penghantar tidur mereka. Dave mulai bercerita, seperti biasa tangan kanannya mengelus kepala Aryn, sementara tangan kirinya menepuk-nepuk paha Davin.
__ADS_1
Cup cup,
Dave mengecup pucuk kepala Davin dan Aryn. Ia menaikkan selimut mereka. Dave tidak langsung bergabung tidur, ia menatap Aryn dan Davin cukup lama. Menatap kedua belahan jiwanya itu membuat hatinya tenang. Setelah puas, baru ia menyusul mereka ke alam mimpi.
----------------------
Keesokan harinya,
Katy mondar-mandir di dalam kamarnya. Erick masih tidur di ranjang dengan pulas. Sebenarnya matahari pun belum terbit, tapi Katy sudah tidak bisa tenang. Jadi ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat untuk Aryn agar segera memberikan tespack yang ia minta kemarin. Beruntung Aryn juga sudah bangun.
Ting,
Katy langsung mengecek ponselnya. Ternyata pesan dari Aryn. Isinya,
From Aryn:
Ma, aku sudah di depan pintu kamar mama!
Katy melirik Erick, suaminya itu masih pulas. Dengan perlahan, Katy berjalan keluar kamar dan membukakan pintu untuk Aryn.
"Untung Dave belum bangun tadi, ma." ucap Aryn.
"Iya, sayang! Maaf ya merepotkan, mama tidak bisa menunggu lagi soalnya," jawab Katy.
"Ini, ma!" Aryn mengeluarkan tespack yang ia kantongi di baju piyamanya.
"Terima kasih," Katy menerimanya dengan kedua mata yang berbinar.
"Kalau begitu, aku kembali ke kamar ya ma? Sebelum Dave bangun dan menyerangku dengan pertanyaan," Aryn keluar dari kamar Katy.
"Okay, sayang!" Katy mengangguk. Ia bergegas menutup pintu kamarnya saat Aryn keluar.
Katy menatap sejenak tespack yang ada di tangannya. Ia merasa gugup, cemas, dan takut. Setelah menenangkan dirinya, akhirnya Katy masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai tespack itu. Perlu waktu untuk menunggu hasilnya muncul. Katy meletakkan alat itu di wastafel, ia tidak berani melihatnya.
"Sepertinya hasilnya sudah kelihatan. Aduh... Bagaimana kalau garis dua?" gumam Katy.
Deg,
"Tidakkkk!!" Katy berteriak.
Erick yang tadi masih tertidur pulas langsung terduduk di ranjangnya. Ia melihat Katy tidak ada di sampingnya. Pandangan matanya tertuju pada kamar mandi yang pintunya tertutup. Katy pasti ada di dalam sana. Erick turun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi. Dirinya berlarian seperti bayi besar, karena hanya menggunakan celana pendek saja.
"Sayang? Kamu di dalam?" seru Erick menggedor pintu kamar mandi.
Berkali-kali Erick menggedornya tapi tidak ada sahutan. Erick menjadi semakin cemas. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Katy di dalam?
"Sayang, kamu kenapa?" seru Erick lagi.
Tapi lagi-lagi tidak ada jawaban. Erick tidak bisa tinggal diam, ia mengambil kursi di dekat meja rias Kary. Akan ia gunakan untuk mendobrak pintu itu. Erick berjalan mundur sambil membawa kursi itu untuk mengambil ancang-ancang sebelum mendobrak.
"Ciiaatttt!" Erick berlari menuju pintu.
Ceklek,
Dan pintu dibuka dari dalam tepat di saat Erick berlari. Katy langsung menghindari, alhasil Erick jatuh terjengkang di lantai. Katy terkejut cemas saat melihat suaminya yang sudah tergeletak di lantai kamar mandi. Yang membuat Katy cemas adalah Erick tidak bergerak. Katy pun langsung menghampiri suaminya.
"Sayang... Kamu tidak apa-apa kan? Kenapa kamu diam saja? Jangan mati, sayang! Huhuhu...Kalau kamu mati, nanti siapa yang akan menurutiku saat aku mengidam?" Katy menggoyangkan badan Erick.
"Hus! Aku masih hidup ini, tega sekali kamu mengataiku mati! Aku diam saja karena pinggangku sakit! Jadi tenang saja, mengidamlah!" jawab Erick.
Erick mengelus punggungnya yang terasa nyeri. Tapi kemudian ia tersadar akan sesuatu.
"Apa kamu bilang, mengidam? Are you pregnant?" seru Erick kalang kabut.
Katy tidak bisa menjawab, lidahnya kelu. Ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Yashh! Akhirnya aku akan dipanggil papa oleh satu anak lagi!" Erick berteriak-teriak.
Katy terdiam di tempatnya, air matanya menetes melihat betapa bahagianya Erick mendengar kehamilannya. Sebelum masuk kamar mandi tadi, Katy takut jika ia hamil. Tapi setelah melihat kebahagiaan suaminya, ia menjadi tidak takut lagi. Ia mempunyai seorang suami yang luar biasa, pastilah suaminya itu akan mendampinginya di masa kehamilannya ini.
"Kenapa menangis?" Erick menghampiri Katy.
"Aku tadi takut, sayang!" ucap Katy.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Kita masih dikaruniai buah hati di usia yang tidak muda lagi, itu berarti sang pencipta percaya kita bisa menjaga titipannya dengan baik. Jadi jangan khawatir, ini semua sudah ditakdirkan," Erick menenangkan Katy.
"Terima kasih," Katy memeluk erat suaminya. Cukup lama mereka saling berpelukan.
Kebahagiaan Erick tidak bisa dibendung lagi, ia bergegas mengambil kaosnya dan berlarian keluar kamar. Katy terkekeh dan mengikutinya.
"Hey, kau!" Erick meneriaki para penjaga di lantai tiga dekat kamarnya.
"Iya, tuan? Ada yang bisa saya bantu?" jawab salah satu penjaga dengan ramah.
"Istriku hamil!!!" teriak Erick.
Penjaga itu hanya tersenyum tipis melihat kehebohan Erick. Sebuah pemandangan yang amat sangat langka, karena Erick sikapnya dingin sama seperti Dave.
"Kau dengar tidak? Istriku hamilll!" teriak Erick lagi.
"Selamat tuan," jawab penjaga itu dengan sedikit gugup.
Erick berlarian lagi. Sekarang ia akan masuk ke dalam lift.
"Jangan lari-lari, pa! Inget tulangmu!" seru Katy sebelum Erick menghilang di balik pintu lift yang tertutup.
Katy mengelus perutnya, ia masih tidak percaya ia diberi sebuah anugerah seindah ini. Ia berjalan perlahan menyusul Erick yang sekarang sudah sampai di lantai satu. Tepatnya meja makan.
"Silvi! Dave! Aryn! Uti!" teriak Erick.
Silvi, Utiz, Dave, dan Aryn langsung berdiri dari kursi mereka. Mereka bingung kenapa Erick berteriak-teriak pagi ini.
"Ada apa, pa?" tanya Dave.
"Kamu akan segera mempunyai adik, Dave! Aku akan menjadi papa lagi!" teriak Erick.
"Benarkah, pa?" seru Silvi.
"Iyaaaa!" jawab Erick.
"Yaasshhh!! Akhirnya!" Silvi berjingkrak-jingkrak.
"Selamat ya, pa ma!" ucap Aryn saat melihat Katy berjalan menghampiri mereka.
"Selamat ya!" ucap Uti.
"Mama tidak boleh capek-capek mulai dari sekarang," ucap Dave.
"Terima kasih semua! Jangan khawatir nanti mama tidak akan capek kok, mama juga akan langsung konsultasi dengan Dokter Dessy!" jawab Katy.
"Hari ini aku sangat bahagia! Keluarga kita rukun dan akan bertambah anggota," Erick memeluk Katy.
"Kami juga bahagia, pa!" ucap Silvi yang ikut memeluk Katy.
"Semoga keluarga ini rukun selalu, bahagia selalu!" Dave merangkul Aryn dan membawanya bergabung untuk berpelukan dengan papanya.
"Uti juga ikut dong!" seru Uti yang langsung menghambur.
"Lihatlah, sekarang mama tidak perlu khawatir, semua orang ada bersama mama! Mari kita sambut hari-hari baru kita dengan bahagia seperti ini," ucap Erick.
"Terima kasih, sayang!" jawab Katy.
__ADS_1
.....................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!