
WARNING:
SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.
HAPPY READING 😘
..............................
Silvi baru saja mematikan televisi di ruang tengah. Sudah waktunya makan malam, ia bergegas menuju meja makan. Tapi baru beberapa langkah ia meninggalkan ruang tengah, pintu lift terbuka. Nampak Dave keluar dari lift itu, dan seseorang yang ia kenal mengekor di belakangnya. Ya! Tidak lain dia adalah Aryn. Sudah sejak tadi ia ingin menemui kakak iparnya, tapi Kak Dave melarangnya dengan alasan kakak iparnya membutuhkan istirahat.
"Kak Aryn!" Silvi menghambur ke arah kakak iparnya.
Dave tersenyum kecut, meninggalkan mereka berdua yang mencampakkannya. Perutnya sudah memberontak ingin diisi, ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju meja makan.
"Akhirnya kakak kembali ke mansion ini lagi," ucap Silvi.
"Iya! Apakah lenganmu masih sakit?" tanya Aryn.
"Sudah lebih baik, kak! Apa yang terjadi pada kakak? Kak Dave sama sekali tidak mau menceritakannya kepadaku!" seru Silvi.
Aryn mentoel hidung Silvi dengan gemas. Ia akhirnya menceritakan kejadian yang dia hadapi bersama Dave tadi siang. Silvi tidak terkejut saat mengetahui ternyata Dave dan Aryn diserang. Ia paham betul jika kakaknya adalah seorang yang mempunyai posisi dan kekuasaan yang tinggi. Lumrah jika kakaknya mempunyai musuh. Bahkan dulu Silvi pernah hampir diculik oleh preman yang ternyata preman itu suruhan musuh dari kakaknya. Oleh karena itu, Silvi selalu menuruti perintah kakaknya, setiap dia keluar dari mansion pasti akan ada pengawal yang pergi bersamanya.
"Wah, pas banget nih! Laper!" seru Reza, ia langsung bergabung di meja makan.
"Pengganggu!" seru Dave.
Ya! Dave sudah bersikap biasa saja kepada Reza. Memang Reza yang membantu Aryn untuk kabur, tapi karena Reza juga ia bisa menemukan Aryn. Apalagi Silvi rela menjadi tameng hidup Reza, dan memintanya untuk memaafkan Reza.
"Selamat malam semua!" sapa Ken.
"Malam," sahut Aryn dan Silvi serempak.
"Kalian berdua kenapa sudah datang jam segini? Bukankah pertemuan kita masih satu jam setengah lagi?" seru Dave.
"Maaf, Dave! Gua sengaja datang kesini lebih awal karena sekalian membawakan berkas untuk meeting besok siang sekaligus menjelaskan poin-poin penting meeting besok!" jawab Ken.
Ken tidak bersikap formal ketika di luar jam kerja, seperti saat ini. Dave pun tidak mempedulikan itu.
Dave mencebikkan bibirnya ke arah Reza, memberi isyarat kepadanya untuk memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Kalau gua sih sekalian ikut makan malam hehehe! Mami gua lagi di rumah oma, lagian lo kan tahu gua nggak boleh makan sembarangan. So, gua makan malam di sini!" ucap Reza dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.
Dave memutar bola matanya dengan malas saat sedang memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. Sementara Aryn dan Silvi terkekeh mendengar alasan konyol Reza.
Meja makan malam ini terasa sangat hangat. Reza sesekali bercanda dengan Aryn dan Silvi, hingga membuat Dave sedikit terusik.
"Bagaimana keadaan lenganmu, Silvi?" tanya Reza.
"Sudah lebih baik, kak!" jawab Silvi.
"Oh iya! Kak Aryn tahu tidak, tadi siang Kak Reza cosplay menjadi perawat loh!" seru Silvi.
"Emangnya kenapa? Apakah dia mempunyai rencana licik lagi?" tanya Aryn dengan antusias.
"Pikiranmu tidak jauh dari rencana licik, tapi aku memang licik sih!" sahut Reza.
"Yeee.... baru nyadar, nih!" seru Aryn.
"Aku memintanya untuk membawaku pulang ke mansion tanpa sepegetahuan mama dan papaku, Kak Reza hebat sekali mama dan papaku tidak mencurigainya sama sekali! Aku bahkan tidak menduga jika perawat yang mendorong kursi rodaku adalah Kak Reza!" seru Silvi.
"Wah! Kau ini memang spesialis urusan kabur ya, Za?" cibir Aryn.
"Astaga!" pekik Aryn dan Silvi serempak, lalu mereka tertawa terpingkal.
"Dia bisa tertawa lepas saat bersama Reza dan Silvi, tapi dia tidak pernah sekalipun tertawa saat sedang bersamaku," batin Dave.
"Kita ke ruang kerjaku, Ken!" ucap Dave yang tiba-tiba berdiri dari kursinya.
"Siap!" sahut Ken.
Dave merasa tidak suka melihat Aryn tertawa lepas saat mengobrol dengan Reza. Karena itu ia mengajak Ken untuk ke ruang kerjanya, daripada mendengarkan canda tawa mereka lebih baik Dave membicarakan poin-poin penting untuk meeting besok bersama Ken.
Sudut mata Reza menangkap gerak-gerik Dave. Ia bisa melihat wajah Dave yang berubah menjadi suram setelah kedatangannya. Apalagi saat ia bercanda dengan Aryn, Dave terlihat begitu sebal. Di satu sisi ia merasa sangat bahagia, Aryn tanpa sungkan mengobrol dengannya. Tapi di sisi lain, ia merasa bersalah karena melihat sahabatnya yang terlihat tidak suka kedekatannya dengan Aryn. Reza menghembuskan napasnya dengan kasar.
Setelah makan malam terselesaikan, Silvi mengajak untuk menonton TV. Akhirnya Reza, Silvi, dan Aryn menonton TV bersama di ruang tengah. Silvi duduk di tengah, di antara Reza dan Aryn. Sesuai permintaan Silvi mereka melihat film Mr. Bean. Langit-langit lantai satu dipenuhi suara tawa mereka. Aryn sampai meneteskan air matanya karena banyak tertawa. Bahkan Reza merelakan punggungnya menjadi sasaran tangan Silvi yang gemas melihat tingkah konyol tokoh dalam film itu. Hingga ketika Dave dan Ken sudah menyelesaikan pekerjaan, mereka tidak menyadari kedatangan keduanya.
"Ehem,"
"Sini deh, kak! Gabung sama kita, filmnya lucu banget!" seru Silvi.
"Tidak, aku hanya ingin memberitahumu sekarang sudah waktunya untuk tidur!" sahut Dave.
__ADS_1
"Nanggung nih kak, masih lima belas menit lagi filmnya!" protes Silvi.
"Kalau libur, kakak akan memutarkan film itu sebanyak yang kau mau!" seru Dave.
"Aku nonton di kamar saja ah!" batin Silvi.
Dave melihat perubahan ekspresi Silvi.
"Jangan mencoba menontonnya di kamarmu, atau kakak akan memotong uang jajanmu!" Dave mulai mengeluarkan jurus andalannya, mengancam untuk memotong uang jajan Silvi.
"Ayolah kak, lima belas menit lagi!" rengek Silvi.
"No, Silvi! Atau kau mau kakak kirim ke Afrika?" seru Dave dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Oke oke! Aku akan tidur!" jawab Silvi dengan malas.
"Ajak kakak iparmu juga, dia juga harus istirahat sekarang!" ucap Dave, ia melirik Aryn sejenak.
Silvi dan Aryn berjalan menuju lift. Mereka akan pergi ke kamar masing-masing dan tidur.
Sekarang tersisa Dave, Ken, dan Reza. Mereka duduk bersama di sofa ruang tengah. Mereka masih menunggu kedatangan Zack dan juga Samuel. Baru nanti mereka akan masuk ke ruang bawah tanah bersama-sama. Malam ini akan menjadi malam yang panjang dan menyenangkan untuk mereka. Dave sudah menyiapkan pesta untuk malam ini.
"Siapkan air yang dicampur dengan garam di dalam ember yang ukurannya tidak terlalu besar!" perintah Dave kepada salah satu anak buahnya.
"Baik, tuan!" jawab anak buahnya.
"Untuk apa?" tanya Reza.
"Pesta nanti!" jawab Dave cuek.
Reza hanya mengangguk pelan, ia masih tidak mengerti akan Dave apakan seember air garam itu.
"Permisi, tuan! Sopir sudah berangkat menjemput Tuan Doni di bandara!" ucap salah satu anak buahnya yang memberikan laporan pada Dave.
"Bagus!" jawab Dave singkat, anak buahnya langsung melangkah menjauh meninggalkan ketiga pria tampan itu. Ken dan Reza saling menatap Dave secara bersamaan.
...................
Wah setelah ini mereka akan berpesta loh! Pesta apa yak? Tunggu episode selanjutnya ya! Aku akan up lagi besok! See you!
Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All❤️
__ADS_1