
Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅 Happy reading!
..........................
Dave mengelus pucuk kepala Aryn dengan sayang. Ia benar-benar cemas sekarang. Entah apa yang dilakukan Dion dan Susi pada istrinya sampai wajah istrinya lebam. Melihat kondisi Aryn yang lemas dan sekarang pingsan, Dave memaki dirinya sendiri. Harusnya ia cepat menemukan Aryn. Dalam hatinya Dave berjanji dengan dirinya sendiri, Dion akan mendapatkan balasan yang setimpal darinya.
"Lo bisa nyetir nggak sih, Sam? Mobil ini bahkan kalah cepat dari Gery!" seru Dave.
Karena panik, Dave merasa mobil yang ditumpanginya lambat dan tidak kunjung tiba di rumah sakit. Samuel melengos, tanpa menunggu sahabatnya itu semakin marah Samuel menambah kecepatannya. Mobil yang tadi sudah melaju kencang bertembah lebih kencang. Beberapa pengendara bersahut-sahutan membunyikan klaksonnya diikuti umpatan.
"Sam! Lo mau keluarga kecil gua yang bahagia ini mati?" teriak Dave.
"Salah lagi," keluh Samuel.
Dave tidak berhenti mengomel sepanjang perjalanan. Menyuruh Samuel untuk menyalip ke kanan dan kekiri. Meneriaki Samuel jika mengerem mendadak. Bagi Samuel setiap 1 menit berasa 10 jam jika bersama Dave.
Samuel membunyikan klakson saat tiba di rumah sakit. Mobilnya bahkan berhenti tepat di depan pintu Emergency Room. Dave bergegas turun dengan menggendong Aryn. Berteriak memanggil dokter dan perawat rumah sakit itu.
"Tuan tidak boleh masuk, silahkan tunggu di sini!" ucap seorang perawat.
"Aku suaminya, aku akan menemaninya!" seru Dave.
"Tuan mohon kerjasamanya," perawat itu hendak menutup pintu.
"Baiklah, tapi kalau terjadi sesuatu pada istri dan calon babyku aku bakar rumah sakit ini!" ancam Dave.
Perawat tadi langsung menutup pintu Emergency Room, wajahnya terlihat ketakutan. Dokter dan perawat yang menangani Aryn melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin. Pasien yang mereka tangani adalah istri dari Dave Winata. Mendengar namanya saja sudah membuat mereka ketakutan.
"Dave tenanglah! Aryn dan babymu akan baik-baik saja!" Samuel mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Dave mondar-mandir di ruang tunggu. Begitu pintu terbuka, ia langsung menghampiri dokter yang baru keluar dari ruangan itu.
"Bagaiamana keadaan istri dan calon babyku?" tanya Dave.
"Nona Aryn kelelahan dan kekurangan cairan, luka-lukanya sudah kami bersihkan agar tidak infeksi. Kondisi janinnya baik-baik saja! Sekarang biarkan Nona Aryn beristirahat duku, setelah itu Nona Aryn akan dipindahkan ke ruang perawatan. Untuk dua hari kedepan Nona Aryn harus dirawat di rumah sakit untuk memulihkan keadaannya dan kami bisa terus memantau kondisi nona," jawab dokter itu.
"Aku akan membawa istriku ke rumah sakit milikku, dia akan dirawat di sana! Siapkan keperluannya selama perjalanan!" sahut Dave.
"Baik, tuan!"
Pintu Emergency Room terbuka, dua orang perawat mendorong brankar Aryn dengan berhati-hati. Terlihat Aryn terbaring lemah di brankar itu dengan mata yang masih terpejam. Dave memutuskan untuk membawa Aryn ke rumah sakit miliknya karena walaupun rumah sakit ini bagus tapi tetap rumah sakit miliknya memiliki fasilitas terbaik. Selain itu ada Paman Kevin yang sudah ia percayai sebagai dokter keluarganya, jarak rumah sakitnya juga dekat dari mansion.
Saat perawat sedang mendorong brankar Aryn memasuki ambulans, sebuah mobil mewah berhenti tidak jauh dari ambulans itu. Mobil itu salah satu mobil yang dibawa rombongannya saat proses pencarian Aryn. Terlihat Erick dan Katy turun dari mobil itu. Dave mengerinyitkan dahinya.
"Mama dan papa kenapa datang kemari?" tanya Dave.
"Aku dan mamamu ingin melihat kondisi Aryn dan calon cucu kami," jawab Erick.
"Aryn akan dibawa kemana?" tanya Katy.
"Aryn harus dirawat selama beberapa hari, jadi aku akan memindahkannya ke rumah sakit lain. Rumah sakit ini jauh dari mansion," sahut Dave.
"Pindahkan ke rumah sakit keluarga kita saja, papa akan mengaturnya! Atau kalau perlu papa atur saja untuk membawa peralatan, dokter, dan perawat ke mansionmu! Agar lebih aman, di mansionmu ada ruang kesehatannya bukan?" Erick mengambil ponsel dari sakunya.
Dave dan Samuel saling menatap. Pikiran mereka berdua sama yaitu, apakah mama dan papa Dave merencanakan sesuatu untuk Aryn?
"Bagaimana Dave? Bagaimana pendapatmu? Apakah kamu setuju?" tanya Katy.
"Tadi aku sudah memutuskan untuk memindahkan Aryn ke rumah sakit keluarga kita, ma, pa!" jawab Dave.
"Baiklah! Papa akan menelpon ke rumah sakit agar mereka menyiapkannya!" Erick menjauh beberapa langkah untuk menelpon seseorang.
"Sam, sebaiknya lo telpon Zack! Beritahu dia kalau Aryn akan dipindahkan dari rumah sakit ini! Pasti Silvi dan teman Aryn ingin menemui Aryn!" Dave menepuk bahu Samuel, Samuel mengangguk dan langsung menghubungi Zack.
Dave menemani Aryn di dalam ambulans. Tangannya tidak pernah melepaskan tangan Aryn. Saat ambulans akan berangkat tadi, Aryn tersadar. Tapi Dave menyuruh Aryn untuk beristirahat lagi. Samuel dan orangtua Dave mengikuti ambulans itu dengan mobil masing-masing. Dan ada satu mobil lagi yang berisi anak buah Dave yang sudah Dave hubungi untuk mengawal mereka.
"Baik-baik di perut mamamu, jagoan kecilku!" Dave mengusap perut Aryn dengan perlahan.
Dave baru sadar akan satu hal, Aryn tidak mual berada di dekatnya. Saat bertemu di tempat penyekapan tadi pun Aryn biasa-biasa saja.
"Aku baru ingat kalau aku belum mandi sejak kemarin," gumam Dave yang tertawa kecil.
Perjalanan mereka lumayan jauh. Dave menahan rasa lelah dan kantuknya. Sesekali kepalanya terbentur pinggiran brankar Aryn tapi Dave tetap memaksa matanya untuk terbuka. Rasanya ia tidak ingin sedetikpun tidak melihat wajah Aryn yang sedang tertidur nyenyak.
Sampai saat mereka tiba di rumah sakit keluarga Winata pun Dave tidak melepaskan pandangan dan genggaman tangannya pada Aryn. Erick dan Katy yang melihatnya tersenyum penuh arti. Paman Kevin menyambut kedatangan mereka di pintu depan rumah sakit. Aryn ditempatkan di ruang perawatan VVIP yang telah disiapkan Erick. Erick, Katy, dan Samuel ikut masuk ke dalam ruang rawat Aryn.
Samuel merebahkan tubuhnya di sofa yang panjang. Tubuhnya terasa lelah dan pegal-pegal.
"Lo boleh pulang," Dave menghampiri Samuel.
"Kalimat itu yang gua tunggu! Okay gua pulang sekarang, kalau lo perlu bantuan telpon gua!" sahut Samuel senang.
"Om tante, saya pamit pulang!"
Erick dan Katy mengangguk, Samuel bergegas meninggalkan ruangan itu. Akhirnya ia bisa beristirahat. Besok ia bisa mengajak Angel untuk menjenguk Aryn.
__ADS_1
Ken dan Uti datang saat Samuel keluar dari ruangan itu. Ken memutuskan untuk menunggu di luar ruangan. Kedua mata Uti banjir akan air mata. Dielusnya cucu kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Bagaimana keadaannya, nak?" tanya Uti pada Dave.
"Aryn dan baby kami baik-baik saja, hanya saja Aryn kelelahan, tapi Uti tidak perlu khawatir," jawab Dave.
"Kamu memang suami yang bertanggung jawab, terima kasih kamu sudah berhasil membawa Aryn kembali, hanya Aryn yang aku punya sekarang!" ucap Uti dengan sendu.
"Ibu tidak perlu khawatir, kami akan pastikan putra kami melindungi Aryn!" seru Erick.
Terlihat Aryn mengerjapkan kedua matanya, pandangannya mengedar menatap semua orang yang ada di sana. Satu hal yang membuatnya terkejut, orangtua Dave ada di sana.
"Apa yang kamu rasakan, sayang? Ada yang sakit tidak? Maaf suara kami mengganggu istirahatmu ya," Dave menggenggam tangan Aryn.
"Badanku lebih enakan, sudah tidak lemas lagi," jawab Aryn.
"Minum dulu, nak! Kamu harus banyak minum air putih!" Uti menyodorkan segelas air putih.
"Kamu ingin makan sesuatu, Aryn?" tanya Katy.
Aryn menatap Dave, hampir saja ia tersedak. Dave hanya tersenyum pada Aryn.
"Tidak, ma! Mama istirahat saja, mama terlihat lelah! Penjahat itu pasti juga menyiksa mama," Aryn tersenyum.
"Mama dan papa tidak apa-apa, tadi Zack juga sudah mengobati luka kami, sekarang ingin menjaga menantu dan cucu kami!" sahut Erick.
"Maafkan mama dan papa ya, sayang! Kamu adalah wanita yang baik, bahkan kamu tadi siap mengorbankan diri untuk kami! Dave tidak salah memilihmu! Apalagi sekarang kamu sedang mengandung cucuku, sudah lama kami ingin menimang cucu! Kamu sudah memberikan hadiah yang tidak ternilai harganya, sekali lagi maafkan kami!" Katy tertunduk di depan Aryn.
"Aryn sudah memaafkan mama dan papa sebelum mama dan papa memintanya! Orangtua Dave adalah orangtuaku juga, aku sangat bahagia hari ini," jawab Aryn.
"Maafkan mama dan papa juga, Dave! Kami sudah egois memaksamu menikah dengan Angel! Padahal Angel bukan wanita baik, kami telah dibutakan harta dan kekuasaan!" ucap Erick dengan penuh penyesalan.
"Aku tahu setiap orang tua pasti juga menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sekarang mama dan papa sudah tahu bukan siapa wanita terbaik untukku? Yang berlalu biarlah berlalu," jawab Dave.
"Setiap musibah pasti membawa pelajaran, dari penculikan itu keluarga ini bisa bersatu kembali," lirih Uti.
Mereka saling berpelukan satu sama lain. Aryn tidak henti-hentinya menghapus air mata bahagianya. Keluarga yang selama ini ia impikan, bersatu kembali.
"Sayang, apakah kamu ingin makan sesuatu?" kedua kalinya Katy menanyakan hal yang sama pada Aryn.
"Tidak, ma! Aryn sedang tidak ingin," jawab Aryn dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Kamu beruntung, Dave!" Katy terkekeh.
Katy dan Erick duduk bersama dengan Uti di sofa. Katy dan Uti yang baru mengenal tidak terlihat canggung saat duduk bersama.
"Benarkah?" seru Aryn.
"Benar, nak! Suamimu ini sangat menguji kesabaran papa sejak masih dalam kandungan" jawab Erick.
"Papa tidak tahu saja kalau Aryn pernah memintaku untuk membelikan rambut peri. Dari negaranya langsung aku datangkan!" Dave membusungkan dadanya sambil menepuk-nepuknya.
"Putra kalian ini sampai membuatkan gerobak penjual rambut perinya," ujar Uti membuat semua orang terkekeh.
"Memang harus begitu, Uti! Itu kan juga keinginan anaknya," sahut Katy.
"Sayang, hari ini parfummu enak sekali!" celetuk Aryn.
Dave tertawa geli mendengar ucapan Aryn. Erick, Katy, dan Uti memandang pasangan itu.
"Benarkah?" seru Dave.
"Iya, aku jadi tidak mual!" jawab Aryn.
"Sebenarnya aku belum mandi sejak kemarin sayang, boro-boro memakai parfum makan saja aku selalu teringat kamu!" Dave terkekeh.
Erick, Katy, dan Uti menatap satu sama lain. Lalu mereka tertawa bersama. Erick dan Katy baru tahu jika Aryn menyukai bau keringat Dave daripada parfum. Pastinya karena pengaruh kehamilannya.
"Kakak ipar!....Aryn!" teriak Silvi dan Mei yang baru membuka pintu.
Dave menutup kedua telinganya, "Kenapa kalian berteriak?" seru Dave tapi tidak digubris Silvi dan Mei. Silvi dan Mei langsung menghambur memeluk Aryn.
"Aku baik-baik saja kok," lirih Aryn.
"Apakah kamu keguguran?" tanya Mei.
Pletak,
"Aww... sakit!" pekik Mei setelah dahinya disentil Silvi.
"Makanya kalau ngomong di filter dulu, kak!" seru Silvi.
"Aku cuma bertanya, lihatlah perut Aryn jadi kecil!" ucap Mei bersungut-sungut.
Semua orang saling memandang. Dave menggelengkan kepalanya. Silvi saja sudah membuatnya pusing, sekarang ditambah Mei.
__ADS_1
"Dari kemarin memang segitu, karena keponakanku kan masih kecil! Kak Mei bagaimana sih, masa kalah pintar dengan gadis umur 15 tahun!" seru Silvi.
"Cukup! Keadaan Aryn dan babyku baik-baik saja! Tidak ada yang harus diperdebatkan!" seru Dave. Silvi dan Mei langsung terdiam.
"Bagaimana keadaanmu Mei? Kamu juga terluka," tanya Aryn.
"Sudah diobati jodohku," jawab Mei.
"Jodohmu?" sahut semua orang serempak, termasuk Zack yang berdiri di belakangnya.
"Iya, jodohku! Pria tampan yang berdiri di belakangku, masa kalian tidak melihatnya?" jawab Mei membuat semua orang tertawa.
"Sepertinya aku kebanyakan mengoles obat merah di kepalanya, jadi merembes ke dalam!" celetuk Silvi.
"Dave, tugas gua udah selesai kan? Gua pulang dulu!" seru Zack yang langsung berlari keluar dari ruangan itu.
"Tunggu! Frans mana?" seru Dave.
"Gua tinggal!" sahut Zack yang sudah menutup pintu.
"Kak Zack itu seleranya tinggi," seru Silvi.
"Dia mau kabur sejauh apapun, pasti akan bertemu denganku lagi!" jawab Mei.
"Sudah cukup! Sekarang katakan, dimana Frans?" seru Dave.
"Ditinggal," jawab Silvi.
"Pria penakut itu akan pulang bersama para may..." belum selesai Mei berbicara Silvi sudah membungkam mulutnya.
"Jangan begitu kepadanya, Silvi!" ucap Uti.
Dave memberikan kode kepada Silvi. Silvi paham, belum saatnya Uti tahu siapa sebenarnya Dave. Dan apa yang dilakukan Dave dengan musuhnya.
"Kak Frans pulang bersama Maya kan maksudmu," Silvi menginjak kaki Mei.
"Bagaimana aku bisa menjawab, kamu menginjak kakiku!" seru Mei.
"Katakan iya, kak!" bisik Silvi.
"Iya... Frans pulang dengan Maya," jawab Mei dengan senyum yang dipaksakan.
"Ohh.." jawab Uti sambil mengangguk paham.
Di lokasi penyekapan Aryn,
Anak buah Dave berkali-kali menepuk pipi Frans agar pria itu sadar. Tapi kenyataannya Frans tidak kunjung sadar juga.
"Sudahlah, kita bawa masuk saja! Lagipula hanya tersisa mobil ini! Kalau kita tinggal malah nanti kita yang salah!" ucap anak buah Dave pada temannya.
Frans dibawa masuk ke dalam sebuah mobil minibus berwarna hitam. Frans didudukkan di jok tepat di belakang sopir. Di sebelahnya ada Dion yang sedang mengerang kesakitan. Dan di belakangnya, ada banyak tumpukan kantong besar berisi mayat-mayat. Jok belakang sengaja dipinggirkan untuk membawa mayat-mayat itu. Ada dua mayat yang di dudukkan di jok itu, kantongnya tadi tidak cukup. Kondisinya lumayan parah, ada luka tembakan di perut dan dadanya.
Sepuluh menit berlalu, Frans mulai mengerjapkan matanya. Ia menggosok kedua matanya. Sadar dirinya sedang berada di dalam mobil, Frans mencolek bahu sang sopir.
"Kita mau kemana?" tanyanya.
"Pulang, tuan!" jawab anak buah Dave.
"Ohhh," jawabnya.
Saat dirinya membetulkan pakaiannya. Tiba-tiba ada sebuah tangan tidak sengaja menepuk pahanya. Frans berpikir ada anak buah Dave lain yang duduk di sebelahnya.
"Ada yang aneh," gumam Frans.
Frans lihat tangan itu lagi. Tangan itu terlihat mengerikan, bentuknya sudah tidak karuan. Frans menyingkirkan tangan itu dari pahanya secepat mungkin. Lalu ia menoleh,
"Aaaaaaa..." Frans berteriak sangat kencang. Tangannya menutup wajahnya. Kakinya menendang Dion berkali-kali.
"Pait pait pait..." seru Frans.
"Berisik! Liat tuh belakang lo!" ucap Dion dengan suara seraknya.
Frans memberanikan diri untuk menoleh, ada dua mayat yang berdarah dengan lubang di dada dan perutnya. Dan, ada begitu banyak tumpukan mayat juga.
"Mama,,," lirih Frans.
Bruk,
Frans jatuh pingsan lagi.
"Anak mama! Sempatnya memanggil mama sebelum pingsan, cuih!" seru Dion.
Kedua anak buah Dave tertawa dengan kencang. Orang yang bekerja dengan Dave harus siap melihat mayat. Tapi Frans justru pingsan.
..........
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan tinggalkan komentar sesuka kalian! Stay tuned ya!!!!