Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
RAMBUT NENEK


__ADS_3

Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


Dave berlarian menuju ruang tengah. Ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Bisikan dari salah satu penjaganya membuatnya terkejut.


"Dimana kalian menemukannya?" seru Dave.


"Di belakang paviliun," jawab Zack.


"Orang ini bunuh diri," imbuh Samuel.


"Bisa saja sengaja dibuat terlihat seperti bunuh diri," sahut Zack.


Dave berkali-kali menendang tubuh yang sudah terbujur kaku di hadapannya. Seorang pria muda. Tidak ada luka ataupun memar di sekujur tubuhnya, hanya saja mulutnya mengeluarkan busa. Sepertinya dia meminum racun, atau bisa saja diracuni. Dave juga mencium aroma bensin di tangan orang itu. Ternyata dia lah pelaku pembakaran halamannya.


"Periksa seluruh tubuh dan pakaiannya, jangan sampai ada yang terlewat lalu singkirkan mayatnya!" perintah Dave pada para penjaga.


"Apakah aksi orang ini terekam CCTV?" tanya Zack.


"Boro-boro terekam, semua CCTV diretas, digantikan dengan rekaman berulang! Pelaku peretasannya tidak bisa ditemukan karena semua rekaman sudah tidak ada," jawab Dave.


"Apakah ada kaitannya dengan papa mertua gua?" tanya Samuel.


"Bisa aja, kalau bini lo laporan!" seru Zack.


"Tapi Angel pernah mengatakan jika dia tidak mau memberitahu ayahnya tentang keberadaannya, karena kalau ayahnya tahu bisa saja ia dipaksa menggugurkan anak gua!" jawab Samuel.


Mereka saling diam, sibuk dengan isi kepala masing-masing.


"Keputusan lo untuk pensiun waktu itu emang bener sih Dave! Sekarang gua baru sadar betapa pentingnya pensiun, gua masih belum dapet pacar baru! Gua juga capek serang-serangan seperti ini!" ucap Zack.


"Tapi pensiunnya nanti setelah musuh-musuh ini gua musnahin, ya!" lanjutnya.


"Terserah," sahut Dave cuek.


"Bagaimana keadaan Aryn? Dia aman?" tanya Dave pada Frans.


"Gua dikacangin," keluh Zack membuat Samuel tertawa mengejek.


"Aman, tuan! Nona Aryn sedang berada di kamar sekarang, Nona Angel juga berada di kamarnya! Ada banyak penjaga di depan kamar mereka, tadi Nona Aryn menolak untuk saya temani! Saya justru disuruh untuk turun, Dan membantu tuan!" jawab Frans.


"Okay," jawab Dave.


"Angel di kamar? Gua ke kamar dulu ya guys!" seru Samuel.


"Kayak pengantin baru aja," seru Zack.


"Emang gua pengantin baru," jawab Samuel.


"Udah ngamar berkali-kali, sensasinya sudah tidak seperti pengantin baru dong!" ledek Zack.


"Terserah," ucap Samuel kesal.


"Oh iya, kapan lo pergi dari sini? Orang tua lo kan merestui, jadi sebaiknya lo pulang ke rumah! Mereka pasti ingin merawat menantu yang sedang mengandung cucu pertama mereka," ucap Dave.


"Jadi gua diusir?" tanya Samuel.

__ADS_1


"Iya," jawab Dave singkat.


"Besok gua pulang, sekarang mau siang pertama dulu!" seru Samuel.


Samuel meninggalkan ruang tengah. Serangan musuh di pesta pernikahan sejenak ia lupakan. Musuh boleh menyerang tapi siang pertama harus tetap dilakukan. Terlihat Reza dan Sonya datang mendekat. Melihat ada mayat dari kejauhan, Sonya bergegas mendekat. Ia mengamati baik-baik seluruh tubuh mayat itu.


"Dia orang yang kau lihat?" tanya Dave.


"Benar, dia yang membuat kebakaran tadi! Aku sempat mengikutinya, hampir saja aku menangkapnya tapi aku diseret menemuimu!" jawab Sonya kesal.


Dave tidak menghiraukan ucapan Sonya. Kalaupun dia menyesal itu tidak ada gunanya lagi, orang ini sudah mati. Anak buahnya juga tidak menemukan apapun di saku baju, celana, maupun tubuh orang itu. Ia memerintahkan anak buahnya untuk menyingkirkan mayat itu, ia takut jika nanti Aryn melihatnya. Tidak berapa lama kemudian, Silvi datang dengan membawa Mira. Terlihat Silvi menggenggam sesuatu di tangan kirinya.


"Apa yang dia temukan?" tanya Reza to the point.


Silvi mengacuhkan Reza, ia berjalan melewati Reza dan berhenti tepat di hadapan Dave yang sedang duduk di sofa. Reza tampak menatap Silvi dengan penuh rasa penasaran.


Ada apa lagi, ini? Baru beberapa hari dia baik kepadaku, sekarang sudah marah lagi!" gumam Reza.


"Gimana rasanya dicuekin?" tanya Zack.


"Diem lo!" seru Reza kesal. Nada bicaranya yang terdengar sangat kesal membuat Sonya meliriknya. Sepertinya ada sesuatu diantara mereka berdua, batin Sonya dalam hatinya.


"Mira menemukan ini, kak!" seru Silvi.


Silvi menyerahkan sebuah suntikan lengkap dengan jarumnya yang ia bungkus dengan kantong plastik kecil. Layaknya seperti yang dilakukan detektif pada barang petunjuk yang ditemukan. Setelah Dave amati, masih ada sisa cairan di dalam suntikan itu.


"Dimana Mira menemukan ini?" tanya Dave.


"Di belakang paviliun, Mira menemukannya di tumpukan rumput kering! Benda ini menjadi petunjuk yang besar, bukan? Jadi aku bungkus benda itu dengan plastik sejak pertama kali Mira menemukannya!" jawab Silvi.


"Dapatkan sidik jari dari suntikan ini, kalau sidik jarinya berbeda dengan mayat itu kerahkan semua orang kepercayaanmu untuk mencari pemiliknya!" perintah Dave pada Ken.


"Siap, bos!" jawab Ken. Walaupun hari ini dia cuti, kalau mendapat tugas ya harus tetap dilaksanakan.


"Gua ikut!" seru Zack yang berlarian mengejar Ken.


Ting,


Bunyi nyaring lift membuat Dave langsung menoleh. Ternyata feelingnya benar, Aryn yang keluar dari lift itu. Ia menampilkan senyumnya yang paling manis untuk Aryn.


"Apa kamu butuh sesuatu, sayang?" seru Dave, ia berjalan mendekati Aryn.


"Stop!" teriak Aryn.


"Apa?" seru Dave.


"Jangan mendekat lagi, aku sudah lemas karena muntah-muntah pagi ini!" jawab Aryn.


"Aku panggil dokter ya, aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Dave sendu, ia sebenarnya ingin sekali memeluk Aryn dan menciumi wajah Aryn tapi Aryn masih sama seperti pagi tadi.


"Aku baik-baik saja, kok! Mungkin memang bau parfummu yang tidak enak!" jawab Aryn.


"Tapi semua orang mengatakan jika aku sangat wangi, hanya kamu yang menganggapnya bau! Aku rasa ada yang salah dengan tubuhmu, sebaiknya aku panggil dokter!" lirih Dave.


"Besok, saja! Sekarang aku mau minta sesuatu kepadamu, apakah boleh sayang?" ucap Aryn.


Dave memiringkan kepalanya, aneh sekali. Untuk pertama kalinya Aryn meminta sesuatu kepadanya.

__ADS_1


"Aku pasti mengabulkannya! Asal kamu tidak memintaku untuk memindahkan mansion ini ke bulan, aku belum mampu melakukannya!" jawab Dave cengar-cengir.


"Aku ingin makan rambut nenek," ucap Aryn malu-malu.


"Rambut nenek?" seru semua orang serempak.


Tidak hanya Dave yang terkejut, Reza dan Silvi juga terkejut. Hanya Frans dan Sonya yang terlihat biasa dan tidak terkejut sama sekali. Baru kali ini mereka mendengar seseorang yang ingin makan rambut, rambut nenek-nenek lagi.


"Berjaga jarak denganmu seperti ini saja sudah membuat kepalaku terasa akan pecah, jangan aneh-aneh sayang, kamu tidak mau menjadi janda muda bukan?" Dave kesal.


"Aku hanya ingin makan rambut nenek, bukan meminta liburan ke bulan! Kenapa kamu sangat berlebihan?" keluh Aryn.


"Keinginan kakak sungguh tidak wajar, jelas saja Kak Dave marah kak," sahut Silvi.


"Masa rambut dimakan, rambut nenek-nenek lagi, hiii" imbuh Reza.


Aryn, Frans, dan Sonya kompak menepuk jidat masing-masing. Karena Sonya juga berasal dari negara kelahiran Aryn, tentu ia tahu apa yang dimaksud oleh Aryn. Dengan cekatan Sonya membuka ponselnya, ia mengetikkan sesuatu di kolom pencarian.


"Ini adalah rambut nenek yang dimaksud oleh Nona Aryn," ucapnya saat menunjukkan ponselnya kepada Dave, Reza, dan Silvi.



"Fairy Floss (rambut peri)?" seru mereka bersamaan.


"Ini namanya Fairy Floss (rambut peri) bukan rambut nenek, sayang" ucap Dave lembut.


"Ah sama saja, hanya saja di negara ini beda penyebutannya," jawab Aryn yang tidak mau disalahkan, pokoknya dia selalu benar.


"Ini makanan yang sangat kuno, aku ragu apakah Kak Dave bisa menemukannya dengan mudah atau tidak," sahut Silvi.


"Aku dulu pernah memakannya saat masih kecil, tapi sekarang aku sudah jarang sekali melihat anak kecil memakan itu!" sahut Reza.


"Aku akan menyuruh Frans," sahut Dave yang melirik Frans.


"Aku mau kamu yang membelinya, bukan Frans! Rasanya nanti akan berbeda," lirih Aryn.


Dave menghembuskan napasnya dengan kasar.Tidak ada salahnya jika ia mengabulkan permintaan Aryn. Lagipula selama ini Aryn tidak pernah meminta sesuatu kepadanya.


"Baiklah, tapi ada syaratnya!" jawab Dave.


"Apa syaratnya?" tanya Aryn bersemangat.


"Besok kamu harus mau diperiksa, aku akan memanggil dokter! Aku takut kamu kenapa-kenapa karena lusa kamu sudah mulai masuk kuliah," jawab Dave.


"Siap, ondel-ondelku sayang!" seru Aryn dengan penuh semangat, apalagi Dave mengatakan jika lusa ia sudah masuk kuliah.


Sonya membelalakan kedua bola matanya. Apakah yang ia dengar tadi tidak salah? Aryn memanggil Dave dengan sebutan ondel-ondel, astaga! Ternyata apa yang diceritakan almarhum ayahnya mengenai sikap dan kepribadian Aryn memang benar adanya. Ia melirik Frans. Frans hanya mengisyaratkan Sonya agar diam saja. Saat Sonya melihat Dave, tidak ada kemarahan di wajah Dave saat dipanggil ondel-ondel oleh Aryn. Justru Dave tersenyum senang. Pasangan aneh, batin Sonya.


Dave tersenyum lebar, ia merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Aryn. Tapi baru selangkah ia mendekat, Aryn langsung berlarian menuju kamar mandi di kamar tamu. Aryn mengeluarkan semua isi perutnya, padahal ia hanya makan sedikit di pesta tadi. Dave menatap Aryn dengan sendu. Apakah bau badannya seburuk itu sampai membuat Aryn muntah-muntah. Ia berulang kali mencium tubuhnya, wangi. Padahal sudah sangat merindukan Aryn, ia ingin memeluknya seperti sebelumnya. Dave harus bersabar sampai besok. Dokter pasti tahu dan mempunyai solusi untuk masalah ini.


"Aku tidak apa-apa, kamu cepat belikan rambut peri untukku! Jangan lama-lama ya, sayang!" seru Aryn dari dalam kamar mandi.


"Aku akan segera kembali!" seru Dave.


................


Stay tuned ya!

__ADS_1


__ADS_2