Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
PESTA PART 1


__ADS_3

WARNING:


SEBELUM LANJUT MEMBACA DIWAJIBKAN UNTUK RATE, VOTE, LIKE DAN TINGGALKAN KOMENTAR SESUKA KALIAN.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT UNTUK AUTHOR.


HAPPY READING 😘


............................


Reza hanya mengangguk pelan, ia masih tidak mengerti akan Dave apakan seember air garam itu.


"Permisi, tuan! Sopir sudah berangkat menjemput Tuan Doni di bandara!" ucap salah satu anak buahnya yang memberikan laporan pada Dave.


"Bagus!" jawab Dave singkat, anak buahnya langsung melangkah menjauh meninggalkan ketiga pria tampan itu. Ken dan Reza saling menatap Dave secara bersamaan.


"Lo manggil si penguntit itu?" tanya Ken.


"Tentu, dia juru kunci pesta kita nanti!" jawab Dave dengan asal.


"Juru kunci?" tanya Reza dan Ken bersamaan.


"Entahlah! Terserah gua mau panggil dia apa!" seru Dave.


Sore tadi Dave mendapatkan pesan singkat dari Doni. Ia mengetahui rahasia besar yang berhasil didapatkan Doni selama penyelidikannya di Singapura. Saat Doni mengirimkan pesan itu, ia sudah berada di Amerika. Dave langsung memintanya untuk datang ke mansionnya, mengajaknya untuk bergabung dalam pesta malam ini.


Deru mobil Zack terdengar mendekat ke mansion. Terlihat Zack berjalan mendekat dengan memapah Samuel. Samuel terlihat lebih segar, lebam di wajahnya juga sedikit berkurang. Karena tidak ingin berlama-lama, kelima pria tampan itu bergegas menuju ruangan bawah tanah. Tidak lupa membawa seember air garam.


Kriieeettt,


Pintu besi yang menutupi ruangan bawah tanah dibuka perlahan oleh Reza. Kedua pria yang meringkuk di lantai langsung terduduk. Terlihat kondisi mereka sangat mengenaskan. Pakaian mereka lusuh sekali.


Dave mengambil sebuah kursi untuk duduk Samuel, Samuel tentu tidak akan kuat jika harus berdiri terus sepanjang pesta.


"Selamat malam, tawananku!" seru Dave dengan suara yang menggema di seluruh ruangan.


Anak buahnya meletakkan ember yang berisi air garam di dekat sebuah meja. Dia atas meja itu tersusun rapi semua jenis pisau dan pistol. Dari yang kecil hingga yang besar, dari yang tajam sampai yang snagat tajam. Di sebelah meja itu ada sebuah kursi, tempat bersandarnya tongkat kasti kesayangan Dave.


"Mau kita mulai darimana, Dave?" tanya Reza dengan senyum seringainya.


Mungkin banyak yang mengenal Reza adalah seorang yang humoris dan konyol, tapi jika sudah masuk ke ruang bawah tanah ini sikapnya berubah 180 derajat.


"Gua mau bersenang-senang dulu bersama mereka," jawab Dave, ia mengambil tongkat kasti kesayangannya.


Kedua tawanan Dave terlihat membuang muka. Mereka tidak takut melihat Dave yang sudah membawa tongkat kasti kesayangannya. Sementara Samuel, dan Zack terlihat tidak bergerak dari tempatnya. Zack dan Samuel tidak tertarik untuk bergabung, mereka menunggu di sudut ruangan. Yeah, Darah saja mereka takut.


"Ken! Ikat mereka di kursi!" perintah Dave pada Ken.

__ADS_1


"Ashiap!" seru Ken.


Ken mengambil dua buah kursi, ia memaksa kedua tawanan itu untuk duduk di masing-masing kursi. Sungguh besar nyali kedua tawanan itu, mereka memberontak. Rupanya mereka belum mengenal betul siapa yang berada di hadapannya.


"Jika mereka keras kepala, tarik saja tangan kanan mereka!" seru Dave.


Aaaaaaaa


Teriak kedua tawanan itu bersamaan, Reza ikut menarik salah satu tangan kanan dari kedua tawanan itu. Tangan kanan mereka sebelumnya memang sudah dibuat retak oleh Dave saat pertarungan di lokasi kejadian.


"Kau apakan tanganku! Brengs*k!" umpat salah satu dari tawanan Dave.


"Hanya mematahkannya sedikit," sahut Reza.


"Jadi diamlah, jika kau memberontak akan semakin cepat ajalmu datang!" lirih Ken di dekat telinga mereka.


"Brengs*k!" umpat orang itu.


"Jangan berisik! Tapi jika kalian sudah bosan hidup, apa boleh buat? Itu keputusan kalian!" seru Reza.


Reza melirik Dave sekilas, melihat Dave tersenyum ia langsung mendekati kedua tawanan itu lagi.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Reza dengan lirih, bahkan hampir tidak terdengar.


Tidak ada jawaban dari orang di hadapannya,


Bug,


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Reza.


Orang itu malah menatap tajam Reza, Reza membalasnya dengan senyuman termanis miliknya.


Bug,


"Dasar orang gila!" seru orang itu sambil memegangi dadanya.


Pukulan Reza tepat mengenai tulang rusuk bawahnya.


Tap


Tap


Dave berjalan mendekat dengan membawa tongkat kasti kesayangannya. Tongkat itu berlumuran darah, entah darah siapa saja Dave tidak mengingatnya. Ia tekan kepala salah satu dari mereka dengan tongkatnya.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Dave.


Hening,

__ADS_1


Mulut mereka tertutup rapat, keringat dingin mengalir deras di tubuh kedua tawanan itu.


Bug bug


Dave memukul kedua orang itu, tepat di mulut mereka. Mulut mereka dibanjiri oleh darah. Bahkan salah satu dari dua orang itu memuntahkan beberapa giginya yang copot.


"Dasar tidak waras!" seru orang itu, suaranya terdengar tidak jelas karena mulutnya penuh dengan darah.


"Ssstttt! Diamlah! Atau darahmu akan muncrat kemana-mana!" Reza meletakkan jari telunjuknya di bibir kedua orang itu.


"Brengs*k!" umpat salah satu orang itu.


"Ah kalian ini, darah kalian terbuang sia-sia, kan!" seru Reza kesal membuat Dave terkekeh.


"Kalian ingin bebas dari tempat ini?" tanya Dave.


"Sudah pasti," jawab kedua orang itu serempak.


"Bagus! Kalau begitu kita bermain tebak-tebakan sekarang, siapa yang menjawab benar akan aku bebaskan lebih dulu, bagaimana?" tanya Dave.


Samuel dan Zack langsung menoleh Dave dengan serempak. Apa yang sedang dibicarakan oleh Dave? Sejak kapan Dave sengang bermain tebak-tebakan? Tidak mau ambil pusing, mereka kembali ke posisi masing-masing. Sejak tadi Samuel dan Zack sudah mengubah posisi duduk mereka. Yang semula menatap Dave dan yang lainnya, sekarang sudah menghadap tembok. Mereka benar-benar tidak berani melihat pesta yang sedang berlangsung.


Sementara Ken dan Reza, mereka tersenyum seringai. Mereka memang tidak tahu permainan apa yang akan dimainkan Dave, tapi tentunya mereka tahu ending dari permainan itu.


"Tidak waras!" seru orang itu.


"Lihatlah! Tikus got ini berani mengataiku tidak waras! Ternyata kau belum mengenal seorang mafia Red Blood dengan benar!" seru Dave dengan senyuman seringainya.


Glek,


Kedua orang itu langsung mati kutu. Keringat dingin semakin deras bercucuran di tubuh mereka. Ternyata orang yang menyekap mereka adalah Red Blood. Habis sudah! Yang mereka tahu, mereka harus melukai istri Dave Winata, pengusaha Wins Company. Mereka tidak tahu sama sekali jika Dave adalah ketua Red Blood.


"Kenapa? Kalian terkejut, ya?" Reza terkekeh.


"Jadi kalian diamlah! Lihatlah! Mulut kalian sudah hancur begitu, masih mau banyak bicara?" seru Ken.


Selama ini Ken memang banyak diam, bahkan dia jarang berkelahi dengan orang ataupun memukul seseorang. Kali ini Ken memegang erat dagu orang itu, hingga tangannya terkena darah. Ia juga menampar orang itu, hingga giginya copot satu lagi. Tidak banyak yang tahu jiwa psikopat Ken yang tersembunyi. Tapi kembali lagi, semua orang pasti mempunyai sisi buruk yang tidak diketahui orang lain.


"Bagaimana apakah kalian akan bergabung dalam permainan tebak-tebakanku?" tanya Dave.


Kedua orang itu saling menatap untuk beberapa saat. Kemudian mereka berdua mengangguk serempak.


........................


Permainan tebak-tebakan Dave itu seru banget loh! Penasaran? disambung ke bab selanjutnya ya!


Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Love you All❤️

__ADS_1


__ADS_2