Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
MIRA


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


Samuel dan Zack saling memandang lalu mengangkat bahu bersamaan. Mereka berdua tahu apa yang dirasakan Reza. Dave mendorong kursi roda Aryn menuju kebun, Aryn hanya bisa pasrah.


Enak juga sih tinggal duduk terus didorong sampai hehehe...


Samuel tidak bisa ikut bergabung memanen buah jeruk. Sebenarnya ia ingin ikut, tapi Angel tidak menolak. Jadi ia harus menemani Angel. Angel tidak bisa jauh-jauh darinya, atau ia akan terus muntah. Dia membawa Angel untuk istirahat di kamarnya. Setelah Angel tidur nanti ia akan pulang ke rumahnya untuk membicarakan rencana pernikahannya. Sementara Ken menahan Zack agar tetap bersamanya. Sepertinya Ken akan mendiskusikan masalah serius dengan Zack.


"Ck, ngenes banget kamu Silvi! Masih muda tapi udah stuck with om om, eh ternyata doi suka orang lain!" Silvi menendang kerikil di depannya.


Ia memutar-mutar keranjang buah yang ia bawa. Awalnya Silvi hanya menggunakan buah jeruk sebagai alasannya untuk menghindar dari meja makan tadi. Tapi setelah melihat pohon jeruknya berbuah lebat , moodnya kembali membaik. Sekarang ia asyik naik ke atas pohon jeruk yang tidak terlalu tinggi.


"Wah ada mata-mata nih!" gumam Silvi.


Silvi dapat melihat sebuah motor yang ditutupi dedaunan. Kedua matanya memeperhatikan sekelilingnya dengan jeli. Benar ternyata ada mata-mata yang mengintai mansion. Terlihat seorang pria sedang duduk santai di atas pohon alpukat miliknya. Sebuah ide jahat terlintas di kepalanya.


"Akan aku perkenalkan kau dengan Mira!" Silvi tersenyum licik.


Ia bergegas melompat dari pohon jeruknya. Silvi berjalan memutar, masuk ke pintu samping. Tangannya membuka gembok besi dengan cekatan. Ketika Silvi memasuki area kandang, pawang yang bertugas hanya akan mengawasi dari kejauhan. Karena peliharaan Silvi sudah terbiasa dengan Silvi sejak dia masih kecil.


"Mira... come here!" seru Silvi.


Seekor anjing pemburu berukuran besar menghampiri Silvi. Anjing itu terlihat sangat garang dengan giginya yang tajam, sangat tidak cocok dengan namanya.


Di mansionnya yang super luas dan megah ini Dave membangun kandang khusus untuk peliharaan Silvi. Jika Dave gemar mengoleksi beraneka ragam senjata, Silvi gemar memelihara tanaman buah dan binatang yang tergolong buas. Diantaranya anjing pemburu yang diberi nama Mira ini. Di dalam kandang-kandang besi itu Silvi juga mempunyai harimau bernama Sindy, beruang madu bernama Brown, dan Cheetah yang bernama Cheetos.


"Ada yang ingin berkenalan denganmu Mira," Silvi menuntun anjing peliharaannya keluar kandang.


"Guk...guk guk guk...guk guk?" sahut Mira.


"Nanti kamu tahu sendiri!" jawab Silvi.


Pawang Mira menatap heran Silvi. Memang ini bukan pertama kalinya Silvi mengobrol dengan Mira, tapi tetap saja terlihat aneh.


"Kamu lain kali saja ya, Cheetos!" seru Silvi pada cheetah yang terus memperhatikannya.


Cheetos telihat kecewa, ia kembali rebahan di kandangnya dengan kepala yang disembunyikan di antara kakinya. Silvi terkekeh melihat tingkah lucu Cheetos.


Mira mengekor di belakang Silvi menuju kebun buahnya. Silvi memberi instruksi kepada Mira agar tidak menggonggong dulu. Mira ternyata sangat penurut, ia sama sekali tidak menggonggong.


"Silvi! Ngapain bawa Mira? Mira udah doyan jeruk?" ucap Reza yang terkejut melihat Mira.


Reza teringat kejadian tahun lalu saat Silvi mengajak Mira ke kebun buah dan merayunya untuk mengicipi jeruknya.


"Iihh Kak Reza! Mau ngenalin Mira sama seseorang nih! Kak Reza tunggu di sini aja!" jawab Silvi sambil celingukan memantau pria tadi. Pria tadi masih fokus dengan teropongnya. Silvi sedikit terkejut dengan kedatangan Reza di kebunnya setelah Kebenaran yang ia ketahui. Tapi sekarang mengerjai mata-mata lebih penting dibanding perasaannya.


Silvi berjalan mengendap-endap mendekati pohon alpukat. Sebelumnya ia mengempeskan kedua ban motor yang ia lihat tadi.

__ADS_1


"Oy lo yang di atas! Turun, Mira mau kenalan nih!" teriak Silvi mengejutkan pria tadi.


Bug,


Alhasil pria tadi terjatuh dari pohon alpukat dan mendarat dengan keras di atas tanah. Pria itu terlihat terkejut, takut, bingung, cemas, dan kesakitan.


"Mira, bawa om ini olahraga ya!" ucap Silvi sambil mengelus kepala Mira.


"Guk guk...guk...guk!"Mira menjawab perintah Silvi.


"Gadis pintar!" puji Silvi.


Lalu Mira menggonggong keras ke arah pria tadi. Bahkan sekarang ia sudah menggigit sepatunya. Pria itu terlihat ketakutan hingga berlari terbirit-birit menghindari serangan dari Mira. Dia sempat menaiki motornya tapi kemudian motornya digeletakkan di tanah begitu saja, bannya kempes semua.


"Kejar terus, Mira! Sampai dia lupa siapa namanya!" teriak Reza kegirangan melihat Mira mengejar mata-mata tadi.


"Kenapa kamu mengambil risiko untuk menghadapi mata-mata itu sendirian? Kamu kan bisa memberitahu yang lainnya dulu!" tanya Reza kepada Silvi yang masih tertawa cekikikan.


"Aku tidak sendirian, Mira bersamaku! Kakak tidak perlu berlebihan seperti itu! Tidak usah mengkhawatirkan ataupun mengurus hidupku, urus saja diri kakak sendiri!" sahut Silvi ketus.


"Ada apa dengan adik kecil kakak ini?" tanya Reza berusaha mencairkan suasana.


"Aku bukan adik kakak, stop memanggilku adik!" sahut Silvi dengan tegas.


Reza sama sekali tidak memahami kalimat yang Silvi ucapkan. Ia tidak berbuat suatu kesalahan yang membuat Silvi marah. Tapi kenapa sekarang Silvi sangat marah kepadanya.


Silvi melangkah maju menjauhi Reza, ia kembali naik ke atas pohon jeruknya. Saat kakinya menginjak salah satu ranting, tiba-tiba ranting itu patah.


Silvi terjatuh dari pohon jeruknya. Reza langsung berlari menghampiri Silvi. Ia memegang tangan Silvi untuk membantunya.


"Lepasin! Aku bisa bangun sendiri!" Silvi mengibaskan tangan Reza.


Setelah berhasil bangun lagi, Silvi bergegas memetik buah jeruknya yang berada di ranting yang bisa ia gapai dengan tangannya.


Reza semakin bingung melihat tingkah Silvi.


Ada apa denganmu, Silvi? Kenapa kamu bersikap seolah sedang menjauhiku? Padahal kakak ingin berbagi cerita denganmu! Kakak pikir jika menghabiskan waktu untuk bermain game bersamamu akan bisa membuatku sedikit lebih baik, tapi sekarang kamu marah kepadaku!


"Lebat sekali buahnya, Silvi!" seru Aryn dengan senyum merekah.


"Apa-apaan ini kak?" seru Silvi geleng-geleng kepala melihat Aryn yang duduk di kursi roda.


"Seperti yang kamu lihat," sahut Aryn datar.


"No comment!" tukas Silvi membuat Dave terkekeh.


Sudut mata Silvi mengamati Reza. Lagi-lagi Reza terlihat murung setelah kedatangan Dave dan Aryn.


"Lo masih laper, Za? Lesu banget tuh muka!" ledek Dave.


"Kayak kehilangan semangat gitu!" imbuh Aryn terkekeh.

__ADS_1


Kak Reza kehilangan semangat karena melihat kedekatan kalian berdua, Kak!


Silvi menahan rasa sesak di dadanya ketika melihat Reza.


"Tau nih! Gua masuk dulu ya!" ucap Reza meninggalkan kebun.


"Gua tau lo jealous, Za!" gumam Dave.


"Mau kemana?" Dave menahan tubuh Aryn agar tidak jadi berdiri.


"Aku mau memetik jeruk langsung dari pohonnya, Dave! Sepertinya sangat segar!" jawab Aryn.


"Duduklah manis di sini! Aku yang akan memetiknya untukmu!" ucap Dave yang mengelus pucuk kepala Aryn.


"Aku tahu pasti rasanya masih sakit, duduklah dengan tenang! Aku masih belum puas, Aryn! Aku menginginkanmu malam ini! Jadi persiapkan dirimu!" bisik Dave di telinga Aryn.


Seketika Aryn membelalakan matanya. Asetnya bengkak dan nyeri karena ulah Dave semalam dan pagi ini. Sampai sekarang rasanya masih nyeri, tapi masih juga mau dihajar.


"Kalau ingin pamer kemesraan kalian lihat-lihat tempat dulu dong!" protes Silvi, ternyata sedari tadi ia menutup telinganya.


"Pengen ya? Awas aja kalau kamu punya pacar!" seru Dave.


"Kalau aku belum boleh punya pacar, jangan bermesraan di depanku lah!" protes Silvi.


Dave dan Aryn tertawa bersama. Sementara Silvi mencebikkan bibirnya ke depan.


Emangnya nggak kelihatan apa kalau aku sedang hatiku broken? Malah mesra-mesraan! Pengen bunuh cicak rasanya!


"Hey, Mira! Untung kamu sudah kembali, aku tersiksa melihat mereka berdua!" seru Silvi pada Mira yang terlihat dari kejauhan.


"Siapa Mira?" tanya Aryn.


"Peliharaan Silvi, lihatlah itu dia!" Dave menunjuk Mira yang mendekat. Mira seperti membawa sebuah botol.


"Guk guk guk...guk guk...guk!" Mira terlihat seperti memberikan laporan pada Silvi.


"Kamu tahu siapa orangnya?" tanya Silvi.


"Guk guk..." jawab Mira.


Aryn memandang Dave dengan penuh rasa penasaran.


"Mereka terbiasa mengobrol seperti itu," ucap Dave menjawab kebingungan Aryn.


Aryn mengangguk paham.


"Lihatlah kak!" seru Silvi.


..................


Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya!

__ADS_1


__ADS_2