Psikopat Bucin

Psikopat Bucin
KECURIGAAN


__ADS_3

Terima kasih untuk semua readers yang setia mampir membaca novel author. Jangan lupa like, vote, dan rate bintang lima ya! Author tunggu!


Warning: Novel ini mengakibatkan kecanduan😅


..........................


Pintu terbuka setelah Dave memasukkan kode keamanan berikut dengan sidik jarinya. Hanya ruang kerja dan kamarnya yang menggunakan sidik jarinya sebagai kode akses untuk membuka pintu. Tapi khusus untuk kamarnya, ia menambahkan sidik jari Aryn juga. Sisanya menggunakan kode biasa yang telah ia buat.


Dave masuk ke dalam ruang kerjanya diikuti oleh Silvi. Saat Dave akan menutup pintu, seseorang menahan pintunya dari luar.


"Wait, gua ikut Dave!" seru Reza dari balik pintu.


Reza sengaja mengikuti Dave dan Silvi karena ia tahu apa yang akan Silvi bicarakan.


"Bagaimana ini Silvi? Apakah orang ini boleh bergabung?" tanya Dave.


"Biarkan Kak Reza bergabung kak, aku yakin ia lebih banyak mengetahui hal ini daripada aku!" jawab Silvi.


Lalu Dave membiarkan Reza masuk dan menutup pintunya dengan rapat.


"Apa yang ingin kalian katakan kepadaku?" tanya Dave.


"Beruntung kakak lekas pulang, ada seorang pelayan yang mencurigakan di mansion!" ucap Silvi lirih.


"Mencurigakan bagaimana?" tanya Dave.


"Waktu itu aku tidak sengaja mendnegar dia sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Hal yang membuatku curiga adalah dia bersembunyi di sudut yang tidak terlihat oleh CCTV dan dia memanggil orang yang berbicara dengannya di ponsel dengan sebutan 'bos'!" jawab Silvi.


"Lalu? Hanya karena itu kamu curiga?" tanya Dave lagi.


"Tentu aku curiga, kak! Dia kan sedang bekerja di sini, lalu siapa yang dia panggil dengan sebutan bos?" sahut Silvi.


"Mungkin dia berbicara dengan bos di tempat dia bekerja dulu, atau mungkin dia mengambil pekerjaan sampingan," ucap Dave.


"Kenapa kakak sama saja dengan Kak Reza? Coba kalian pikir, untuk apa dia mencari pekerjaan sampingan jika gajinya selama bekerja di sini saja berkali-kali lipat lebih besar, lagipula dia tidak akan punya waktu untuk melakukannya!" sahut Silvi kesal.


"Tetap saja, itu belum cukup membuktikan kalau dia patut dicurigai!" seru Dave.


Silvi menyerah, ia memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Dave. Silvi merasa kesal karena Dave dan Reza sama-sama keras kepala, mereka berdua tidak mempercayai ucapannya. Ia akan menyelidiki dan mengungkap siapa pelayan baru itu sebenarnya. Dan ia sendiri yang akan menunjukkan kebenarannya kepada Reza dan kakaknya.


Blam,


Ruangan kerja Dave hening untuk beberapa menit. Dave berjalan ke arah rak buku dan berkasnya. Tangannya menyapu seluruh permukaan buku. Dan, ia menemukan sebuah alat penyadap suara berukuran kecil di sela-sela buku. Ia membawa alat itu keluar dari ruang kerjanya dan meletakkannya dengan hati-hati di salah satu kamar kosong. Dave sengaja tidak langsung menghancurkan alat itu, tujuannya agar orang yang memasangnya tidak tahu kalau aksinya sudah ketahuan.

__ADS_1


Reza langsung berdiri saat Dave masuk kembali ke ruang kerja miliknya.


"Lo...." ucap Reza yang langsung dipotong Dave.


Dave meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, ia berjalan perlahan menyusuri semua sudut ruang kerjanya. Beruntung, tidak ada alat penyadap ataupun kamera yang di sembunyikan di ruang kerjanya. Ia lalu duduk di sofa sebelah Reza.


"Kagetnya biasa aja bisa nggak?" seru Dave.


"Jadi lo sudah tahu?" tanya Reza.


"Hmm," jawab Dave singkat.


"Terus kenapa lo diem aja nggak cerita sama gua atau yang lain?" tanya Reza.


"Waktunya yang nggak tepat, apalagi minggu depan Samuel akan menikah kan? Lagipula sekarang lo udah tahu kan?" sahut Dave enteng.


"Gua udah tahu dari dua hari lalu, penyusup ini bukan kaleng-kaleng, Dave!" ucap Reza.


"Gua rasa juga begitu, tidak sembarang orang bisa meretas keamanan mansion ini! Dia orang kedua yang bisa meretasnya," seru Dave.


Walaupun Dave tahu Reza menyimpan rasa untuk istrinya, tapi Dave selalu mengesampingkan itu semua jika ia sedang berurusan dengan bisnis ataupun musuh. Ia hanya bersikap profesional, lagipula Reza juga menjaga sikapnya kepada Aryn. Jadi tidak ada hal yang harus dikhawatirkan.


"Siapa orang pertamanya?" tanya Reza.


"Hebat dong gua jadi orang pertama yang bisa meretas keamanan mansion lo, Dave?" tanya Reza kegirangan.


"Biasa aja! Hebat itu kalau tujuannya untuk menolong seseorang atau memecahkan kasus, tujuan lo meretas kan membantu Aryn kabur!" jawab Dave ketus.


"Tujuan gua mulia waktu itu, membebaskan seorang istri yang disakiti oleh suaminya sendiri!" sahut Reza.


"Terserah!" jawab Dave kesal.


Dave lalu menyalakan laptopnya. Sudah tiga hari ia tidak mengecek bisnis gelapnya, kalau masalah perusahaan tentu sudah ada Ken yang menghandle. Ia sudah tidak terlalu ikut andil dalam bisnis itu karena ia sudah memutuskan untuk meninggalkan bisnis itu demi Aryn. Dave juga tidak ingin jika kelak ia mempunyai anak, kehidupan anaknya akan terkena imbas dari bisnisnya. Tapi ia tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya begitu saja sampai bisnis ini benar-benar dihentikan. Karena semua anggota memutuskan untuk mengikuti jejak Dave yang akan berhenti dari bisnis gelap ini. Walaupun bisnis akan bubar, tapi Red Blood masih tetap ada.


"Apakah transaksi untuk besok malam sudah disiapkan?" tanya Dave pada Reza.


"Zack sudah membereskannya," jawab Reza tanpa menatap Dave, ia sibuk dengan ponselnya.


"Besok malam adalah transaksi terakhir," lirih Dave.


"Gua salut sama lo, man! Lo berani mengambil keputusan yang besar," ucap Reza, ia berjalan menghampiri meja Dave.


"Jadi pensiunan mafia," imbuh Reza.

__ADS_1


"Pensiunan mafia? Tapi ingat, tidak ada uang pensiun ataupun jaminan hari tua!" sahut Dave terkekeh.


"By the way! Bagaimana reaksi Hans si musuh besar Red Blood kalau tahu putri kesayangannya akan menikah dengan salah satu petinggi Red Blood ?" tanya Reza.


"Kita lihat saja minggu depan, itu pun kalau informasi pernikahannya sampai di telinganya!" jawab Dave enteng.


"Hans mungkin menaruh curiga sama lodan mengirim orang! Bisa jadi pelayan itu anak buahnya," sahut Reza.


"Impossible, kalau pelayan itu anak buahnya pasti Hans sudah menyerang mansion ini sejak lama dan menjemput Angel dari sini!" jawab Dave.


"Hans tidak bisa diremehkan, buktinya H Company menjadi saingan berat sekaligus musuh perusahaan lo bukan? Mungkin Hans merencanakan hal lain," ucap Reza.


"Dion juga patut dicurigai dalam masalah ini, tidak mungkin ia menghilang begitu saja! Dia pasti memulai pergerakan dengan mengirim pelayan sialan itu!" seru Dave, ia menutup laptopnya.


"Akan gua selidiki, perintahkan Doni juga untuk tetap mencari informasi sebanyak mungkin mengapa dan dimana Dion menghilang!" ucap Reza, ia bersiap membuka pintu.


"Jangan melibatkan orang lain atau masalah ini akan semakin runyam," seru Dave menghentikan Reza yang memutar handle pintu.


"Silvi?" tanya Reza.


Dave mengangguk, lalu Reza keluar dari ruang kerja Dave. Selang beberapa saat, Dave juga keluar dari ruang kerjanya. Ia bergegas menuju lift dan naik ke kamarnya.


Di dalam kamar Dave,


Saat Dave membuka pintu, kamarnya begitu gelap. Semua gorden ditutup. Hanya lampu tidur kecil di samping ranjang yang dinyalakan, padahal sekarang bukan malam tapi siang hari. Terlihat seseorang menutup tubuhnya dengan selimut dan hanya rambutnya yang terlihat.


Dave tersenyum lebar, siapa lagi kalau bukan Aryn yang bertingkah seperti ini. Ia melepas sepatunya, baru kemudian naik ke ranjang.


"Sayang," lirih Dave sambil mengusap rambut Aryn yang terlihat.


"Sayaaaannggg," seru Dave.


Tidak ada jawaban dari Aryn, jangankan menjawab Aryn tidak bergerak sama sekali. Dave langsung terduduk. Ia langsung membuka selimut Aryn dengan cekatan.


"Huft...Dia baik-baik saja, aku kira dia lewat!" lirih Dave saat merasakan hembusan udara di jari yang ia tempelkan di hidung Aryn.


Suami macam apa Dave ini? Istrinya tidak bergerak karena tidurnya nyenyak, malah dikira sudah tidak bernapas alias meninggal. Terlalu khawatir atau gimana ini?


"Sayang," Dave mencoba memanggil Aryn lagi.


Nihil, Aryn tidak terusik sama sekali. Rencana Dave untuk membuat anak sementara gagal. Aryn pasti lelah setelah perjalanan udara yang lama. Dave pun akhirnya memutuskan untuk menyusul tidur.


.................

__ADS_1


Bagaimana menurut kalian? Siapa sih yang mengirim pelayan itu? Dion, Hans, atau mungkin orang lain? Stay tuned ya!


__ADS_2